Jakarta, Indonesia.
POV Adrishta
Alarm di meja kecilku berbunyi pelan, nyaris tak terdengar dibandingkan detak jantungku yang masih berdenyut cepat dari mimpi buruk semalam. Aku terbangun dengan napas pendek, kulitku lembap karena keringat. Cahaya pagi menerobos tirai jendela apartemen mewah ini, tapi tak cukup menghangatkan kekacauan yang menggumpal dalam pikiranku.
Hari ini hari ketiga aku di sini. Dan esok… tenggat waktu yang kutakuti itu akan tiba.
Tanganku meraba ponsel di samping bantal. Belum sempat membuka notifikasi, satu pesan baru langsung masuk. Nomornya tak kukenal—lagi.
“Hari terakhir besok. Kalau belum lunas, kami jemput kamu sendiri. Siapkan dirimu, Nak.”
Aku menelan ludah. Tangan kiriku bergetar saat membaca ulang kalimat itu. Isinya singkat, tapi efeknya menampar keras ke tulang belakang. Pesan seperti itu bukan yang pertama. Semalam aku sudah menerima dua lainnya, masing-masing dari nomor berbeda. Semuanya menuntut satu hal yang sama: uang.
Uang dua ratus juta yang dipakai pamanku berjudi. Uang yang kini jadi bebanku, karena aku—tanpa tahu apa-apa—telah dijadikan jaminan.
Kupeluk lututku di atas tempat tidur. Rasanya, dinding apartemen ini yang semula kukira pelindung kini malah berubah jadi jeruji. Tempat ini terlalu mewah untuk seorang tawanan. Tapi begitulah aku merasa: seperti seseorang yang sedang dikurung oleh waktu.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur diri. Ini bukan waktunya panik. Tapi pikiranku berputar terus—bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam sehari?
⸻
Di kantor, semua berjalan seperti biasa—setidaknya di permukaannya. Ruang kerja masih sejuk, komputer di meja sekretarisku menyala dengan tenang, dan Nicko masih menatapku dengan nada profesional seperti biasanya. Tapi mataku selalu kembali mencuri pandang ke arah pintu ruang CEO yang tertutup rapat itu. Di balik sana… dia berada.
Aditya Wiratara. Pria yang sejak awal memberiku tempat di dunia ini—atau menjeratku di dalamnya?
Aku tak tahu kenapa, tapi aku merasa… dia tahu. Entah bagaimana, dia tahu tentang bebanku. Tentang ancaman itu. Atau setidaknya, aku berharap dia tahu. Karena satu-satunya jalan keluar yang kupikirkan saat ini adalah—meminta tolong padanya.
Tapi bagaimana? Bagaimana aku bisa melangkah masuk dan berkata: “Pak, saya butuh dua ratus juta sebelum besok, atau nyawa saya jadi taruhannya.”?
⸻
Sore harinya, saat baru saja keluar dari toilet kantor, ponselku kembali bergetar. Kali ini telepon.
Nomor tak dikenal lagi.
Aku hampir menolak, tapi jariku tergelincir dan terjawab.
“Halo?”
Senyap sebentar.
Lalu suara berat, parau, masuk seperti asap ke telingaku. “Kamu pikir bisa bersembunyi di menara kaca itu, ya?”
Aku berhenti melangkah.
“Dengar, Nona. Kami tahu kamu kerja di Wiratara. Kami tahu kamu sekretaris si bos muda. Tapi jangan salah paham. Dia nggak akan bisa lindungi kamu kalau kamu masih ngeyel. Jadi begini ya… kalau besok jam sepuluh pagi duit itu belum kami pegang, kami yang datangin kamu langsung. Dan kami nggak bakal ramah.”
Klik.
Sambungan diputus.
Tanganku gemetar. Nafasku berat. Keringat dingin merambat dari tengkuk hingga ke punggung. Aku bersandar ke dinding koridor, memejamkan mata.
Kenapa aku? Kenapa harus aku yang menanggung semuanya?
⸻
Malamnya, aku tak bisa tidur.
Langit Jakarta tampak megah dari balik jendela apartemenku, tapi keindahan itu tak bisa menenangkan pikiranku. Bahkan, suara detik jam dinding terdengar terlalu keras di ruang sunyi ini.
Aku duduk di lantai, ponsel tergeletak di samping. Berkali-kali aku ingin membuka kontak Nicko. Berkali-kali aku berpikir untuk menulis pesan ke Pak Aditya. Tapi jari-jariku berhenti di tengah.
Aku malu.
Dan takut.
Kalau mereka menilai aku hanya ingin memanfaatkan. Atau lebih buruk… mereka menyingkirkan aku karena dianggap membawa masalah.
Tanganku mengepal. Aku bukan orang lemah. Tapi malam ini, aku ingin menangis. Karena semua yang kulakukan belum cukup. Dan esok, aku bisa kehilangan segalanya.
Bukan hanya pekerjaan.
Tapi juga hidupku.
⸻
POV Aditya
Di sisi lain, di ruang tersembunyi dalam mansion megah…
Aku memperbesar tampilan layar. Kamera tersembunyi di ruang tamunya menangkap Adrishta yang duduk bersila di lantai, bersandar di dinding, wajahnya menunduk.
Ia belum makan malam. Matanya kosong. Nafasnya tidak teratur.
“Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku, Sayang” bisikku sendiri.
Pesan-pesan yang ia terima sudah kutahu. Nomor-nomor itu tak sulit untuk kulacak. Aku tahu siapa yang mengancamnya. Dan aku tahu tenggat waktunya.
Tapi aku menunggu.
Karena aku ingin dia datang padaku. Meminta.
Memohon.
Bukan karena aku haus kuasa.
Tapi karena hanya dengan begitu… aku bisa sepenuhnya mengikatnya di dalam lingkaranku. Tanpa ia sadari bahwa aku lah yang menggenggam tali kendali—dan juga pisau yang bisa memotongnya.
“Besok…” aku menyentuh layar, menatap wajah letihnya. “Besok kau akan datang kepadaku, bukan?”
Dan ketika itu terjadi, tak akan ada jalan kembali.
Untukmu.
Atau untukku.