Di tempat kerja, Alyn sedang merawat seekor kucing bernama Nero. Sebagai dokter hewan, ia merasa cukup bangga dengan chemistry baik yang ia miliki dengan kucing dan hewan-hewan lainnya.
Di klinik tempat ia bekerja, Pet Caring Center, menangani hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. Meski ada hewan lain, tapi paling sering di datangi oleh pemilik kucing atau pun anjing.
Pet Caring Center adalah salah satu klinik hewan terbesar di kota A. Memiliki fasilitas baik dan para pekerja medis yang ahli di bidangnya.
"Nero sayang, waktunya membersihkan luka ya... Ini sedikit agak sakit, tolong ditahan sakitnya!" Kata Alyn ramah.
Ketika akan membersihkan luka nanah pada kaki kucing, Alyn mulai merasa mual. Rasa mual yang sangat sulit ia tahan.
"Dr. Alyn?" Seorang asisten perawat merasa khawatir pada Alyn, Kimi.
"..." Alyn menggerakkan tangannya seolah memberi isyarat jika dirinya sedang tidak baik-baik saja.
"Anda ke kamar mandi saja, Dokter! Biar saya yang melanjutkan mengurusnya." Kata Kimi.
Alyn menepuk pundak Kimi. Ia sebisa mungkin menutup mulutnya untuk menahan diri agar tidak muntah. Ia lalu berlari ke kamar mandi dan merasakan perutnya bergejolak hebat seperti sebentar lagi akan muntah, untungnya tidak ada yang keluar.
Meski tidak jadi muntah, Alyn tetap berkumur dan membasuh mukanya. Wajahnya sangat pucat.
"Jika tadi ada pemilik kucingnya, maka ini perbuatan yang tidak sopan. Sebagai dokter, aku harus bisa menahan jijik. Aku juga harus bisa menelan makananku setelah menangani hal menjijikkan seperti itu... Kucing Nero, maafkan aku." Gumam Alyn.
Alyn menghela napas lega dan berjalan keluar perlahan menemukan bosnya, dokter Joe dan rekan kerja Kimi di luar menunggu dirinya.
"Dokter Alyn, apakah Anda baik-baik saja?" Tanya Kimi, seorang asisten klinik. Suster kalau di sebuah rumah sakit umum.
"Ya saya baik-baik saja, terima kasih Kimi karena sudah menghawatirkan saya." Kata Alyn sambil tersenyum.
Kimi tak yakin dengan jawaban Alyn. "Menurut pandangan saya, Anda ini sedang tidak baik-baik saja, Anda sangat pucat." Kata Kimi.
Dokter Joe ikut bicara. "Kimi benar, kau itu memiliki ciri-ciri orang yang sedang kurang sehat." Kata dokter Joe.
Sebagai pemilik klinik tentulah Joe sangat menghawatirkan pekerjanya. Apalagi ini adalah Alyn, salah satu dokter muda yang ia andalkan.
"Tapi dokter Joe, sungguh saya baik-.." Alyn akan berdebat dengan dokter Joe tapi, dokter Joe memotong pembicaraan.
"Pulanglah, kau hari ini telah bekerja sangat keras, kau perlu istirahat!"
"Dokter Alyn, sebaiknya Anda mendengar saran dari dokter Joe." Ucap Kimi si rambut blonde tanpa meninggalkan pilihan lain untuk Alyn.
Kimi setuju dengan saran dari dokter Joe.
Alyn menoleh ke sana-sini. Banyak hewan yang harus ia tangani. Ia merasa tidak enak.
"Saya akan pulang setidaknya setelah menyelesaikan tiga per empat pekerjaan saya." Kata Alyn yang masih ngeyel tak mau pulang untuk istirahat.
Dokter Joe menghela nafas. Tipe pekerja kerasa seperti Alyn itu memang sulit untuk disuruh istirahat.
Dokter Joe dulu adalah dosennya Alyn sewaktu kuliah. Dia juga yang menjadi pembimbing Alyn ketika skripsi dulu. Ia sudah menganggap Alyn seperti anaknya sendiri.
Alyn yang keras kepala memang harus dipaksa. "Jika kau tak mau pulang dan istirahat, besok kau dilarang bekerja lagi di klinik ini! Aku tak mau hewan-hewan yang berobat di klinik ini tertular penyakitmu!" Kata dokter Joe tegas.
"Dokter..." Rengek Alyn. Alasan yang dibuat dokter Joe untuk membuatnya pulang tidak sedikit tak masuk akal.
Sulit diterima jika hewan-hewan akan tertular mual darinya.
"Dokter Alyn, jangan khawatir! Serahkan pekerjaan Anda pada kami semua! Kami akan bekerja lebih keras lagi!" Kata Kimi.
Alyn pasrah saja. Ia mulai pusing ketika harus berlama-lama berdebat dengan rekan kerjanya ini.
"Hmm baiklah, hanya karena pak Bos meminta saya untuk minggat, maka saya nurut saja. Oke, pak Bos, Anda menang.." Kata Alyn pasrah.
Alyn cemberut, lalu ia mengambil barang-barangnya dan pergi ke arah pintu klinik.
"Bye-bye, pak Bos!" Kata Alyn. Ia melambaikan tangannya.
"Anak itu benar-benar..." Gumam dokter Joe.
"Sampai jumpa lagi, dr. Alyn!" Kata Kimi penuh semangat.
"Oke, sampai jumpa juga besok Kimi, pak Bos, saya akan merasa lebih baik, saya janji akan membayar libur saya hari ini dengan bekerja lebih keras lagi!" Kata Alyn sambil mendesah panjang.
"Hati hati!" Dokter Joe dan Kimi menjawab serempak sambil melambaikan tangan pada Alyn.
***
Di depan klinik...
"Sial... ada apa denganku?" Gumam Alyn.
Tiba-tiba Eva keluar klinik dan menghampiri Alyn. Eva lalu menyentuh jidat Alyn.
"Panas! Biarkan aku mengantarkanmu pulang ya?" Kata Eva.
"Eva... aku baik-baik saja. Hanya suhu tubuhku saja yang naik. Badanku masih sehat dan ya memang sedikit mual juga." Kata Alyn.
"Tapi kalau nanti di jalan terjadi apa-apa denganmu bagaimana?"
"Aku akan baik-baik saja, Eva... Klinik sedang ramai, semua sedang sibuk, tolong utamakan tanggung jawabmu dulu. Kalau kau dan aku libur semua, kasihan dokter Joe."
"Iya sih... Tapi apa kau yakin akan baik-baik saja? Apartemen kita agak jauh loh."
"Iya, sepertinya aku merindukan kakakku, mumpung tak terlalu jauh dari klinik, maka aku akan ke sana saja."
"Hmm, baiklah. Hubungi aku jika terjadi apa-apa. Oke?"
"Oke!"
***
Alyn memutuskan untuk mengunjungi rumah sang kakak karena merasa masih terlalu pagi untuk kembali ke apartemen. Lagipula ia memang sudah sangat merindukan sang kakak karena lama tak jumpa.
Tak lama setelah itu, singkat cerita, akhirnya Alyn sampai di rumah sang kakak. Alyn memejamkan kedua matanya dan mengetuk pintu, tidak lama kemudian pintu itu terbuka.
"Adikku sayang! Ingat pulang juga kau. Bagaimana kabarmu, heh?" Tanya kakaknya Alyn.
Namanya adalah Andin Eliza Sukamto. Tiga tahun di atas Alyn. Ia adalah seorang model. Ya, sangat beda jauh dari Alyn yang seorang dokter hewan.
"Mbak Andin, hai!" Kata Alyn menyapa balik sang kakak perempuannya.
"Masuk, masuk, aku lagi mau makan ini. Kau sekalian saja ya? Kau suka rendang super pedas, kan? Ibu tadi mampir dan membawanya untukku." Tanya Andin sambil memberi isyarat agar Alyn masuk ke rumah. "Ibu bilang suruh berbagi denganmu. Aku baru mau menelpon dirimu, kau malah sudah ke sini sendiri. Kebetulan dah, jadi lebih gampang." Lanjut Andin.
Rendang daging itu menggoda. Apalagi buatan sang ibu. Alyn rela khilaf diet untuk itu. Ia juga akan amnesia jika sudah menghabiskan tiga piring.
Namun sayang, pagi ini ia sedang tidak berselera makan. Perutnya masih tidak nyaman. Mualnya saja belum hilang. Lidahnya seolah selaku berair.
"Tidak mbak Andin, terima kasih, aku tidak ingin makan. Nanti sampaikan saja terima kasihku pada ibu." Tolak Alyn.
"Loh? Tumben? Masih diet?" Tanya Andin.
Alyn menggeleng. "Aku akhir-akhir ini merasa kurang sehat, Mbak." Jawab Alyn mengingat saat-saat dimana ia tak tahan dengan bau menyengat dan hal-hal yang menjijikkan di tempat kerja.
Andin memincingkan matanya menatap sang adik.
Merasa risih dengan tatapan sang kakak, Alyn memberanikan diri untuk bertanya. "Ada apa, Mbak? Ada yang aneh denganku ya?"
"Biar kutebak, apa gejalanya seperti ... mual?" Tebak Andin.
Alyn cukup terharu. Meski kakaknya ini suka menjailinya, tapi super perhatian.
"Iya sejak kemarin aku sudah muntah-muntah sedikit, mualnya terus-terusan. Tapi aku belum memberitahu siapapun apa sakitku karena kupikir aku harus ke dokter dulu sebelum bercerita aku sakit apa." Jawab Alyn karena ia tidak bisa berbohong kepada Andin.
Lagian, jujur itu lebih baik.
"Jadi tak hanya mual saja, bahkan sampai muntah..." Si model ayu pemilik rambut dicat pirang itu diam sejenak sambil berpikir, lalu Andin mengirimi Alyn tatapan curiga. "Oh... begitu ya?"
Sebenarnya Andin hanya asal melemparkan pertanyaan. Ia juga hanya main-main. Tapi rupanya ada sesuatu hal yang cukup serius.
"A-Apa?" Alyn bertanya karena merasa tidak nyaman dengan tatapan penuh curiga Andin.
Tidak mungkin kan di saat sedang tidak sehat seperti ini, kakaknya menjailinya?
"Adikku sayang..." Panggil Andin.
"Hm?"
"Katakan yang jujur pada kakak! Mungkinkah ... kau telah ... bercanda?" Tanya Andin. "Ah, sebaiknya kau tak usah bercanda karena ini sama sekali tidak lucu." Tambahnya.
Hah? Pertanyaan macam apa itu? Alyn tahu jika kakaknya itu memiliki golongan darah AB yang kadang bisa bertindak tak biasa.
Telah bercanda apaan coba? Lalu, tidak lucu? Apanya coba? Kakaknya ini paling suka main apresiasi makna.
"Apa? Apa maksudmu itu sih? Mbak Andin jangan bercanda deh!" Kesal Alyn.
"Hoho, kalau kau kesal, kakak semakin bahagia. Mau aku beritahu?" Goda Andin.
"Ayo, jangan bermain-main denganku, keluarkan semuanya saja! Sebel deh, Mbak Andin mah sukanya gitu." Alyn semakin kesal.
Apa saat ini waktu yang tepat untuk bercanda? Masalahnya, ia sudah cukup serius memberitahu kondisinya saat ini kepada sang kakak, sementara kakaknya malah menggodanya dengan candaan absurd yang tak ia pahami.
"Baiklah, baiklah jangan marah! Nanti tuaan dirimu dari pada kakak, kan kakak repot jadinya. Masak kakaknya model super cantik ini, adiknya malah lebih tua."
"Mbak Andin berhenti menggodaku! Aku jadi mual ini. Mbak Andin pakai parfum apa mandi parfum sih? Baunya kayak kuburan!" Alyn sungguh merasa mual lagi.
"Nah lho mual lagi... ibu hamil punya gejala seperti itu." Kata Andin tiba-tiba.
Tunggu sebentar... Apa yang baru saja kakaknya katakan?
Hamil?
Lagi...
Apa yang baru saja Andin katakan?
Hamil?
"A-Apa? TIDAK MUNGKINLAH!" Alyn berteriak sambil menggebrak meja. Ia tertawa aneh setelahnya. Ia sungguh tahu apa yang terjadi tapi ia ingin menyangkalnya. "Ha-ha... Ha-ha..."
"Itu mungkin saja, adikku yang bodoh!" Kata Andin mencoba menahan tawa melihat wajah kaget Alyn.
"Itu tidak mungkin, Tristan and aku, kami selalu berhati-hati dan ... oh tidak, sial!!" Alyn menutup mulutnya, menyadari apa yang baru saja ia katakan.
Kenapa harus keceplosan seperti ini sih? Ini buka aib namanya!
"HAHAHA, wow, wow, wow, sungguh pengakuan yang nakal!" Kata Andin. "Adikku berani menjalin hubungan sampai sejauh itu padahal belum menikah!" Lanjutnya.
Alyn memalingkan wajahnya. Ia merah padam. "Berisik deh, Mbak!" Alyn mati kutu.
"Apakah kau ingin melakukan tes kehamilan? Aku punya beberapa di kamar mandi." Tanya Andin.
Perkataan Andin mengejutkan Alyn. Kenapa sang kakak bisa memiliki alat tes kehamilan? Dan lagi.. beberapa? Memang seberapa banyak alat tes kehamilan yang sang kakak miliki ini?
"Ehh? A-Apa yang Mbak Andin lakukan dengan alat tes kehamilan itu?" Alyn bertanya mencoba memproses semua informasi yang otaknya mampu serap.
Alat tes kehamilan? Ayolah.
"Untuk berjaga-jaga, memangnya apa lagi?" Jawab Andin sambil menjulurkan lidah.
Seketika itu Alyn tahu jika sang kakak sama nakalnya dengan dirinya.
***
Beberapa saat kemudian...
"Oh s**t, ini bohong, kan? A-Aku hamil?"