"Maaf, Kak," ujar Adeeva penuh penyesalan.
Saat ini, Adeeva dan Vino duduk berdua di atas kursi panjang taman sekolah. Setelah kejadian di toilet tadi, Vino langsung mengajak Adeeva menjauh dari Nesya dan di sanalah mereka berada. Hampir setengah jam mereka berada di sana. Hanya keheningan yang tercipta di antara mereka hingga akhirnya Adeeva memutuskan untuk membuka suara terlebih dahulu.
Vino tersenyum simpul, kemudian menatap netra Adeeva lekat. "Untuk apa?"
Mendapat tatapan seperti itu, Adeeva langsung menundukkan kepalanya dalam. Meneguk saliva dengan susah payah sebelum menjawab pertanyaan pemuda tatapan di sampingnya. "Maaf ... karena aku sadah menyembunyikan kenyataan bahwa Kak Nesya adalah Kakakku," lirihnya seraya menautkan kedua tangan satu sama lain untuk mengurangi rasa gugup.
"Kenapa kamu minta maaf? Aku rasa aku tidak ada hubungannya dengan masalah ini." Nada bicara Vino terdengar dingin. Perlahan, ia mengembuskan napas panjang. Memejamkan mata sejenak untuk mengusir perasaan aneh yang saat ini hinggap di hatinya. Entahlah, ia harus marah atau kecewa karena kebenaran ini. "Aku hanya menyayangkan, bagaimana bisa gadis sebaik kamu memiliki kakak yang notabene seorang preman sekolah," ujarnya sarkastik.
Seketika, Adeeva mengangkat kepalanya. "Kak Nesya bukan kakak kandungku, Kak. Kita saudara beda ibu," sangkalnya yang langsung membuat Vino membeliakkan mata. "Mama Kak Nesya sudah meninggal sejak lama."
Seketika, terbesit rasa bersalah di dalam hatinya ketika mendengar penjelasan Adeeva. Entah kenapa, ia tiba-tiba menaruh belas kasihan kepada gadis yang selama ini sangat ia benci.
***
Seminggu setelah ujian nasional dilaksanakan, siswa kelas 12 SMA Nusa Indah mengadakan acara prom night yang akan diadakan di vila Puncak. Sebenarnya, Nesya sangat malas mengikuti acara-acara tidak penting itu. Namun, Tyas dan Isthy terus membujuknya mati-matian agar ikut acara tersebut.
Nesya merentangkan kedua tangannya, merenggangkan otot-otot yang terasa kaku setelah menempuh perjalanan selama tiga jam karena harus terjebak macet.
Tyas menepuk bahu Nesya pelan, membuat gadis itu memalingkan wajah ke belakang. Dia menunjuk seorang pemuda berparas tampan yang baru saja turun dari bus dengan menggunakan dagunya. "Tuh, lihat!"
Nesya memutar bola matanya, kesal dengan sahabatnya satu ini. "Terus kenapa? Jadi, lo ganggu gue hanya karena ingin nunjukkin si cowok sok sempurna itu?"
"Kali aja nanti lo mau jadiin dia sebagai pasangan lo," goda Tyas seraya mengerlingkan mata.
"Enggak bakalan, deh." Nesya berjalan mendahului Tyas dengan mulut komat-kamit, merapalkan sebuah kalimat.
***
Malam puncak acara prom night baru saja dimulai. Acara yang mengusung tema sweet moment itu diadakan di tepi kolam renang dengan hiasan balon dan lilin yang diterapungkan di atas air kolam. Semua yang datang tampak cantik dan tampan dengan balutan dress dan setelan jas berbagai macam variasi. Tak terkecuali Nesya.
Hari ini penampilan gadis itu tampak berbeda. Tubuh ramping yang biasanya dibalut dengan celana jin dan kaus, kini digantikan oleh gaun selatut berwarna merah delima yang sangat pas di tubuhnya. Rambut panjang nan hitam yang biasanya dikucir kuda, kini dibiarkan tergerai begitu saja. Wajah cantiknya pun disulap sedemikian rupa dengan polesan mekap yang sangat natural.
Nesya tengah berdiri gelisah di dekat meja minuman. Dia tampak risi dengan penampilannya hari ini. Sebenarnya, bukan dia yang mengubah penampilannya, tetapi semua itu adalah mahakarya dari kedua sahabatnya, Tyas dan Isthy. Alhasil, Nesya memutuskan untuk mencari tempat yang aman agar tak ada satu pun orang yang melihatnya. Bisa-bisa seluruh sekolah akan gempar jika mengetahui siswi yang selalu membuat onar, kini tampil feminin. Nesya menggeleng kuat, memikirkannya saja membuat ia bergidik ngeri.
"Kalian udah pada dengar belum?"
Suara bisikan seorang gadis yang berada di kerumunan dekat meja minuman, membuat Nesya memalingkan wajah seketika. Netranya menyipit seolah-olah ingin mengetahui siapa saja yang ada di kerumunan tersebut. Namun, ia tak mengenal mereka satu pun. Akhirnya, Nesya membuka telinganya lebar-lebar agar dapat mendengar pembicaraan mereka dengan jelas. Entah kenapa, ia mempunyai firasat bahawa kerumunan gadis penggosip itu akan membicarakannya.
"Ada apaan, sih?" sahut gadis yang memakai dress panjang berwarna hitam tampak penasaran.
"Beasiswa yang diajukan Vino ternyata udah diterima, Guys. Dia bakal jadi mahasiswa Hokkaido University. Gila, gila, hebat banget, ‘kan, dia? Kemungkinan, sih, dalam waktu dekat dia mau pergi ke Jepang," jelas gadis tadi. Sontak, pernyataan gadis itu membuat mata Nesya membelalak tak percaya. Heran sekaligus kagum. Bibir dengan polesan lip gloss itu tersenyum miring.
"Beneran lo?" Gadis yang lain ikut menyahut.
"Masa, iya, gue bohong?"
"Biarin aja. Kali aja dia pengin mengubah nasib keluarganya. Bukankah dia itu anak yatim dari keluarga tak mampu?"
Seketika, suasana riuh rendah mengiringi perbincangan gadis-gadis belia tersebut. Tawa mereka seolah menggelegar di setiap sudut. Beda halnya dengan Nesya, gadis berparas ayu itu tertunduk lesu ketika mengetahui kenyataan tentang pemuda yang sangat ia benci. Ada secuil rasa bersalah menggerogoti hatinya yang dipenuhi dengan dendam dan amarah.
Kerumunan gadis-gadis belia masih tertawa dengan lepas tanpa menyadari bahwa orang yang mereka bicarakan berdiri tak jauh dari mereka dan sudah mendengar semuanya.
***
Nesya berjalan gontai menuju taman yang berada di samping vila, meninggalkan hiruk pikuk pesta di halaman belakang. Langkahnya terhenti ketika menyadari bahwa ada seseorang tengah duduk di kursi panjang di tengah taman. Netra bermanik hitam itu menyipit, menyesuaikan dengan cahaya remang agar bisa melihat siapa orang itu.
Kaki beralas high heels setinggi lima sentimeter itu melangkah mendekati seseorang itu dengan perlahan.
"Lo?!"
Nesya mengembuskan napas lega ketika mengetahui bahwa Vino-lah yang tengah duduk di kursi taman itu.
"Ngapain lo di sini?" tanya Nesya jutek seraya mengeusap dadanya, berusaha menetralkan degup jantung.
Gadis itu berdecak kesal ketika Vino tak kunjung menjawab pertanyaannya. Nesya pun mengguncang bahu Vino yang saat itu tengah tertunduk lesu. Mata Nesya membeliak seketika saat menyadari bahwa pria jangkung itu tak sadarkan diri. Bahkan, Nesya bisa merasakan bahwa napas Vino berbau alkohol. Dia salah minum atau bagaimana? Bagaimana bisa ada alkohol di tempat pesta anak SMA? Apa jangan-jangan ada yang menjebak pemuda malang ini, mengingat banyak sekali siswa yang membenci dia karena kepintaran dan sifatnya yang suka ikut campur urusan orang lain
"Lo mabuk? Woi, bangun, dong!" Nesya masih berusaha mengguncang tubuh kukuh Vino, berharap sang empunya sadarkan diri. Namun nihil, pria itu tak kunjung membuka kelopak matanya. Nesya mengedarkan pandangan, berusaha mencari seseorang yang bisa ia mintai pertolongan. Akan tetapi, tak satu pun orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Sepertinya, sedang menikmati pesta di halaman belakang.
Dengan berat hati, akhirnya Nesya memampah tubuh berat Vino ke salah satu kamar di vila tersebut karena ia pun tak tahu kamar Vino ada di mana. Tak mungkin juga, dia membawa Vino ke kamarnya, bisa-bisa Tyas dan Isthy akan marah besar.
***
Nesya meletakkan tubuh kekar milik Vino di atas ranjang secara perlahan. Napas berat sesekali diembuskannya mengingat beberapa detik yang lalu, ia baru saja membawa beban yang begitu berat. Ia sedikit merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut.
"Kenapa kalian selalu menganggapku rendah?"
Suara bariton khas milik seorang pria membuat Nesya menghentikan langkahnya, kemudian memalingkan pandangan ke belakang. Netranya semakin menyipit tatkala melihat pemuda itu tampak gelisah di dalam tidurnya.
"Aku memang bukan orang kaya seperti kalian. Aku hanya anak orang miskin yang beruntung bisa sekolah. Tetapi aku juga berhak memiliki sebuah impian. Kenapa kalian selalu menghinaku, hah?!"
Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya kini tak dapat lagi dibendung. Buliran bening itu tumpah membasahi pipi mulusnya.
Secara refleks, Nesya berjalan menghampiri ranjang, tangannya terjulur untuk mengusap air mata Alvino. Merasa risih dengan gerakan yang dibuat Nesya, membuatnya mencekal pergelangan tangan Nesya hingga membuat gadis berparas ayu itu meringis kesakitan.
Alvino menarik pergelangan tangan Nesya hingga tubuh Nesya semakin condong ke depan, membuat jarak antara mereka terkikis. Tatapan mereka bertemu di suatu titik. Lama mereka saling bertatap, tak berniat memutus tatapan yang semakin dalam itu. Alih-alih menjauh, Vino semakin mendekatkan wajahnya. Mengulum bibir ranum milik gadis berparas ayu itu dengan beringas, seolah melakukan hal itu bisa membuat rasa kesal di dalam hatinya menghilang.
Tanpa sadar, Nesya pun ikut larut dalam ciuman yang kian memanas itu. Entah setan apa yang merasukinya sehingga membalas ciuman pemuda yang amat dia benci.
Mendapat lampu hijau dari sang gadis, Vino pun menekan pinggang Nesya untuk memperdalam ciuman mereka.
Malam itu, nafsu telah mengalahkan akal sehat dua insan manusia itu. Mereka sama sekali tak peduli dengan apa yang akan terjadi akibat perbuatan berdasar nafsu belaka.
***
Vino menggeliat pelan, terusik dengan suara ranjang yang sedari tadi berderit. Secara perlahan, kelopak matanya mengerjap, mencoba menyesuaikan cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden. Ia sedikit meringis ketika kepalanya terasa berdenyut hebat. Berusaha mengingat setiap keping memori yang terjadi semalam. Namun, belum sampai ia mengingat sepenuhnya, netra hitamnya menangkap sesosok wanita tengah terduduk lesu di sudut ranjang yang sama dengannya. "Nesya?"
Wanita yang dipanggil Nesya itu pun menghapus air mata di sudut matanya, melirik sekilas pria yang telah merenggut mahkotanya. Namun, semua itu bukan sepenuhnya salah Alvino. Ia bisa saja menghindar dan menolaknya, tetapi ia sangat sulit baginya untuk menolak cumbuan pemuda itu.
"Lupakan saja apa yang terjadi. Anggap semalam tidak terjadi apa pun di antara kita."
Bibir pucat nan mengering itu sedikit bergetar ketika megucapkan dua kalimat yang terdengar meyakitkan. Ia tak mampu lagi membendung air matanya. Lagi. Untuk kesekian kalinya, ia menangis karena menyesali semuanya. Menyesal karena harus membantu Vino, menyesal karena menaruh belas kasihan dan ... menyesal kenapa harus menyerahkan kehormatannya kepada seorang pria yang belum tentu menjadi suaminya kelak. Setiap mengingat penyesalan itu membuat hatinya serasa ditusuk oleh ribuan belati yang telah dipanasi oleh bara api. Sakit sekali. Namun, bukankah sebuah penyesalan selalu datang di akhir?
Setelah meyelesaikan urusannya, Nesya berjalan lebar seraya menahan perih di bawah tubuhnya, meninggalkan Alvino yang masih mengernyitkan dahi dalam, tak mengerti arah pembicaraan wanita itu.