Anjani sibuk menyiapkan serapan di meja makan. Dia juga menyiapkan s**u putih buat Bara.
Katanya bagus buat orang yang habis mabuk.
"Selamat pagi..." teriak seseorang nyaring.
Anjani menoleh kan kepalanya untuk melihat siapa yang teriak- teriak sepagi ini.
Dia melihat tiga teman Bara yang semalam berjalan kearah nya.
"Pagi Mas..." balas nya dengan tersenyum.
Walaupun dia kaget ternyata mereka tidak pulang semalam.
Mereka menginap di sini ternyata.
" wah enak banget ni bau nya..." ucap Dimas dan langsung nyomot roti bakar yang ada dimeja.
" iya Mas ayo serapan dulu" ajak Anjani.
" aduh.... dimana sih Bara dapet istri kaya lo Jan, gue juga mau satu" ucap robi.
Menurut Robi, Anjani itu contoh istri ideal.
Anjani hanya tersenyum sebagai tanggapan.
"Ya elah mana mau Jani sama lo" celetuk Dimas.
" ya... pasti mau lah, secara kan gue cakep" ucap Roby percaya diri.
"PD lo selangit..."
Leo hanya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan teman-temanya. Yang tidak penting.
"Nah ini ni tersangka nya.." kata Robi saat melihat Bara berjalan kearah mereka.
"Lo keterlaluan Bar, bener-bener lo, masak nikah nggak ngomong-ngomong sama kita." ucap Dimas dengan mendramatisir.
Tega banget Bara di momen bahagia nya, tapi tidak m ngundang mereka semua.
"Emang lo Bapak gue" ucap Bara acuh, dia langsung duduk dan meminum s**u yang disiap kan oleh Anjani.
Dimas dan Robi membuka mulut nya lebar-lebar. Sementara leo menahan senyumnya Skatmat kan lo berdua. Batin leo.
Bara kalau udah ngomong bikin hati pedih.
" oke .. tapi ya bagus deh, jadi lo udah move on dari cewek nggak jelas itu" ucap Robi santai.
Rahang Bara mengeras mendengar ucapan Robi. Dimas menyenggol lengan Robi. Robi yang baru sadar dengan ucapan nya pun segera menutup mulut nya.
PRANKKKKK
Bara membanting gelas yang ada di tanganya. Hingga pecah bertaburan di lantai.
Dia menatap Robi dengan tajam.
" jaga mulut lo kalau lo nggak tau apa-apa, urus kerjaan lo dari pada ngebacot dirumah gue" uja r Bara marah.
Setelah itu Bara langsung berdiri meninggalkan meja makan. Nafsu makannya jadi hilang.
Anjani masih terpaku di tempatnya. Dia terlalu kaget dengan semua yang terjadi.
"Lu sih Rob, udah tau Bara sensitif kalau bahas tu perempuan" ucap Dimas gemas. Mulut Robi memang nggak ada rem nya.
"Ya maaf, gue kan keceplosan" ujar Robi dengan memukul mulut nya yang asal bunyi.
" mampus lo, entar dikantor diamuk singa" ujar Dimas.
" Ya udahlah, mendingan kita berangkat ntar telat" ujar Leo.
"Maaf ya... Jani lo pasti kaget" ucap Robi tak enak melihat wajah Anjani yang masih kaget.
" Iya mas nggak papa, tapi ini makananya nggak dihabisin dulu" ucap Anjani.
"Udah nggak nafsu" ucap Robi dengan mengambil roti bakar lagi. Katanya nggak nafsu.
Anjani jongkok hendak mengambil bekas pecahan gelas yang dilempar Bara tadi.
" eh jangan-jangan" Leo menahan tangan Anjani yang hendak mengambil pecahanan gelas.
"Biar Mbok aja.." ucap Leo.
"Ah nggak papa mas biar Jani aja"
Anjani tetap ingin mengambil pecahanan kaca itu.
"Jangan, Mbok..." Leo langsung memanggil Mbok Jum. Karena Anjani tidak mau mendengarkan nya.
" iya Den..." Mbok Jum muncul dari belakang.
" ini tolong di bersihin ya.."
Mbok jum menganggukan kepalanya dan bergegas kedapur untuk mengambil sapu.
" mending lo lanjut makan aja.." kata Leo.
Anjani menganggukan kepalanya dan dia lekas duduk kembali. sebenarnya dia udah nggak nafsu makan.
Apalagi setelah kejadian tadi. Anjani sebenarnya mau mengejar Bara tadi, tapi dia takut. Nanti yang ada malah dia yang di marahin sama Bara.
" Tapi sebelumnya gue mau ngomong dulu sama lo." Ucap Leo ikut duduk di sebelah anjani..
"Kenapa lo sama Bara bisa nikah?" Tanya Leo, sejujurnya Leo juga penasaran dengan hal itu.
"Mmm... sebenarnya aku sama Mas Bara itu di jodohin sama kakek Santos. Dan pas nikah juga nggak banyak yang di undang" ucap Anjani.
"Pantesan..."ucap Leo.
Karena Leo yakin kalau Bara tidak akan menikah begitu saja. Tanpa ada alasan lain.
"Oh iya kita belum kenalan nama gue Leo" ucap Leo memperkenalkan dirinya, dengan mengulurkan tangannya ke Anjani.
"Aku Anjani" ucap Anjani dengan membalas uluran tangan Leo.
"Mmm mas aku boleh nanya nggak?" Anjani sudah tak bisa menahan rasa penasaran nya lagi. Mumpung masih ad sahabatnya Bara di sini. Leo pasti tau banyak hal tentang Bara.
Leo menganggukan kepalanya.
" Isabel itu siapa?" Tanya Anjani. Anjani penasaran banget dengan yang namanya Isabel.
Leo diam beberapa saat dia merasa tak berhak kalau dia yang ngomong sama Anjani soal Isabel. Tapi di lain sisi dia juga kasihan melihat Anjani , dia merasa Anjani berhak tau karena dia istrinya Bara.
" eee dia itu Mantan kekasihnya Bara" ucap Leo ragu-ragu.
Anjani sedikit kaget mendengarnya.
"Oooo dan Mas Bara belum bisa lupa sampai sekarang sama dia " tebak Anjani.
" ya... begitulah mereka pacaran dari SMA, tapi pas masuk kuliah tiba-tiba Isabel menghilang tanpa kabar sampai sekarang, Bara udah cari kemana-mana tapi tetap nggak ketemu. Bara terpukul banget waktu itu bahkan sampai sekarang, dia juga udah berencana mau melamar Isabel, dan sejak kejadian itu Bara menjadi lebih pendiam dan dingin seperti sekarang, Isabel itu cinta pertama nya Bara, dia segalanya buat Bara. Bahkan Bara sempat depresi waktu itu, namun perlahan dia mulai terima dan bangkit lagi. Tapi ya itu, sifat dia mulai berubah, gue , Dimas, dan Robi yang sahabatan dari kecil sama dia kayak nggak kenal sama Bara yang sekarang, kerjaan nya cuma mabok, dan gila kerja dia bahkan udah jarang ketawa jujur kita sedih banget. Nggak kayak Bara yang dulu , Bara yang sering ketawa, Bara yang ramah. Pokok nya bedalah, makanya kita kaget pas tau dia nikah" jelas Leo panjang lebar.
Anjani hanya diam tak tau harus berkata apa, sedalam itu cinta Bara ke isabel.
"Dan Jani gue seneng Bara nikah nya sama lo, karena gue tau lo perempuan yang baik, bukan perempuan jalang yang sering ngintilin Bara. Dan kalau ada apa-apa lo bisa hubungi gue ok" ujar leo entah mengapa saat pertama kali lihat Anjani dia merasa ingin melindungi perempuan ini.
Anjani tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Ok kalau gitu gue pamit dulu dan ini kartu nama gue lo bisa hubungin gue kalau ada apa-apa" Leo pun pamit untuk pergi.
"Makasih Mas hati-hati " ujar Anjani.
Kalau cerita nya seperti itu tambah berat untuk Bara menerima nya dan membuat bara kembali seperti dulu.
Karena yang Bara mau hanya Isabel mantan kekasih nya, hanya dia obat nya.