What Should I Do?

1243 Words
Rumah Andin... Alyn gemetar saat melihat hasil tes kehamilannya. Ia mengepalkan tangan untuk mencoba menghancurkan alat tes kehamilan itu. Alat tes kehamilan yang memperlihatkan dua garis merah yang nampak jelas sekali di ujung alat tes kehamilan. Alyn menangis, air mata mengalir deras dari mata indahnya. Ia tidak ingin percaya bahwa hasilnya dirinya saat ini sedang positif hamil. "Ini bohong, kan? Tidak mungkin..." Masih belum percaya sepenuhnya, tepatnya menolak percaya, Alyn pun mencoba tes ulang dengan menggunakan alat tes kehamilan yang lain untuk menguatkannya. Tetapi pada akhirnya hasilnya sama saja. Hasilnya tetap positif hamil. "MBAK ANDIN!" Teriak Alyn dengan kerasnya. Andin langsung mendekat menuju ke kamar mandi dimana Alyn berada saat ini. Ia langsung kaget saat melihat Alyn yang menangis sambil menunjukkan hasil tes kehamilan. "Mbak, ak-aku hamil." Kata Alyn masih menangis. Andin langsung memeluk Alyn dan menepuk punggung Alyn. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghibur Alyn dalam kondisi seperti ini. Meski ia sosok seorang kakak, tapi untuk masalah seperti ini, ia bukan ahlinya. Setidaknya ia akan memberikan sandaran pada Alyn agar Alyn bisa merasa lebih baik. Hamil? Posisi Alyn sudah putus. Ah rasanya semua ini akan menjadi lelucon abad 21! "Mb-mbak Andin, apa yang harus aku lakukan?" Alyn masih menangis sambil menyeka air matanya. Ia masih terlalu syok untuk memahami kejutan paginya yang di luar dugaan. Bahkan seumur-umur ia tidak pernah membayangkan akan hamil di luar nikah seperti ini. "Jangan menganggapnya terlalu serius mungkin hasilnya salah! Coba ulangi tes lagi, Alyn!" Kata Andin sambil membelai kepala Alyn. Seperti ia menganggap Alyn masih anak kecil. Ia memang sangat menyayangi Alyn. Andin lalu melepas pelukannya pada Alyn. "Aku sudah mencoba 2 alat tes kehamilan, Mbak. Jadi, kemungkinan untuk salah itu sangat kecil. Dan lagi, selain hasil tes alat kehamilan itu, tadi kan mbak Andin juga sudah mengatakan beberapa ciri orang hamil. Mual dan muntah. Aku memiliki gejala itu semua." "Tapi mungkin kamu makan sesuatu yang membuatmu mual? Daging? Ikan? Atau kau bau sesuatu yang menyengat seperti bangkai? Biasanya kan ada tikus mati juga meski di apartemen sekalipun." "Tidak Mbak Andin, aku benci mengatakannya karena kupikir itu akibat dari-aaaah-kehamilan ... Mbak Andin tahu semua stres yang aku dapat setelah putus dengan Tristan, dan itu ditambah dengan menstruasiku yang tak bertamu dalam bulan kemarin. Ini sangat jelas kan Mbak jika aku ini hamil? Ini bahkan masuk minggu yang harusnya aku menstruasi lagi di bulan berikutnya, tapi aku tak memiliki gejala akan menstruasi! Yang muncul malah gejala orang hamil!" Kata Alyn. "Jika kau telat menstruasi bulan lalu, kenapa kau tidak memikirkan kemungkinan ini, Alyn?" Tanya Andin. "Karena aku pikir itu normal, Mbak. Karena aku sedang stress dan banyak pikiran. Harusnya aku berpikir jika mual, muntah, telat menstruasi bukan hanya kebetulan, aku tidak tahu mengapa aku tidak memikirkan hal ini." Alyn menunduk menatap lantai putih di bawahnya. Andin memegang kedua pundak Alyn. Mencoba membuat adiknya ini menatapnya. "Jika hasilnya benar-benar positif hamil, jadi ayah dari janin yang kau kandung itu adalah Tristan, kan?" Tanya Andin hati-hati. Pasalnya, Alyn akan sangat marah jika mendengar nama Tristan disebut di hadapannya. Bagi Alyn, semua mimpi buruk yang ia alami selama dua bulan ini adalah gara-gara Tristan. Rasa sakit yang ada di dalam dadanya juga bersumber dari Tristan. "Ya. Aku tak pernah melakukan hubungan s*x dengan yang lain. Hanya dengannya aku melakukannya." Jawab Alyn. "Tristan harus tahu soal ini!" Tristan harus tahu soal kehamilannya? "TIDAK! Itu tidak boleh! Aku dan dia sudah putus! Tidak akan ada hubungan lagi antara aku dengannya. Mbak Andin sangat tahu alasan apa yang membuatku meninggalkannya. Jadi, apapun yang terjadi padaku saat ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia! Termasuk kehamilanku dengan dia sebagai ayah anak yang aku kandung! ... Aku tak peduli dimana dia saat ini atau sedang apa dirinya. Itu bukan urusanku lagi. I'm on my own dan kehamilanku adalah urusanku!" Kata Alyn tegas. Andin saat ini hanya bisa mencoba mengerti apa yang diinginkan Alyn. Ia tidak bisa memaksa kehendaknya. Menurutnya mungkin baik, tapi belum tentu jika diterapkan pada Alyn. Andin tahu jika saat ini Alyn sedang berusaha terlihat kuat di hadapannya. Saat ia memeluk Alyn tadi, ia paham betapa rapuhnya adiknya itu. "Sebagai kakak, kakak ini akan selalu ada untukmu. Jadi, bagaimana kalau kakak temani ke rumah sakit untuk memastikannya? Hanya dokter yang bisa menepis keraguan ini. Kakak tak akan ambil job model dalam 3 hari di akhir pekan, ayo kita lakukan banyak hal bersama!" "Benarkah? Mbak Andin sungguh akan mengambil cuti untuk menemaniku?" Alyn nampak ceria. Ia menyukai waktu bersama dengan sang kakak. "Iya. Makanya jangan menangis terus-terusan!" Andin membantu menghapus air mata Alyn. "Di salah satu rumah sakit tak jauh dari tempat ini, aku memiliki teman yang bekerja sebagai dokter kandungan. Dia sangat ahli dalam bidangnya. Aku akan membuat janji dengannya untuk memeriksa dirimu." Lanjutnya. "Baiklah, Mbak. Oh iya, boleh aku menginap di rumahmu? Biar tidak bolak-balik." "Tentu saja boleh. Tapi jangan lupa, beritahu Eva dulu! Kasihan nanti dia bingung mencarimu! Dia teman seapartemenmu, kan?" "Hehe. Itu pastilah, Mbak." "Ya sudah. Sebaiknya kita makan setelah ini. Meski mual sekalipun, kau butuh asupan makanan." Ajak Andin. "Siap!" *** Time Skip... Siang ini, Tristan dan Jane sedang makan siang bersama. Pekerjaan hari ini cukup padat, mereka membutuhkan asupan makanan untuk mengembalikan energi mereka. Jane memberi Tristan irisan daging dari piringnya. Ia berharap jika Tristan makan lebih banyak karena menurutnya Tristan itu terlalu kurus untuk seukuran laki-laki dewasa. Namun Tristan mengembalikan irisan daging itu ke piring milik Jane. Jane tersenyum. "Kau ini, selalu saja menolak pemberianku." "Aku sudah kenyang." Kata Tristan. "Hmm, baiklah. Aku kalah. Oh iya, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" "Hm?" "Aku penasaran mengenai sosok kekasihmu sebelum aku. Dia siapa? Orangnya bagaimana?" Tristan langsung meletakkan dengan kasar sendok dan garpu yang ia pakai untuk makan. Suaranya cukup memekik di telinga. Jane bahkan sampai kaget. "A-aku salah bertanya ya?" Tanya Jane hati-hati. "Kenapa kau bertanya soal ini?" Tanya Tristan. "Kita sudah sebulan pacaran, aku tidak banyak tahu soal dirimu. Jadi aku ingin lebih mengenal dirimu." Tristan merasa tak enak pada Jane atas apa yang baru ia lakukan. Jujur saja, membahas mantan kekasih untuk saat ini masih mempengaruhi emosinya. Dirinya sudah berusaha untuk tidak memikirkan Alyn, tapi Jane malah membuatnya kembali mengingat Alyn. "Satu hal yang perlu kau ketahui, aku tidak akan bertemu dengannya lagi." Kata Tristan dingin dan datar. Dulu, Tristan akan sangat bersemangat jika ditanya soal Alyn. Ia akan bersenang hati menceritakan bagaimana mengagumkannya Alyn itu. Tidak seperti saat ini, yang ada seperti membuka luka lama. Berbeda dengan Jane, ia merasa kurang puas dengan jawaban yang diutarakan oleh Tristan. Ia malah semakin penasaran dengan mantannya Tristan. "Ayolah Tristan, ceritakan lagi tentangnya. Bagaimana dia? Seperti apa dia..." Sepertinya Jane tidak terlalu peduli dengan sikap ofensif dari Tristan tadi. Ia hanya ingin tahu lebih jauh soal mantan kekasihnya Tristan. Ini penting demi kebaikan hubungannya dengan Tristan. Ia ingin Tristan terbuka kepada dirinya. "Kau kekasihku saat ini. Apa yang terjadi padaku dengannya di masa lalu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Jangan bertanya lagi soal ini karena aku tak menyukainya!" Kata-kata Tristan semakin dingin. Ia lalu bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan Jane di situ. Jane memandang jauh punggung yang meninggalkannya. Meski Tristan menolak keras soal pertanyaannya mengenai masa lalu Tristan, ia tetap akan berusaha mencarinya. "Apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya jatuh cinta padaku? Dia adalah laki-laki pujaanku yang kini menjalin hubungan denganku, aku tak akan membiarkannya dia pergi dari genggamanku! Dia harus membalas cintaku!" Gumam Jane. Ia sangat percaya diri dengan semangatnya. Yang terpenting di sini, dirinya ini sangat mencintai Tristan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD