Selamat hidup di jalanan

1160 Words
IPAR DAN MERTUAKU 5 “Dosa loh Tante, mengambil milik orang lain itu kan tidak baik,” suara putriku dari arah dapur. Jadi Melda sudah keluar dari kamar, apa dia tadi mengikuti keluar dari kamar? “Anak kecil sok tau! Sana masuk!” suara Damara menimpali ucapan Melda. Aku sengaja berjalan mengendap-endap menuju dapur. Tatapanku fokus tertuju pada Damara!! Benar, ternyata Melda ada di teras belakang bersama tiga manusia yang sejak tadi kucari. Apa mereka tidak mendengar teriakanku sejak tadi? Bahkan aku membuka pintu kamar mereka dan memb*ntingnya. Apa iya mereka tak mendengarnya? “Kan Papa yang memberi tahu Melda, iya kan Pa? Mengambil milik orang lain itu dosa,” lanjut Putriku. Melda berusaha menjelaskan apa yang pernah Ayahnya ajarkan. Sebenarnya apa yang sedang Melda lihat hingga ia berbicara seperti itu pada Damara? Saat ini aku berdiri tidak jauh dari mereka, memastikan ucapan Melda, ternyata Damara dan ibu sedang menyantap makanan yang tadi sengaja aku pesan untuk Melda. ‘Keterlaluan mereka. “Nenek dan Tante Ara ini kan keluarga Melda, jadi gak apa-apa berbagi pada keluarga,” jawab Mas Fendi. ‘Cuih, berbagi dia bilang, tidak punya malu. “Cepat habiskan, nanti setelah itu kita kupas mangga ini,” ucap ibu sambil sibuk menyendok makanan dari kotak itu. Aku memperhatikan beberapa mangga yang terletak di atas meja. ‘Pantas saja mereka tak mendengarku, ternyata mereka baru dari belakang memetik buah mangga. Tidak punya malu, pohon itu kan milik Pak Mardi yang sudah ditebas buahnya oleh Pak Hamit. “Tapi kan Tante sama Nenek gak ijin dulu sama aku dan Mama, itu kan sama saja dengan me...” “Sudah Melda! Jangan bicara lagi! Mau Tante puku* lagi?” Gigiku bergemeretuk mendengar ucapan Damara, ingin sekali rasanya menghadiahinya sebuah tamp*ran. Jadi seperti ini mereka memperlakukan putriku selama aku berada di tempat kerja? Ayah macam apa Fendi? Membiarkan putrinya diperlakukan seperti itu dengan adik dan ibunya. ‘Rekaman ini sudah cukup untuk menyeret mereka ke kantor polisi. Tak lama terdengar dari depan pintu suara salsm disertai ketukan beberapa kali. ‘Seperti suara Pak Mardi. Pasti petugas lesing sudah berhasil membawa sepeda motor yang dijadikan jaminan oleh Fendi. “Melda, ayo sini sayang, kasih tau pada Papamu, di depan sana ada beberapa tamu yang datang,” Ke tiganya tersentak saat aku tiba-tiba muncul, ibu meremas kotak berisi makanan yang ada di tangannya. Damara juga terlihat kesusahan menelan makanan yang sudah masuk ke mulutnya. “Nikmati saja makanannya, mungkin itu makanan terakhir kalian di kontrakan ini, oh iya aku baru ingat, kalau di dalam sel nanti juga tidak ada makanan seperti ini.” Damara tersedak. “Selalu mengancam seperti ini, apa maumu? Pisah, iya?” Ucap Mas Fendi, seperti tak memiliki kesalahan. Aku tersenyum sinis di hadapannya. Mendengar Ayahnya berteriak, Melda bersembunyi di belakanku, Ia kembali menutup kedua telinganya, lalu aku memintanya untuk masuk ke dalam kamar. Melda mengikuti ucapanku. “Halah, paling-paling dia mau mendekati mantan Suamiku, dasar tidak punya malu.” Sambung Damara. Rupanya dia sudah berani denganku, bisa-bisanya mengalihkan kesalahan dan malah bicara seperti itu. Aku berjalan mendekat ke arahnya, lalu meraih lengan Damara hingga ia beranjak dari tempat duduknya. “Sakit, lepaskan.” Teriaknya. “Jika kau bisa melukai putriku, aku juga bisa melakukan hal yang sama bahkan lebih,” jawabku, lirih tapi tepat di telinganya. “Mas ini sakit, lepaskan tangan Mbak Aira dari lenganku.” Erangnya, mencoba meminta tolong pada kakak lelakinya. Sementara aku makin meremas kuat lengan Damara, hingga kelima kukukku menancap sempurna. “Astaga, kau ini sudah gil* ya Aira? Lepaskan tanganmu!” ibu berusaha menghentikan aksiku, tapi aku berhasil menepisnya. Sedangkan Mas Fendi hanya diam, ia menatapku yang sejak tadi tak bergeming dari tatapannya. “Sakit!” Erang Damara lagi. “Ibumu dan yang lain tertawa saat melihat putriku kesakitan bekas perbuatanmu, sekarang aku yang akan tertawa melihatmu,” ucapku, kali ini aku melepas cengkeraman tanganku. “Sudah gil*! Kau benar-benar gil* Aira!” sergah ibu mertuaku. Mas Fendi terlihat menahan amarahnya, tangannya mengepal sambil menatapku. “Aku peringatkan pada kalian, jangan sekalipun menyentuh Putriku, tidak perlu kebanyakan tingkah! Terlebih kau Mas, untuk membiayai makan Adik dan Ibumu saja tidak becus, berani-beraninya berselingkuh di dalam tempat tinggal ini.” Mas Fendi mundur dua langkah, karena aku sengaja berbicara tepat di hadapannya. “Buka pintunya! Hadapi masalah yang telah kalian ciptakan.” Lanjutku. Aku meninggalkan ketiganya di teras belakang. “Apa yang kamu lakukan pada Melda hingga Aira marah seperti itu?” Terdengar suara Fendi, meski saat ini aku sudah berada di ruang tengah. “Mas Fendi mau percaya ucapan Anak kecil? Aku itu hanya mengajarinya mandiri.” Sahut Damara, terdengar jelas olehku. Jadi Fendi tidak tahu tentang perbuatan Adiknya itu? Lalu ke mana dia saat ibunya dan Ulfa menertawakan Melda yang tengah kesakitan. “Masalah hubunganku dengan Mbak Ulfa memang kalian tau, tapi bukan berarti kalian bisa menyakiti Melda!” sentaknya, masih terdengar jelas. “Kau membentak Ibu hanya karena membela Anak kecil yang belum tentu kebenarannya?” Sambung ibu mertuaku. ‘Benar, ternyata Fendi tidak tahu saat Melda diperlakukan tidak baik oleh ibu dan adiknya. Tapi tetap saja aku tidak akan memaafkan ketiganya. “Terserah saja kalau Mas lebih percaya dengan Anak ingusan itu,” timpal Damara. “Dia juga melukai tanganku kan? Lihat, sampai berdarah seperti ini, mana bisa dia mengancamku lagi sekarang, yang ada aku yang akan melaporkannya ke kantor polisi.” Lanjutnya. “Diam di sini dan jangan melakukan tindakan bod* apa pun itu! Aku mau keluar membuka pintu!” Fendi menimpali ucapan adiknya. ‘Bisa-bisanya ibu dan Damara berbicara seperti itu, tunggu saja dalam hitungan menit, aku akan membuat kalian berada di jalanan. Sementara Fendi menghadapi Pak Mardi, lebih baik aku keluar rumah mengajak Melda mencari makanan. Biarkan saja ia menghadapi masalah yang ia ciptakan sendiri. “Ayo sayang kita pergi ke rumah makan Om Usman,” ucapku pada Melda. Aku menggandeng tangan Melda, melewati ruang tamu. Pak Mardi dan Fendi sedang bersi tegang, tapi aku memilih tak memedulikannya. Saat ini aku sudah berhasil keluar dari kontrakan. Dengan menggunakan motor matick kesayanganku, aku membawa Melda menuju rumah makan Usman. ** Memang sengaja aku datang ke tempat ini, untuk menanyakan soal kemarin saat Fendi berusaha meminjam uang pada Usman. Aku juga sudah menghubungi Aldo sepupuku untuk datang ke kontrakan dan menyewa dua buah pikap. Semoga semua rencanaku berjalan sesuai rencana. Aku akan membawa Melda jauh dari ketiga orang-orang itu. “Mbak Aira? Melda? Wah rumah makan Om Usman kedatangan tamu istimewa ini,” Usman menyambut kami yang baru turun dari motor. Ia menggandeng tangan Melda masuk ke dalam rumah makan yang tampak dipadati oleh para pembeli. Baru saja kakiku akan melangkah setelah memarkirkan sepeda motor. Ponselku berdering beberapa kali. Setelah kulihat nama Mas Fendi yang tertera di layar. Sengaja aku merijeks panggilan darinya. [Mbak, aku dan dua orang sopir pikap sudah berada di kontrakan] Pesan masuk dari Aldo. [Angkat semua barang-barang yang ada di dalam kontrakan, jangan ada yang tertinggal, kecuali pakaian ketiga manusia itu!] Balasku. ‘Silakan hidup di jalanan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD