Sudah satu bulan pernikahan Bara dan Anjani semuanya masih sama. Bara masih sering mabuk dan kadang nggak pulang. Bahkan mereka jarang bicara.
Saat Anjani ajak bicara bara selalu acuh. walaupun dia jawab pasti yang keluar hanya kata-kata pedas yang akhirnya menyakit kan hati Anjani.
Tapi untungnya Bara nggak pernah bawa perempuan ke rumah seperti kata orang-orang.
Setidaknya dia menghargai keberadaan Anjani di rumah ini.
"Asalamualaikum....." suara melengking Biani menyadar kan Anjani dari lamunanya.
"Walaikum salam..." saut nya dengan berjalan kedalam rumah karena dia tadi sedang duduk di taman belakang rumah.
"Kak Jani kita ke mall yuk.." ajak Biani.
"Ngapain?"
"Ya jalan-jalan lah kak, kakak pasti bosan kan dirumah terus"
Anjani memang bosan sebenarnya karena dari dia pindah kesini, ia tak pernah pergi kemana-mana.
"Ayo lah jangan banyak mikir" Biani segera menarik Anjani ke kamarnya untuk ganti baju.
"Sekarang kakak cepetan ganti baju"
Anjani mengangguk dan segera mengganti baju nya.
Selang beberapa menit Anjani sudah keluar dengan menggunakan baju dress selutut berwarna biru bermotif bunga. Rambut nya di biarkan tergerai.
"Ok sekarang kita berangkat" ujar Biani semangat.
"Eh tunggu bentar kakak mau bilang kak Bara dulu" Ajani segera mengambil hp nya yang ada di tas.
Mas bara
Aku izin mau pergi sama Biani ke mall sebentar.
Anjani mengirim pesan itu ke Bara mau dibalas atau tidak yang penting dia sudah izin. Dari pada nanti dosa keluar rumah nggak izin suami.
"Mau kemana kalian?" Tanya seseorang yag melihat Anjani dan Biani turun ke bawah.
"Kak Leo, kita mau ke mall" jawab Biani.
"Terus kakak ngapain kesini kak Bara kan nggak ada?" Lanjut Biani lagi.
"Nggak kakak cuma mau ngambil berkas yang ketinggalan" jawab Leo dengan mengangkat map biru yang ada di tangannya.
Di balas Biani dengan ber oh ria.
"Ya udah kalau gitu kita pergi dulu ya" pamit Biani dengan menggandeng tangan Anjani.
"Mari mas..." pamit Anjani sopan.
"Eh tunggu dulu" tahan Leo.
"Biar kakak yang antar"
"Lah emang kakak nggak kerja"
"Udah nggak papa nggak ada yang penting juga"
"Ya udah ayok deh..." mereka pun berjalan keluar menuju mobil.
"Kak Jani di depan ya ... aku dibelakang aja"
Anjani menganggukan kepalanya dan masuk duduk disebelah Leo.
Selama perjalanan mereka terus bercerita dan tertawa. Anjani dan Leo juga sudah akrab karena selama ini mereka memang sering ngobrol. Kalau Leo lagi ke rumah.
Akhirnya mereka sudah masuk kedalam mall. Biani langsung mengajak ke tempat permainan. Dan permainan pertama yang mereka tuju adalah basket.
"Ok sekarang kita tanding ya kak, siapa yang kalah nanti harus bayarin makan yang menang " Biani menantang Leo. Karena begini-gini dia kapten basket putri disekolahnya.
"Ah kecil ini doang" ucap Leo meremehkan.
Poin mereka pun saling menyusul . Sementara Anjani dia terus bersorak menyemangati Biani.
"Yessss makan geratis" teriak Leo senang karena akhirnya dia yang menang.
Biani mengerucutkan bibirnya kesal. Predikat kaptennya masih harus di tanyakan.
Leo mejulurkan lidah nya mengejek.
"Nggak nggak ini nggak bener, kak Leo pasti curang tadi" ujar nya tak terima.
"Yaudah deh kalah kalah aja, nggak usah banyak alasan" ujar Leo dengan menusuk-nusuk pipi Biani untuk menggoda gadis itu.
"Iiiiihhh kak Jani" adunya pada Anjani yang sedari tadi hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
"Ya udah sekarang mendingan kita main yang lain aja" ajak Anjani menengahi.
"Kiri-kiri kak..." teriak Biani mengarah kan Leo yang sedang berusaha untuk mengambil boneka.
"Yah...." teriak mereka bersamaan saat Leo gagal mengambil bonekanya.
"Sekarang aku yang coba" ucap Anjani yang penasaran karena dari tadi Biani dan Leo selalu gagal.
"Ye... dapat" teriak Anjani girang karena sekali coba dia sudah berhasil, faktor luck sepertinya.
"Woaaaah...." teriak Biani girang.
Anjani mengambil boneka beruang warna coklat yang dia dapat.
"Nih buat kamu" dia memberika nya ke Biani.
"Kakak tau aja kalau aku mau minta" ujar Biani.
Anjani tertawa mendengar ucapan Biani.
"Ya udah capek, sekarang mau kemana lagi kita" ujar Leo yang sudah mulai kelelahan.
"Kita belanja aku mau beli baju" Biani langsung menarik tangan Anjani.
Leo menghembukan napas lelah dan segera menyusul mereka berdua.
Setelah sampai di salah satu toko baju Biani langsung masuk dan sibuk memilih baju dan Anjani hanya mengikutinya saja, sementara Leo dia menunggu di bangku yang di sediakan.
"Ini bagus nggak kak" tanyanya ke Anjani.
"Bagus kok" ujar Anjani.
"Kakak juga pilih dong " ujar biani.
Anjani pun ikut melihat-lihat karena sebenar nya dia juga tidak mau beli.
"ASTAGA" kaget nya setelah melihat harga yang tertera.
"Kenapa kak" Biani menoleh ke Anjani.
"Kamu yakin mau beli baju disini?" Tanya Anjani.
Biani mengangguk " emang kenapa?" tanya nya bingung.
"Lihat ni.." Anjani menunjuk harga nya.
"Ya ampun kakak kirain apaan, ini tu murah kak. Kak Bara nggak angkat bangkrut kalau cuma beli baju ini" ucap Biani.
"Tapi ini mahal banget"
"Yaudah kalau gitu aku yang pilih buat kakak"
Biani mengambil salah satu gaun pesta dan menyerah kan nya ke Anjani.
"Kakak coba gaun ini"ujar Biani.
"Nggak , nggak mau" Anjani menggelengkan kepalanya melihat gaun yang di ambilkan Biani.
Bukan karena gaunnya jelek gaunnya bagus, sangat bagus malah. Cuman terlalu terbuka. Gaun berwarna merah dengan belahan sampai ke paha, dan bagian bahu yang terbuka.
"Coba dulu aja kak ini pasti cocok sama kakak" paksa Biani.
"Aduh nggak usah Bi.... lagian kakak mau kemana pakek baju ini" pokok nya Anjani nggak mau coba.
" ya udah kalau gitu kita langsung bayar aja" Biani berjalan menuju kasir membawa gaun itu beserta baju lain nya yang sudah ia pilih.
"Lah kamu mau pakai gaun itu, jangang Bi... itu terlalu dewasa buat kamu" peringat Anjani.
"Ya nggak lah, ini buat kakak nggak usah dicoba ini pasti pas buat kakak"
"Tapi..."
"Sssstttt pokok nya kita beli gaun ini"
Anjani hanya bisa pasrah karena percuma Biani pasti akan tetap menyuruh membeli gaun itu.
"Ya udah biar kakak yang bayar" ujar Anjani.
Biani tersenyum senang" emang aku mau nyuruh kakak yang bayar" ujar nya dengan tersenyum lebar.
Jangan tanya Anjani dapat uang darimana, yang pasti dari Bara dia memberi Anjani kartu untuk belanja.
Walau selama ini belum pernah Anjani pakai.
Mereka sekarang sudah duduk di salah satu restoran untuk makan. Mereka terus mengobrol dan tertawa bahkan mengambil foto. Leo juga mengajak Anjani foto berdua.
Setelah kenyang mereka langsung pulang. Di dalam mobil Biani terus memperhatikan Leo dan Anjani mereka berdua terlihat sangat akrab. Leo terlihat sangat perhatian sama Anjani dan juga lebih banyak bicara, padahal diantara teman kakaknya yang lain, Leo yang paling tidak banyak bicara.
"Apa mungkin kak Leo suka sama kak Anajni" Biani menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran aneh yang ada di kepalanya.