8

1050 Words
8 Di suatu senja yang indah, Leonard mengajak Amarra ke London Tower Bridge. Keduanya berdiri di dekat sebatang pohon di sekitar Sungai Thames. Mata keduanya mengarah pada jembatan kukuh yang membelah sungai. Bangunan jembatan itu memiliki desain yang unik, yaitu dibagi menjadi dua bagian yang sama besar. Jika ada kapal mendekat, kedua bagian itu terangkat naik, dan kapal pun melintas, seperti yang terjadi saat ini. Sambil memandang panorama tersebut, Leonard memeluk Amarra dari belakang. Tangannya erat bersimpul di pinggang Amarra sementara dagunya bertengger di bahu langsing kekasihnya itu. Sesekali Leonard mengecup pipi Amarra, atau rambut wanginya yang tergerai indah. Perlahan-lahan malam membelai. Lampu di jembatan mulai menyala, begitu juga lampu-lampu dari gedung-gedung di sekitarnya. “Indah, bukan?” Bisik Leonard mesra di telinga Amarra. Amarra mengangguk samar kemudian merenggangkan pelukan Leonard dan berbalik menghadap pria itu. Leonard mendorong pelan Amarra hingga bersandar ke pohon sementara sebelah tangan kekar berototnya bertopang di batang pohon tepat di samping kepala Amarra. “Apakah kau bahagia menjadi kekasihku, Amarra?” tanya Leonard lembut sambil mengangkat tangan dan mengusap pipi Amarra. Amarra tersenyum lebar dan menatap Leonard dengan mata berbinar penuh cinta. “Sangat bahagia,” jawab Amarra. Leonard menyeringai senang. Tangannya menyusuri rahang Amarra, terus bergerak hingga berhenti di bibir gadis itu. Jari ibu Leonard mengusap bibir sensual yang sedikit terbuka itu. Amarra menatapnya sayu membuat Leonard terbakar hasrat. Jemarinya berpindah merangkum dagu Amarra, lalu ia menunduk. Bibirnya menyapu lembut bibir Amarra. “Aku mencintaimu, Amarra,” bisik Leonard sambil memperdalam ciumannya. Bibirnya memagut bibir Amarra, mengulum lembut membuat Amarra mengerang pelan. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Leonard. Lidahnya menerobos masuk ke mulut gadis itu. Lalu mencecap dengan buas. Amarra membalas dengan panas. Sebelah tangan gadis itu merayap menyusuri d**a Leonard kemudian mencengkeram liar bahu kekar itu sementara sebelah lainnya sudah berada di rambut Leonard dan meremasnya lembut. Leonard terus membuai Amarra dengan ciumannya. Sampai akhirnya lama kemudian ia menarik diri dengan napas terengah. “Aku mencintaimu, Leo,” ucap Amarra dengan mata berbulu lentiknya yang menatap sayu. “Aku juga mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu,” bisik Leonard mesra. Senyum indah mengembang di wajah keduanya. Leonard merangkul pinggang Amarra meninggalkan Sungai Thames untuk melanjutkan kencan mereka yang hangat di sebuah restoran Italia yang terkenal di dekat situ. *** Ponsel Leonard berdering, menjerit-jerit meminta perhatian. Keasyikan Leonard dan Amarra yang sedang duduk santai di ruang tamu Leonard di Minggu siang itu, seketika terganggu. Leonard meraih ponselnya yang ada di atas meja depan mereka. Seketika garis bibirnya menegang melihat nama yang tertera di layar. Julie memanggil… Titik-titik keringat dingin sebesar ujung jarum mulai bermunculan di dahi Leonard. Ia melirik Amarra cemas. Sejak resmi berpacaran dengan Amarra, Leonard tidak pernah lagi membalas pesan dari Julie, atau menerima panggilannya. Akan tetapi semakin Leonard menjauh, semakin Julie mengejar. “Siapa?” tanya Amarra sambil mengangkat alis. Matanya melirik ke ponsel Leonard. Leonard tersenyum kaku. Amarra yang melihat itu segera meraih ponsel kekasihnya itu. “Julie?” Amarra memandang Leonard penuh rasa ingin tahu yang berbalut cemburu. “Ya, Julie, rekan sekantormu….” Kening Amarra berkerut. Gadis itu memeriksa ponsel Leonard lebih jauh. Diam-diam Leonard berdoa di dalam hati semoga Amarra tidak cemburu berlebihan atau salah paham. “Kau bilang kalian hanya teman, Leo….” “Itu benar. Kami hanya teman.” “Lalu kenapa dia sering mengirimimu pesan, dan menelepon?” tanya Amarra curiga dengan nada tak suka. Leonard tertawa untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba berubah setegang tali senar. Ia merapatkan duduknya pada Amarra, lalu merangkul bahu gadis itu dengan lembut. “Mungkin karena kekasihmu ini tampan dan memesona, Sayang,” ucap Leonard tenang sambil mengecup lembut rahang Amarra. Wajah tegang Amarra berubah cemberut. “Aku pernah cerita kalau Julie menyukaiku, kan?” Sementara sebelah tangannya meremas lembut bahu Amarra, sebelah lainnya menyentuh dagu gadis itu. Jemari Leonard merambat naik, mengusap bibir selembut kelopak bunga mawar itu. “Leo….” “Aku hanya ingin kau tahu satu hal, Amarra. Meski ada seribu Julie pun mengejarku, hatiku hanya untukmu. Aku mencintaimu,” bisik Leonard lembut. Ia memandang ke kedalaman mata cokelat Amarra. Amarra membalas tatapan itu. Mata keduanya beradu dalam simpul penuh cinta. “Aku juga mencintaimu, Leo.” Leonard menunduk, mengecup bibir Amarra. *** Udara kota London yang dingin menusuk di musim gugur sama sekali tidak mengendurkan niat Leonard meninggalkan restoran makanan khas Indonesia milik ayahnya yang hangat. Seraut wajah cantik dengan senyumnya yang memikat terbayang di benak Leonard. Leonard mengulum senyum. Ia mengenakan mantel, kemudian melangkah keluar dari restoran. Dengan langkah lebar yang gagah, ia menghampiri mobil sport mewah miliknya yang terparkir manis di pelataran parkir restoran. Leonard masuk ke mobil. Tak lama kemudian mobil merah mengilap itu sudah bergerak pelan di jalan raya yang padat oleh kendaraan tatkala jam sibuk begini. Ia melirik arloji di pergelangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Ia sudah tidak sabar bertemu Amarra. Waktu untuk mereka bertemu biasanya hanyalah di akhir pekan. Pada hari kerja, Amarra sangat sibuk dan sering lembur, sementara itu, Leonard sendiri juga sibuk mengurusi restoran-restoran ayahnya. Menjemput Amarra di kantor gadis itu setiap Jumat petang sudah menjadi rutinitas Leonard sejak mereka resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, lebih setahun yang lalu. Mobil Leonard memasuki pekarangan sebuah gedung perkantoran elite di tengah kota London. Leonard memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang masuk gedung. Sesosok langsing yang mengenakan mantel, tampak keluar dari gerbang dan berjalan ke arahnya. Leonard keluar dari mobil. Tersenyum hangat menyambut sang kekasih. “Hai, Sayang, sudah lama menunggu?” Amarra menyugar sekilas rambut lurus panjangnya yang tergerai indah. Ia tersenyum lembut. Sangat manis. “Tidak. Aku juga baru meninggalkan ruanganku.” Leonard menyentuh ringan bahu Amarra dan menunduk, mengecup lembut bibir ranum itu. Kemudian ia membuka pintu mobil dan mempersilakan Amarra masuk. Amarra masuk, Leonard menutup pintu, dan mengitari mobil. “Bagaimana harimu?” tanya Leonard saat sudah berada di balik kemudi. Amarra menghela napas panjang. “Cukup sibuk dan membuat frustrasi. Tapi aku senang dua hari ke depan akan melewatkan hari yang sangat menyenangkan bersamamu.” Leonard tersenyum lebar. Ia melirik Amarra dengan mesra sambil memasang sabuk pengaman. Leonard juga sangat senang membayangkan dua hari ke depan akan menghabiskan waktu berduaan dengan Amarra. Sementara mobil melaju di jalan raya, keduanya berbincang-bincang kecil, berbagi cerita tentang lima hari ini yang hanya dilewatkan melalui pesan di ponsel dan sesekali panggilan video. *** Love, Evathink Follow i********:: evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD