5

1133 Words
5 Satu jam kemudian, Leonard dan Amarra sudah berada di restoran mewah di dekat Sungai Thames. Sambil menyantap menu istimewa dari restoran itu, keduanya mengobrol santai. Sesekali Amarra atau Leonard menyesap anggur berkualitas tinggi yang Leonard pilihkan untuk menemani makan malam mereka. “Jadi kau sudah lama tinggal di London, Amarra?” tanya Leonard dengan nada hangat. Mata setajam elangnya menatap Amarra intens. Amarra meletak garpu dan pisaunya pertanda ia sudah selesai makan. Leonard melakukan hal yang sama. Dan keduanya serentak meraih gelas anggur masing-masing. “Sudah beberapa tahun, tepatnya sejak kuliah. Dan kau?” Amarra menyesap anggur, matanya terfokus pada wajah Leonard. “Sejak lima belas tahun yang lalu.” Mata Amarra melebar. “Selama itu?” Leonard tertawa pelan. Dan ia pun menceritakan dengan singkat kisah keluarganya sejak awal tinggal di London. “aku harap kau tak bosan mendengar semua itu.” Leonard tertawa menutup ceritanya. Amarra menggeleng cepat dan tersenyum manis. “Tentu saja tidak, Leo. Aku justru senang bisa mengenalmu lebih dekat.” “Syukurlah kalau begitu. Bagaimana dengan dirimu Amarra? Kau berasal dari mana?” “Aku dari Jakarta.” “Itu artinya orangtuamu sekarang di Jakarta? Atau di sini?” “Di Jakarta. Bisnis properti ayahku berkembang pesat di sana.” Leonard manggut-manggut mengerti. “Dan sekarang, kau bekerja? Di mana?” “Aku asisten pribadi CEO,” Amarra menyebut nama perusahaan tempat ia bekerja. “Wow. Itu perusahaan terkemuka.” Amarra tersenyum tipis menanggapi kalimat Leonard. Seorang pelayan datang menyajikan hidangan penutup. Kemudian pergi dengan membawa piring bekas makanan Leonard dan Amarra. Leonard dengan senyum hangat mempersilakan Amarra menyantap puding yorksire yang barusan dihidangkan oleh pelayan. “Jadi kau berapa bersaudara?” tanya Leonard sambil mencicipi puding yorksire. “Aku tiga bersaudara, dua adikku masih duduk di bangku SMP dan SMA.” “Kau anak sulung kalau begitu?” Amarra tersenyum dan mengangguk. “Aku juga anak sulung, dari dua bersaudara. Adikku Lucas, dia membantuku mengelola restoran ayahku.” “Kalian berdua menganggumkan,” puji Amarra tulus. Leonard tertawa pelan. “Justru kau yang menganggumkan, Amarra.” “Apa yang menganggumkan dariku, Leo? Aku hanya gadis biasa yang bekerja sebagai asisten pribadi seorang CEO.” “Kau gadis cantik dan cerdas. Kedua hal tersebut sudah membuatmu sangat pantas dikagumi.” “Cantik hanya soal fisik.” Leonard tertawa pelan. Tangannya bergerak ke seberang meja dan menyentuh sopan punggung tangan Amarra. “Ya, cantik memang soal fisik, Amarra. Tapi seperti kataku tadi, selain cantik, kau juga cerdas.” Wajah Amarra merona. Leonard tidak tahu hal tersebut disebabkan oleh pujian atau sentuhannya. “Kita baru berkenalan, dari mana kau tahu aku cerdas?” Mata Amarra bersinar hangat dan menantang Leonard menjawab pertanyaan itu. “Asisten pribadi seorang CEO tentunya harus cerdas, bukan?” Amarra tertawa pelan. “Kau sangat pintar menjawab.” “Ah, kalau aku pintar, maukah kau makan malam denganku lagi Sabtu depan?” Amarra tersenyum lebar, sementara tangan Leonard masih meremas hangat tangan langsing gadis cantik itu. Amarra mengangguk pelan dan Leonard pun tersenyum lebar. *** “Leo! Aku tidak percaya akhirnya kau mau makan malam denganku,” kata Cherry ceria saat tiba di dekat Leonard yang duduk menunggu di meja paling pojok kafe. Leonard tersenyum tipis. Ia berdiri menyambut Cherry, menarik kursi untuk gadis itu. Cherry dengan wajah ceria duduk. “Terima kasih, Leo.” Leonard mengangguk samar. “Omong-omong, mau minum apa?” “Aku—” “Leo!” Keduanya tersentak dan menoleh ke arah sumber suara. Leonard mengulum senyum melihat sesosok gadis berparas