BAB 111

1140 Words
Kitty berjalan menyusuri rumah besar itu setelah memuaskan hatinya dengan menangis. Kucing itu terlarut dalam kesedihan, hingga ia menangis dari siang sampai malam tiba. Ia bahkan sampai tertidur di semak-semak karena kelelahan dan saat ia terbangun, ia baru sadar kalau matahari telah kembali ke peraduannya, digantikan oleh sang malam. 'Beginilah akibatnya kalau aku terlalu mengikuti perasaan. Harusnya aku sadar aku ini siapa. Sekarang, perasaanku sungguh kacau dan jadi tidak enak, kan? gumam Kitty dengan terus berjalan. Ruangan yang cukup luas itu terlihat lengang dan sunyi. Tak seorang pun ada di sana. Bahkan penjaga rumah yang biasanya terlihat juga tidak ada. 'Eh, iya ya? Aku merasakan sesuatu yang aneh. Tapi apa? Ohh ya ... rumah ini tampak sepi dan lengang. Ke mana mereka semua?' tanya Kitty. Ia segera berjalan naik ke lantai atas, ke kamar tuannya berada. Ia menyangka jika Raja ada di kamarnya. Namun, saat ia tiba di sana, kucing itu tak menemukan Raja di kamar pria itu. 'Tuan, ke mana? Apa mungkin dia ada di kamar Leon?" Kitty keluar dari kamar Raja lalu pergi mencari tuannya ke kamar Leon. "Pastikan semuanya berjalan dengan baik. Aku tidak mau ada kesalahan sedikit pun," ucap Leon pada seseorang di telepon. Setelah itu Leon terdiam sebentar mendengarkan suara lawan bicaranya. Kitty yang baru saja melangkah masuk ke kamar Leon mendengar suara pria itu berbicara dengan seseorang. Kitty jadi penasaran, ia terdiam di dekat Leon mencuri dengar apa yang pria itu bicarakan. 'Dengan siapa sih dia berbicara. Mencurigakan sekali. "Kalian harus tetap terus berjaga, stand by di sana sampai selesai, jaga jarak dalam radius dua puluh meter. Keselamatan tuan adalah hal yang utama. Tetap waspada, jangan sampai musuh menyerang saat kita lengah seperti ini. Kalian juga berhati-hatilah, jangan sampai tuan tahu kalau aku mengawasinya atau tuan akan marah," perintah Leon. 'Keselamatan Tuan? Memangnya Tuan ada di mana? Kitty menyadari jika pria yang ia cari tidak ada di kamar Leon. Kitty jadi semakin penasaran dan ingin tahu. Leon terdiam dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Mungkin ia sedang mendengarkan lawan bicaranya lagi. "Bagus. Pastikan semua berjalan dengan baik, pastikan juga tuan pulang dengan selamat." Leon menutup panggilan telepon begitu selesai bicara. 'Leon bodoh! Katakan di mana tuan!' Kitty kesal karena tidak mendapatkan informasi apa pun tentang keberadaan tuannya. "Semoga saja, acara lamaran tuan kepada Nona Stella malam ini berjalan lancar. Aku ingin Kamu bahagia, Tuan. Aku ingin Kamu lepas dari semua traumamu, aku juga ingin Kamu memiliki pendamping hidup yang selalu menemanimu dalam suka duka agar Kamu tidak kesepian lagi," gumam Leon perlahan tetapi masih bisa didengar oleh Kitty. "Jadi, tuan benar-benar melamar Nona Stella? Secepat ini? Begitu besarkah keinginan tuan untuk bersama nona Stella?" Kucing itu kembali bersedih. Ia cemburu pada gadis itu. Kitty memutar badannya, akan pergi dari kamar Leon. Namun, rupanya Leon melihat kehadirannya, pria itu segera memanggil namanya. "Kitty!" Leon mendekat, lalu mengangkat Kitty dan membawanya ke dalam pelukannya. "Kamu kenapa kemari? Kamu mencari tuan ya? Apa Kamu lapar dan mau makan?" Leon memberondong kucing itu dengan banyak pertanyaan. Dalam hati, Kitty mengiyakan. Ia memang datang untuk mencari Raja. Ia memang lapar karena seharian belum makan. Tetapi, selera makannya menghilang seketika saat ia tahu Raja pergi bersama Stella. "Kitty, Kamu kenapa tampak sedih? Kamu benar-benar mencari tuan ya? Sayang sekali, tuan tidak ada di rumah sekarang. Oh ya, Kitty, apa Kamu tahu? Ini adalah hari bahagia. Hari ini tuan akan menemukan pendamping hidupnya. Tuan malam ini melamar Nona Stella. Kamu doakan agar Tuan berhasil, oke?" 'Maafkan aku, Leon. Aku juga ingin melakukan hal yang sama. Mendoakan kebahagiaan tuan. Tapi, aku sungguh tidak bisa berdoa agar tuan bersama nona Stella. Hatiku tidak dapat menerimanya, Leon. Aku— tidak ikhlas, Leon. "Kenapa ekspresi-mu seperti itu? Kamu tidak suka Kitty?" tanya Leon tepat sasaran. "Oh, Kamu tidak paham dengan yang aku katakan, ya? Eum, pokoknya, aku berterima kasih kepadamu. Aku merasa, kehidupan tuan belakangan ini semakin membaik berkat kehadiranmu. Semenjak Kamu datang ke kehidupan Tuan, aku merasa jika keberuntungan tak hentinya hadir. Tuan sudah sembuh dari traumanya, dan kini tuan menemukan pendamping hidupnya. Aku yakin, ini adalah keajaiban dan keberuntungan yang Kamu bawa dalam kehidupan tuan, Kitty." Ucapan Leon yang berisi pujian itu justru semakin membuat hati Kitty sakit. Apa yang Leon katakan benar adanya. Raja sembuh dari traumanya karena dirinya dan kini ... Raja bersama Stella karena dirinya juga. Karena Raja salah paham dan mengira Stella adalah dirinya sebagai manusia. 'Cukup, Leon. Aku tidak mau mendengarnya lagi.' Kitty meronta lalu melepaskan diri dari pelukan Leon. Lalu kucing itu berlari, meninggalkan Leon yang kebingungan. "Apa aku terlalu berlebihan karena menganggap dia paham ucapanku, ya? Bagaimanapun dia hanya seekor kucing. Dia tidak akan paham meski aku mengajaknya bicara. Ah, bodoh sekali aku mengatakan hal tadi," ucap Leon merutuki diri. Leon membiarkan kucing itu pergi, tidak mengejar atau mencarinya. *** Kucing itu tergolek di tangga depan rumah, ia menatap ke atas langit yang gelap dengan perasaan yang sangat sedih. Entah mengapa, rasanya ia ingin terus menangis. 'Ah, seperti manusia saja. 'Bulan purnama, bisakah Kamu hadir lagi malam ini? Agar aku bisa menjadi manusia dan mengatakan semuanya pada tuan Raja. Aku akan mengatakan padanya kalau wanita itu adalah aku, bukan Stella. Aku akan mengatakan padanya kalau dia telah salah paham." Kitty mengusap air matanya dengan kaki depannya. "Kitty!" Sebuah panggilan membuyarkan lamunan kucing itu. Kucing itu menghentikan tangisnya lalu bangkit dan duduk. Kitty mengangkat wajahnya, ternyata Raja datang bersama Stella. Wanita itu menggandeng lengan tuannya tanpa ragu dan Raja juga membiarkannya. Sepertinya pria itu benar-benar sembuh dari traumanya. Kedekatan Raja dan Stella sukses membuat hati Kitty memanas. Ia kesal karena merasa tergantikan. Rasa cemburu yang kembali menyelimuti hati Kitty, membuat kucing itu benci pada dirinya sendiri. 'Kenapa aku begini?' Rasanya Kitty ingin pergi saja. Ia akan menjauh dari kehidupan Raja agar ia tidak lagi berpikiran dan berkeinginan yang tidak-tidak. Ia merasa benar-benar tidak sadar diri. "Kitty, apa yang Kamu lakukan di tempat ini?" Pria itu mengangkat tubuh Kitty. "Astaga! Betapa kotornya Kamu. Kamu habis main dari mana saja? Sedari tadi siang menghilang lalu pulang dengan tubuh kotor seperti ini. Ayo aku akan memandikanmu!" "Tu—" "Nona, maafkan saya. Saya harus pergi memandikan Kitty, mungkin kita bisa nonton film lain kali saja," ucap Raja memotong ucapan Stella. Stella tampak kesal, ia juga kecewa karena Raja mengabaikannya demi kucing itu. Meski tak suka, tetapi dengan cepat wanita itu mengubah ekspresinya. Ia tersenyum kembali. "Baiklah, mungkin lain kali saja kita nonton. Atau mungkin lebih seru jika kita ke gedung bioskop." "Iya, Nona. Kalau begitu saya pergi ke kamar dulu, Nona. Saya harus memandikan Kitty." Tanpa basa-basi pria itu meninggalkan Stella yang masih berdiri di halaman rumah. "Nona? Apa bedanya dengan hubungan kami jika dia masih saja kaku begitu? Adakah seorang pria memanggil kekasihnya dengan panggilan Nona?" Stella memandang punggung pria yang semakin menjauh itu dengan perasaan kecewa. Stella merasa bahwa posisinya tidak lebih tinggi dari kucing kesayangan Raja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD