Sesampainya di kamar, Raja meletakkan Kitty di atas sebuah keranjang. Pria itu lantas membuka jas yang ia pakai dan melemparkannya ke sembarang arah. Digulungnya ujung lengan kemeja hingga sampai ke siku lalu ia kembali menghampiri kucingnya.
“Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana, oke?” Pria itu tersenyum, lalu mengusap kepala Kitty dengan lembut.
Detik berikutnya yang dilakukan oleh pria itu adalah, ia segera masuk ke dalam kamar mandi. Diisinya bathup dengan air hangat, lalu ia segera keluar dari tempat itu dan kembali menghampiri kucingnya.
“Ayo, aku akan memandikanmu,” ucap Raja seraya mengangkat tubuh mungil dan ringan itu.
Apa? Mandi? Di cuaca sedingin dan semalam ini? tanya Kitty tak percaya. Kucing itu sangat malas. Kucing itu tak suka mandi. Kitty enggan untuk bersentuhan dengan air. Ia tidak suka rasa dingin yang akan membuatnya menggigil.
Aku tidak mau mandi, Tuan. Besok saja, ya? Saat matahari terasa menyengat aku akan mandi, pinta kucing itu.
“Entah apa saja yang Kamu lakukan dari siang tadi dan di mana Kamu bermain sampai-sampai Kamu jadi kotor begini,” ucap Raja memarahi Kitty. Namun marahnya pria itu pada Kitty, tentu saja bukan marah yang sebenarnya.
Aku mohon, Tuan. Jangan mandikan aku. Aku tidak mau mandi. Aku akan tidur di lantai dan berjanji tidak akan naik ke atas ranjang, tapi jangan mandikan aku, pinta Kitty saat Raja memasukkannya ke dalam bathup. Namun, tentu saja pria itu tidak akan bisa mendengar suaranya. Raja tetap melanjutkan niatnya untuk memandikan Kitty.
Arghhh! Tidak mau! jerit kucing itu saat sedikit lagi tubuhnya masuk ke dalam air. Bayangan air dingin yang terasa menusuk tulang menakutinya.
“Tenanglah, Kitty. Hanya mandi sebentar agar Kamu bersih dan nyaman.Aku yakin Kamu akan suka, air ini begitu hangat, aku juga akan memakaikan shampo yang sa—" Bukannya diam, Kitty justru semakin kuat bergerak.
Pyuk pyuk pyuk.
Kitty yang meronta dan tidak mau dimasukkan ke dalam bathup membuat air dalam bathup muncrat ke mana-mana. Bahkan Raja sampai basah kuyup karenanya.
“Argh! Kitty! Kamu nakal!” pekik Raja seraya melihat ke arah kemejanya yang basah semua. Wajah pria itu pun turut basah kara pergerakan Kitty.
Astaga! Apa yang sudah aku lakukan? Maafkan saya, Tuan. Kitty menyesal karena sempat meronta hingga membasahi tubuh Raja. Ia menyesal saat tahu bahwa air dalam bathup ternyata hangat dan nyaman. Harusnya sedari tadi ia menurut saja.
“Sudah kepalang basah, maka aku akan mandi juga," ucap Raja seraya tersenyum. Pria itu sama sekali tidak marah meski ia sudah membuat ulah yang menyebabkan pria itu harus mandi lagi.
Ap-pa? Tuan akan mandi bersamaku?
Pria itu membuka lubang air pembuangan agar air yang sudah kotor menghilang. Pria itu juga membiarkan Kitty berada di dalam bathup kosong itu. Ia lantas menanggalkan seluruh pakaiannya di hadapan Kitty tanpa rasa malu sedikit pun. Hingga akhirnya, Raja yang hanya mengenakan celana boxer-nya mengangkat tubuh Kitty dan mengisi bathup dengan air hangat yang baru. Tak lupa, Raja memberikan beberapa tetes wewangian ke dalamnya.
"Hm, sepertinya berendam bersamamu tidak buruk juga. Aku bisa lebih rileks dan tidur nyenyak malam ini," ucap Raja.
Sementara itu, Kitty yang telah basah kuyup merasa salah tingkah lagi dalam pelukan pria itu. Ia dapat merasakan kehangatan tubuh Raja dengan jelas. Dan kini kulit mereka bersentuhan. Sungguh, kucing itu merasakan perasaan asing itu datang kembali.
Setelah memastikan suhu air cukup nyaman, Raja membawa Kitty masuk ke dalam bathup yang berisi penuh busa putih.
Pria itu duduk bersandar dengan nyaman, lalu meletakkan Kitty di atas perutnya yang penuh otot. Kitty jadi semakin berdebar, membuat kucing itu mematung dan tidak berani bergerak sedikit pun.
"Jangan nakal lagi, Kitty! Diamlah, aku akan membersihkanmu!" perintah pria itu.
Raja memencet sabun cair yang berada di pinggiran bathup. Sabun yang berbau harum semerbak itu lantas pria itu usapkan di tubuh Kitty. Hingga seluruh bulu kucing itu penuh dengan busa putih yang wangi dan lembut.
"Nyaman kan, Kitty? Aku yakin, setelah ini bulumu akan semakin lembut dan wangi." Raja terus mengusap tubuh Kitty, sementara kucing itu jadi semakin linglung karena terhanyut saat merasakan sentuhan demi sentuhan di seluruh tubuhnya.
Tuan, mungkin lama-lama aku akan mati jika terus-terusan seperti ini. Bagaimana tidak, Tuan selalu memperlakukan aku seistimewa ini. Sentuhan Tuan begitu lembut membuat jantungku berkali-kali ingin meledak. Apa yang harus aku lakukan agar debaran ini menghilang? tanya Kitty dalam hati.
"Nah sudah siap!" Raja lantas membersihkan dirinya sendiri, membiarkan kucing itu tetap berada di pangkuannya. Setelah selesai, Raja segera keluar dari dalam bathup lalu bersama Kitty, pria itu membilas diri di bawah guyuran air shower yang terasa hangat.
Ya ampun, Tuan. Entah aku harus bersyukur atau merutuki diri ini yang sudah berpikiran yang tidak-tidak. Gadis mana yang bisa tahan melihat tubuh tuan yang begitu seksi? Ah, gadis ... bagaimana rasanya jika aku ini bukan kucing, maksudnya bagaimana rasanya jika wujudku sebagai gadis sedang dalam situasi yang sama seperti sekarang. Aku dan tuan ... kita berdua berada di bawah guyuran air shower yang hangat. Tuan memelukku dengan cinta, aku juga melakukan hal yang sama lalu ....
"Nah, kita sekarang benar-benar sudah siap. Kita keluar sekarang." Raja mematikan air shower, meraih sebuah handuk lalu membalut tubuh Kitty dengan kain berwarna putih itu. Lalu Raja dengan tubuh basahnya keluar dari kamar mandi dan meletakkan Kitty di atas ranjangnya.
"Diam sampai aku kembali, atau Kamu akan membasahi seluruh ranjangku," perintah pria itu sembari terkekeh. Setelah berkata demikian, Raja pergi ke ruang ganti untuk memakai pakaiannya.
Iya, iya. Kitty berdiam di dalam balutan handuk lalu merebahkan tubuhnya. Ia berjanji akan patuh dan tidak lagi menyusahkan pria itu. Kitty merasa sangat nyaman, ternyata mandi air hangat membuat rasa lelah di tubuhnya menghilang dan hanya meninggalkan rasa yang begitu menyenangkan. Kalau tahu mandi air hangat senyaman ini, sudah pasti ia akan sering mandi.
Ceklek.
Pria itu telah selesai memakai pakaiannya. Pria itu kini sudah siap tidur dengan setelan piama berwarna navy yang melekat di tubuhnya.
"Ya ampun, Kamu pasti merasa sangat nyaman sampai-sampai Kamu tertidur," ucap pria itu. "Tapi, aku tetap harus mengeringkan bulumu. Aku tidak mau Kamu sakit karena kedinginan. Tidak apa, tetaplah tidur dan patuh. Aku hanya perlu mengeringkanmu."
Raja mengambil Kitty yang masih terlelap dalam balutan handuk putih itu dan membawanya ke meja rias. Pria itu duduk di sana, memangku kucing itu lalu menyiapkan mesin pengering rambut. Tak lama, hanya suara hair dryer yang memenuhi tempat itu. Pria itu memulai pekerjaannya. Dengan telaten, Raja mengeringkan helai demi helai bulu Kitty yang masih basah. Bahkan Raja melakukannya dengan penuh kelembutan. Seolah Kitty adalah sesuatu yang sangat berharga yang Raja miliki.
Dengan mata setengah terpejam, Kitty merasakan rasa hangat yang cenderung panas menyelimuti seluruh tubuhnya. Samar ia melihat pria itu sedang mengeringkan bulu-bulunya. Kitty tersenyum, merasa sangat berharga dan bahagia.
Bagaimana aku tidak takhluk pada pesonamu, Tuan. Kamu selalu baik padaku, menyayangiku melebihi rasa sayangmu pada dirimu sendiri. Kamu juga sangat tampan, jadi bagaimana aku bisa mengendalikan perasaan ini? Tuan, bagaimana jika semakin hari aku semakin menyukaimu? Lalu bagaimana jadinya jika nanti Kamu menikah dan melupakanku? Aku harus ikut siapa? Bagaimana nasibku? Perasaan kucing itu campur aduk. Ia bahagia dengan perhatian dan kasih sayang yang Raja berikan. Namun, di sisi lain ia takut, takut jika kebahagiaan ini hanya bersifat sementara dan ia akan kehilangan segalanya termasuk kehilangan kasih sayang Raja. Sebab, Raja telah memiliki Stella di dalam hatinya.