4
Leonard memarkirkan mobil sport merah mengilapnya di pelataran parkir restoran. Ia keluar dari mobil, sejenak menghirup aroma segar nan wangi musim semi. Kemudian, dengan langkah gagah berjalan menuju restoran.
Hari masih pagi. Matahari bersinar lembut menghangatkan tubuh ramping berotot yang berbalut kemeja gelap berlapis rompi tanpa jas itu.
Dahi Leonard berkerut samar tatkala melihat pintu restorannya—yang biasanya tertutup—dalam keadaan terbuka. Kerutnya semakin dalam saat mendapati sesosok cantik sedang berbicara serius dengan Ram, pemuda India yang bertugas membukakan pintu.
Tampak Ram menggeleng-gelengkan kepalanya tanda mengerti apa yang dikatakan lawan bicaranya.
Leonard menyugar sekilas sejumput rambut yang jatuh ke keningnya. Matanya menajam memandang pemandangan itu.
Diskusi apa yang sedang terjadi di sana? Apa urusan Cherry dengan Ram? Jika pun Cherry sedang menanyakan keberadaan Leonard, perbincangannya tidak mungkin akan tampak seserius itu.
Keterpanaan Ram dengan pembicaraan tersebut membuat ia tidak sadar Leonard sudah tiba di muka pintu. Pemuda India itu tidak menyambut atasannya seperti biasa.
Leonard menangkap satu kalimat dari bibir merah menggoda Cherry.
“Itu yang aku ingin kaulakukan, Ram. Kau mengerti?”
Apa pun yang akan menjadi lanjutan pembicaraan itu, sontak terhenti oleh kehadiran Leonard.
Wajah Cherry dan Ram memucat.
Leonard makin merasa heran dengan isi pembicaraan keduanya. Apalagi teringat kalimat Cherry barusan.
“Itu yang aku ingin kaulakukan, Ram. Kau mengerti?”
Apa yang Cherry ingin Ram lakukan?
“Cherry, apa yang kaulakukan di sini pagi-pagi begini?” tanya Leonard heran. Ia berdiri tepat di hadapan Cherry dan Ram.
Cherry mengulas senyum kaku. “Aku ingin sarapan…,” jawabnya gugup.
Leonard mengangkat sebelah alisnya, kemudian mengangguk samar. “Oh, silakan kalau begitu.”
Leonard meninggalkan keduanya, berjalan untuk menyapa karyawan-karyawannya seperti biasa. Kali ini Ram terlewatkan karena pemuda India itu tampak masih shock.
“Eh! Leo! Tunggu!”
Cherry berlari menyusul Leonard, kemudian mengadang di depan pria itu, sehingga mau tidak mau Leonard menghentikan langkahnya.
“Bukankah kau ingin sarapan, Cherry? Aku tidak mau mengganggu tamu restoranku,” kata Leonard datar.
Wajah Cherry seketika merengut. “Aku bukan tamu restoran. Aku ke sini untuk bertemu dirimu.”
“Ada apa mencariku?” tanya Leonard pura-pura tidak mengerti.
“Kau benar-benar tidak tahu atau pura-pura, Leo?” Cherry merengut manja.
Leonard menghela napas berat. “Cherry—”
“Leo,” tukas Cherry cepat. Tiba-tiba berubah pikiran, tidak mau mendengar jawaban Leonard tentang pertanyaannya itu. “Maukah kau menemaniku sarapan?” Cherry memandang Leonard dengan mata hijaunya yang bersinar penuh harap.
“Aku sibuk, Cherry. Aku—”
“Please…,” Cherry meraih tangan Leonard dan menariknya menuju sebuah meja.
Leonard dengan enggan terpaksa mengikuti Cherry. Ia tidak mau adegan tarik-tarikan mereka menjadi menu santapan pagi para karyawannya.
Cherry dengan manja mendudukkan Leonard ke kursi. Kemudian ia duduk di samping Leonard.
“Kau ingin minum apa, Leo? Kopi hitam? Cokelat panas?” tanya Cherry lembut nan mesra.
Leonard memandang gadis yang duduk di sebelahnya. Napasnya sesak oleh cara pendekatan Cherry yang kelewat agresif. Ia benar-benar tidak mau nantinya melukai perasaan gadis lembut itu.
“Aku sudah minum kopi tadi, Cherry. Sekarang katakan, apa sebenarnya yang kauinginkan? Aku harus kembali bekerja. Kau tahu aku sangat sibuk, bukan?”
Bibir Cherry mengerucut. “Aku…, aku hanya ingin mengobrol denganmu,” aku Cherry gugup nan malu-malu.
“Ehm! Tapi aku sedang banyak pekerjaan, maaf—”
Belum selesai kalimat Leonard, Cherry segera menempelkan telunjuknya ke bibir pria itu, menahan setiap kata yang akan meluncur. “Sabtu nanti, maukah kau makan malam denganku?”
Leonard melepas jari Cherry dari bibirnya. Wajahnya sedikit memanas menyadari mata para karyawannya mencuri pandang ke arah mereka.
“Maafkan aku, Cherry. Sabtu malam nanti aku ada janji kencan dengan kekasihku. Omong-omong aku harus segera bekerja.”
Leonard bangkit, dan tanpa menoleh pada gadis itu ia melangkah menuju kantornya, pagi ini tidak ada kegiatan rutin bertukar kabar dengan para karyawannya. Suasana hati Leonard telah menggelap.
Di belakang Leonard, Cherry berdiri dengan bibir terkatup rapat, menatap punggung pria itu dengan mata berbinar kecewa.
***
“Jadi, bagaimana cerita kau dan gadis itu, Leo? Kalian sudah resmi berpacaran?” tanya Carlos sambil menyesap anggur.
Kala itu mereka sedang berkumpul di ruang VIP di bar milik Blake.
“Gadis yang mana?” tanya Leonard sambil mengangkat sebelah alis, menatap Carlos penuh tanya.
“Memangnya ada berapa gadis yang kau taksir saat ini?” sela Blake.
Leonard terkekeh kecil. “Yang aku taksir hanya satu.”
“Gadis di kafe waktu itu, kan?” tanya Carlos.
Leonard mengangguk mengiyakan. “Ya, dia, namanya Amarra. Amarra Darrene.”
“Nama yang indah,” kata Blake.
Leonard mengangguk membenarkan. Amarra Darrene, nama yang indah, juga anggun. “Ada gadis lain sedang mendekatiku saat ini. Cherry dan Julie.”
“Aku tebak kau tidak menginginkan kedua gadis itu, kenapa tidak berikan saja padaku?” Carlos menyeringai senang.
“Agar Flaris bisa membenamkan kepala Leonard ke Sungai Thames?” sela Blake sambil geleng-geleng.
Leonard dan Carlos tergelak.
“Blake benar, bisa-bisa kepalaku dibenam Flaris di Sungai Thames. Kasihani aku, Kawan. Aku belum menikah.”
“Kau berlebihan.” Carlos tertawa. “Ini antara kita saja, Leo. Flaris tak perlu tahu,” bujuk Carlos.
Leonard menggeleng cepat. “Tidak! Sampai kapan pun, jawabannya tidak!”
Mendengar jawaban tegas Leonard, Carlos menyeringai masam. “Padahal aku penasaran mencicipi kedua gadis itu. Aku yakin mereka berdua pasti sangat cantik dan menarik. Rasanya pasti seenak puding yorkshire.”
“Wanita bukan hidangan pencuci mulut, Carlos!” tegur Blake gemas.
Carlos terkekeh kecil sementara Leonard geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
“Jadi apa yang akan kaulakukan dengan dua gadis itu?” tanya Carlos akhirnya setelah jeda panjang menguarkan keheningan di antara mereka.
“Kalian ada saran?” tanya Leonard sambil memandang wajah kedua sahabatnya silih berganti.
“Aku rasa Carlos punya lebih banyak saran. Dia pakar dalam hal-hal seperti ini,” kata Blake sambil menyeringai masam.
Carlos tertawa lepas. “Blake sangat benar. Aku memiliki seribu satu ide untuk mengurusi wanita-wanita yang agresif seperti itu, Leo.”
Leonard mengangguk senang. “Jadi, katakan, Kawan. Apa idemu itu?”
***
Hari yang Leonard tunggu-tunggu akhirnya tiba. Nanti malam ia akan berkencan dengan Amarra untuk kali pertama. Dan sepanjang hari itu, Leonard merasa waktu bergulir sangat lamban.
Ia mencoba menyibukkan diri dengan pergi ke pusat kebugaran, mengunjungi orangtuanya dan menghabiskan waktu dengan bercerita, tapi waktu masih saja lambat berjalan. Sampai-sampai Leonard berharap ia memiliki alat untuk mempercepat waktu, seperti yang terdapat dalam film fantasi yang pernah ia tonton.
Namun ketika saat yang ia tunggu-tunggu itu akhirnya tiba, Leonard justru menjadi gugup. Dengan telapak tangan yang terasa lembap oleh keringat, ia menekan bel pintu apartemen Amarra. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Leonard merasa asing dengan debar yang menyelimutinya saat ini. Begitu menggelora. Menggebu-gebu. Hati serasa dipenuhi bunga setaman. Belum pernah selama ini ia merasa seperti ini saat akan bertemu teman kencannya. Perasaan gugup yang bercampur riang tak terkira.
Tak sampai semenit, pintu terbuka dan Leonard terpana. Amarra tampak sangat cantik dalam balutan gaun selutut dengan model elegan.
Amarra tersenyum menyambut Leonard, sementara pria itu menjilat bibirnya yang terasa kering.
“Kau sangat cantik, Amarra,” puji Leonard tulus.
Semburat merah samar menjalar di pipi yang terpoles riasan sempurna itu. “Ah, terima kasih, Leo. Kau juga sangat tampan.” Amarra memandang sekujur tubuh gagah Leonard yang berbalut celana kain jahitan khusus yang tampak begitu indah memeluk pinggul menawan dan paha berototnya. Kemeja berwarna biru gelap berlengan panjang membungkus indah d**a bidang dan lengan kekar pria itu.
Leonard tersenyum tipis menyambut pujian Amarra. “Aku tersanjung, Amarra. Terima kasih. Jadi, siap pergi?”
Amarra mengangguk. “Tunggu sebentar.”
Gadis itu masuk ke dalam untuk mengambil tas tangannya. Sedetik kemudian ia kembali, mengunci pintu, lalu keduanya melangkah beriringan menyusuri lorong apartemen menuju elevator.
Menahan seluruh debar di d**a, Leonard mengulurkan tangan meraih tangan Amarra, menggandengnya dengan mesra.
Senyum manis Amarra saat menoleh padanya membuat Leonard lega. Amarra tidak menolak dirinya.
***
Love,
Evathink
Follow i********:: evathink