Sementara itu di sisi yang lain...
Seorang dokter tampan berambut raven sedang beristirahat dari pekerjaan beratnya yang penting. Ia melepas jas dokternya dan meletakkannya di sandaran kursinya. Ia memijat pelipisnya mencoba untuk bersantai sambil minum secangkir kopi panas.
Pagi ini, ia baru saja menyelesaikan sebuah operasi besar pada pasiennya. Meski lelah, tapi sukses.
Ya, ia adalah dokter Tristan Putra, seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit kenamaan di kota A.
"Katakan padaku, Tristan! Bagaimana rasanya menjadi salah satu dokter terpenting di Rumah Sakit Centra Medica?" Seorang gadis cantik berambut curly datang mendekati Tristan.
"Biasa saja. Hanya melakukan pekerjaanku, itu saja, Miss Wang." Jawab Tristan malas.
Jane Wang nama gadis itu. Cantik dan memiliki body bak gitar Spanyol. Seorang suster di rumah sakit tempat Tristan bekerja. Keturan China dan memiliki marga Wang.
"Ayolah! Sudah kubilang ribuan kali padamu, kau bisa memanggilku Jane, kau dan aku sudah berkencan selama sebulan dan kau selalu saja bersikap sangat sopan padaku. Hei, aku ini kekasihmu! Bukan pasienmu!" Kata Jane.
"Maaf, jika ini membuatmu tak nyaman. Namun aku memang seperti ini. Tidak mudah terbiasa melakukan hal-hal di luar kebiasaanku." Kata Tristan merasa sedikit risih.
Di saat ia sedang sangat lelah karena menangani operasi, Jane malah ingin bermanja ria dengannya. Ia semakin kesal karena gagal membuat gadis itu menjauh darinya.
Kini, gadis itu sekarang benar-benar dekat dengannya, ia tiba-tiba menakupkan kedua tangannya di leher Tristan untuk menarik perhatian.
Jane bahkan berani duduk di pangkuan Tristan. Roknya yang super mini tersingkap ke atas dan belahan dadanya sedikit nampak karena baju susternya cukup ketat.
"Kau tahu, Tristan, kau sama sekali belum pernah menciumku, terhitung dari pertama kita jadian sampai hari ini." Bisik Jane sambil mencondongkan tubuh agar semakin dekat dengan Tristan, agar bisa mencium Tristan.
Namun, pada saat Jane akan mencapai tujuannya, Tristan menarik diri dengan cepat. Ia membuat Jane menjauh dari pangkuannya.
"Maaf Miss Wang, waktu kunjunganmu habis, aku harus kembali bekerja, sampai jumpa lagi." Kata Tristan. Ia bangkit dari duduknya dan memakai kembali jas dokternya.
Jane hanya membiarkan ketika Tristan berjalan melewatinya. "Kau akan mencintaiku Tristan, cepat atau lambat." Jane bergumam sambil tersenyum. Ia merapikan pakaiannya dan bersiap untuk bekerja juga.
***
"Apa yang sedang aku lakukan sih? Kenapa aku bisa berkencan dengan orang seperti dia?" Batin Tristan. Ia mengibas-ibaskan celana dan kemejanya.
Rasa risih itu masih ada.
Ketika ia kembali bekerja, Tristan mencoba untuk bersantai dari segala kepenatannya.
Jujur saja, ia merasa terlalu bodoh untuk menerima kencan dengan Jane Wang. Ia bahkan tidak yakin apakah ia menyukai Jane atau tidak. Apakah ia memiliki rasa cinta atau tidak.
Namun, apa yang bisa ia lakukan?
Jane itu masuk ke dalam kehidupannya setelah ia berpisah dengan Alyn.
Dalam sekejap, ia berkencan dengan Jane. Ini adalah kesalahannya dimana ia secara keliru mengira Jane bisa memberi cinta dan kesempatan lagi untuk membina suatu hubungan yang lebih baik.
Ya, Jane dahulu yang menyatakan cinta padanya.
Selama sebulan ini, ia tidak tahu kemana ia akan membawa arah hubungannya dengan Jane. Jane adalah kenalannya sejak pertama kali bekerja di rumah sakit Centra Medica. Jane adalah teman yang baik meski bertindak sangat sexy lebih dari gadis-gadis pada umumnya.
Tunggu, apa Jane masih termasuk gadis jika mengingat bagaimana polah tingkah Jane yang seperti itu?
Alyn yang polos saja sudah pernah ia gagahi.
"Sial, dia lagi, selalu muncul di ingatanku." Batin Tristan.
Tristan ingin terbiasa hidup tanpa Alyn, tapi sepertinya ia mulai ragu dengan keputusannya bersama wanita lain adalah pilihan terbaik. Memulai kisah batu tapi dirinya sendiri penuh dengan bayang-bayang Alyn.
Isi otaknya selalu penuh dengan kenangan antara dirinya dengan Alyn. Ketika ia berusaha menghapusnya, justru semakin nampak jelas kenangan itu.
"Alyn sedang apa ya? Apa dia sudah bekerja?"
Sejak hari dimana ia putus dengan Alyn, ia terus berusaha mencari Alyn, menelepon Alyn, mengirim pesan Alyn. Apa pun yang bisa membawanya dekat dengan Alyn, ia sudah coba. Namun sayang. Semua nihil tak ada hasilnya.
Pernah datang ke rumah Alyn, tapi di usir oleh ayahnya Alyn.
Sukamto, ayah Alyn, sudah dari awal tidak menyukainya. Ditambah sudah putus, maka ketidaksukaan Sukamto padanya meningkat. Kalau nekat bertemu, rasanya Sukamto ingin membunuhnya.
