Murka

1126 Words
IPAR DAN MERTUAKU 7 PoV Aira Ternyata perdebatan kami mengundang para tetangga kontrakan. Terlihat beberapa ibu-ibu berdatangan. “Tutup mulutmu!” Timpal Damara. “Jadi Damara hamil? Dia kan janda, hamil dengan siapa?” sahut Bu Asri. Beberapa tetangga yang saat ini berdiri tidak jauh dari teras kontrakan, terlihat saling berbisik satu sama lain. Tatapan mereka fokus pada Damara. “Pantas saja perutnya sedikit buncit,” sambung tetangga yang lain. “Apa itu benar, Damara? Katakan padaku apa itu benar?” Mas Fendi mengguncang pundak adiknya. Damara mengangguk perlahan. Sepertinya pengakuan Damara sedikit membuat ibu dan Mas Fendi tertamp*r. Apa lagi saat ini kehamilan Damara sudah diketahui para tetangga, pasti ibu dan Mas Fendi sedang menahan malu. Sebenarnya aku sudah tahu sejak dua bulan terakhir tentang hal itu, karena tidak sengaja aku mendengar obrolan Damara melalui sambungan teleponnya. Entah waktu itu dia sedang berbicara dengan siapa, yang pasti Damara mengatakan bahwa dia sedang mengandung. Tapi yang pasti seseorang yang berbicara dengannya itu bukan Usman. “Kamu hamil? Dengan siapa? Katakan pada Ibu, katakan Damara!” Kali ini ibu yang mengguncang pundak putri kesayangannya. “Tentu saja dengan Mas Usman!” Jawab Damara. Bisa-bisanya anak itu berbohong. “Mana mungkin itu anak saya, kita resmi bercerai sejak enam bulan lalu, jangan mengada-ada.” Sahut Usman. Usman berjalan menuju ke arahku. Melda masih tertidur dalam gendongannya. “Jangan coba-coba memfitnahku,” lanjutnya. Saat ini Usman memindahkan Melda ke tanganku. “Kalau Mas Usman mau mengelak ya silakan, aku sudah berbicara yang sebenarnya, apa karena Mbak Aira hingga kau tak mau mengakui darah dagingmu sendiri?” Ucapnya tanpa beban. Masih bisa dia bersandiwara menutupi kesalahannya dengan cara ingin menjatuhkan orang lain. Keterlaluan. “Mana mungkin itu terjadi? Omong kosong, kau sedang mengigau ya?” timpal Usman. “Lihat ibu-ibu, Suami saya sampai tak mengakui darah dagingnya sendiri, dan asal ibu-ibu tahu bahwa Mbak Aira sudah berhasil menggoda Suamiku.” Damara berbicara semakin melantur. “Suamimu? Mantan Suami, Mbak. Apa kamu lupa? Mas Usman sudah menceraikanmu, kalian sudah bukan Suami Istri lagi, tentang pengakuanmu mengenai bayi yang ada di dalam perutmu, bagaimana kalau kita melakukan tes DNA saja?” sahut seseorang, Alifa, Adik perempuanku. Ia datang dan menyahut perdebatan antara Damara dan Usman. “Sayang? Sejak kapan kau di sini?” ucap Usman. “Baru saja, Mbak Aira yang memberi tahuku bahwa kamu ada di sini bersamanya,” jawab Alifa. Tadi memang aku memberinya kabar saat aku dan Melda berada di rumah makan Usman, aku juga memberi tahu Alifa bahwa Usman mengantar kami pulang karena Melda tertidur. Itu sebabnya ia kuminta datang untuk menjemput Usman. Karena aku sudah tau lama tentang kedekatan mereka yang semakin serius. Tadi Usman juga sempat bercerita bahwa akan segera menikahi Alifa. Aku juga sempat meminta maaf padanya karena sejak kemarin selalu kujadikan sebagai tameng dalam perdebatanku dan Mas Fendi. Usman juga bercerita banyak hal tentang perselingkuhan Mas Fendi dan Mbak Ulfa yang ia tahu sudah sejak lama, tepatnya sejak Mas Arus meninggal. Bahkan sampai saat ini Mas Fendi memiliki hutang pada Usman yang tidak sedikit jumlahnya. Itu sebabnya kemarin Usman tidak mau memberikan pinjaman lagi pada Mas Fendi. Entah uang itu ia pergunakan untuk apa, selama satu terakhir aku bahkan tidak pernah menerima uang dari Mas Fendi, malah aku yang mencukupi semua kebutuhan rumah sampai ibu dan adiknya. Bahkan cicilan motor yang saat ini sudah ditarik oleh lesing itu aku yang menanggung. Untung saja Tuhan sudah membuka mataku dengan kedatangan Mbak Ulfa kemarin, dari situ sikap ibu bisa k****a. Dari situ juga Melda mengungkap apa yang terjadi di dalam rumah selama aku berada di tempat kerja. “Apa? Sayang? Jadi selain kakakmu, sekarang kau juga ingin menggoda mantan Suamiku? Benar-benar keluarga penggod*!” Timpal Damara, ia terlihat kepayahan berusaha untuk bangkit. Damara mendekat ke arah Alifa. “Jaga bicaramu, Alifa calon Istriku! Dan perlu saya tegaskan lagi! Semua tuduhan kalian pada Mbak Aira itu salah!” terang Usman. “Aneh memang, sandiwara apa lagi yang kalian sedang mainkan? Bukannya sejak kemarin Aira selalu berbicara lantang bahwa Usman akan menjadi pengantiku bahkan sampai ke pernikahan juga? Apa semua itu omong kosong?” Mas Fendi berbicara begitu runtuk. Ia menggelengkan kepala sambil menatapku. “Kan kamu sendiri yang menyimpulkan, aku hanya menanggapi semua hal yang telah kau simpulkan sendiri,” jawabku. “Apa kau pikir aku akan percaya?” jawabnya. “Meladeni kalian tidak ada untungnya.” pungkasku, mengakhiri perdebatan antara kami. Tidak ada gunanya juga, tujuanku saat ini hanya ingin segera meninggalkan kontrakan bersama putriku. Aku meminta tolong pada Alifa untuk mengendong Melda, tadi aku juga memintanya agar datang membawa mobil. Kara barang-barangku dan Melda masih berada di kamar yang sengaja aku kunci. Aku juga meminta Aldo untuk membawa barang-barangku pulang ke rumah orang tuaku. Keputusanku sudah sangat bulat. Tidak ada lagi yang harus kupertahankan dengan pernikahan ini. “Usman, tolong bantu Mbak untuk memasukkan beberapa baju ke mobil Alifa,” ucapku. Usman Mengikuti ucapanku, sementara aku meminta Alifa untuk membawa Melda ke dalam mobil. Kemudian aku dan Usman masuk ke dalam rumah untuk membawa barang-barangku yang masih tersisa. “Jadi Mbak Aira sudah menggugat Fendi? Baguslah, kasihan juga kalau terus bertahan dan harus menghidupi Suami dan keluarganya,” terdengar suara Bu Asri yang masih berdiri tidak jauh dari teras rumah. “Jangan ikut campur! Dasar ibu-ibu kurang kerjaan! Sana bubar, bubar!” Suara Damara menimpali. Aku menghentikan langkah dan menoleh ke arah teras, terlihat Damara tengah menyiram para tetangga menggunakan selang air yang terletak di samping teras. Membuat ibu-ibu berlarian meninggalkan teras. Usman menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat perbuatan Damara. “Aku sampai tidak habis pikir, kenapa aku dulu bisa menikahi Wanita seperti itu ya?” Ucapnya. “Bersyukurlah karena kamu sudah berhasil terbebas darinya,” jawabku. Kemudian aku melanjutkan langkah untuk menuju kamar, terlihat ada sebuah linggis di depan kamar kontrakan. ‘siapa yang meletakkannya di sini? Aku jadi berpikir bahwa tadi Mas Fendi berusaha mendongkel pintu kamar dengan linggis ini. Iya, pasti seperti itu dugaanku. Tapi mungkin rencananya belum berhasil dan aku lebih dulu datang. Benar-benar keterlaluan. “Tolong pikirkan lagi Aira, kita bisa memulainya dari awal,” Mas Fendi tiba-tiba meraih pundakku. Aku sampai berputar hingga saat ini menghadap ke arahnya. “Jangan membuang-buang waktuku Mas,” jawabku, melanjutkan membuka pintu kamar. Setelah berhasil membuka pintu kamar, aku dan Usman segera masuk untuk membereskan barang-barangku. Aku mulai membuka koper yang tadi sudah kusiapkan di depan lemari. Usman pun sama, ia terlihat gesit memasukkan beberapa pakaian Melda ke dalam koper. Tiba-tiba tubuh Usman terjatuh hingga menimpa tubuhku yang saat ini tengah berjongkok di depan lemari. “Ini kan yang kalian mau? Dengan foto ini, kalian berdua akan hancur! Tentunya hubungan persaudaraanmu dan Alifa juga!” Setelah mendorong tubuh Usman, Mas Fendi sengaja mengabadikan foto kami. “Kamu akan hancur dengan semua bukti-bukti ini, Aira!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD