“Baiklah, aku sudah mengambil keputusan. Aku akan melamar Stella, aku akan menjadikannya istriku untuk menebus kesalahanku,” ucap Raja
'Tapi, Tuan. Gadis itu adalah aku, bukan Stella. Tidak ada hal yang perlu Tuan pertanggung jawabkan kepada dia. Lalu, apakah tidak terlalu cepat dan berlebihan? Kenapa harus menikahinya? Kitty sangat kecewa dan sedih.
Tuan jika Anda ingin bertanggung jawab ... harusnya aku ... harusnya ... ah, kenapa aku hanya seekor kucing? Kitty kembali merutuki nasibnya.
Tapi ... bukannya niat awalku memang ingin menjodohkan Tuan dengan Stella? Harusnya aku juga ikut bahagia bukan? Ini Stella bukan orang lain, aku juga melihat gadis itu sepertinya cukup baik. Harusnya aku senang dan mendukung Tuan. Bukan asyik mau mengaku bahwa gadis itu adalah aku. Ah, ada apa dengan otakku? Kenapa jadi eror seperti ini? Batin kucing itu berperang, antara setuju dan tidak dengan langkah yang akan Raja ambil.
Ya, aku harus mendukung apa pun yang akan Tuan lakukan. Tapi ... kenapa rasanya sakit sekali? Kenapa aku jadi ingin menangis?
Kitty tak tahan lagi, ia tidak bisa untuk menahan air matanya. Kucing itu secepat kilat melompat dari pangkuan Raja dan berlari dari kamar itu.
"Kitty!" Kitty mendengar jelas suara Raja yang memanggilnya. Akan tetapi, ia tidak mau berhenti karena saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja. Kucing itu mengabaikan panggilan tuannya.
Kitty lari sekencang mungkin menyusuri rumah besar yang masih asing baginya. Ia tidak peduli lagi apakah dia akan tersesat atau menghilang. Yang Kitty tahu, saat ini ia ingin sendirian.
Sesampainya di lantai bawah, ia melihat sebuah jendela di dekat dapur setengah terbuka. Kucing itu segera melompat dan keluar melalui jendela itu.
Hap.
Ia mendarat dengan sempurna di rerumputan hijau yang tampak terawat. Kucing itu lantas mencari tanaman yang rimbun, yang memungkinkan untuk dirinya bersembunyi dan Kitty melihatnya di sudut taman. Rerumpunan tanaman bunga Dahlia yang cukup rimbun dan berdaun lebat. Kitty lantas segera menuju tanaman itu, lalu bersembunyi di sana. Di tempat itulah kucing itu menangis, menangis untuk sesuatu hal yang menurutnya sendiri sangat tidak wajar. Dirinya yang seekor kucing menginginkan hal yang sangat mustahil layaknya pungguk yang merindukan bulan.
Hiks, hiks! Hiks hiks.
***
Tok tok tok.
Raja mengetuk pintu kamar pria yang sedang membaca pasar saham di gadgetnya. Pria yang semula menundukkan kepala, fokus melihat ke arah layar berukuran sepuluh inci itu kini mendongakkan kepala dan melihat ke arah pintu, melihat siapa yang datang. Ia tampak terkejut lalu meletakkan gadgetnya di atas ranjang, menyudahi kegiatannya.
"Silakan masuk, Tuan. Kenapa harus mengetuk pintu?" tanya Leon seraya melompat dari atas ranjangnya yang nyaman, menghampiri sang tuan.
"Tentu saja, ini kan kamarmu. Ranah pribadi Kamu. Aku harus menghormati privasimu, Leon," ucap Raja seraya menapaki lantai granit lalu duduk di atas sofa yang ada di kamar itu.
"Tidak masalah, Tuan. Lagipula seluruh kamar di rumah ini adalah milik Tuan. Jadi Tuan bisa keluar masuk kamar ini dan ruangan mana pun, kapan pun Tuan mau," ucap Leon.
"Leon, tutup pintunya!" perintah Raja mengabaikan ucapan Leon.
Leon dengan cepat menutup pintu kamar yang ia tinggali. Pria itu cepat tanggap, ia yakin ada hal penting yang akan tuannya bicarakan.
"Iya, Tuan. Adakah masalah penting?" tanya Leon seraya duduk di hadapan pria itu.
"Eum, begini ...." Raja tampak ragu untuk mengatakan, mungkin malu tepatnya.
"Kenapa, Tuan?" tanya Leon saat Raja tak kunjung bicara dan tampak gelisah.
"Begini ... apakah Kamu tahu bagaimana cara melamar seorang wanita?" tanya Raja pada akhirnya.
"Hah? Apa, Tuan? Apakah saya tidak salah dengar?" tanya Leon seraya mengerjapkan mata karena sulit untuk percaya.
"Ck! Jangan mengejekku! Aku sungguh-sungguh, aku serius tidak sedang bercanda," ucap Raja seraya membuang muka, pria itu sepertinya malu.
"Siapakah wanita yang beruntung itu, Tuan? Apakah ...."
"Sstt!" Raja meletakkan jari di depan bibirnya agar Leon diam. Ia tak mau Stella mendengar rencananya.
"Iya, iya. Baiklah, jadi Tuan sungguh ingin melamar Nona ...."
"Iya," jawab pria itu singkat dan padat.
"Kenapa terkesan terburu-buru? Apa yang terjadi hingga Tuan tampak tidak sabar untuk melamarnya?" tanya Leon. "Saya kira Tuan memerlukan pendekatan terlebih dahulu ...."
"Diamlah, Leon. Jangan banyak bertanya dan jawab saja pertanyaanku. Apa yang harus aku lakukan untuk melamar gadis itu?" tanya Raja.
"Tapi, Tuan ... bukankah normalnya Tuan harus berkencan dulu, saling mengenal baru memutuskan menikah. Kenapa ini ... langsung melamar dan ingin menikah? Apa Tuan yakin?" tanya Leon karena belum bisa percaya.
"Leon, aku bilang jawab saja pertanyaanku. Jangan malah mengajukan pertanyaan kepadaku," ucap Raja dengan nada meninggi, pria itu kesal.
"Hehe baiklah, saya hanya sedikit terkejut dengan keputusan Anda yang tiba-tiba ini, Tuan. Tapi saya ikut bahagia jika akhirnya Tuan menemukan kebahagiaan ," ucap Leon tulus. "Jika Anda ingin melamar seorang wanita, sepertinya akan lebih baik jika Tuan menyiapkan momen yang romantis misalnya. Yah, saya hanya melihat sekali dua kali di acara televisi juga sih. Saya juga kurang berpengalaman seperti Anda ...."
"Kalau begitu, siapkan acara makan malam romantis untuk kami berdua. Pastikan semua akan berjalan dengan semestinya. Aku tidak mau ada kegagalan," perintah Raja.
"Baiklah, Tuan. Saya akan melakukan tugas ini dengan baik," ucap Leon menyanggupi.
***
Pantai yang gelap dan sepi. Namun, memiliki nuansa yang begitu romantis. Satu meja dengan dua kursi di tengah-tengah hamparan pasir yang luas. Setangkai mawar merah di dalam vas menghiasi meja, juga sebuah lilin berwarna serupa memberikan pencahayaan bagi dua insan yang kini sedang duduk berhadapan. Angin bertiup semilir, cukup dingin. Suara ombak yang berkejaran memecah keheningan kedua anak manusia yang bahkan sama sekali belum memulai pembicaraan.
"Nona ...," sapa pria itu setelah sekian lama berdiam diri. Ia terlihat sangat gugup dan kaku, mengingat ini adalah pertama kalinya ia makan malam bersama seorang wanita.
"Iya, Tuan," jawab gadis cantik itu tersipu malu.
Diam-diam wanita itu merasa lega, berkat gelapnya pantai, juga berkat cahaya lilin wajahnya yang merah padam tak terlalu kentara. Ia tidak perlu malu dan takut ketahuan jika ia sedang gugup dan berdebar.
Raja mengeluarkan sebuket bunga mawar dari balik punggungnya lalu menyerahkan pada wanita itu. Stella menerimanya dengan wajah berseri, kelihatannya wanita itu menyukainya. Stella bahkan tidak ragu untuk mencium bunga yang harum semerbak itu.
"Maaf, telah menyita waktumu malam ini," ucap pria itu dengan kikuk.
"Tidak apa-apa, Tuan. Lagipula, saya tidak ada kegiatan yang harus saya lakukan ...." Wanita itu menjawab dengan gugup.
"Nona, Anda tahu sendiri pria macam apa saya ... jadi saya ingin langsung pada pokok pembicaraan saja." Pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Lalu, pria itu membuka benda itu, mempersembahkan pada Stella. "Nona, maukah Kau menjadi istriku?"
Stella menatap cincin cantik itu tanpa berkedip. Rasanya, ini seperti mimpi baginya. Pria yang diam-diam telah merenggut hatinya sejak pertemuan pertama mereka kini tengah melamarnya. Lamaran yang tiba-tiba, bahkan di saat tidak ada pendekatan sama sekali. Stella benar-benar tidak menyangka, pria yang selalu mengabaikan dirinya dan selalu bersikap dingin itu kini tengah melamarnya.
"Ah, maafkan saya ... jika saya terlalu mengejutkan Anda. Juga karena saya tidak bisa bersikap romantis layaknya pria yang lainnya. Tapi saya sangat serius dan sepenuh hati ingin menjadikan Anda pendamping hidup saya. Apakah Anda menerima lamaran saya?" tanya Raja.
Mata Stella memanas, tak lama bulir bening itu mengalir dari kedua matanya. Membasahi pipi gadis cantik dan anggun itu. Gadis itu mengangguk cepat, menerima lamaran Raja. Bibirnya tersenyum meski matanya terus saja berembun.
"Anda sungguh mau menerima saya?" tanya Raja. Stella mengangguk lagi dan tersipu.
"Meski saya bukanlah pria yang sempurna. Meski ...."
Stella meraih jemari Raja lalu menggenggamnya erat-erat. "Jangan katakan apa pun lagi, Tuan. Saya bersedia, Tuan. Saya akan menerima Anda sepenuh hati saya. Saya tidak akan pernah mempermasalahkan apa pun. Saya terima Anda beserta kelebihan dan kekurangan Anda."
Raja menarik tangannya kembali dan Stella tampak kecewa. Namun, kekecewaan gadis itu tak berlangsung lama setelah jemari pria itu mengambil cincin cantik bermata berlian itu dan menyelipkan di jarinya.
"Saya harap, untuk selanjutnya Anda bisa lebih sabar menghadapi saya," ucap Raja.
Stella mengangguk cepat, dengan hati yang berbunga-bunga. Ia terus saja memandangi cincin yang kini melingkar di jarinya dengan perasaan yang sangat bahagia. "Tentu, Tuan. Tentu. Saya akan melakukan apa pun demi Anda. Karena sebenarnya ... saya juga menyukai Anda."
Wajah Raja memerah mendengar pengakuan Stella. Ia tidak menyangka jika wanita itu ternyata menyukainya. Keduanya saling tersipu dan malu-malu.
Prok prok.
"Pelayan."
Raja menepukkan kedua tangannya sebanyak dua kali. Tak lama, dua orang pelayan datang membawa makanan yang Raja pesan.
"Silakan, Nona."
Stella mengangguk. "Terima kasih, Tuan."
Setelah makanan terhidang, mereka segera menyantapnya dalam keheningan. Yah, pria itu kembali fokus pada makanannya untuk menghilangkan kegugupan. Sementara wanita itu tak hentinya tersenyum seraya menikmati makan malam yang terasa sangat lezat di lidahnya. Mereka menghabiskan makanan dengan pikiran masing-masing.