1
Udara kota London terasa segar dan lembap. Hari masih sangat pagi ketika Leonard Revano melangkah masuk ke salah satu restoran milik ayahnya di awal pekan itu.
Suasana restoran masih sepi. Hanya tampak beberapa pengunjung menikmati kopi pagi ditemani kudapan.
Di dekat pintu restoran, Leonard menyapa pelayan yang bertugas membukakan pintu untuk para tamu.
“Bagaimana kabarmu hari ini, Ram?” tanya Leonard ramah pada pemuda berambut hitam legam tersebut.
Ram, pemuda India itu, tersenyum senang. “Saya baik, Sir. Saya harap Anda juga demikian.”
Leonard tersenyum lebar. Ia menepuk pelan pundak Ram. “Terima kasih, Ram. Ya, saya baik. Selamat bekerja, semoga hari ini berjalan lancar,” kata Leonard tulus.
Disiram kalimat yang menyejukkan dari mulut atasannya langsung, Ram tersenyum. Lehernya meliuk-liuk, kepalanya bergoyang-goyang. Acha, acha.
Leonard memang terbiasa bersikap ramah pada seluruh karyawannya. Hal tersebut sudah sejak dini ditanamkan oleh sang ayah. Memiliki uang dan menjadi seorang bos tak lantas membolehkannya bersikap angkuh.
Leonard meninggalkan Ram, bersiap menyapa karyawannya yang lain saat sebuah suara manja memanggil namanya.
“Leo….”
Langkah Leonard terhenti, bahkan meski tidak menoleh pun, ia tahu siapa yang menyapanya. Cherry Amstrong, gadis Inggris teman Lucas yang tergila-gila padanya.
Leonard baru tiga bulanan ini mengenal Cherry. Waktu itu Cherry bersama satu temannya datang ke restoran untuk menemui Lucas. Kebetulan Leonard sedang bersama adiknya. Lucas pun memperkenalkan mereka.
Dan sejak saat itu, Cherry sering mengirim pesan, menunjukkan dengan gamblang ketertarikannya pada Leonard.
Tidak salah Cherry menjatuhkan hatinya pada Leonard. Bukan karena rasa percaya diri yang berlebihan, tapi Leonard sadar, secara keseluruhan ia memang sangat layak diperebutkan para wanita. Ia memiliki wajah tampan dan tubuh tinggi gagah, yang pastinya selalu bisa menarik perhatian wanita. Apalagi, ia juga seorang pebisnis yang sukses. Semua itu seperti magnet yang menarik para wanita melekat padanya.
“Hai,” sapa Leonard saat Cherry mengadang di depannya.
“Lucas ada?” tanya Cherry berpura-pura mencari Lucas.
“Lucas di restoran yang lain,” jawab Leonard datar. Sebenarnya Leonard sangat tahu Cherry bukan mencari Lucas.
Cherry cemberut. “Aku mencarimu.”
“Oh ya?” Leonard pura-pura terkejut “Ada apa?”
Cherry semakin cemberut. “Kau tidak membalas pesanku kemarin. Kenapa?”
“Oh, itu….” Leonard ingin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tapi tentu saja itu tindakan yang sama sekali tidak maskulin. Akhirnya ia tersenyum tipis. “Aku sangat sibuk, Cherry. Dan sejujurnya ponselku kemarin ketinggalan di apartemen kekasihku.” Leonard sengaja berbohong agar Cherry sadar untuk tidak mengharapkannya lagi.
Wajah cemberut Cherry memucat sehingga Leonard meringis. Sejujurnya ia tidak tega menyakiti Cherry. Gadis itu begitu lembut dan manis. Namun, Leonard terpaksa melakukannya agar Cherry tidak semakin berharap dan terluka lebih dalam.
“Omong-omong, Cherry, maafkan aku, aku sedang banyak pekerjaan. Tetaplah di restoran dan nikmati cokelat panas.”
Wajah pucat Cherry kian cemberut. Leonard hanya bisa tersenyum kaku.
“Aku ke kantorku dulu, ya.” Leonard berpamitan. Sesungguhnya sangat tidak sopan meninggalkan tamu begitu saja, tapi Leonard harap Cherry menangkap isyarat halus penolakannya pada usaha pendekatan gadis itu.
***
Leonard mengendarai mobilnya membelah jalan raya menuju salah satu bar elite milik sahabatnya, Blake Arsalan.
Seperti halnya Leonard, Blake juga berasal dari Indonesia. Pria itu mewarisi bisnis ayahnya di bidang hiburan. Hingga saat ini, di usianya yang ke-31, Blake sudah memiliki beberapa bar elite yang tersebar di kota London.
Leonard dan Blake berkenalan tujuh tahun lalu. Waktu itu tanpa sengaja mobilnya menyerempet mobil Blake hingga lecet. Alih-alih marah, Blake yang ramah hanya memaklumi kesalahan kecil tersebut.
Saat tiba di sana dan masuk ke salah satu ruang VIP, Leonard tersenyum samar tatkala melihat Carlos dan Blake sedang duduk di sofa mewah di ruangan itu sambil mengobrol ditemani sampanye.
Carlos Ridgeley adalah pria Inggris yang sudah menjadi teman dekat Leonard sejak di bangku kuliah. Saat ini Carlos memiliki perusahaan yang bergerak di bidang desain interior dan berjalan sukses.
Leonard memperkenalkan Blake pada Carlos hampir lima tahun lalu, dan sejak saat itu mereka bertiga berteman dekat dan banyak menghabiskan waktu bersama di sela-sela kesibukan masing-masing.
“Merayakan sesuatu?” tanya Leonard sambil mengangkat sebelah alis dengan heran. Ia duduk di kursi di antara Blake dan Carlos yang duduk berhadapan dibatasi oleh sebuah meja kecil.
Blake tertawa renyah sehingga alis Leonard terangkat semakin tinggi.
“Aku dan Denaya bertunangan, tadi malam,” kata Blake dengan mata berbinar bahagia.
“Wah berita yang luar biasa! Selamat, Blake!” Leonard memajukan tubuh, mengulurkan tangan pada Blake yang disambut dengan jabatan erat.
Denaya adalah gadis Amerika Latin yang sangat cantik. Sudah hampir dua tahun Blake menjalin hubungan asmara dengan gadis itu. Dan selama ini, hubungan keduanya berjalan sangat lancar.
“Jadi kapan kau dan Denaya akan menikah?” tanya Leonard saat kembali duduk di sofa dan menuangkan sampanye ke gelas elegan yang sudah tersedia di meja.
“Rencananya musim gugur nanti,” jawab Blake. “Pastikan kalian berdua mengosongkan jadwal untuk pesta pernikahanku.”
Leonard tersenyum lebar. “Itu sudah pasti, Bung!”
“Kapan menyusul, Leo?” tukas Carlos.
“Jangan meledekku, Kawan. Kalian tahu aku masih sangat sibuk mengelola bisnis restoran ayahku. Aku belum memikirkan ke arah sana.” Leonard tertawa.
“Sudah waktunya, Leo. Bisnismu sudah sukses. Tunggu apalagi? Berhentilah bekerja keras, Kawan,” tambah Blake.
“Ya, jangan hanya bekerja keras di restoran saja, pikirkan juga untuk mulai bekerja keras di kamar tidur,” timpal Carlos sambil tertawa.
Leonard dan Blake ikut tertawa, terbahak-bahak.
“Omong-omong, bagaimana denganmu, Carlos? Kau dan Flaris sudah menjalin hubungan hampir empat tahun. Apa kau tak berniat menikahinya?” tanya Blake.
“Yeah! Selain itu seharusnya kau belajar menjadi kekasih setia. Kasihan Flaris,” tegur Leonard.
Adapun Carlos seorang playboy ulung. Bahkan, meski menjalin hubungan yang cukup serius dengan Flaris, gadis asal Irlandia yang memesona, diam-diam di belakang sang kekasih, Carlos masih mengencani gadis lain. Sesungguhnya Leonard kasihan melihat Flaris memiliki kekasih tukang selingkuh seperti Carlos, tapi tentu saja ia tidak dalam keadaan bisa mengkhianati Carlos dengan memberitahu Flaris betapa bejatnya pria itu.
“Aku belum siap melepas masa lajang,” kata Carlos santai.
“Kau akan menyesal kalau Flaris dinikahi pria lain,” tukas Blake.
Carlos hanya tertawa. “Jangan mendoakan yang jelek-jelek, Kawan.”
“Aku bukan mendoakan, tapi itu kenyataan,” Blake menyeringai masam. “Flaris sudah berumur dua puluh enam, bukan? Atau dua puluh tujuh? Bisa jadi dia sudah siap menikah tapi kau belum juga melamarnya. Tidak takut dia pindah ke lain hati?”
“Flaris cinta mati padaku, dia tidak mungkin pindah ke lain hati!”
Sementara keduanya sibuk berdebat, pikiran Leonard justru terbang ke tempat lain. Senyum samar terlukis di wajah tampannya. Ingatannya melayang-layang pada kejadian di salah satu restoran ayahnya beberapa hari yang lalu.
Amarra....
Leonard memutar ulang adegan menakjubkan itu dalam lamunannya. Sosok gadis dengan tubuh berlekuk indah bak jam pasir itu telah memikat hatinya. Bibir semerah ceri yang menggoda, rambut hitam lebat yang membuat Leonard ingin menyusurkan jemarinya di helaian selembut sutra itu, juga tatapan mata beriris cokelat mudanya yang selalu bersinar cemerlang. Semuanya begitu memesona. Begitu menggetarkan hati.
“Segera kencani dia, Leo”
Suara Blake membangunkan Leonard dari lamunannya.
“Apa?” tanya Leonard bingung.
“Kau sedang jatuh cinta, bukan?”
“Hmm…,” Leonard bergumam pelan. Benarkah yang sedang memenuhi dadanya ini adalah rasa bernama cinta?
“Jangan coba-coba menyangkal, wajahmu menunjukkannya dengan jelas. Kau sedang kasmaran,” serang Blake gemas.
Benarkah? Leonard bertanya-tanya dalam hati. Leonard tidak pernah benar-benar tahu bagaimana sebenarnya rasa jatuh cinta itu. Ia memang pernah beberapa kali berpacaran, tapi tidak serius, cenderung hanya untuk bersenang-senang.
“Wow! Selamat, Kawan!” Carlos ikut menyeringai menggoda. “Siapa gadis beruntung itu, Leo?” tambah Carlos.
“Siapa namanya?” tanya Blake antusias.
Wajah Leonard merah padam dihujani pertanyaan konyol kedua sahabatnya.
“Mungkin nanti kita bisa mengatur melepas masa lajang bersamaan dan pergi berbulan madu bersama-sama. Ke Prancis? Roma? Atau Santorini?” tambah Blake.
“Yang benar saja!” cetus Carlos. “Apa enaknya bulan madu ramai-ramai?”
Leonard tertawa. “Ah, yang itu aku juga enggan. Aku cemas kau malah terpikat pada mempelai kami, Carlos.”
“Wah, wah, wah.... Itu namanya pagar makan tanaman. Takkan pernah kulakukan, Kawan!” Carlos tertawa sumbang menanggapi gurauan Leonard, sementara Blake geleng-geleng kepala.
Leonard tertawa. “Aku hanya bercanda, Carlos.”
Carlos menyeringai masam. Ia kembali menyesap sampanye.
Lalu sisa malam itu mereka lewatkan dengan bercerita tentang banyak hal, seperti persiapan pernikahan Blake, seputar bisnis, dan tentu saja pesona seorang bidadari jelita yang tempo hari menyambangi salah satu restoran ayah Leonard, Amarra.
***
Love,
Evathink
Follow i********:: evathink