"Bagiku kamu itu satu-satunya. Sementara bagimu mungkin aku hanya salah satunya" - DIA
...
Ayudia Larasati Maheswara namanya. Gadis yang biasa dipanggil Dia ini adalah putri ketiga satu-satunya dari pasangan Pandu Maheswara dan Narestya Arum Ndaru. Ayahnya seorang abdi negara, sementara ibunya adalah seorang dokter. Di usianya yang 24 tahun dirinya telah resmi menjadi seorang istri. Perjodohan sejak kelas 3 Smp membuatnya tidak pernah berpacaran dengan siapapun sebelum menikah. Baginya saat perjodohan itu terikrar Dia telah terikat dengan laki-laki pilihan Ayahnya. Dan kini saat akad nikah terucap, Dia telah terikat seumur hidup dengan suaminya.
Dia memang baru bertemu dengan suaminya ketika pernikahan mereka terjadi. Sesungguhnya keluarga mereka telah mengatur pertemuan keduanya setiap tahun setelah perjodohan itu diputuskan. Dalam satu tahun ada hari yang selalu ditunggu oleh Dia. 30 Desember. Di tanggal itulah Dia selalu menunggu kedatangan laki-laki yang akan menjadi suaminya itu. Tapi sampai akhir laki-laki itu tidak pernah muncul. Sembilan tahun masa remajanya hanya ia habiskan untuk menunggu laki-laki yang tidak pernah datang. Tidak sekalipun.
Dia masih memandangi ponselnya. Pesannya masih berakhir dengan centang satu. Hufftt. Dihembuskan napas nya sejenak berharap rasa sesak di dadanya berkurang. Dimatikan ponselnya lalu diambil salah satu simcardnya. Ia masukan simcard itu ke tempat sampah di samping meja kerjanya.
"Lo kenapa coba Di, anyep banget dari tadi?" tanya Mas Adi salah satu rekan kerjanya yang satu ruangan dengan Dia.
"Gak kenapa-kenapa, cuma lagi benahin pikiran yang abis diobrak-abrik sama kenyataan."
"Njirr, malah galau ni anak. Pulang yuk, udah jam pulang nih."
"Wait, aku siap-siap dulu deh"
"Woy kok pada balik sih, mau gue ajakin mabar juga" sahut mas Fadilah duduk di sebelah meja Dia.
"Sorry ndes, mau jemput istri gue. Balik yah. Assalamualaikum." sahut Mas Adi sambil berjalan keluar ruangan.
"Wa'alaikumsalam."
"Aku juga pulang ah. Mas Fa mabar sama Rak sepatu tuh" ucap Dia sambil nunjuk ke temennya yang bernama Raka.
"Dih mba Dia ni, aku diem lho dari tadi, masih aja kena." balas Raka malas.
"Udah ah mau pulang aku nya. Dadah mas Fa sama dedek Rak baju rak piring."
"Eh tungguin Di, bareng."
"Lah mas Fa mau pulang juga?"
"Kagak Rak mau umroh."
...
Waktu menunjukkan pukul 20:00 WIB, Dia masih setia duduk di sofa ruang tamu berharap bahwa suaminya akan pulang malam ini. Dirinya mengenakan jilbab instan dan piama lengan panjang bergambar strawberry pemberian Dewi yang tampak kebesaran ditubuhnya yang berperawakan mungil. Dia sendiri aslinya tidak nyaman jika tidur dengan pakaian lengan panjang. Ia lebih suka tidur dengan kaos oblong dan celana pendek di rumah. Tapi kali ini beda. Dia harap suaminya akan pulang. Dan ia merasa tidak nyaman jika dirinya berpakaian seperti itu di depan suaminya itu.
Diliriknya beberapa kali jendela yang mengarah ke jalanan depan rumahnya. Belum juga ada tanda-tanda kepulangan suaminya. Hingga kemudian terdengar suara pintu yang dibuka. Clekk. Muncullah suami yang ditunggu-tunggunya.
Aryan berdiri dengan muka angkuh dan dingin. Penampilannya sudah tidak serapi tadi siang saat bertemu Dia. Dasi yang longgar dan jas yang sudah tersampir ditangan. Kemeja yang lengannya sudah tergulung sampai siku dengan kancing baju atas yang sudah terbuka. Tapi jangan lupakan wajahnya yang tetap tampan rupawan.
Dia segera berdiri dan menghampiri suaminya dengan senyum cerah. "Assalamualaikum mas Aryan," sahut Dia sambil menarik tangan kanan Aryan lalu ia cium punggung suaminya itu.
"Hemm," ucap Aryan sambil berusaha menetralkan perasaannya yang sedikit membeku campur deg-degan karena perlakuan istrinya barusan.
"Kok hemm sih mas. Assalamualaikum mas Aryan?" balas Dia mengulangi salamnya yang belum juga dibalas Aryan.
"Wa'alaikumsalam. Gak usah senyum-senyum. Gue pulang karena terpaksa. Lagian juga ini rumah gue. Keenakan lo ntar tinggal disini tanpa gue awasin." ucap Aryan sambil melangkah masuk dan mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Iya, saya tahu kok. Mas, mau makan dulu atau mau saya siapkan air hangat untuk mandi? Atau mau dibikinkan teh atau kopi?"
"Duduk, kita mesti bicara. Dan gak usah sok baik sama gue. Urus aja urusan lo sendiri."
"Perasaan dari tadi kan udah bicara deh" ucap Dia lirih hampir tidak terdengar. Dirinya duduk di sofa di depan suaminya.
"Ngomong apa lo barusan."
"Gak kok gak ngomong apa-apa. Itu tadi cuma bilang kucing bu rt udah lahiran, hehehe" sahut Dia.
"Ckk gak jelas. Gue kasih tau kalo gue nikahin lo semata karena paksaan papa sama mama. Gak usah berharap apapun dengan pernikahan ini. Gak usah ngarep kalo kita bakal kayak pasangan suami istri pada umumnya. Kita gak akan tidur sekamar. Kita urus urusan masing-masing. Gak usah sok kenal kalo ketemu di luar. Kecuali di depan orang tua kita. Kita pura-pura kayak suami istri yang mesra. Gak usah takut juga gue gak bakal ngapa-ngapain lo. Gak nafsu juga sih, abis penampilan lo kayak anak smp gitu juga."
Sikap Aryan dan mulut lemesnya adalah kombinasi yang sukses untuk membuat seorang Dia menjerit dalam hati. Dia mengigit bibir bawahnya mendengar ucapan suaminya itu. Aryan sesaat membeku melihat aktifitas kecil dari bibir istrinya yang mungil dan berwarna pink alami itu. Ingin rasanya ia ah sudahlah. "Kok dia manis gini sih. Eh fokus Aryan. Kamu cuma lelah makanya mikir yang aneh-aneh," batin Aryan.
"Nendang suami sendiri dosa gak sih? Hadeeeh sabar, gak pulang bikin kepala sakit eh giliran pulang bikin hati pusing. Ya Allah berikan hamba stok sabar yang banyak pakai banget. Aamiin," batin Dia.
Dia terdiam sesaat dan terlihat mengerutkan kening. Pemandangan itu terlihat berbeda di mata Aryan. Menurutnya istrinya itu mengerutkan kening dengan manis. Aryan menelan ludah dengan susah payah. Berusaha menahan diri untuk tidak mengumpat. Bagaimana mungkin istrinya itu bisa terlihat manis ketika mengerutkan kening? Secara anatomi mestinya hal itu mustahil. Hegg. Ada yang salah pada otaknya.
"Saya tau mas ngejalanin pernikahan ini terpaksa tapi satu hal yang mas mesti tau, saya ngejalanin ini dengan sungguh-sungguh. Saya gak masalah mas mau bersikap seperti apa, saya hormati itu. Tapi biarkan saya tetap bersikap seperti ini. Saya sedang menjalankan kewajiban saya sebagai istri. Suka gak suka kita sudah terikat. Saya harap mas bisa terima pernikahan ini dengan sepenuh hati."
Dia mendongak menatap wajah suaminya. Ia sedikit mengutuk dirinya karena saat barusan ia berbicara, suara terdengar bergetar dan mungkin mengisyaratkan ia terluka. Tentu saja ia memang terluka. Tapi semua sudah terjadi. Sempat terbesit dalam pikirannya. Seberapa lama keadaan ini akan berlangsung? Tepatnya seberapa lama ia akan menyandang status sebagai istri seorang Aryan Arkana Dirgantara.
Terdapat jeda diantara pembicaraan mereka. Aryan terdengar berdeham namun berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap terlihat dingin. Ia sendiri nyaris tidak percaya bahwa ia tengah menikmati memandang wajah di hadapannya. Ada banyak hal yang menarik perhatiannya. Sepasang mata sayu yang menatapnya dengan keteduhan dan membuatnya seperti tenggelam di dalamnya. Hidung kecil yang terlihat mancung dengan pipi merona setiap kali gadis ini tersenyum. Ingin rasanya ia mengeluskan ibu jarinya ke dalam lembutnya kulit pipi istrinya dan turun ke bibir mungil yang entah ajaibnya terlihat lebih merah ketimbang terakhir kali ia menatapnya barusan. Istrinya sangat cantik.
Hentikan. Aryan sedikit mengerang dan mati-matian mengembalikan kewarasan pikirannya. Ia hampir saja melupakan fakta bahwa ia seharusnya membenci istrinya. Ya, ini semua salah istrinya, sehingga ia harus menjalani pernikahan paksaan ini.
"Ehemm. Terserah, suka-suka lo. Terima apa gak itu urusan gue. Gue mau mandi, panggilin Bi Sumi bilang gue mau teh panas di meja kamar," ucap Aryan sambil bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamarnya.