Hidup di jalan

1173 Words
IPAR DAN MERTUAKU 8 PoV Fendi “Bukti apa memangnya, Mas?” Alifa sudah berdiri di balik punggungku, adik iparku itu menatap ke dalam kamar. Sedangkan Usman baru berhasil bangkit setelah sempat terjatuh menimpa tubuh Aira yang kebetulan tengah berjongkok di bawah. ‘Ini saat yang aku tunggu-tunggu, ternyata Alifa malah melihat dengan kedua matanya sendiri sebelum bukti yang kusimpan ini aku perlihatkan kepadanya. Kalian akan hancur, Aira akan hancur! Ya itu yang kuinginkan. Alifa berjalan masuk ke dalam kamar. ‘Pasti sebentar lagi dia akan sangat marah pada kekasih dan kakaknya, dan hubungan mereka akan berantakan. Sangat sempurna. “Mbak Aira tidak apa-apa? Tadi Alifa melihat Mas Fendi mendorong Mas Usman,” ucapnya sambil memapah kakaknya. ‘Ah sial! Jadi Alifa malah melihatku sengaja melakukan hal tadi? Tidak seperti yang kurencanakan! Ini benar-benar sial! Usman berjalan ke arahku, kemudian meraih paksa ponsel di tanganku. ‘Prakkkk ... Benda pipih itu sudah menjadi beberapa bagian setelah Usman menghempaskan ke dinding. “Jangan macam-macam kau Mas, perbaiki sikapmu jika tidak ingin hidupmu semakin hancur!” Ucapnya, lirih tapi tepat di telingaku. ‘Sial! Bahkan Usman pun sudah berani bersikap seperti ini padaku. “Bagaimana Mbak Aira? Apa sudah bisa mengosongkan kontrakan ini? Karena sore ini pengontrak baru sudah akan menempatinya,” Pak Mardi lagi tiba-tiba sudah berada di dalam kontrakan. “Iya Pak sebentar lagi kami akan mengosongkan kontrakan ini, sebelumnya saya mau mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena kemarin sudah diizinkan mengontrak di rumah Pak Mardi, saya pamit Pak, mohon maaf jika ada salah-salah kata atau mungkin tingkah laku saya yang kurang berkenan,” Aira bersalaman dengan Pak Mardi. Beberapa koper milik Aira sudah di bawa oleh Usman dan Alifa keluar dari kontrakan menuju mobil milik Alifa. “Semoga Mbak Aira betah di tempat tinggal baru,” jawabnya. Seperti hanya berbasa basi. Membuatku muak. Setelah berbicara dengan Pak Mardi, Aira juga meninggalkan kontrakan. Mataku memperhatikan kamar kontrakan yang sudah terlihat kosong. Tidak ada satu pun yang tersisa kecuali beberapa pakaianku. Beberapa perabotan dan miniatur juga sudah tidak ada. Aira membawanya semua. Aku tidak mendapat apa pun. “Silakan Mas Fendi, karena saya akan segera menutup kontrakan ini,” Aku tersentak dengan ucapan Pak Mardi yang saat ini masih berdiri di depan kamar kontrakan. Kemudian aku meraih koper yang masih tersisa satu, lalu membereskan semua pakaianku. “Kita mau ke mana Mas?” ucap Damara. Aku meletakkan koper di sebelah tumpukan koper milik ibu dan Damara yang berada di luar kontrakan. Pak Mardi mulai menutup pintu kontrakan lalu menguncinya. “Kita ke mana Mas?” Damara kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Apa kita harus tidur di jalan? Astaga, masa kita harus jadi gembe*? Aku gak mau, Mas Fendi harus mencari tempat tinggal yang layak untuk kita, iya kan Bu?” Suara Damara terus merengek semakin membuatku pusing, aku hampir kehilangan akal sekarang. “Diam Damara! Sekarang beri tahu padaku, siapa lelaki yang menghamilimu?” Sentakku pada Damara. “Katakan!” lanjutku, dengan suara lebih tinggi. “Dia ... Em .. dia,” “Ayo! Antarkan aku untuk menemuinya! Kita harus meminta pertanggungjawaban padanya.” Tangan Damara kuraih, saat ini ia terseret mengikuti langkahkan. Diikuti dengan ibu yang kepayahan menarik dua buah koper miliknya dan Damara. “Apa kita harus jalan kaki? Rumahnya jauh dari sini,” protes Damara. “Memangnya kau punya uang untuk ongkos?” timpalku, tetap berjalan semakin melebarkan langkah. “Pelan-pelan saja, Fendi. Kasihan Adikmu.” Ucap ibu yang saat ini tertinggal jauh olehku. ** Berjalan hampir 20 menit, akhirnya Damara menunjuk sebuah rumah. Ia menyebutkan bahwa pemilik rumah ini lah yang telah membuatnya sampai mengandung. Mataku menangkap sebuah papan yang tertulis di sekitar bangunan yang cukup besar ini. LOKALISASI. ‘Apa ini tidak salah? Tempat apa ini? “Jangan bercanda, tempat apa ini Damara? Kau mau membohongiku?” ucapku pada Damara. “Tidak Mas, memang di sini, aku sendiri juga tidak tahu, karena pada waktu itu aku tengah mabuk bersama teman-temanku, dan saat aku bangun, ternyata aku sudah berada di sini,” terangnya. ‘Plakkkkk! “Dasar ceroboh!” ucapku setelah melayangkan tamp*ran pada Damara. “Lalu berapa banyak lelaki yang menidurimu, hah? Kamu pikir ada lelaki yang mau bertanggung jawab?!” Aku benar-benar sudah kehilangan akal sehat saat ini. Masalah akan semakin besar jika seperti ini. “Jangan memojokkan Adikmu seperti ini, dia tidak bersalah, dia hanya korban!” ibu berusaha membela putrinya yang ceroboh itu. “Pantas saja jika Usman menceraikanmu!” lanjutku, sangat geram dengan Damara. “Jangan hanya menyalahkanku, Mas Fendi juga berselingkuh dengan Mbak Ulfa,” Damara malah tak mau kalah, ia menimpali ucapanku. Ingin rasanya melayangkan tangan ini, tapi semua akan percuma. Nasi sudah menjadi bubur. “Tidak ada pilihan lain, kita harus ke rumah Ulfa,” usul ibu. Aku berpikir tentang saran dari ibu, dan memang itulah jalan satu-satunya. Padahal jarak dari sini ke rumah Mbak Ulfa lumayan jauh, bisa sampai subuh jika kita hanya jalan kaki. Mau bagaimana lagi, mau tidak mau memang kami harus jalan kaki. “Mangkanya Mas Fendi itu kerja, biar kita bisa punya uang,” celetuk Damara. “Sudah kubilang aku hanya ingin bekerja jika jabatanku kembali seperti dulu!” Sentakku. “Kenapa tidak kamu saja yang bekerja, hah?” lanjutku. Damara terdiam, ibu juga terdiam. “Ibu punya usul, bagaimana kalau kamu nikahi Ulfa, nanti biar dia yang bekerja, dengan begitu kita bisa tinggal di rumahnya, Ulfa itu sangat penurut, pasti dia sangat senang kalau kamu menjadikannya Istri,” Lagi-lagi ibu memberi usulan, tapi sepertinya usulan ibu ini sangat tepat. Mbak Ulfa kan sangat mencintaiku, pasti dia akan melakukan apa saja jika aku yang memerintahnya. Saat ini kami bertiga masih berjalan kaki menuju rumah Mbak Ulfa. Entah berapa lama lagi kita akan sampai. Karena ini belum ada separo dari perjalanan. “Aduh!” teriak Damara. Sebuah mobil yang baru melintas menginjak jalan berlubang yang penuh dengan genangan yang menyerupai lumpur. Hingga lumpur itu mengenai Damara yang berjalan tepat di pinggir jalan. “Jadi basah kan!” teriaknya lagj. Aku tak bisa menahan tawa saat menyaksikan Damara sudah seperti tikus di dalam got. “Lihat, mukamu lucu sekali, persis seperti tikus got,” ucapku sambil terbahak-bahak. “Sembarangan! Biar impas Mas Fendi juga harus merasakan ini,” Damara meraih air yang menyerupai lumpur itu dengan kedua tangannya. Kemudian ia siramkan tepat mengenai kepalaku. Sekarang ibu yang malah tertawa. “Kalian berdua sama persis seperti gemb*l.” Ucap ibu diiringi tawa. ‘Hah! Sial! Kami melanjutkan langkah menuju rumah Mbak Ulfa. ** Hampir satu jam lebih kami berjalan kaki, saat ini kami sudah berdada di kediaman Mbak Ulfa. “Maaf Bu, di sini Ulfa hanya numpang, jadi Ulfa tidak bisa menampung kalian.” Jawab Mbak Ulfa saat ibu menyampaikan niatnya. “Kecuali kalau Fendi sudah bekerja dan mau menghidupi kami,” lanjutnya. Ibu terlihat mulai geram dengan Mbak Ulfa. “Kalau Fendi sudah bekerja, tentu kami sudah tidak membutuhkanmu lagi! Percuma kita datang ke sini! Ayo Fendi, kita susul Aira ke rumah orang tuanya!” Lanjut ibu. ‘Kenapa semua orang menolakku? Apa aku harus tinggal di jalanan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD