Bagian 5

1725 Words
Adeeva berjalan beriringan dengan Alvino menuju taman belakang sekolah. Mereka tampak serius membicarakan sesuatu, apalagi kalau bukan  membicarakan masalah PIK-R ke depannya. Tahun ini, Vino akan segera melepas jabatannya sebagai ketua PIK-R. Rencananya, dia akan menunjuk Adeeva sebagai ketua PIK-R selanjutnya. "Sebentar lagi, Kakak akan menghadapi Ujian Nasional. Jadi kemungkinan, Kakak akan segera menyerahkan jabatan ketua PIK-R ke kamu." Sontak, Adeeva menghentikan langkahnya, membuat Alvino juga melakukan hal yang sama. "Tapi, Kak—" Alvino mencengkeram bahu Adeeva lembut, netra hitamnya menatap mata Adeeva, mencoba menyakinkan gadis di depannya "Kakak memercayai kamu seutuhnya. Tolong, jangan kecewakan Kakak!" Gadis itu menganggut semangat, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Deeva akan berusaha melakukan yang terbaik untuk organisasi PIK-R sekolah." Alvino mengacak rambut hitam milik Adeeva pelan, membuat pipi gadis berparas ayu itu bersemu merah. "Kakak akan menunggu perkembangannya." Gadis berparas ayu itu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sembari merunduk dalam, tak ingin jika pemuda jangkung berparas rupawan di depannya melihat wajahnya yang saat ini merah padam bak kepiting rebus. Alvino tersenyum tipis melihat tingkah adik kelasnya yang sangat menggemaskan. Ia sangat tahu jika gadis di depannya itu berusaha menyembunyikan wajahnya yang tampak bersemu merah. Netra pemuda itu terpaku pada tiga gadis yang berseragam sama sepertinya tengah mengendap-endap menuju area belakang sekolah dengan membawa tas yang tersampir di punggung mereka masing-masing. Ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Arloji tersebut masih menunjukkan pukul 12.15 yang artinya masih sekitar dua jam lagi, bel pulang akan berbunyi. Ia sangat tahu apa yang akan dilakukan oleh ketiga siswi yang salah satunya  tampak tak asing baginya itu. Bolos. Satu kata yang sangat ia benci sedari dulu. Karena merasa tak dihiraukan lagi oleh Alvino, Adeeva pun secara perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang dilakukan oleh pemuda yang sangat ia kagumi sejak pertama kali bertemu itu. Adeeva mengikuti arah tatapan Alvino. Mata Adeeva membulat ketika melihat salah satu dari ketiga siswa yang sangat ia kenal itu tengah berjalan mengendap-endap menuju area belakang sekolah. Ia tahu, bahkan sangat hafal apa yang sebentar lagi akan dilakukan oleh kakak tirinya itu. Apalagi kalau bukan bolos, kebiasaan buruk sang kakak yang membuat kedua orang tuanya menjadi langganan guru BP. "Aduh, dasar malu-maluin aja deh! Untung saja, Kak Vino enggak tahu kalau kamu Kakakku," rutuk Adeeva dalam hati sembari melirik Alvino yang masih memantau aksi kakak dan kedua temannya. Alvino menyadari bahwa ia masih bersama dengan Adeeva, ia pun segera mengalihkan tatapannya kepada gadis di sampingnya yang juga turut memperhatikan ketiga siswa tersebut. "Deev?" Suara berat milik Alvino membuat Adeeva mau tak mau harus memalingkan tatapan. "Iya, Kak? Ada apa?" "Umm, kamu kembali aja dulu ke kelas. Aku mau mengurus sesuatu." Gadis berambut kucir kuda itu mengembuskan napas kasar, sangat tahu apa yang sebentar lagi akan dilakukan oleh Alvino. Pastilah, siswa dengan disiplin tinggi itu akan menegur kakaknya yang sangat bandel tersebut. Adeeva tersenyum tipis. "Iya, Kak," jawabnya dengan sangat tak rela. Alvino menepuk bahu Adeeva pelan sebelum pergi membuntuti Nesya dan kedua temannya itu. *** Dengan langkah lebar, akhirnya Alvino berhasil membuntuti ketiga siswi yang menjadi incarannya sejak tadi. Dan memang benar tebakannya, kalau tujuan mereka adalah area belakang sekolah, tempat yang dijadikan ajang siswa untuk membolos karena letaknya yang jauh dari pusat sekolah. Pemuda jangkung itu menggeleng heran melihat tingkah salah satu siswi yang tak asing baginya tengah naik ke bahu temannya yang lain untuk bisa menggapai dinding. "Sedang apa kalian?!" Karena suara Alvino yang begitu menggelegar membuat Nesya berjengit kaget dan gagal mempertahankan keseimbangan. Alhasil, tubuh Isthy dan Nesya jatuh di atas tanah yang cukup kering karena lama tak diguyur air hujan. "Awww!" ringis Nesya sembari mengusap sikunya yang sedikit lecet karena bergesakan dengan tanah. "Nesya! Lo baik-baik aja, 'kan?" Tyas yang sedari tadi hanya diam, kini ikut turun tangan. Ia membantu Nesya dan Isthy berdiri. Gadis berambut kucir kuda itu menatap tajam ke arah pemuda yang telah menggagalkan rencananya untuk kabur. Kaki jenjangnya melangkah, mendekati pemuda yang tampak tak merasa bersalah sedikit pun karena telah membuatnya terluka. "Hei!" Nesya mengangkat dagu setinggi-tingginya, seolah-olah ingin menantang pemuda yang selalu ikut campur dengan urusannya. "Apa maksud lo lakuin ini, hah?! Enggak usah ikut campur urusan kita, deh!" Alvino membuang muka sejenak, muak dengan keangkuhan gadis yang penampilannya tampak awut-awutan, mirip seperti preman pasar. Penampilan yang sama ketika tetakhir kali mereka bertemu. "Lebih baik kalian kembali ke kelas sekarang juga." Suara Alvino dibuat penuh penekanan di setiap katanya. "Kalau gue enggak mau?" Dagu Nesya semakin terangkat. “Jangan suka urusin hidup orang lain, deh! Emang hidup lo udah bener?” Alvino semakin menghapus jarak antara mereka. Sontak, Nesya berjalan mundur selangkah. Namun, pergelangan tangannya dicengkeram oleh Alvino dengan lembut. Alvino masih mempunyai sisi kemanusiaan. Bagaimanapun juga, yang dihadapinya adalah seorang gadis. Dia tidak mungkin memperlakukannya dengan kasar. Netra hitam Alvino menatap tajam tepat di manik mata Nesya, membuat gadis berlesung pipit itu bergidik. "Kalau kamu enggak mau nuruti perkataanku, akan aku pastikan kalian akan berurusan dengan guru BP," ujar Alvino datar, kemudian melangkah pergi meninggalkan Nesya yang masih bergeming. "Nes?" Tyas menepuk bahu Nesya. Nesya menghentakkan kaki dan tangannya kesal. "Tuh cowok resek siapa sih?!" Tangan Nesya terkepal kuat, napasnya tampak tak beraturan. "Kenapa dia selalu ikut campur, sih?!" Matanya memancarkan kemarahan yang begitu mendalam. "Emang lo enggak tahu siapa dia?" tanya Tyas penuh hati-hati, takut jika nanti sahabatnya semakin berapi-api. Nesya menggeleng kuat. "Apa untungnya coba kalau gue tahu dia?" "Dia itu siswa yang terkenal dengan kejeniusannya di sekolah ini. Asal lo tahu, saking jeniusnya tuh cowok, dia dapet rekomendasi untuk daftar beasiswa Monbukagakusho," jelas Tyas lirih. "What?! Mon ... mon apa?” Isthy terbata-bata menyebutkan istilah yang asing di telinganya. “Monbukagakusho,” Tyas membenarkan. “Beneran tuh cowok dapat beasiswa ke luar negeri?" timpal Isthy yang sedari tadi hanya diam, menahan perih di bagian pantatnya yang berciuman langsung dengan tanah. Tyas mengganguk yakin hingga kucir kudanya sedikit bergoyang. "Baru rekomendasi, sih, belum bener-bener keterima.” Nesya memutar bola matanya malas. "Bodoh amat. Mau dia dapet beasiswa kuliah di Kyoto, Tokyo, Harvard. Emang gue pikirin," ujarnya acuh tak acuh, lalu melenggang pergi untuk kembali ke kelasnya. Ya, ia lebih mengindahkan peringatan dari pemuda—yang katanya jenius—itu, daripada harus berurusan dengan guru BP. Bisa-bisa, dia menjadi samsak tinju sang papa. *** "Mau nambah nasi lagi, Pa?" tanya Aliyah lembut sembari mengangkat centong yang telah terisi penuh oleh nasi yang tampak pulen. "Tidak usah, Ma. Ini sudah lebih dari cukup kok," ujar Adnan lembut sembari menatap mata sang istri dengan penuh cinta. Nesya memutar bola matanya malas, muak dengan sikap wanita yang telah merebut suami orang tersebut. Ia menatap makanan yang ada di atas piring dengan tak berselera. Alhasil, makanan yang tampak lezat itu, kini tampak mengenaskan karena Nesya mengaduk-aduknya tak beraturan. Melihat hal itu, Aliyah tak lagi melanjutkan makannya. "Nesya?" Suara lembut Aliyah membuat Nesya berhenti mengaduk-aduk makanannya. "Ada apa, Sayang? Makanannya tidak sesuai dengan selera kamu?" Seketika, Adnan dan Adeeva mengalihkan tatapan dari makanan mereka ke arah Nesya yang kembali melanjutkan kegiatannya, tanpa sedikit pun menjawab pertanyaan dari mama tirinya. "Mau Mama buatkan makanan lagi? Kamu mau makan apa? Biar Mama masakin buat kamu." Aliyah akan beranjak dari kursinya. Namun, penolakan dari Nesya menghentikan niatnya. Nesya melirik tajam wanita yang menurutnya sok perhatian itu. "Nggak perlu," jawabnya dingin, sedingin bongkahan es di kutub. Adnan akan membuka suara, namun dengan cekat, Aliyah menggenggam tangan sang suami agar tidak terpancing emosi. Mata teduh milik Aliyah berhasil menggerus amarah yang saat ini bergejolak di dadanya. Adeeva meremas sendok dan garpu yang berada di genggamannya, tak terima jika sang mama diperlakukan seperti itu oleh kakak tirinya. Sedetik kemudian, senyum licik mengembang di bibir tipis yang terpoles lip gloss. Ia berdeham pelan untuk memulai aksinya. "Kak Nesya?" Tatapan semua orang yang ada di ruang makan, termasuk si pemilik nama beralih ke arah Adeeva yang duduk tepat di samping Aliyah. "Waktu istirahat kedua tadi, aku lihat Kakak sama teman-teman Kakak bawa tas pergi ke belakang sekolah. Kakak—" Sontak, Adnan mendelik ke arah putri sulungnya. "Jangan bilang kalau kamu mau bolos lagi?" Untuk kali ini, Adnan tak dapat lagi menahan emosinya yang semakin tersulut karena perkataan Adeeva. Nesya mengatupkan mulutnya rapat, ia tak bisa mengelak lagi karena memang yang dikatakan oleh Adeeva benar. Ia juga tak bisa meredam emosi sang papa. Nesya melayangkan tatapan tajam ke arah Adeeva yang saat ini tersenyum penuh kemenagnan. Telapak tangannya terkepal kuat, ingin rasanya ia bisa menonjok wajah mulus adik tirinya yang durhaka itu. Adnan bangkit dari kursi kebesarannya dengan diiringi suara keras yang timbul karena tangannya menggebrak meja makan, membuat semua yang ada di sana berjengit kaget. "Jawab, Nesya!" Nesya memberanikan diri menatap mata Adnan yang dilingkupi amarah. "Kalau iya, memang kenapa, Pa? Nesya juga butuh refreshing, Nesya enggak mau jadi gila karena terus ditekan," jawabnya dengan suara lantang. "Nesya enggak akan mau berakhir mengenaskan seperti ... Mama." Suara Nesya memelan di akhir kata. Sudut matanya tampak berair, ia merasa tak sanggup lagi mengingat penderitaan wanita yang telah melahirkannya itu karena keegoisan papanya. "Kamu!" d**a Adnan bergemuruh, ia tak bisa lagi menahan amarah "Pa!" Aliyah menahan pergelangan tangan Adnan yang akan menghampiri Nesya. "Ini bukan saatnya kamu untuk bersenang-senang. Sebentar lagi kamu akan menghadapi Ujian Nasional dan kamu harus menentukan masa depan kamu." Nesya melengos, mencoba berpura-pura tak mendengar ocehan Adnan. Justru, hal itu membuat Adnan semakin geram melihat sikap putrinya yang telah melewati ambang batas. "Kalau sampai kamu tidak masuk universitas favorit, Papa tidak akan pernah menggangap kamu sebagai putri Papa," ujarnya dengan penuh penekanan. Dengan menahan sesak yang sedari tadi tertahan di ulu hatinya, Nesya berdiri dari kursi. "Nesya juga tidak butuh pengakuan dari Papa. Karena semenjak Mama meninggal, Nesya sudah menjadi anak yatim-piatu!" Suara Nesya semakin serak karena harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan air mata. Ia tak ingin terlihat rapuh di depan papanya. Gigi Adnan saling bergemelatuk, wajahnya semakin merah karena berusaha sekuat tenaga meredam emosi. "Baiklah, kalau itu mau kamu." Suara Adnan semakin lirih. "Mulai sekarang, Papa tidak akan ikut campur lagi dengan apa yang kamu lakukan." Adnan mengembuskan napas kasar, kepalanya mendengak, berusaha menahan buliran kristal bening yang kapan saja bisa terjatuh dari pelupuknya. "Anggap saja kalau kamu tidak pernah memiliki seorang papa." Adnan melangkahkan kaki panjangnya menuju kamar tanpa menatap Nesya kembali. Melihat Adnan yang semakin menjauh, tubuh Nesya akhirnya luruh di atas kursi yang tadi didudukinya. Ia tak dapat lagi membendung air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk matanya. Nesya menelungkupkan kedua tangannya di wajah, menangis sejadi-jadinya di sana. Ia tak menghiraukan keberadaan Aliyah dan Adeeva yang masih belum beranjak dari sana. Aliysh bergeming di tempatnya, tak tahu harus berbuat apa. Ia sangat tahu jika Nesya dan suaminya itu membutuhkan waktu untuk menangkan diri. Hatinya terasa teriris-iris ketika suara isak pilu Nesya menyeruak masuk ke dalam gendang telinganya. Adeeva menatap acuh tak acuh Nesya yang masih menangis sesenggukan. Merasa muak dengan drama di depannya, ia pun melenggang pergi menuju taman belakang, tanpa merasa bersalah sedikit pun karena telah menyebabkan kekacauan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD