2
Di sepotong senja yang indah, Leonard dan dua sahabatnya duduk-duduk santai di sebuah kafe yang populer dengan menu khas Indonesia. Tampak di salah satu sudut kafe tersedia panggung mini tempat bernyanyi.
Awalnya Leonard sama sekali tidak tertarik dengan apa yang disajikan di atas panggung kecil itu, ia lebih senang bercerita dengan kedua sahabatnya. Sampai sebuah suara merdu yang menyanyikan lagu Akad dari grup band Payung Teduh, dilantunkan.
Bila nanti saatnya telah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan....
Leonard melirik panggung dan seketika dadanya berdebar tak menentu. Mata setajam elangnya menangkap sesuatu yang tak terduga. Gadis yang sedang menyanyi itu adalah gadis yang seminggu terakhir ini menjadi ratu di benaknya. Amarra.
Hati Leonard senang bukan main.
Suara-suara penuh semangat dari sebuah meja, mau tak mau membuat Leonard mengalihkan tatapannya dari gadis cantik yang sudah menyihirnya itu.
Di meja lain, tampak beberapa anak muda, cowok dan cewek, memandang panggung dengan senyum ceria—bahkan sesekali turut bernyanyi dengan norak. Leonard menebak anak-anak muda tersebut adalah teman-teman Amarra yang tertular keceriaan suara merdu gadis itu.
Semoga Amarra belum punya kekasih, Leonard membatin penuh harap.
Detik demi detik berlalu, dan Leonard terus menikmati alunan suara lembut memukau itu, mengabaikan pembicaraan yang sedang berlangsung antara dua sahabatnya, juga suara berisik teman-teman Amarra.
Ternyata Blake dan Carlos memperhatikan gerik-gerik Leonard. Keduanya pria tampan itu saling menyeringai penuh arti melihat betapa Leonard terpesona pada sang pelantun tembang romantis itu.
“Ayo, dapatkan dia, Leo!” bisik Blake dan Carlos nyaris bersamaan.
Leonard tersenyum, dadanya bergetar.
Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saat si gadis menyelesaikan nyanyiannya dan turun dari panggung, mengabaikan kedua sahabatnya dan suara riuh tepuk tangan dari sekumpulan anak-anak muda itu, juga sebagian pengunjung kafe, Leonard meninggalkan mejanya dan menghampiri si gadis.
“Hai,” sapa Leonard dengan senyum menawan.
Si gadis yang sedang akan berjalan menuju meja di mana teman-temannya berada, seketika menghentikan langkah.
Wajah cantik itu merona saat melihat siapa yang menyapanya. “Hai…,” balasnya dengan senyum malu-malu.
“Suaramu bagus,” puji Leonard dengan suara agak gemetar karena jantungnya sedang berdegup kencang. Mereka berdiri berhadap-hadapan dengan jarak tak lebih dari dua meter.
“Terima kasih,” balas Amarra dengan senyum tersipu.
“Aku ingin selalu mendengarmu menyanyi.”
Mata indah gadis itu melebar, tampak terkejut dengan pernyataan Leonard. Semburat merah menjalar di pipi mulusnya.
“Omong-omong, namaku Leonard. Kau…, Amarra, kan?” Leonard mengulurkan tangan dengan debar di d**a yang kian menggila. Samar-samar ia menghirup wangi eksotis mawar yang begitu memikat—wangi parfum Amarra.
Mata indah itu kembali melebar. “Kau tahu namaku?” tanyanya bingung sekaligus senang.
Leonard tersenyum. “Ya, aku tahu. Aku tak mungkin melupakan nama gadis secantik dirimu, Amarra.”
Rona merah kembali menjalar di pipi gadis itu, dan sumpah mati, Leonard ingin segera merengkuh tubuh ramping yang mungkin 20-25 senti di bawahnya itu, ke dalam pelukannya.
Leonard sangat tergoda merasakan Amarra dalam pelukannya, menghirup wangi tubuh indah itu sepuasnya, dan menyusuri pipinya yang merona dengan jemari. Merasakan kehalusan kulitnya.
Keinginan-keinginan itu membuat Leonard kian mendambakan Amarra.
“Amarra…,” Leonard mendesis tersekat nama gadis itu, suaranya berat dan parau oleh hasrat.
“Ya?” mata Amarra terfokus pada Leonard, sementara bibirnya sedikit terbuka. Merekah menggoda.
Leonard menutup jarak di antara mereka, lalu merengkuh tubuh indah itu ke dalam pelukan, menyapu bibirnya ke bibir Amarra. Mengecup dengan lembut dan membelai kemanisan yang ditawarkan bibir itu dengan hasrat bergelora.
Amarra membalas ciuman Leonard. Gadis itu membuka bibirnya, mengundang Leonard menjelajah lebih jauh.
Dan Leonard menyambut undangan itu. Bibirnya merayu bibir Amarra. Lidahnya mendesak lembut. Mencecap dengan hasrat menggelegak.
“Ya, Leonard?”
Leonard tersentak. Seluruh khayalannya buyar.
“Apa yang ingin kaukatakan tadi?” tanya Amarra.
Otak Leonard bekerja keras mengingat apa yang ingin ia katakan pada Amarra sesaat sebelum khayalan liar mengambil alih fungsi otaknya.
“Ah, ya, sebenarnya aku sangat ingin mendengarmu menyanyi lagi.” Leonard menjilat samar bibirnya yang terasa masih menggelenyar oleh khayalan gilanya barusan.
Amarra tersenyum gugup, “kau ingin aku menyanyi lagi?”
“Ya, sangat ingin, Amarra…,” Leonard menyebut nama gadis itu dengan nada parau dan diseret-seret.
“Oh.” Amarra merona dengan senyum malu-malu.
“Tapi aku tak ingin membuatmu lelah. Maukah kau menyanyi untukku lain kali?”
Amarra menatap Leonard terpana, lalu gadis itu mengangguk pelan.
“Terima kasih, Amarra,” ucap Leonard tulus dengan hati riang. “Omong-omong, bolehkah aku minta kontakmu? Nomor ponsel?”
Amarra memandang Leonard dengan sorot ragu, dan Leonard tersenyum menenangkan.
“Aku tidak berniat jahat, Amarra. Aku hanya ingin berkenalan lebih dekat denganmu.”
Setelah berpikir sesaat, akhirnya Amarra mengangguk. Lalu menyebut deretan angka.
Leonard dengan tangkas mengetik di ponselnya, lalu menanyai nama lengkap gadis itu.
Amarra Darrene—sejak saat itu nama tersebut terukir di dadanya.
Kemudian Leonard mengirim pesan ke nomor Amarra agar gadis itu tahu nomor ponselnya.
Dering singkat terdengar. Leonard menoleh ke arah sumber suara, dan saat melihat mata-mata penasaran yang memandang mereka, seketika ia tersadar, mereka tidak hanya berdua. Sejak tadi, ia begitu larut dengan Amarra hingga melupakan keadaan sekitarnya.
“Aku mengirimimu pesan agar kau tahu nomor ponselku,” kata Leonard lembut saat kembali memandang Amarra.
“Ponselku ada di tasku, di sana.” Amarra menunjuk meja tempat teman-temannya berada. “Aku akan menyimpan nomor ponselmu. Terima kasih, Leonard.”
“Panggil saja aku Leo.”
Amarra tersenyum tipis. “Baiklah, Leo. Kalau begitu, sampai jumpa.”
“Sampai jumpa, Amarra.”
Amarra kembali ke meja tempat teman-temannya berada, sementara Leonard kembali pada Blake dan Carlos yang sejak tadi memperhatikan sepak terjangnya.
Leonard tersenyum lebar pada kedua sahabatnya, menyatakan keberhasilannya. Blake dan Carlos serentak mengacungkan jempol.
***
Musim semi menguarkan wangi khas yang menenangkan hati. Pepohonan mulai terlihat hijau dan bunga-bunga bersipacu memamerkan aneka warna kelopaknya. Berpasang-pasang lebah madu mulai mencium harapan. Berbagai jenis kupu-kupu melayang-layang riang gembira, beranggapan bahwa seluruh bunga-bunga itu adalah milik mereka. Adapun London sedang dibalut lapisan selimut yang sangat sejuk. Suhu udara berkisar 12o sampai 18o Celcius, tidak dingin, juga tidak panas.
Sore itu, Leonard duduk di balik salah satu meja di bagian pojok restoran sang ayah dengan laptop dan segelas kopi hitam kental kesukaannya.
Lewat dinding kaca restoran, ia memandang ke luar, pada bunga-bunga yang tampak mekar ceria dan memukau mata. Seekor kumbang bermanuver mengitari sekuntum bunga merah dengan kelopaknya yang berlapis-lapis. Bayangan sebentuk wajah seceria bunga itu melintas di benak Leonard. Debar halus menabuh dadanya.
Aku akan segera menjadi kumbang itu, Amarra, desah Leonard dalam hati.
Tak lama kemudian, ketika menyadari tekadnya yang gila, ia pun menggeleng dan tersenyum samar.
Seminggu sudah berlalu dari perkenalannya dengan Amarra di kafe senja itu, dan sampai saat ini, wajah cantik dengan tulang pipi indah yang terpahat sempurna tersebut masih setia mengisi angannya, menjadi tokoh utama dalam setiap episode kisah cinta indah yang ia rajut dalam khayalannya.
Leonard meraih ponselnya, sejenak mengabaikan angka-angka menggiurkan yang terpampang di layar laptop. Ia mencari nama Amarra di kontak ponsel, lalu menyentuh ikon panggil. Namun, sedetik kemudian, belum sempat panggilan itu tersambung, jemari Leonard dengan cepat menyentuh tanda mengakhiri panggilan.
Jantung Leonard berdegup lebih kencang, dan sekali lagi ia menggeleng dan menyeringai, mengejek diri sendiri yang mulai bersikap aneh. Kapan terakhir kali ia merasa seperti ini? Tingkahnya persis remaja canggung yang sedang dilanda cinta masa akil balik, malu-malu kucing.
Leonard memandangi layar ponselnya dengan senyum samar menghias wajah.
Amarra…, Leonard mendesahkan nama itu di dalam hati. Mengapa nama itu begitu indah? Mengapa gadis itu begitu cantik dan memikat? Leonard belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Amarra bagai magnet bersimbol Utara, sementara dirinya Selatan, daya tarik yang menguar di antara mereka berdua begitu kuat.
Tubuh atletis Leonard sedikit bergelombang saat ia menarik napas panjang dan menghelanya pelan, berharap paru-paru yang terisi lebih banyak oksigen mampu meredakan gumpalan rindu yang siap meledakkan dadanya. Setiap embusan napasnya dipadati butiran-butiran rindu yang telah terurai. Sesekali Leonard mengarahkan embusan itu ke atas, meniupnya mengalir ke udara bebas, diam-diam berharap, butiran rindu itu akan terbawa angin, sampai di hadapan Amarra.
Barangkali benar, orang yang sedang jatuh cinta seringkali berlaku aneh. Nun di depan sana, Ram sesekali mengamati tingkah laku atasannya yang beberapa hari ini terlihat agak lain. Ram tersenyum sambil menggoyang-goyangkan kepalanya. Acha, acha.
Sementara itu, tanpa menyadari sepasang mata cokelat pemuda India itu yang sedang tertuju padanya, Leonard menyugar sekilas rambut gelapnya, berusaha menyingkirkan Amarra sejenak dari benaknya—meski sebenarnya hal tersebut tidak mungkin—dan memfokuskan pandangan ke layar laptop, pada laporan pembukuan restoran.
Laporan pembukuan restoran itu membuat Leonard berdecak puas. Laba perusahaan terus meningkat. Dan Leonard memutuskan untuk menerima usul adiknya tempo hari, membuka cabang baru restoran.
Sejak beberapa tahun belakangan ini Leonard dan Lucas mengelola beberapa restoran khas masakan Indonesia milik ayah mereka yang tersebar di seantero London. Sementara itu sang ayah dan ibu memilih pensiun, tinggal di sebuah townhouse mewah di London, mengisi waktu dengan membangun panti sosial di Inggris, juga Indonesia.
Leonard berasal dari Yogyakarta, Indonesia. Lima belas tahun lalu mereka sekeluarga pindah ke London. Ayahnya yang waktu itu bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran milik keluarga di Yogyakarta, ingin mengadu nasib di London. Tahun demi tahun berlalu, dan sekarang usaha ayahnya berkembang sangat pesat.
“Leo!”
Leonard mengangkat wajah dari laptop di depannya. Matanya menangkap sesosok gadis bertubuh indah dengan kaki langsing bersepatu hak tinggi yang melangkah anggun ke arahnya.
Mata biru cerah itu berbinar menatap Leonard.
Diam-diam Leonard menghela napas frustrasi. Satu wanita lagi berusaha mengusiknya… kali ini gadis Prancis yang cantiknya tak kepalang tanggung. Penampilan gadis itu sempurna bak supermodel papan atas.
Leonard membalas tatapan penuh semangat tersebut dengan sedatar mungkin.
“Hai, Julie.” Leonard mengulas senyum malas.
Leonard berkenalan dengan Julie Antoine di pesta ulang tahun Flaris, bulan lalu. Dan gadis itu sepertinya langsung terpesona padanya saat pandangan pertama. Tanpa malu-malu, Julie mengejar Leonard.
Julie tiba di dekat Leonard. Wangi parfumnya yang mahal seketika menyentuh indra penciuman Leonard. Seharusnya Leonard terpikat oleh wangi memukau itu, tapi kenyataannya tidak. Jauh di dalam benaknya, ia justru memikirkan Amarra. Teringat wangi mawar nan eksotis gadis itu.
“Kau tidak hadir di pesta pernikahan kakakku,” kata Julie dengan nada merajuk sambil duduk di kursi kosong di dekat Leonard meski tidak dipersilakan.
“Oh, itu—” Leonard meringis, berusaha mencari-cari alasan mengapa ia tidak hadir di pesta pernikahan kakak Julie meski gadis Prancis itu sudah berulang kali mengingatkan Leonard untuk datang. “Aku sibuk, Julie.”
“Klise sekali,” cibir Julie gemas. “Omong-omong, besok malam aku ingin kau menemaniku ke pesta ulang tahun temanku,” kata Julie dengan penuh semangat dan melupakan kenyataan Leonard telah membuatnya kesal dengan tidak hadir di acara pernikahan kakaknya. Ia menggerakkan bibir sensualnya untuk menggoda Leonard. Bibir yang dipoles lipstik berwarna merah menyala itu sedikit terbuka, seolah mengundang Leonard untuk mencecap kemanisannya.
“Julie…,” Leonard mendesah malas. “Aku tidak—”
“Ya, kau harus menemaniku. Aku tidak mau ditolak untuk kali ini. Aku butuh pasangan ke pesta itu.”
Pasangan!
Itulah yang Leonard takutkan. Ia tidak ingin memberi harapan palsu pada Julie. Leonard memandang putus asa gadis cantik yang menatapnya dengan tatapan memuja yang terpancar terang benderang di mata sebiru laut itu. Bibir Julie bergerak-gerak lagi untuk menggoda Leonard.
Dan sejujurnya Leonard sangat tergoda untuk melumatnya. Sebagai laki-laki normal, tentunya ia memiliki hormon yang meledak-ledak, yang beberapa tahun terakhir ini terpaksa ia redam kerena harus fokus mengurusi bisnis restoran sang ayah.
Namun sesaat kemudian, sebentuk bibir seeksotis kelopak bunga mawar melintas di benak Leonard. Bibir seksi Amarra. Dan pesona gairah yang ditebar bibir sensual Julie pun terkalahkan.
***
Love,
Evathink
Follow i********:: evathink