01 Semua Karena Kamu

988 Words
"Bagimu mungkin ini musibah. Tapi jika ternyata tulang rusukku adalah milikmu. Kamu bisa apa? Mau protes sama Tuhan?" - DIA ... Aryan masih merenung di kursi kebesarannya. Pertemuan barusan dengan seseorang yang disebut istrinya itu membuatnya gelisah. Laki-laki berparas tampan dengan tatapan mata setajam elang itu sengaja bersikap dingin dengan istrinya, tapi gadis itu malah menanggapi dengan santai dan tersenyum. Dirinya terpaksa menemui gadis itu setelah menerima pesan berupa fotonya sedang bersama wanita lain yang notabene adalah karyawannya. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari foto itu. Hanya gambar dirinya bersama perempuan dimana si perempuan duduk sambil memegang lengannya. Sedikit tampak mesra memang, walaupun sesungguhnya memang tidak ada hubungan istimewa apapun dengan karyawannya itu. Tetapi bagi seorang Aryan, bisa saja kan foto itu digunakan istrinya untuk ngadu yang bukan-bukan ke orang tuanya. Belum lagi hal ini diperparah dengan kedatangan sang papa ke kantornya dan marah-marah karena kelakuannya yang tidak pulang ke rumah hampir dua minggu ini. Bisa-bisa ia diusir dan jadi gembel. Dan sudah dapat dipastikan ia tidak akan pernah siap untuk hidup susah. Otaknya dipenuhi berbagai prasangka tentang bagaimana papanya itu bisa tau. Sudah jelas bukan, kalau istrinyalah yang sudah mengatakannya. Aryan melupakan fakta bahwa sang papa punya mata-mata di kantornya ini. Dewi, sepupu sekaligus sekertaris Aryan. Dasar Aryan saja yang seenaknya sok tau dan menyimpulkan bahwa ini semua karena Dia. Memang benar, jika sudah hampir dua minggu dirinya menghindar dengan alasan meninjau lokasi yang akan digunakan untuk pembangunan hotel terbaru Dirgantara di Bali. Ia sengaja ke Bali setelah akad nikah terucap. Akad nikah paksaan tepatnya. Mereka menikah karena perjodohan. Dipaksa mengucapkan ijab qobul saat sang papa sedang dalam kondisi kritis. Walaupun ajaibnya selang beberapa hari setelahnya kondisi papanya membaik dan sehat seperti semula. Ah Aryan sempat curiga itu hanya akal-akalan papanya saja. Aryan memang sudah mengetahui perjodohan ini sejak usianya 20 tahun. Tentu saja ia bersikeras untuk menolak. Baginya perjodohan itu kuno. Dengan kekayaan, kecerdasan dari lahir dan bentuk wajah yang sempurna membuatnya sangat mudah untuk mendapatkan perempuan yang ia inginkan. Garis rahang yang tegas, alis tebal, hidung mancung dan kharisma yang menawan serta ditunjang dengan tubuh yang proporsional siapa yang tidak akan jatuh cinta padanya. Meskipun sikapnya kaku, sok tau akut dan songong tapi sejak dulu dirinya selalu menjadi incaran gadis-gadis. Siapa yang akan menolak seorang Aryan Arkana Dirgantara. Kaya, tampan dan sempurna. Harap dicatat semua tentangnya ini buruk kecuali tampangnya. Setidaknya selama 29 tahun usianya kini, ia pernah tiga kali berpacaran dan hanya bertahan tidak lebih dari sebulan. Siapa lagi jika bukan mama tercintanya yang selalu jadi sutradara gagalnya hubungan cinta Aryan. Terlebih papanya hanya akan mewariskan perusahaannya jika dirinya menikah dengan gadis itu. Anak dari sahabat papanya. Padahal bisa saja kan gadis itu bersikeras menerima perjodohan ini karena harta yang dimiliki Aryan. Ya, siapa yang tidak suka dengan uang. Sembilan tahun ia selalu berusaha menggagalkan perjodohan ini, namun tak pernah berhasil sekalipun. Ahh jika saja gadis itu seperti dirinya yang menolak perjodohan ini, maka pernikahan ini tidak harus terjadi. Tapi kini ia malah terjebak dalam pernikahan paksaan. Semua salah gadis itu. Ya semua salah gadis bernama Dia. Aryan sendiri tak menampik jika istri pilihan kedua orang tuanya memang memiliki wajah yang cantik. Sangat cantik malah menurutnya. Gadis bermata teduh dengan pandangan sayu ditambah alis yang indah dan bulu mata lentik, memukau seperti sepasang mata milik bidadari. Penampilannya memang sederhana tapi justru membuat siapapun yang melihatnya akan merasa terpesona. Begitupun dengan Aryan saat pertama kali berjumpa yaitu ketika mereka menikah. Dirinya hampir saja melupakan fakta bahwa karena gadis inilah yang membuat kehidupannya seperti drama. Harus dijodohkan dan senantiasa direcoki kisah cintanya oleh sang mama. Hanya karena gengsi dan rasa marahnya yang kelewat tinggi akibat paksaan kedua orang tuanya membuat Aryan menutup mata dan telinga tentang gadis itu. Pokoknya ia tak akan pernah tertarik apalagi sampai jatuh cinta pada Dia. ... Ceklekk. Terdengar suara pintu terbuka dan sudah ada laki-laki kece idola para abg labil tapi masih juga jomblo itu nyengir di depan pintu menuju sofa di ruang kerja Aryan. Dimas namanya. Manager sekaligus sahabat gesrek Aryan dari TK. "Lo kemana sih Ry dari tadi gua cariin juga? Ngambek lo gara-gara semalem gue dateng telat?" "Apaan sih Dim, kepo amat kek tukang sayur." "Dih sensi amat mas bos. Sorry deh kan kemarin udah gue bilang mobil gue bannya kempes makanya telat. Lagian nih ya gue males yak lo ngajakin uler keket. Tau gitu gak usah dateng kemarin." "Uler keket? Silla maksud lo? Gue gak ngajakin dia bego, gak sengaja ketemu kemarin terus dia ikutan katanya sambil nunggu temennya" "Sapa lagi coba kalo bukan dia. Alah modus tu cewek. Dih kok lo gak pecat dia sih. Seneng ya lo diintilin mulu sama manusia itu. Atau jangan-jangan lo pacaran sama dia. Gue ogah ah deket-deket lho lagi kalo gitu" "Gue gak minat pacaran." "Halah, bilang aja gak ada yang mau kan sama lo Ry." "Emang gue lo, kagak laku. Lo gak liat ni di jari gue ada cincin. Gue ini udah NIKAH." ucap Aryan sengaja menekankan kata nikah sambil menunjukkan jari manisnya yang semakin kelihatan manis dengan adanya sebuah cincin yang melingkar. "Ya Walaupun terpaksa," lanjut Aryan dalam hati. "What??? Lo gak lagi halu atau amnesia kan bapak Aryan Arkana Dirgantara yang ganteng rupawan tapi masih kalah ganteng sama gue" "Dih gak usah triak. Nafsu amat bilang gue ganteng Dim." "Abisnya lo gila nih. Gak ada undangan gak ada calon sok-sokan ngaku-ngaku udah nikah. Berasa laku ya mas bos." "Serah deh lo mau percaya apa kagak, bodo amat. Tapi yang jelas gara-gara lo telat kemarin, rumit ini urusannya. Udah, keluar sana. Bukan cerah makin asem hidup gue liatnya muka lo mulu deh" "Ya Allah dosa apa hamba ini punya temen kok mulutnya suka gak disensor sih. Udah ah pulang gue. Lo juga pulang sana, mandi biar otak lo waras lagi jadi gak ngaku-ngaku punya istri. Bukan gimana-gimana sih cuma kan kalo lo gila ntar yang gaji gue siapa dong ya." pamit Dimas sambil beranjak keluar. "Sialan lo Dim."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD