Rumah Andin, malam harinya...
Eva masuk ke dalam rumah kakak sahabatnya itu tanpa permisi. Beruntung pintunya tidak tertutup. Ada hal yang membuatnya super kaget dan menuntut penjelasan.
"JELASKAN APA MAKSUDNYA DENGAN KAU HAMIL, ALYN!" Kata Eva keras.
Bruukhh...
Alyn menyemburkan minuman yang sedang ia minum karena kaget dengan suara keras Eva. Ini suara petir atau apa sih?
"Ararara, mamahnya Alyn datang." Kata Andin.
Eva itu menurut Andin adalah sosok teman yang sangat peduli terhadap adiknya. Perhatian Eva kepada Alyn sudah seperti perhatian ibu kepada anaknya. Karena itu, Andin bersyukur, adiknya memiliki teman seperti seorang Eva.
"Ini... Bersihkan dulu wajahmu!" Andin memberikan tisu kepada Alyn.
"ALYN, JELASKAN PADAKU! CEPAT!" Kata Eva.
Alyn sedang membersihkan wajahnya dengan tisu. "Iya sabar, Va. Tunggu dulu, aku bersihkan muka dulu."
"Sudah-sudah, duduk dulu, Va... Kita makan malam bersama... Setelah ini akan ada banyak hal." Kata Andin. Ia menawarkan kursi untuk Eva.
Eva pun duduk di kursi itu. "Terima kasih banyak, Mbak Andin."
"Kita bahas semuanya usai makan malam ya? Sekarang yang lebih penting itu mengisi tenaga kita setelah seharian beraktifitas." Kata Andin.
Mereka pun makan malam bersama.
Tidak ada pembicaraan berarti sampai usai makan malam. Kini mereka sudah selesai memberesi meja ruang makan. Piring dan peralatan kotor lainnya juga sudah dicuci.
"Ahh, aku lupa menutup pintu depan!" Kata Andin.
"Sudah aku tutup sekalian tadi, Mbak. Mbak ini, hati-hati, takut ada orang jahat masuk." Kata Eva.
Andin nyengir. Ini memang kebiasaan buruknya Ia suka lupa menutup pintu. Tapi 'penjahat' yang sering masuk paling si Mark, kekasihnya yang datang untuk menghangatkan diri.
"Haha. Iya, terima kasih sudah diingatkan. Teh hangat, oke?" Tawar Andin.
"Oke!" Kata Eva dengan semangatnya. Ia lalu dengan cepat menoleh ke arah Alyn yang sedang makan jeruk di hadapannya. "Dan kau, bukan waktunya untuk santai lalu makan jeruk! Jelaskan apa maksudmu dengan hamil itu!" Lanjutnya.
"Ya aku kan sudah bilang, aku ini sedang hamil." Kata Alyn.
"Apa? Seriusan?"
"Iya, serius. Aku sungguh sedang hamil."
"Tristan yang menghamilimu?" Eva mencoba hati-hati dalam berbicara. Alyn sangat tidak suka nama ini disebut.
Alyn mengangguk. Namun seketika itu ekspresi wajahnya berubah sendu. Eva menyadarinya.
"KAU HARUS MEMBUATNYA TANGGUNG JAWAB!" Seru Eva.
Andin meletakkan cangkir berisi teh panas di samping Eva. Ia memegang pundak Eva mengisyaratkan jika sebaiknya jangan membahas soal Tristan dulu.
Alyn sungguh tak menyukai ini.
"Maafkan aku, Alyn..." Kata Eva akhirnya.
Alyn menggelengkan kepala. "Sudahlah, jangan bahas dia lagi!"
"Besok rencananya kami akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. Kau mau ikut?" Tanya Andin.
"Iya, aku mau, Mbak."
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Aku kebetulan besok shift ke dua, jadi tak apa-apa. Sebenarnya juga tak masalah sih izin sekali. Aku bulan ini belum pernah mengambil libur."
"Hmm, begitu kah?"
"Ya."
"Baguslah, besok kita bisa rame-rame datang ke rumah sakit."
***
Pagi harinya...
Ruangan dr. Tristan.
Tristan menatap sebuah kotak berlapis kain. Taplak? Sapu tangan? Entahlah bagaimana penyebutan yang benar untuk kain bermotif bunga yang digunakan untuk membungkus kotak itu.
"Apa ini?" Tanya Tristan.
"Itu bekal sarapan untukmu. Aku dengar dari temanmu jika kau jarang makan pagi, jadi aku inisiatif untuk membuatnya." Jawab Jane.
"Aku biasa makan roti tawar dan kopi. Itu sudah lebih dari cukup."
"Iya tahu, kau memang tidak begitu menyukai makan berat. Tapi aku sudah berusaha keras untuk menyiapkannya, jadi kau mau kan menghargai usaha kerasku?" Senyum Jane.
Sebenarnya Tristan tak terlalu menyukai hal-hal merepotkan seperti itu. Tapi ia tipe laki-laki yang menghargai perjuangan seseorang.
"Baiklah. Aku menerimanya. Sekarang kau boleh pergi." Kata Tristan.
"Hah. Padahal sudah dandan cantik, tapi tetap saja diusir."
"Aku sibuk."
"Iya tahu. Soal operasi usus buntu ibu hamil itu, kan?"
"Ya seperti itulah."
"Ah, tadi aku melihat dr. Zia sudah datang ke rumah sakit. Kau butuh dokter kandungan seperti dia kan untuk mendampingi operasi ibu hamil itu?"
"Iya. Nanti aku akan coba menemuinya."
Jane menatap Tristan.
Tristan tak nyaman jika harus ditatap lama-lama.
"Ada apa lagi? Tujuanmu menemuiku sudah usai, kan?" Tanya Tristan.
"Kecupan selamat pagi untukku?" Tanya balik Jane.
"Ini rumah sakit, tempat kerja." Kata Tristan dingin.
"Haah... Baiklah-baiklah, kau menang. Aku kerja dulu. Bye-bye, darling..."
"Hn."
"Semakin dia jual mahal, semakin menggoda. Aku harus berusaha lebih keras lagi! Semangat wahai diriku! Semangat Jane!" Batin Jane.
***
Ruang antrian rumah sakit...
Eva memijat tengkuk Alyn. Ia juga mengolesi minyak angin di sana.
"Masih mual?" Tanya Eva.
"Sudah tidak terlalu. Terima kasih untuk permennya." Kata Alyn.
"Bagaimana dengan sakit kepalanya?"
"Sudah mendingan."
Eva menatap iba Alyn. Sepertinya hamil muda membuat Alyn cukup menderita.
Andin datang mendekat. Ia baru saja mengantri dan mendaftarkan nama Alyn untuk melakukan pemeriksaan.
"Bagaimana, Mbak Andin?" Tanya Eva.
"Pendaftaran sudah usai, waktunya ke poli kandungan. Ayo kita pindah tempat!" Kata Andin.
Mereka bertiga pun berjalan menuju poli kandungan. Di sana juga harus kembali mengantri karena pasien lebih spesifik lagi. Tentu saja didominasi oleh ibu-ibu hamil. Mulai yang masih rata perutnya sampai yang sudah sangat besar.
"Kita duduk di sini saja sembari menunggu nama Alyn dipanggil." Kata Andin.
Mereka pun duduk di kursi tunggu.
Sembari menunggu, untuk menghilangkan kebosanan, Andin dan Eva membaca koran yang entah milik siapa. Koran itu sudah ada di kursi tunggu sebelum mereka datang. Sementara Alyn, ia sibuk mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
"Mereka rata-rata berbadan dua. Apa... besok perutku juga akan sebesar itu?" Tanya batin Alyn.
Alyn memegangi perut ratanya.
"Mereka datang bersama suaminya ya? Sedangkan aku? ... Aku menggelengkan kepalaku cepat... Apaan sih? Wajar saja mereka diantar suaminya, mereka pastilah pasangan yang sudah menikah... Aku bukan seperti mereka. Aku bahkan belum menikah. Aku tak bisa menyamakan diri dengan mereka." Batin Alyn lagi.
Tiba-tiba...
"Nona Alyn Aira?" Seorang suster memanggil nama Alyn.
Alyn bangun dari duduknya. Ia pamit masuk ke ruang periksa pada kakaknya dan Eva.
"Silahkan ikut saya, Nona Alyn!" Kata suster.
Alyn mengangguk. Ia pun mengikuti suster itu masuk ke dalam ruang periksa.
Setelah berada di dalam ruang periksa, Alyn dipersilahkan duduk oleh suster itu. Di depannya nampak dokter yang menurutnya sangat cantik. Ia yakin, usia dokter itu tak jauh beda dengan sang kakak. Ah, harusnya ia tak lupa jika dokter kandungan di depannya ini adalah teman dari kakaknya sendiri, Andin.
"Dengan Nona Alyn, kan?" Suara lembut itu terdengar sangat ramah di telinga Alyn.
"Ya. Saya Alyn."
"Perkenalkan, saya dr. Zia. Saya teman kuliah kakak Anda. Aah, Anda lebih manis dari kakak Anda." Senyuman dr. Zia sangat hangat.
Rasanya Alyn merasa bebas bercerita banyak kepada dokter cantik ini.
"Ahh, kakak saya jauh lebih cantik."
"Cantik mungkin milik kakak Anda, tapi manis adalah milik Anda. Oh iya, kakak Anda bilang Anda ingin memeriksakan kandungan. Apa itu benar?"
"Iya. Itu benar, dr. Zia. Itu, kemarin saya melakukan test kehamilan dan hasilnya... po-positif. A-Apa saya hamil sungguhan?" Alyn mengatakannya sedikit malu.
"Jangan khawatir, Nona Alyn! Jika kau hamil sungguhan, saya siap membantu apapun yang Anda butuhkan. Pertama-tama, mari kita periksa tubuh Anda terlebih dahulu."
dr. Zia meminta Alyn tiduran di ranjang pasien yang biasa digunakan untuk melakukan prosedur pemeriksaan.
"Ini mungkin agak kurang nyaman, tapi saya butuh menyentuh perut Anda untuk melakukan pemeriksaan." Kata dr. Zia.
Alyn mengangguk dan berusaha serileks mungkin.
Selama melakukan pemeriksaan, dr. Zia bertanya soal kapan terakhir menstruasi, gejala-gejala apa saja yang dialami, bagaimana rasa makanan, apakah merasa sakit, pusing, nyeri, dan lain sebagainya.
Alyn juga menjalani USG.
"Sudah, mari kembali duduk!" Kata dr. Zia.
dr. Zia membaca hasil pemeriksaan yang dicatat oleh susternya. Ia menoleh sekilas ke arah Alyn.
"Apa tidur Anda kurang baik akhir-akhir ini?" Tanya dr. Zia.
Alyn mengangguk. Ternyata di hadapan dokter, ia tidak bisa berbohong. Mata pandanya adalah bukti yang tak bisa dipungkiri. Dua bulan putus dengan Tristan nb memang mengganggu waktu tidurnya.
"Anda harus cukup istirahat. Itu demi kebaikan janin Anda juga." Kata dr. Zia.
"Janin?"
"Ya. Selamat, Anda hamil sungguhan, Nona Alyn!"
Seharusnya tidak perlu syok, sebelumnya ia juga sudah tes mandiri dan hasilnya juga sama. Namun tetap saja. Ini tetap membuatnya syok.
Tidak tahu, ini membuat bahagia atau kecewa.
"Sesuai hasil pemeriksaan yang sudah dilalui, gejala-gejala kehamilan yang Anda alami, saya pastikan jika Anda sedang hamil. Dan sesuai dengan kapan terakhir Anda menstruasi, usia kandungan Anda sudah menginjak 8 minggu."
"8 minggu? Ahh..."
"Iya. Dalam beberapa bulan ke depan, perut Anda akan membesar. Ini resep yang harus ditebus di apotek dan juga jadwal check up Anda selanjutnya. Tolong rajin check up ya agar perkembangan janin bisa dipantau."
"Te-terima kasih banyak, dr. Zia."
"Sama-sama."
Usai melakukan pemeriksaan, Alyn keluar ruang periksa untuk menemui kakak dan sahabatnya.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Eva penasaran.
"Nanti saja aku ceritakan, intinya aku memang positif hamil. Sekarang sebaiknya cari tempat yang nyaman dulu untuk mengobrol." Kata Alyn.
"Yaelah, sok misterius amat sih, Dek!" Seru Andin. Namun ya sudah, nurut apa maunya Alyn saja.
***
Ketika mereka bertiga sedang melintasi lobi rumah sakit, tiba-tiba Alyn nampak membeku. Wajahnya sangat pucat seperti baru saja melihat hantu yang sangat mengerikan.
Andin dan Eva penasaran dengan perubahan Alyn. Mereka berdua menoleh ke arah dimana mata Alyn menatap diam. Beberapa meter di depan sana, berdirilah sosok laki-laki yang tampan dan familiar. Dia tidak lain, tidak bukan, dr. Tristan Putra, mantan tunangan Alyn.
"A-Alyn?" Gumam Tristan.