Terusir

1534 Words
IPAR DAN MERTUAKU 6 PoV Fendi “Tunggu dulu Pak, saya pasti akan usahakan, tolong berikan waktu lagi,” ucapku pada Pak Mardi. Lelaki di hadapanku tetap kekeh dengan pendiriannya, bahwa hari ini juga kami harus mengosongkan kontrakan. ‘Ah sial! Ini semua karena sepeda motor yang kujadikan jaminan malah ditarik oleh pihak lesing. ‘kalau tau akan begini, pasti sudah aku jual sepada motor itu. Pak Mardi meninggalkan kontrakan setelah bersi tegang denganku. Ia hanya memberikan batas waktu pengosongan rumah sampai nanti sore. Lalu ke mana aku harus membawa ibu dan Damara? Karena aku sangat yakin bahwa Aira tidak main-main dengan ucapannya. Semua harus terbongkar dalam waktu bersamaan, semua raib dalam sekejap. “Bagaimana dong Mas? Kita harus pergi ke mana?” Pertanyaan Damara malah semakin membuatku pusing. “Ibu punya ide, sementara Aira sedang keluar bersama Melda, bagaimana kalau kita cari barang berharga yang bisa kita jadikan uang?” Ibu memberikan usulan. Sesaat aku berpikir dengan usulan ibu. Ada benarnya juga, Aira masih menyimpan beberapa barang berharga berupa perhiasan yang sengaja ia simpan untuk biaya sekolah adiknya. Apa salahnya jika perhiasan itu aku pinjam, setidaknya untuk membayar kontrakan agar aku tak perlu ke mana-mana. “Kalau begitu Damara dan Ibu tetap berada di sini, kalau nanti tiba-tiba Aira datang segera beri tahu Fendi,” ucapku. Gegas aku berjalan menuju kamar. ‘Ah! Ternyata Aira mengunci kamar ini, apa aku harus membuka dengan cara paksa? Terpaksa. Aku berjalan ke dapur untuk mencari benda yang akan bisa kupergunakan membuka pintu kamar. Tin ... Tin ... Aksiku dihentikan dengan suara klakson dari depan kontrakan. ‘Siapa? Seperti suara klakson mobil. Sebaiknya aku pastikan dulu siapa yang datang. “Ada yang datang Mas, dua buah pikap,” Dania sudah lebih dulu menghampiriku yang akan melangkahkan kaki. ‘Dua buah pikap? Aku berjalan tergesa, meninggalkan sebuah linggi* yang tadi akan kupergunakan untuk membuka pintu kamar. “Aldo? Mau apa datang ke sini?” tanyaku. Ternyata yang datang adalah Aldo, sepupu Aira. “Mbak Aira memberiku perintah kepadaku untuk mengangkut semua barang-barang miliknya yang ada di kontrakan ini.” Terangnya. ‘Apa Aira sudah mendapat tempat tinggal baru? Jadi dia pergi dari rumah untuk mencari tempat tinggal? Aira memang selalu bisa diandalkan. Dan aku yakin tadi dia hanya mengertakku saja. Yang penting Aira belum pernah memergokiku bersama Mbak Ulfa, masalah ucapan Melda pasti dia paham, bahwa anak kecil belum tentu kebenarannya. Untuk memastikannya, apa salahnya aku menelepon Aira. Tapi malah panggilan telepon dariku ia rijeks. Mungkin Aira sedang sibuk berbenah di tempat tinggal baru. “Oh baiklah, kalau begitu aku akan membantumu untuk mengangkut semua barang-barang kami,” ucapku. Aldo dan dua sopir pikap masuk ke dalam kontrakan kami. “Fendi, kamu ini bagaimana? Kok malah membiarkan saudara Aira mengangkut barang-barang dari kontrakan?” ibu memprotesku. “Ya mau bagaimana? Kan Ibu tadi sudah mendengar pernyataan Pak Mardi bahwa kita hari ini juga harus mengosongkan kontrakan? Aira sudah mendapat tempat tinggal baru, sekarang lebih baik Ibu dan Damara juga berkemas, jangan ada yang ketinggalan, nanti kita ikut naik pikap sekalian,” terangku pada ibu dan Damara. Sedikit lega, karena aku tidak perlu lagi