Tristan kehilangan kontak Alyn atau sepertinya Alyn yang ingin pergi dari dalam hidupnya. Alyn ganti nomor dan pindah kost atau kontrakan.
Sudah mencari Alyn semampunya, sudah lelah juga. Toh hasilnya nihil.
Ia sudah berusaha, itu sudah cukup. Toh ini juga keinginan Alyn. Sebagai seorang laki-laki, ia memiliki harga dirinya dan harga dirinya tidak akan membiarkannya berbuat lebih jauh dari itu. Ya, Tristan adalah laki-laki dengan pride yang tinggi.
"I'm so done with you, Alyn..."
Alyn seperti telah menghilang dari muka bumi ini. Teman-teman Alyn pun seolah tak mau memberitahu keberadaan Alyn. Alyn benar-benar lenyap dari hidupnya. Namun mengerikannya, ia masih ingat bagaimana cara Alyn tersenyum kepadanya.
"Bisakah aku terbiasa dengan kehidupan baru ini tanpa dirinya?" Gumam Tristan.
"Dokter Tristan, semua sudah siap! Ayo kita mulai operasinya!" Kata seorang perawat menghentikan lamunannya Tristan.
Tristan mengangguk. Ia lalu memakai sarung tangannya.
"Hanya dengan ini aku bisa membuatnya menyingkir dari ingatanku." Batin Tristan.
Ia pun menjalankan rutinitasnya seperti biasanya. Bekerja, bekerja, dan bekerja.
***
Time skip...
Malam hari sepulang dari rumah sakit, Tristan memutuskan untuk hangout menerima ajakan dari teman-temannya. Ia mengunjungi sebuah bar sekaligus cafe milik temannya, Mark.
"Sudah lama tak nampak, kemana saja bro? Bagaimana kabarnya Alyn?" Tanya Jackson.
Jasson si kembarannya Jackson langsung menginjak keras kaki Jackson. Membuat Jackson mengaduh kesakitan.
"Mereka sudah putus dua bulan yang lalu, dasar bodoh!" Kata Jasson.
Jackson langsung meringis. Ia lalu menatap Tristan dan meminta maaf. Tristan nampak tak mempermasalahkannya.
"Ini free untuk tamuku yang jarang nongol..." Mark memberikan segelas minuman untuk Tristan.
Mark adalah pemilik Cafe tempat Tristan biasa nongkrong. Ia juga merupakan kekasihnya Andin, kakaknya Alyn.
"Thanks." Kata Tristan.
"Sama-sama."
"Untuk kami mana?" Tanya si kembar bersamaan.
"Kalau kalian, bayar!"
"Yahh..."
Mereka lalu duduk santai dan mengobrol bersama.
"Ku dengar kau saat ini sedang berkencan dengan seorang wanita. Apa itu benar?" Tanya Mark.
"Ya begitulah. Seorang perawat di rumah sakit tempatku bekerja." Jawab Tristan.
"Wow. Tak aku sangka bisa secepat ini kau melupakan Alyn padahal jika ingat bagaimana dekatnya kalian itu rasanya seolah tidak mungkin terjadi." Kata Jackson.
"Kalian bukannya sudah pacaran sampai ke tahap yang lebih lanjut? Kalian sudah tunangan bahkan!" Sambung Jasson.
Tristan tak menyukai topik ini. "Tanya yang lain saja." Katanya.
"Sepertinya kekasihmu yang baru itu sangat cantik ya?" Tanya Jackson. Ia bertanya yang lain sesuai permintaan Tristan.
Tristan memutar matanya malas. "Sepertinya..." Apa tidak ada pertanyaan lain? Kenapa harus soal Jane?
"Apa dia hot?" Tanya Jasson.
Maksudnya hot di ranjang atau apa?
Mark langsung memukul kepala Jasson. Jasson mengaduh kesakitan. Temannya ini suka sekali berbicara vulgar. Tiba-tiba saja Mark melihat sesosok wanita cantik datang mendekat.
"Tristan, hai!" Sapa sosok wanita itu yang diketahui sebagai Jane.
Tristan langsung menoleh ketika mendengar suara yang tak asing di telinganya. "Miss Wang?"
"Cih, Miss Wang lagi, sudah aku bilang, panggil aku Jane! J-A-N-E, Jane! Aku ini kekasihmu!" Kata Jane.
Mark dan si kembar JJ hanya bisa mangap melihat situasi ini. Pasalnya, tanpa mereka duga, bahkan Tristan sekalipun, Jane langsung bergelayutan manja di pundak Tristan. Bahkan tanpa ragu mengecup pipi Tristan.
Tristan mengusap bekas kecupan dari Jane. "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya.
"Apa yang aku lakukan? Menemuimu lah. Aku tadi melihat mobilmu parkir di depan sana." Jawab Jane.
"Oh." Gumam Tristan tak terlalu peduli.
"Hmm, Miss Wang? Anda kekasihnya Tristan rupanya. Salam kenal, kami teman-temannya Tristan." Kata Jackson.
"Wah, aku sangat senang karena akhirnya bisa mengenal Tristan lebih dalam lagi. Panggil aku Jane saja! Salam kenal juga!"
Teman-teman Tristan saling mengenalkan diri.
"Wow, ini tak hanya cantik dan sexy. But damn, she is so hot! Tapi sepertinya Tristan tidak terlalu peduli dengan kekasih barunya. Jangan-jangan, masih belum bisa move on dari Alyn?" Batin si kembar.
Malam pun dihabiskan dengan minum bersama. Jane menjadi bintangnya malam ini, dan itu membuat hari membosankan Tristan semakin panjang.
Semakin panjang dan semakin panjang saja.