7

1315 Words
7 Hari yang Leonard nanti-nantikan akhirnya tiba. Hatinya riang bukan main. Seluruh bunga-bunga musim semi di London seakan pindah ke hatinya. Malam ini jauh lebih baik dari yang Leonard harapkan. Saat mereka makan malam di sebuah restoran mewah nan romantis, Leonard menceritakan semuanya pada Amarra, dan dalam sekejap seluruh sikap dingin Amarra mencair bak salju terkena sinar matahari musim panas. Dan sisa malam itu mereka gunakan untuk bercerita banyak hal. Saat kencan manis itu berakhir dan Leonard mengantar Amarra pulang ke apartemen gadis itu, dadanya masih dipenuhi bunga-bunga cinta. Leonard menatap lekat Amarra yang sedang membuka pintu apartemen. Pintu terbuka, Amarra berbalik dan tersenyum. “Terima kasih untuk makan malamnya, Leo. Malam ini sangat menyenangkan.” Leonard tersenyum. Ia menutup jarak di antara mereka, meraih lembut pinggang ramping Amarra. Kontak fisik itu membuat d**a Leonard serasa ditabuh bertalu-talu. Darahnya memanas oleh hasrat ingin memiliki gadis itu. Leonard menunduk hendak mengecup bibir Amarra yang seindah kelopak bunga mawar, tapi telunjuk indah nan langsing menempel di bibirnya. “Jangan sekarang, Leo. Belum saatnya,” bisik Amarra dengan nada manis. Leonard tersenyum meringis. Satu sisi ia sangat mengerti penolakan Amarra, tapi di sisi lain ia sangat menginginkan gadis itu, mendambakan mencecap kemanisan bibirnya. Kecupan lambut hinggap di pipi Leonard sebagai ganti dari ciuman panas di bibir. “Selamat malam, Leo. Sampai jumpa.” Amarra masuk ke dalam apartemen, tersenyum, lalu menutup pintu. Leonard masih berdiri terpaku, menyentuh bekas ciuman Amarra di pipinya dan serasa akan meledak oleh rasa senang. Wangi parfum Amarra masih menguar dan Leonard semakin mendamba gadis itu. Dengan menyimpan sensasi ciuman singkat tadi, Leonard pun berbalik. *** Sejak malam itu, hati Leonard terus berbunga-bunga. Ia menghitung hari dengan tak sabar, berharap akhir pekan segera tiba, agar ia bisa segera berkencan dengan Amarra. Dalam penantiannya itu, Cherry datang bak tamu tak diundang. Leonard sedang makan siang di restoran ayahnya saat Cherry muncul. “Leo…” Leonard mengangkat wajah, memandang sosok yang berdiri di depannya. “Cherry?” Leonard hampir tersedak. “Apa yang kaulakukan di sini?” Cherry merenggut manja. Tanpa dipersilakan ia duduk di depan Leonard. “Aku tahu kalau penyihir jahat itu bukan kekasihmu,” kata Cherry sambil meraih air mineral Leonard. Leonard ingin protes, tapi Cherry terlanjur menyesapnya. “Penyihir jahat?” tanya Leonard tidak mengerti. Ia menghentikan makannya, meraih serbet dan mengelap mulut. Terpaksa ia membiarkan tenggorokannya kering tersengat pedas. Ia tidak mungkin meminum air yang barusan Cherry minum. Tentunya bibirnya akan menyentuh tempat bekas bibir Cherry, itu sama saja dengan ciuman secara tidak langsung. “Gadis jahat waktu itu,” jelas Cherry. Leonard berdeham dan menelan ludah untuk mengurangi kekeringan yang melanda tenggorokannya. “Ah, maksudmu Julie.” “Ya, Julie atau siapa pun namanya aku tak peduli. Dia bukan kekasihmu. Benar, kan?” “Hmm…, dari mana kau menarik kesimpulan itu?” tanya Leonard curiga. Apakah diam-diam Cherry memata-matai kehidupan pribadinya? Seandainya benar, seharusnya Cherry tahu kalau saat ini Leonard sedang mendekati Amarra. Kecuali informan Cherry hanya orang amatiran, bukan detektif profesional. Sesaat wajah Cherry memucat, kemudian gadis itu menggeleng. “Itu tidak penting. Jadi, karena penyihir jahat itu bukan kekasihmu, berarti selama ini kau berbohong padaku, Leo?” Leonard menarik napas panjang. Akhirnya ia tidak kuat lagi menahan kekeringan di tenggorokannya. Ia melambaikan tangan pada salah satu karyawannya. Anak muda berseragam celana kain dan kemeja putih dengan dasi kupu-kupu itu menghampiri mereka, Leonard segera memesan air mineral. “Aku tidak bohong, Cherry,” kata Leonard malas. Selang beberapa saat karyawannya datang membawa pesanannya, dan Leonard dengan tak sabar meneguk air mineral itu. Cherry merengut manja. “Aku serius, Cherry. Aku sudah memiliki kekasih. Memang bukan Julie.” “Lalu siapa?” “Namanya Amarra.” Meski belum resmi berpacaran dengan Amarra, tapi Leonard yakin gadis itu akan menjadi kekasihnya. Kencan mereka Sabtu lalu berjalan lancar, dan Leonard mengharapkan hal yang sama Sabtu depan nanti. Wajah Cherry seketika berubah sedih dan Leonard mau tidak mau tersentuh melihat itu—lebih tepatnya merasa bersalah. Leonard mengulur tangan ke seberang meja, meraih tangan Cherry dan meremasnya lembut. “Cherry, masih banyak lak-laki lain yang jauh lebih baik dari aku,” ucap Leonard lembut. Cherry menatap Leonard dengan mata berkaca-kaca. “Tapi aku tidak menginginkan laki-laki lain, Leo. Aku menginginkan dirimu.” Leonard menghela napas panjang. Ia meremas semakin intens punggung tangan Cherry, berusaha menenangkan gadis itu. “Maafkan aku, Cherry. Aku sudah memiliki kekasih dan aku berharap kau mau mengerti. Berhentilah menyakiti diri sendiri seperti ini.” Sebutir kristal bening bergulir di pipi mulus Cherry. Leonard kian merasa bersalah. Cherry gadis yang baik dan lembut, sayang hati Leonard tak bisa terbuka untuk gadis itu. Urusan hati memang misteri. Kau tidak bisa menentukan dengan siapa kau akan jatuh cinta. Leonard menghapus air mata Cherry. “Kau masih muda, kau juga sangat cantik. Laki-laki yang mendapatkanmu pastilah lelaki yang sangat beruntung. Sayangnya bukan aku lelaki itu.” “Leo…,” Cherry menatap Leonard putus asa. “Bangkitlah, lupakan aku, dan jangan menoleh lagi. Meski mungkin tidak mudah, yakinlah kau pasti bisa.” *** Setelah kejadian di restoran ayahnya siang itu, hati Leonard lega luar biasa. Ia berharap Cherry sudah memulai lembaran baru hidupnya tanpa ada Leonard di dalamnya. Kelegaan Leonard berubah menjadi rasa bahagia saat akhir pekan tiba. Sabtu malam itu, Leonard mengajak Amarra makan malam di sebuah restoran mewah nan romantis. Keduanya mengobrol ringan sambil menyantap sajian demi sajian lezat yang dihidangkan. Setelah selesai menyantap hidangan penutup, akhirnya Leonard memutuskan sudah saatnya ia mengutarakan keinginannya. Leonard bangkit, mengulurkan tangan pada Amarra yang kemudian disambut dengan manis oleh gadis itu. Keduanya bergandengan tangan dengan mesra, melangkah menuju lantai dansa. Lagu bertema cinta mengalun lembut. Beberapa pasangan tampak sudah memenuhi lantai dansa. “Aku memimpikan hal ini hampir setiap detik sejak mengenalmu, Amarra,” bisik Leonard manis tatkala mereka berdua mulai berdansa mengikuti irama. Amarra mendongak, menatap Leonard dengan mata berbinar-binar. “Benarkah?” tanya Amarra berbisik. Sesaat mata Leonard terpaku pada bibir yang merekah menggoda tersebut. Darahnya menggelora oleh hasrat. Ingin ia mengecup bibir sensual itu. “Ya, itu benar….” Amarra tersenyum manis. “Aku senang mendengarnya.” Tubuh keduanya berayun indah mengikuti irama. Gerakan Amarra begitu anggun, dan Leonard bertanya-tanya di dalam hati, apakah Amarra sering berdansa? Dengan siapa? Kecemburuan yang liar tiba-tiba menyerang Leonard, membuat napasnya sedikit menyempit. Ia memandang Amarra yang menatapnya lembut. Menyingkirkan segala rasa posesif itu, Leonard tersenyum. Di dalam hati ia bertekad, setelah Amarra menjadi kekasihnya nanti, tidak akan ia biarkan satu pria pun menyentuh gadis itu—bahkan meski seujung kuku. Langkah keduanya terus berayun. Di lantai dansa itu, mereka seakan hanya berdua. Leonard dapat merasakan dengan jelas setiap tarikan napas Amarra, atau betapa lembutnya kulit punggung gadis itu di bawah telapak tangannya. “Amarra….” “Ya?” “Bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanya Leonard dengan nada parau. Rasa gugup melingkupi dirinya. Dadanya bergemuruh hebat. Amarra tersenyum. “Apa?” “Apakah saat ini kau memiliki kekasih?” Amarra menggeleng. “Tidak. Dan kau?” Diam-diam Leonard menghela napas lega. “Aku juga tidak. Jadi, maukah kau menjadi kekasihku, Amarra?” Rona merah menjalar di pipi cantik itu. “Aku sudah sangat tertarik padamu sejak awal kita berjumpa di pintu restoran waktu itu. Aku…, jatuh cinta padamu pada pandangan pertama.” Selama mengucapkan pengakuan itu, Leonard menatap tepat ke iris cokelat muda Amarra. Berharap pujaan hatinya itu melihat ketulusan dan kejujuran di tiap kata yang ia ucapkan. Amarra menatap Leonard takjub. Ia mengangguk samar. “Aku…, juga merasakan hal yang sama….” Senyum melebar di wajah Leonard. “Jadi, maukah kau menjadi kekasihku, Amarra?” Amarra menggangguk dengan senyum tersipu. “Ya, aku mau, Leo.” Sebelah tangan Leonard meluncur ke pinggang Amarra, sementara sebelah lainnya masih berada di punggung gadis itu. Leonard menundukkan kepala, mengecup bibir Amarra dengan penuh perasaan. Amarra menyambut ciuman Leonard. Mengabaikan kenyataan ada banyak pasang mata yang menyaksikan adegan itu, Leonard memperdalam ciumannya. *** Love, Evathink Follow i********:: evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD