6

1223 Words
6 Panorama malam kota London begitu indah. Kerlap-kerlip lampu-lampu bak permadani mewah yang terbentang sempurna, sangat memukau. Leonard berdiri di balkon kondominiumnya, menikmati pemandangan indah itu sambil sesekali memandang ponselnya. Ia sudah mengirim pesan pada Amarra sejak sepuluh menit yang lalu, tapi gadis itu tidak merespons. Tiba-tiba ponselnya berdering singkat, petanda ada pesan masuk. Semangat Leonard seketika membara. Ia membuka pesan tersebut, tapi kekecewaan dengan dahsyat melandanya. Hai, Leo. Kabarku baik. Omong-omong, maafkan aku, Sabtu nanti aku tidak bisa memenuhi janji makan malam denganmu. Hati Leonard berdesir tak nyaman. Mengapa Amarra tiba-tiba membatalkan kencan mereka? Apakah gadis itu ada urusan mendesak? Atau jangan-jangan Amarra tidak tertarik padanya? Namun Leonard yakin ketertarikan Amarra padanya sama besarnya dengan ketertarikannya pada gadis itu. Binar itu terpancar jelas di mata cokelat mudanya yang indah. Leonard menyentuh layar ponsel, menghubungi Amarra. Namun berkali-kali menghubungi, Amarra sama sekali tidak merespons. Leonard menghela napas panjang. Tatapannya tertuju pada gemerlap lampu-lampu kota. Dengan perasaan berat ia memutuskan untuk berpikiran positif, mungkin Amarra sudah lelah dan memilih istirahat. Besok, ia akan menemui Amarra di kantor gadis itu. Selain untuk memuaskan dahaga rindu di d**a, juga ingin mencari tahu apa yang membuat Amarra membatalkan kencan mereka. Apakah ada seseorang yang istimewa yang menyebabkan hal tersebut? Atau karena Amarra memang sedang ada urusan? Leonard sangat berharap kemungkinan kedua itulah yang menjadi penyebabnya. *** Leonard memarkirkan mobilnya di area parkir sebuah gedung perkantoran elite, tempat Amarra bekerja. Ia keluar dari mobil, menyusuri jalan menuju gedung. Di sekitarnya, bunga-bunga mekar bersemi dengan ceria. Keindahan dan wangi eksotisnya membelai indra penciuman Leonard, mengirimkan rasa nyaman yang menenangkan. Leonard masuk ke dalam gedung, melewati sekuriti dengan aman lalu berhenti di depan resepsionis cantik. Setelah berbicara dengan si resepsionis, Leonard disuruh menunggu di lobi. Leonard pun duduk di lobi, menunggu kehadiran sang pujaan hati dengan perasaan tak sabar. Namun tiba-tiba suara dua orang yang berbicara menarik perhatiannya. Leonard mengangkat wajah dari ponsel yang sejak tadi ia mainkan untuk membunuh rasa tak sabarnya. Darah Leonard berdesir tak menentu. Tampak sesosok cantik bertubuh tinggi langsing yang dibalut setelan mahal, berbicara dengan seorang pria tinggi gagah berwajah tampan. Setelan jas lengkap yang membungkus tubuh kekar itu terlihat mengilap dan mahal. Keduanya tidak memandang ke arah lobi, tapi terus berbicara sambil berjalan menuju gerbang keluar. “Semua sudah kuatur, James. Kau tenang saja,” kata si gadis cantik. Pria berwajah Asia yang dipanggil James itu tersenyum tipis, “kau memang selalu bisa kuandalkan, Julie.” Lalu kedua orang itu keluar, meninggalkan Leonard yang terpaku menatap semua itu. Julie, gadis cantik yang mengejarnya ternyata rekan sekantor Amarra. Leonard mengernyit tak senang. Kenyataan yang baru ia dapatkan ini sama sekali tidak menguntungkan. Prosesnya untuk menjadi kekasih Amarra pasti tidak mudah jika ada rekan Amarra yang agresif juga menginginkannya. “Leo.” Pikiran-pikiran Leonard buyar saat sebuah suara yang sangat dirindukannya memanggil namanya. Leonard segera berdiri dan tersenyum lebar saat melihat Amarra berjalan menghampirinya di lobi. d**a Leonard bergetar. Gadis itu tampak sangat cantik bak bidadari turun dari langit. Setelan kerjanya yang sopan dan elegan, membalut indah setiap lekuk menawan tubuhnya. Amarra tiba di dekat Leonard. Kini mereka berdua berdiri berhadapan dengan jarak tak lebih dari tiga meter. “Amarra…,” Leonard menyebut nama pujaan hatinya itu dengan suara dipenuhi rasa rindu. Amarra tersenyum enggan, membuat Leonard merasa tidak enak hati. Mengapa Amarra tak tampak senang bertemu dengannya? Apakah sudah terjadi sesuatu? Atau jangan-jangan Amarra mengabaikan penjelasan Leonard kalau ia dan Julie tidak memiliki hubungan apa-apa. Jangan-jangan Julie dengan heboh bercerita pada rekan kerjanya kalau ia memiliki kekasih, dan pria itu adalah Leonard. Kepala Leonard berdenyut. Rasa frustrasi membelit seluruh sarafnya. “Ada apa mencariku, Leo?” tanya Amarra dengan alis terangkat samar. “Aku…, aku merindukanmu, Amarra,” ujar Leonard pelan. Raut wajah Amarra yang datar dan cenderung sinis membuat Leonard merasa sangat frustrasi. “Maukah kau makan siang denganku?” Amarra terlihat ragu. “Apakah ada sesuatu yang menganggu pikiranmu, Amarra? Aku—aku merasa kau berusaha menjauhiku. Ada apa?” “Leo…, aku hanya tidak ingin mengganggu hubunganmu dengan kekasihmu. Julie…, dan gadis itu,” kata Amarra dengan nada pelan nan berat. Leonard terkejut. Amarra memang tahu tentang Julie, tapi Cherry? Dari mana Amarra tahu? “Aku melihat kejadian di kafe malam itu.” “Oh.” Pupuslah sudah harapan Leonard jika Amarra menolak memercayainya. “Aku tidak berpacaran dengan keduanya.” “Tapi—” “Amarra, please, percayalah padaku.” Leonard menutup jarak di antara mereka dan meraih tangan Amarra, meremasnya lembut. Ia mengabaikan mata si resepsionis atau petugas keamanan yang hampir juling mencuri pandang ke arah mereka. “Leo….” “Makan siang denganku, dan beri aku kesempatan menceritakan semuanya padamu, Amarra.” “Aku sibuk siang ini.” “Kalau begitu Sabtu malam nanti, Amarra.” Amarra memandang Leonard ragu. Ingin Leonard mengecup bibir semerah ceri itu dan menghapus semua keraguan yang terpampang di wajah cantik Amarra. “Amarra.” Pembicaraan itu terganggu oleh sebuah panggilan. Leonard dan Amarra serentak memandang ke arah asal suara. Tampak seorang pria tampan nan gagah bersetelan jas lengkap, memandang ke arah mereka. Di tangannya ia memegang seberkas dokumen. “Adam! Aku akan segera bergabung denganmu.” Setelah mengucapkan itu, Amarra kembali memandang Leonard. “Maafkan aku, Leo. Aku sedang sibuk. Sampai jumpa.” Amarra berbalik dan berjalan pergi. “Kapan?” tanya Leonard. Amarra menghentikan langkahnya dan menoleh sejenak. Ia menggerakkan tangan, memberi isyarat agar Leonard menghubunginya nanti. Akhirnya Leonard mengangguk dan Amarra pun berlalu, bergabung dengan pria tampan tadi dan masuk ke sebuah ruangan. *** Leonard memasuki ruang kerja Blake yang ada di bar pria itu. Ia terkejut ketika membuka pintu dan melihat Carlos juga ada di sana. “Apa yang kalian bincangkan?” tanya Leonard sambil melangkah menghampiri kedua sahabatnya itu. Carlos tertawa. “Tadinya aku hanya mampir, eh, Blake bilang dia berencana membuka bar baru lagi dan membutuhkan jasa desainku.” “Wah, selamat, Blake,” Leonard menyalami Blake. Kemudian ia duduk dan memandang Carlos. “Aku juga akan memakai jasamu nanti, Carlos. Aku berencana membuka cabang baru restoran ayahku.” “Wah, kau semakin hebat saja, Bung,” kata Blake. “Belum sehebat dirimu dan Carlos, Sobat. Aku masih belum apa-apa dibandingkan kalian berdua,” balas Leonard merendahkan diri. “Ah… kau menyindir kami,” desah Blake masam. Leonard tertawa. “Tidak seperti itu. Aku benar-benar kagum pada kalian berdua yang kian sukses.” “Dan kami berdua juga sangat kagum padamu, Bung. Kurang sukses apa dirimu, eh?” sela Carlos. Leonard tertawa. “Omong-omong, ada apa mencariku?” tanya Blake. Leonard meraih air mineral kemasan yang ada di atas meja dan dalam sekejap meneguknya. “Aku barusan dari kantor Amarra,” kata Leonard pelan. “Dan?” Blake memandang Leonard. “Julie ternyata satu kantor dengan Amarra.” “Wow! Kalau begitu kau harus hati-hati, Kawan. Jangan sampai pendekatanmu ke Amarra gagal,” kata Carlos. “Itulah yang aku takutkan,” desah Leonard. “Julie gadis yang berkemauan keras.” “Kenapa tidak kenalkan saja padaku? Kekerasan gairahku pasti bisa menjinakkannya.” Carlos terkekeh m***m. Blake dan Leonard saling pandang. Keduanya serentak menggeleng-geleng. “Suatu hari nanti kau akan kena batunya, Carlos,” kata Blake masam. “Takkan ada batu yang berani mendekat padaku,” tangkis Carlos penuh percaya diri. Blake dan Leonard serentak mencebikkan bibir gemas melihat kepercayaan berlebihan Carlos. *** Love, Evathink Follow i********:: evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD