3
Dalam setelan rancangan desainer terkemuka dari Paris, yang membalut otot-otot maskulin tubuhnya, Leonard menemani Julie hadir ke pesta ulang tahun Nadine, teman Julie. Bukan ia tunduk pada paksaan Julie, tapi karena malam ini ia berencana mengatakan dengan gamblang bahwa ia tidak berniat menjalin hubungan istimewa dengan gadis berusia 23 tahun itu.
Pesta yang diadakan di taman mini rumah mewah tersebut tampak meriah.
Leonard berdiri canggung di antara anak-anak muda yang mendominasi pesta. Tidak jauh darinya, Julie sedang mengobrol dengan dua temannya. Sepanjang malam ini, gadis itu membuat Leonard sesak napas. Bagaimana tidak, Julie merangkul lengannya bak sepasang kekasih, mengenalkannya pada siapa pun yang hadir. Meski Julie tidak mengatakan Leonard kekasihnya, tapi bahasa tubuh gadis itu menunjukkan demikian, dan Leonard gerah oleh keadaan tersebut.
Dengan malas, Leonard mengalihkan pikirannya dengan menatap bunga-bunga di taman mini itu. Seketika bunga-bunga indah di taman itu terkalahkan oleh pesona seorang gadis cantik berambut gelap dalam balutan gaun sederhana berwarna biru.
Debar halus menabuh d**a Leonard. Darahnya seketika bergolak gembira. Mata Leonard menyala-nyala menatap sosok yang tampak sedang larut bercerita dengan teman di sisinya.
Seakan tahu sedang diperhatikan, wajah cantik itu menoleh.
Mata keduanya beradu dan seketika keadaan di sekitar mereka seolah lenyap. Semua suara menghilang. Yang ada hanya keheningan. Seketika taman indah penuh bunga itu diselimuti suasana yang sangat romantis.
Mata gadis itu terpaku pada mata Leonard. Napas Leonard menggelora tak ubahnya seperti seekor singa jantan yang sedang berahi. Ya, Leonard menginginkan gadis itu.
Senyum tipis muncul di wajah cantik tersebut.
Leonard membalas senyum itu dengan senyum lebar. Bibirnya menggumamkan nama gadis itu tanpa suara.
Amarra.
Leonard baru akan melangkah mendekati Amarra ketika lengannya disentuh manja oleh jari-jemari langsing.
Ah, Julie, batin Leonard kesal. Ia terbangun dari keterpanaannya. Untuk sesaat tadi Leonard melupakan keberadaan Julie.
Senyum Amarra seketika memudar, dan Leonard dilanda rasa panik yang ganjil. Ia ingin menjelaskan pada Amarra kalau dirinya dan Julie tidak memiliki hubungan apa-apa.
Julie merangkul mesra lengan Leonard, mengajak pria itu ke meja konsumsi.
Leonard, dengan wajah yang seakan tidak bisa dipalingkan dari Amarra, mengikuti Julie dengan terpaksa. Di dalam hati ia berjanji akan segera menjelaskan pada Amarra bahwa ia dan Julie tidak memiliki hubungan istimewa apa pun.
***
Dengan benak yang masih dipenuhi bayangan Amarra, Leonard berjalan di sisi Julie. Lorong di kondominium itu sunyi sepi, membuat pikiran Leonard semakin berkelana bebas.
“Kita sudah sampai,” kata Julie.
Kalimat itu mengusik lamunan Leonard. Ia memaksakan seulas senyum enggan pada Julie tepat saat pintu kondominium terbuka.
“Masuklah, aku pamit pulang, selamat malam, Julie.” Leonard sudah tidak sabar segera pulang dan menghubungi Amarra. Ia sangat ingin menjelaskan pada pujaan hatinya itu kalau hubungannya dengan Julie tak lebih teman semata.
Namun Leonard salah jika berpikir Julie akan melepasnya pergi begitu saja. Alih-alih mengucapkan salam berpisah, Julie justru menarik Leonard masuk ke dalam kondominiumnya dan menutup pintu.
“Julie—” protes Leonard.
“Sstt….” Julie menempelkan terlunjuknya di bibir Leonard.
Darah Leonard memanas oleh sentuhan sensual itu. Dan Julie yang telah sangat berpengalaman, mengerti cara memainkan hasrat pria. Gadis itu memasukkan sedikit ujung telunjuknya ke dalam bibir Leonard, lalu memainkannya dengan gerakan menggoda.
“Tinggallah sebentar, aku akan membuatkanmu kopi,” bisik Julie dengan gerakan bibir yang dibuat seseksi mungkin.
Napas Leonard tersekat. Ia memandang bibir Julie tak berkedip. Seluruh darah dalam tubuhnya bergolak. Satu sisi dirinya ingin menolak perlakuan sensual Julie, tapi sisi lain gairah kelelakiannya mengharapkan sesuatu yang panas.
“Kau tahu, Leo…, kau pria paling menawan yang pernah kutemui,” ucap Julie dengan suara lirih.
Jemarinya masih mengusap bibir Leonard, kemudian merambat turun menyusuri lekukan indah dagu pria itu.
Turun lagi ke leher….
Napas Leonard memburu. Tanpa sadar tangannya yang sejak tadi mengencang di kedua sisi tubuh, beralih ke lekuk menggoda pinggang ramping Julie.
Melihat lampu hijau dari Leonard, Julie kesenangan. Gadis itu mendesah halus dengan bibir sedikit terbuka, menggoda Leonard untuk mengecupnya.
“Cium aku, Leo…,” undang Julie parau. Kedua tangannya kini berada di bahu kekar Leonard, meremas lembut, menggoda hasrat pria itu.
Tidak mungkin ada laki-laki normal yang mampu menangkis godaan sesensual itu dari gadis secantik dan seseksi Julie. Napas Leonard memberat.
Julie yang tahu mangsanya sudah berada di kawasan kekuasaannya, segera menjalarkan tangan ke kepala Leonard, meremas mesra rambut gelap nan tebal itu, lalu menariknya menunduk.
Tepat saat bibir mereka akan bersentuhan, wajah Amarra membayang di mata Leonard, dan sihir sensual tersebut pun buyar. Leonard mendorong Julie dengan sedikit kasar.
Umpatan samar lolos dari bibir Julie. Gadis itu menatap Leonard dengan sorot perpaduan terkejut dan gusar.
“Maafkan aku, Julie! Aku pamit pulang dulu!” kata Leonard.
Tanpa memedulikan reaksi Julie lebih lanjut, Leonard berjalan ke pintu kondominium dan berlalu.
***
Leonard tiba di kondominiumnya. Ia melepas jas dan menarik dasi sutranya dengan kasar, kemudian melempar kedua benda itu dengan tak acuh ke sofa ruang tamu.
Napas Leonard masih memburu. Bukan oleh hasrat yang membara. Cenderung oleh kenyataan mengerikan bahwa ia hampir jatuh ke dalam pelukan Julie. Gadis itu ternyata perayu yang ulung.
Seharusnya sejak awal Leonard mengetahui hal tersebut. Semangat pemburu terpancar jelas di mata biru Julie. Leonard mengingatkan dirinya untuk lebih waspada pada godaan gadis Prancis itu.
Tentu saja sangat membanggakan bisa menjadi kekasih gadis secantik Julie. Namun sayangnya hati Leonard telah terpaku pada Amarra, gadis cantik asal Indonesia yang begitu memikat hatinya.
Seketika Leonard teringat ia harus menjelaskan pada Amarra tentang hubungannya dengan Julie yang tak lebih dari teman biasa. Ia tentu saja tidak mau gadis itu salah paham dan kesempatan untuk mereka merajut benang cinta, pupus.
Leonard menarik napas dalam dan panjang, kemudian menghelanya perlahan-lahan, mengusir segala emosi yang sempat memenuhi dirinya.
Kemudian Leonard mengambil ponselnya dari saku dan mengetik pesan…
Hai… Amarra… aku Leonard, yang berkenalan denganmu di kafe seminggu yang lalu…
Pesan terkirim.
Leonard menatap ponselnya dengan gelisah.
Lima menit berselang, masih tidak ada respons.
Leonard mendesah berat. Ia membawa ponselnya ke kamar. Melemparnya begitu saja ke ranjang, lalu berganti pakaian.
Lima belas menit kemudian Leonard sudah berada di atas ranjang, berbaring dengan mata memandang layar ponsel hampir tak berkedip.
Mengapa Amarra masih belum membalas pesannya? Apakah gadis itu masih bercengkerama dengan teman-temannya di pesta?
Jam digital di ponselnya sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Leonard yakin pesta itu telah usai.
Jadi, apa yang Amarra lakukan saat ini hingga tidak membalas pesannya?
Sebuah kemungkinan melintas di benak Leonard.
Mungkinkah Amarra sedang bersama kekasihnya?
Darah Leonard berdesir nyeri.
Ya, kenapa tidak pernah terpikirkan olehnya, mungkin saja gadis itu sudah memiliki kekasih. Amarra sangat cantik dan memesona. Tidak mungkin gadis itu masih sendiri, bukan?
Ponselnya berdering singkat. Ada pesan masuk, dari Amarra.
Leonard ingin berteriak dan meninju kedua tangannya ke atas sebagai ungkapan kegembiraannya. Namun sisi maskulin dalam dirinya menahannya melakukan itu. Dengan tak sabar ia membaca pesan Amarra.
Hai, Leo… ya, aku sudah menyimpan kontakmu. Bagaimana kabarmu?
Leonard tersenyum lebar membaca pesan balasan dari Amarra.
Aku baik. Aku harap kau juga.
Leonard memandang layar ponsel dan senang bukan main saat melihat pemberitahuan kalau Amarra sedang mengetik pesan….
Ya, aku baik. Terima kasih, Leo.
Senyum Leonard kian melebar. Dengan semangat ia mengetik:
Tadi di pesta aku sangat ingin mengobrol denganmu, tapi temanku, Julie, mengajakku pergi ke meja konsumsi.
Julie temanmu? Aku pikir…
Dengan cepat Leonard menyentuh tanda memanggil di ponsel. Sedetik kemudian panggilan tersambung.
“Halo,” sapa Amarra.
Dada Leonard berdebar tak menentu. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Untuk sesaat napasnya tertahan oleh kerinduan yang membuncah di d**a.
“Amarra…,” desah Leonard parau.
“Ya?”
“Apakah kau sudah mengantuk?”
“Belum.”
“Kau sudah pulang dari pesta?” tanya Leonard was-was.
“Ya, aku di apartemen sekarang.”
“Apartemenmu?”
Tawa Amarra berderai di ujung sana. “Tentu saja, Leo. Apartemen siapa lagi?”
“Sendiri?”
“Ya.”
“Ah, syukurlah,” Leonard tidak sadar mendesahkan kelegaan hatinya.
“Apakah kau berpikir aku sedang di suatu tempat bersama seseorang?”
Leonard terkesiap. Tebakan Amarra sangat tepat. Untuk mengusir kecanggungan, Leonard tertawa kecil. “Maafkan aku, Amarra. Aku hanya cemas…”
“Cemas?”
“Yeah….” Leonard menggantung kalimatnya, enggan menceritakan lebih jauh kecemasannya memikirkan Amarra mungkin saja sedang bersama sang kekasih.
Keheningan terbentang di antara mereka.
“Amarra…,” panggil Leonard pelan.
“Ya?”
“Maukah kau makan malam denganku Sabtu nanti?” tanya Leonard dengan seluruh saraf yang berdesir tak menentu. Berharap cemas menunggu jawaban Amarra.
Jeda sesaat…, yang terasa sangat panjang bagi Leonard.
“Tapi Julie….”
“Ah, ya!” Leonard baru teringat ia harus menjelaskan tentang Julie dan meyakinkan Amarra kalau dirinya dengan gadis Prancis itu tidak memiliki hubungan istimewa apa pun selain pertemanan. “Aku dan Julie hanya teman biasa. Dia memintaku menemaninya ke pesta itu.”
“Oh…, aku pikir….”
“Tidak! Tidak!” tukas Leonard cepat. “Kami tidak berpacaran jika itu yang kaupikirkan.”
Desah lega terdengar di ujung sana, dan kelegaan itu menular ke Leonard.
“Baiklah kalau begitu. Aku mau makan malam denganmu Sabtu nanti.”
Yes!! Leonard berteriak di dalam hati. Senang bukan kepalang. “Aku jemput pukul tujuh Sabtu nanti,” Sayang. Namun panggilan mesra itu hanya terucap di dalam hati.
“Baiklah.”
“Beri aku alamatmu, Amarra.”
Dan malam itu pun, Leonard tidur dengan senyum tipis menghias wajah. Membawa bayangan Amarra dalam khayalan terindahnya.
***
Love,
Evathink
Follow i********:: evathink