pusing-pusing mencari tempat tinggal baru. Hanya menyusun rencana untuk meminta maaf pada Aira agar dia tidak terus menuduhku berselingkuh. Sementara aku harus mengalah dulu dengannya, biarkan saja jika dia terus uring-uringan. Yang penting kami masih bisa tinggal di tempat yang Aira sudah siapkan. Untung saja aku belum jadi membobol pintu kamar kontrakan ini. Jika tadi Aldo telat sedikit saja, pasti semuanya malah akan kacau. Aku yakin, nanti setelah pindah ke tempat tinggal baru, pekerjaan yang selama ini aku tunggu-tunggu dan harapkan juga akan segera kudapatkan. Menjadi seorang manajer seperti dulu lagi. Kalau hanya mencari pekerjaan lain aku sebenarnya juga bisa, tapi aku tidak sudi jika harus mendapat pekerjaan yang malah jauh dari kemampuanku. Selama ini setiap kali aku mengajukan lamaran hanya akan di tempatkan di bagian staf biasa. Tentu saja aku menolak. Gengsi. Sepertinya ibu dan Damara sudah selesai berkemas. Hanya menunggu Aira datang, karena baju-bajuku juga masih berada di dalam kamar ini. Aldo dan dua pemilik pikap juga sudah selesai mengangkut barang-bareng ke atas pikap. “Kita tunggu Aira, karena baju-bajuku masih berada di kamar kami,” ucapku. “Biar saya telepon Mbak Aira,” jawabnya Aldo. “Halo Mbak .. kami sudah selesai mengangkut barang-barang Mbak Aira ke atas pikap,” Sepertinya Aldo menghidupkan pengeras suara pada ponselnya. “Bagus .. segera tinggalkan tempat itu, oh iya, beri tahu pada Fendi dan keluarganya, gugatan cerai akan segera aku kirimkan!” Suara Aira dari sambungan telepon. “Apa maksudnya?!” Ucapku. Aira malah sengaja memutus sambungan teleponnya begitu saja. “Mas Fendi sudah dengarkan? Sekarang tugas saya sudah selesai,” jawab Aldo. Anak itu berjalan menuju pikap diikuti dua pemilik pikap. ‘Benar-benar kurangaj*r! “Ibu bilang juga apa? Sudah tunggu apa lagi? Cepat ambil barang-barang berharga yang masih tertinggal di kamar kalian!” Ucap ibu. Tanpa pikir panjang aku mengikuti ucapan ibu dan bergegas masuk ke dalam rumah. ‘Ya aku harus mengamankan barang-barang itu untuk bekal hidup kami nanti. Bisa-bisanya Aira melakukan ini padaku. Sudah merasa hebat dia sekarang? Aku tidak akan pergi dari sini tanpa mendapat apa pun. Tapi rencanaku malah gagal lagi karena terdengar dari depan kontrakan suara Aira dan ibu saling berdebat. ‘Kacau! Semua kacau! Aku belum berhasil membuka pintu kamar ini. Hah! “Memangnya siapa kamu? Berani-beraninya bersikap seperti ini pada Suami dan Mertuamu sendiri,” suara ibu berteriak terdengar jelas olehku. Terpaksa aku segera berlari untuk melerai pertengkaran mereka. “Saya Aira Azahra! Yang sebentar lagi akan resmi menjadi mantan menantu Ibu!” Jawab Aira. “Kamu memang tidak bisa diuntung,” sergah ibu. Terlihat Aira menghadang tangan ibu yang sebentar lagi akan mendarat ke pipinya. Kemudian ia menepis kasar tangan ibu, hingga membuat ibu hampir tersungkur. “Aira! Apa yang kamu lakukan pada Ibuku itu sudah melewati batas! Mulai detik ini aku menalakmu!” Ucapku kehilangan kesabaran. Ternyata Aira datang bersama Usman. Saat ini Melda berada dalam gendongan lelaki yang pernah menjadi iparku. Jadi mereka sudah sedekat ini? Sejak kapan? Pasti Usman yang sudah membongkar perselingkuhanku dengan Mbak Ulfa. Karena beberapa kali ia pernah memergokiku di hotel saat sedang bersama Mbak Ulfa. Kurangaj*r. “Istrimu ini memang durhak* bahkan di depanmu saja dia berani memperlakukan Ibu seperti ini.” “Mantan Istri, Bu. Bukan Istri lagi, iya kan Mas?” sahut Aira. “Dengan sadar kamu menjatuhkan talak padaku, tinggal menunggu saja proses persidangan gugatan cerai dariku. Tenang saja Mas, aku memang sengaja menggugatmu, karena aku tahu, kamu tidak akan memilik biaya untuk menceraikanku!” sambungnya disertai senyuman sinis. Aku hanya bisa menahan amarah, tanganku rasanya ingin melayang. Tapi sebisa mungkin untuk kutahan. “Ibu bilang juga apa? Sekarang kamu tahu sendiri kan? Itu sebabnya Ibu selalu memandangnya berbeda dengan Ulfa, Istrimu tidak nurut seperti Ulfa, dia selalu membangkang.” Ujar ibu. Aira malah tersenyum sambil perlahan menggelengkan kepala. “Sudah tidak usah membandingkanku dengan menantu kesayangan Ibu itu, tentu kami berbeda, karena saya tidak bisa jika harus berselingkuh dengan Ipar sendiri.” Jawabnya lagi. ‘Benar dugaanku, ternyata Usman sudah menceritakan semuanya pada Aira. Tapi sepertinya ucapan Aira harus kusadarkan. Agar dia tidak terus menerus menuduhku berselingkuh. “Lalu ini apa? Kalian saja datang bersama, boncengan juga kan? Sampai Melda tertidur seperti itu, dari mana kalian? Cari tempat mesu*, iya?” Sergahku sambil menunjuk ke arah Usman yang sejak tadi berdiri di tempatnya dengan mengendong Melda. “Jangan menyamakan standarmu dengan orang lain, Usman tentu berbeda denganmu, dia lelaki terhormat,” jawabnya tak mau kalah dan malah semakin merendahkanku. Keterlaluan Aira. “Itu berarti kamu yang murah*n! Mengajak adik Iparnya berbonceng-boncengan di tempat umum! Kamu masih berstatus Istri Mas Fendi!” Damara ikut menimpali. Aira semakin tertawa mendengar ucapan Damara. “Seharusnya kata-kata itu lebih cocok untuk diberikan padamu, Damara. Atau perlu kuingatkan lagi? Bagaimana kau berselingkuh di dalam rumah mertuamu sendiri?” Lagi-lagi Aira tak mau kalah dan malah membeberkan semuanya. “Tunggu apa lagi? Sudah selesai kan? Silakan angkat kaki dari sini,” ucapnya. Aira benar-benar sudah tidak bisa kukendalikan lagi. Apa semua ini karena Usman? Awas saja jika dia sampai berani mendekati Istriku. Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan itu terjadi. “Kamu kira kami takut denganmu? Kamu kira kami tidak akan bisa hidup tanpa kamu? Lihat saja! Ulfa juga bersedia menampung kami! Ayo Fendi, kita tinggalkan wanita ini, biar dia hidup bebas dengan mantan Iparnya itu!” Sergah ibu. “Nikahi saja Kakak Iparmu! Dengan begitu aku bisa menikah dengan Adik Iparmu! Impaskan ...?” Ucapnya. “Seperti itu kan, Bu?” Lanjutnya memberi pertanyaan pada ibu. Ucapan Aira mengundang kemarahan Damara. “Dasar tidak war*s! Perempuan penggoda! Murah*n!” sergah Damara. Ia sampai akan meraih rambut Aira, tapi lagi-lagi Aira berhasil menghindar dan malah Damara yang tersungkur. “Aduh!” teriak Damara yang sudah tertelungkup. Ibu berusaha memapah Damara. “Fendi! Kenapa kamu diam saja? Lihat, Adikmu diperlakukan seperti ini dengan Istrimu!” Protes ibu. Aira kembali tertawa. Sementara aku masih menahan tanganku agar tak secepatnya melayang. “Huwek ... Huwek ...” Damara menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Lalu siapa yang murah*n? Jangan lupa Mas, minta lelaki yang menghamili Adikmu untuk bertanggung jawab!” Ucap Aira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD