Jakarta, Indonesia
POV Adrishta
Aku terbangun dengan napas yang belum sempat tenang. Langit di luar jendela apartemen masih abu-abu, baru menjelang fajar. Tapi kepalaku sudah berdenyut. Pagi ini tidak seperti biasanya—ada sesuatu yang merayap pelan dalam dadaku, seperti firasat buruk yang menolak enyah.
Suara mesin kopi menyala otomatis di dapur. Tapi aroma kopi pagi ini tak menenangkan seperti biasanya. Aku duduk di tepi ranjang, menatap lantai dingin di bawah kakiku. Dan ketika aku mengambil ponsel yang tergeletak di nakas, notifikasi pesan langsung memenuhi layar.
Nomor tidak dikenal:
"Kau pikir kau bisa lari? Katakan pada pamanmu, utangnya bukan mainan. Hari ini, atau dia akan kehilangan seseorang."
Aku menelan ludah. Jari-jariku mulai gemetar.
Satu pesan lagi masuk.
"Kami tahu kamu yang kerja di Wiratara Tower, lantai tinggi. Siap-siap dikunjungi."
Dunia seperti mengecil. Aku berdiri dengan tubuh yang terasa mati rasa, langsung menuju kamar mandi untuk mencuci wajahku. Air dingin tak banyak membantu. Wajahku yang menatap dari cermin tampak asing—pucat, dengan sorot mata yang kehilangan pegangan.
Aku mengenakan pakaian kerjaku dengan cepat. Rok pensil abu, blus putih gading, dan blazer tipis. Rambutku kusut tapi aku tak punya tenaga untuk menyisir terlalu rapi. Aku hanya menyematkannya ke belakang dengan penjepit sederhana.
Pagi itu, bahkan sarapan pun tak bisa kutelan.
⸻
Ruang kantor di Wiratara Tower terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Para karyawan lalu lalang dengan tergesa. Tidak ada yang tahu bahwa aku duduk di balik meja ini dengan jantung yang nyaris pecah karena takut.
Setiap langkah kaki mendekat membuatku menoleh waspada. Setiap suara lift terbuka membuatku panik.
Dan ketika pukul sebelas siang lewat dua menit, dia datang.
Lelaki berusia sekitar empat puluhan, berjaket kulit lusuh dan rambut berantakan, menerobos ke lantai tempatku bekerja. Ia tak terlihat seperti tamu yang sah. Sorot matanya penuh amarah, dan langsung mengarah padaku.
“Lo yang namanya Rishta?!” suaranya menggema, memecah kesenyapan seperti palu godam.
Seluruh kantor terdiam. Rekan-rekanku menoleh.
“Lo denger ya! Suruh paman lo bayar utang! Gue capek ditipu!” Ia berjalan cepat mendekat ke mejaku. “200 juta, tahu nggak?! Lo pikir bisa ngumpet kerja di kantor gede trus semua selesai?!”
Aku bangkit dengan tergagap. “Tolong jangan buat keributan di sini…”
“GUE MAU UANG GUE!” teriaknya.
Suasana kantor berubah. Satpam dari lantai bawah mulai berdatangan. Tapi belum sempat mereka menahan pria itu, aku melangkah ke depan, menengadah, mencoba bicara dengan suara yang nyaris hancur.
“Saya mohon… beri saya waktu. Sampai malam ini. Jam enam. Saya janji…”
Pria itu menatapku tajam. Nafasnya kasar. Matanya bergerak liar. Tapi mungkin karena semua mata memandang, atau karena aku memohon seperti orang yang tak punya pilihan, ia mengangkat jarinya ke wajahku.
“Kalau jam enam belum lunas, lo liat aja. Gue dateng lagi. Dan gak cuma ngomong!”
Lalu ia berbalik. Satpam mengiringinya keluar, namun tidak menahannya. Tak ada yang bisa dilakukan. Itu urusan pribadi.
Aku berdiri terpaku, lutut bergetar, wajahku panas karena malu, takut, marah, semua dalam satu ledakan yang kutahan keras-keras.
Langkah pertama kuambil dengan susah payah. Lalu aku berjalan ke toilet wanita.
⸻
Aku mengunci diri di dalam bilik paling ujung dan membiarkan tubuhku runtuh ke lantai.
Tangisku meledak tanpa bisa kuhentikan. Bahuku terguncang hebat, napasku tercekat seperti ditusuk dari dalam. Aku menggigit bibir, mencoba meredam suara isak yang mungkin bisa didengar siapa pun di luar.
Apa yang harus aku lakukan? Uang sebanyak itu? Dalam waktu sependek ini?
Aku lelah. Aku marah. Aku ingin menjerit pada dunia. Kenapa bukan mereka yang dihukum? Kenapa selalu aku?
Air mataku tak kunjung habis. Tapi waktu tak bisa diajak kompromi. Aku harus kembali ke meja. Aku harus tetap terlihat utuh, meski sebenarnya aku sudah remuk dari dalam.
⸻
Saat aku kembali ke meja dan menarik napas dalam-dalam, baru saja akan duduk, suara interkom di mejaku menyala.
“Adrishta,” suara berat itu memanggil dari speaker kecil. “Ke ruangan saya sekarang.”
Tubuhku menegang.
Jantungku seperti jatuh ke perut. Apa dia melihat? Apa dia mendengar?
Aku berdiri pelan, mengenakan kembali jaketku, lalu melangkah menuju lift pribadi menuju ruang CEO. Setiap langkah seperti menapaki lantai es yang bisa retak kapan saja.
⸻
Ketika pintu terbuka, Aditya sudah duduk di belakang meja kerjanya, seperti biasa—tenang, terukur, mengintimidasi tanpa berteriak.
Matanya mengarah langsung padaku. Dan ketika ia melihat mataku yang sembab, alisnya sedikit bertaut.
“Duduk,” ucapnya singkat.
Aku duduk perlahan, berusaha menahan suara napasku yang masih belum stabil.
“Apa yang terjadi?” tanyanya akhirnya.
Aku menggeleng pelan. “Tidak ada, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
Ia tidak menjawab. Tatapannya tetap meneliti wajahku. Nafasku, rautku, bahkan mungkin nada suaraku.
“Adrishta.”
“Ya, Pak?”
“Kamu habis menangis.”
Aku diam. Menahan air mata yang hampir bocor lagi. Aku mengalihkan pandangan.
Ia bersandar ke kursinya. “Siapa yang datang tadi pagi?”
Deg.
Aku menatapnya dengan syok. Tapi belum sempat menjawab, ponselku bergetar keras di saku. Aku tahu siapa yang menelepon bahkan sebelum melihat layarnya.
Bibi.
Aku menatap ponselku, tak tahu harus apa.
“Angkat,” perintah Aditya. Lembut tapi tak bisa dibantah. “Biar saya dengar.”
Aku menahan napas dan menekan tombol hijau.
“RISHTA!” suara bibiku meledak. “Dasar anak gak tahu diri! Lo pikir gue bisa tenang kalau lo digerebek gitu di kantor?! Harusnya lo pikirin kita di rumah! Lo kerja, lo harus bayar! HARUS!”
“Bi… saya udah bilang saya butuh waktu…”
“WAKTU APA?! Lo enak-enakan tinggal di apartemen, kerja di tempat mewah, trus ninggalin tanggung jawab lo?! HARUSNYA LO TERIMA NASIB! Harusnya lo bersyukur masih kita tampung waktu itu! Dasar cewek gak tahu balas budi!”
Tangisku pecah lagi. Aku menunduk dalam, suara isak kembali mengguncang bahuku.
Panggilan belum ditutup, tapi Aditya sudah berdiri. Ia mengitari meja dan berdiri di depanku.
Dengan gerakan pelan, ia menurunkan tubuhnya ke lutut, sejajar dengan mataku yang membasah.
Lalu ia memelukku.
Tanpa kata. Tanpa suara.
Tanganku terangkat ragu, tapi akhirnya aku membiarkannya. Wajahku terbenam di dadanya, menumpahkan semua amarah dan luka yang kutahan terlalu lama.
Ponsel di tanganku terlepas dan terjatuh. Telepon pun terputus dengan bunyi klik lembut.
“Katakan padaku, Rishta,” bisik Aditya di atas kepalaku. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Aku menghirup napas panjang, mencari keberanian yang tersisa. Lalu aku angkat wajahku, menatap matanya.
Dan aku pun mulai bercerita.
Tentang utang 200 juta. Tentang pamanku yang menjadikanku jaminan. Tentang tenggat waktu yang tersisa hanya beberapa jam. Tentang semua tekanan yang selama ini kupendam.
Aditya mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya tetap tenang, tapi ada bara dingin di balik matanya.
Ketika aku selesai, ruangan itu terasa sunyi sekali. Tapi bukan sunyi yang menakutkan. Lebih seperti… ketenangan sebelum badai.
“Baik,” katanya pelan. “Mulai sekarang, kamu tidak perlu takut lagi.”
Aku menatapnya tak mengerti. “Maksud Bapak?”
Ia berdiri, menyesuaikan jasnya. “Biar saya yang urus.”
“Tapi…”
“Cukup. Kamu sudah berjuang terlalu keras sendirian.” Ia menatapku. “Sekarang kamu tidak sendiri lagi.”
Dan untuk pertama kalinya sejak hari itu dimulai, aku merasa… bisa bernapas.