cantik, melangkah anggun ke arah mereka. “Julie…,” Leonard sengaja menyebut nama Julie dengan nada diseret-seret. Ia ingin memberi kesan pada Cherry kalau Julie adalah kekasihnya, begitu juga sebaliknya. Inilah ide yang Carlos sarankan. Awalnya Leonard tidak terima, ia merasa menjadi b******n melakukan itu. Namun setelah dipikir-pikir, memang hanya inilah cara ampuh mengusir kedua gadis tersebut. “Siapa dia, Leo?” tanya Cherry pelan. Leonard senang Julie tiba di dekat mereka dan ia tidak perlu menjawab pertanyaan gadis manis itu. “Leo? Rupanya kau bersama teman,” kata Julie sambil memandang Cherry dengan tatapan menilai yang terkesan merendahkan. Hal tersebut membuat wajah Cherry yang tadinya pucat, seketika berubah merah padam. “Aku kekasih Leo.” Cherry tersenyum manis pada Julie. Semua orang pun bisa melihat bahwa senyuman itu palsu, sangat dipaksakan. “Kau? Kekasih Leo? Lalu aku siapa?” Julie mencibir sinis. “Jangan mengaku-ngaku. Akulah kekasih Leo. Hanya gadis secantik aku yang pantas menjadi kekasih pria sehebat Leo.” Amarah Cherry terbakar oleh kalimat hinaan Julie. Ia bangkit dari kursi, memandang Julie dengan mata berkilat marah dan kedua tangan terkepal di sisi tubuh. Lalu tatapannya beralih ke Leonard. “Jadi dia kekasihmu, Leo? Aku kecewa kau memilih gadis jahat seperti dia.” “Apa barusan kau bilang??” serang Julie dengan wajah garang. “Kau penyihir jahat!” cetus Cherry geram. Kepala Leonard berdenyut melihat perdebatan sengit itu. “Hentikan!” sergah Leonard saat melihat Julie berniat membalas ucapan Cherry. Meski sejak awal sudah menduga akan berakhir seperti ini, tak urung ia tetap dilanda panik. Sejujurnya Leonard sungkan mereka menjadi tontonan umum. Untung saja kafe ini tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung yang mengisi meja agak jauh dari mereka. Namun tetap saja hal tersebut membuat wajah Leonard memanas oleh rasa malu. Semua laki-laki pasti bangga diperebutkan oleh wanita-wanita cantik. Akan tetapi Leonard yakin, tidak ada laki-laki yang sanggup menghadapi keberingasan seorang wanita yang cintanya terpendam. Kedua pasang bola mata indah itu terhunus ke Leonard. Ketegangan menguar di antara mereka. Saat memandang Julie, Leonard melihat tekad kuat di mata biru itu, tapi saat memandang Cherry, hati Leonard teriris sembilu. Gadis itu tampak sedih dan kecewa. Rasa bersalah menghantam d**a Leonard. Cherry memandang Leonard lama, kemudian gadis itu meraih tas dan pergi tanpa kata. Leonard hanya diam dan menyugar rambutnya dengan frustrasi. “Kau kasar sekali,” ujar Leonard dengan suara berat. “Kau membelanya, Leo? Apa benar yang gadis itu katakan bahwa dia kekasihmu?” Leonard bergeming, sengaja mendorong Julie membenarkan kesimpulan yang salah itu. Memang inilah tujuannya mempertemukan kedua gadis tersebut. Tadi sore saat Julie menghubunginya, Leonard sengaja memberi tahu gadis itu kalau ia akan makan malam di kafe ini. Ia menebak Julie akan datang. Setelah itu ia menghubungi Cherry, mengajak gadis itu makan malam. Keterdiaman Leonard membuat Julie gusar. Dengan wajah dingin gadis itu berbalik dan pergi. Tinggallah Leonard terpaku sendiri. Rencananya cukup berhasil, tapi sayangnya hatinya tidak terasa lega. Sesungguhnya ia merasa bersalah telah mempermainkan emosi kedua gadis itu. Namun inilah yang terbaik, daripada keduanya menaruh harapan kosong, Leonard menghibur diri. Leonard tidak tahu, sejak tadi, Amarra yang awalnya hendak makan malam di kafe itu, terdiam di dekat celah pintu masuk. Menyaksikan perdebatan kedua gadis itu dengan kecewa. Lalu saat melihat Cherry meninggalkan Leonard, Amarra pun pergi. *** Love, Evathink Follow i********:: evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD