Hari masih pagi, bahkan matahari belum menampakkan diri lagi. Tapi di depan gerbang vila Raja, tampak ramai. Ada beberapa orang berdiri di sana. Ada dua koper besar tergeletak di dekat mobil. Mobil pribadi pria itu juga sudah bersiap di tempat itu. Tak lama, pria tua itu dibantu oleh Leon memasukkan koper dan barang bawaan lainnya ke dalam bagasi mobil. Sudah pasti, mereka akan melakukan perjalanan jauh.
“Haruskah kalian pergi hari ini?” tanya Stella dengan wajah yang murung. Wanita itu tampak tak rela melepaskan kepergian sang kekasih.
Baru saja tadi malam Raja melamarnya, kini pria itu sudah ingin pergi darinya. Menurutnya, mereka terlalu cepat berpisah. Padahal, Stella ingin Raja tinggal lebih lama agar mereka bisa saling mengenal dan memahami. Baru saja mereka melakukan pendekatan, kini mereka harus berjauhan kembali.
“Iya, ada pekerjaan yang harus kami lakukan,” jawab Raja singkat seperti biasa.
“Tuan benar, Nona. Kami ada banyak pekerjaan yang telah menunggu, Nona. Kami harap Nona mau bersabar dan bersedia memahami Tuan,” ucap Leon seraya tersenyum. Stella hanya tersenyum kecut. Baginya ucapan Leon sangat sulit untuk dilakukan.
“Setelah kami pergi pun, Kamu bisa tinggal di rumah ini, Nona. Silakan ditempati, anggap saja rumah sendiri,” ucap Raja dengan lembut.
“Pak Jo, Bi Betty. Saya titip rumah ini dan juga Stella,” ucap Raja pada pria dan wanita tua penjaga vila-nya.
“Baik, Tuan,” jawab pasangan suami istri itu serentak. Mereka sudah tahu hubungan Raja dan wanita itu karena Leon sudah menceritakannya. Jadi, Pak Jo dan Bi Betty sudah tidak kaget lagi.
“Kalau ada apa-apa atau kalian memerlukan sesuatu, telepon saja Leon. Kapan pun tidak usah segan,” ucap Raja. Pria dan istrinya itu mengangguk mengiyakan.
“Nona, jaga diri Kamu baik-baik. Kalau ada waktu, saya akan datang kemari mengunjungimu,” ucap Raja pada kekasihnya.
“Tapi semua serba mendadak. Saya bahkan belum sempat berbicara dengan Anda ....” Stella mengungkapkan rasa keberatannya.
“Bersabarlah sebentar, Nona. Aku akan segera menjemputmu dan kita akan segera melangsungkan pernikahan kita setelah pekerjaanku siap nanti,” ucap Raja berjanji.
“Apakah yang Anda katakan benar?” tanya Stella memastikan. Raja mengangguk tanpa ragu.
“Bisakah ... aku sesekali mengunjungi Anda jika aku rindu?” tanya Stella lagi.
Raja menarik napas panjang, entah mengapa ada rasa sedikit keberatan mendengar gadis itu akan datang. Namun, Raja segera mengubah ekspresinya menjadi seperti biasa, lalu tersenyum. Ia kembali meyakinkan hatinya, bahwa Stella adalah calon istrinya dan bukan orang lain. “Datanglah kapan pun Kamu mau.”
“Terima kasih, Tuan.” Wanita itu membalas dengan senyuman. Ia sedikit lega karena Raja mengizinkannya datang.
“Baiklah, kalau begitu ... kami harus segera pergi agar tidak terjebak kemacetan,” pamit Raja.
Pria itu berjalan menuju mobilnya, menuju pintu mobil yang sudah Leon bukakan untuknya. Akan tetapi, pada langkah kedua, jemari lentik itu memegangi pergelangan tangannya. Mata wanita itu menatap Raja dengan tatapan sedih. Menahan pria itu pergi. Memaksa Raja menghentikan langkah kakinya.
“Bisakah kita berbicara sebentar? Aku ingin bicara empat mata dengan Anda, bolehkah?” tanya Stella penuh harap. Raja menoleh ke arah asistennya yang telah membuka pintu untuknya, meminta pendapat pria itu.
Leon menganggukkan kepala. Ia ingin memberi kesempatan kepada Stella dan tuannya untuk berbicara secara privat. “Lima menit, Tuan.”
Raja mengiyakan, melangkah masuk kembali ke pekarangan rumah dan berdiri di sisi taman bersama wanita itu. Begitu mereka hanya tinggal berdua, Stella dengan berani memegang tangan pria tersebut.
“Iya, Nona. Ada apa? Apa Anda membutuhkan sesuatu?” tanya Raja dengan sedikit gugup karena Stella terus memegangi tangannya. “Katakan saja, karena aku adalah kekasihmu, calon suamimu.”
Stella menggeleng lemah. “Saya tak memerlukan apa pun. Apa yang Tuan berikan sudah lebih dari cukup. Hanya saja ... bisakah Tuan tetap tinggal? Saya rasa, saya tidak akan bisa jauh dari Anda.”
Raja tersenyum, ini kesempatannya untuk melepaskan genggaman tangan Stella. Raja menarik tangannya lalu mengusap puncak kepala Stella. “Maaf, Nona. Saya benar-benar harus pergi dan tidak bisa tinggal lebih lama. Ada pekerjaan penting yang harus saya kerjakan. Tolong mengertilah. Saya melakukan semua ini, demi masa depan kita juga.”
“Tapi, bahkan baru semalam Anda melamar saya ....” d**a Stella terasa sesak apabila mengingat kebersamaan mereka yang sangat singkat. Bahkan dirinya dan Raja tak lebih dekat dari hubungan pria itu dengan kucingnya.
“Saya tahu, tapi mau bagaimana lagi?” tanya Raja.
“Tidak bisakah Anda membawa saya ke rumah Anda?” tanya Stella penuh permohonan.
Raja menggelengkan kepala. “Tidak bisa, Nona. Di rumah saya ada banyak sekali pria dan saya tidak mau ....”
“Baiklah ....” Stella tampak kecewa karena Raja tak mengizinkannya. Padahal, wanita itu sebenarnya selalu ingin bersama kekasihnya.
“Saya janji. Saya akan sering datang, Anda juga boleh datang asalkan mmberi kabar dahulu. Karena saya sering bepergian, takutnya saya tidak ada di rumah saat Nona datang,” ujar pria itu.
“Tuan ... bisakah kita lebih dekat?” tanya wanita itu seraya menundukkan kepala. Stella menggigit bibir bawahnya erat-erat, jemarinya juga bertaut dan saling meremas.
“Maksudnya? Saya sudah melamar Anda, sebentar lagi kita akan menikah. Kedekatan apalagi yang Anda maksudkan?” tanya Raja tidak mengerti dengan permintaan Stella.
“Hubungan kita memang sudah sangat dekat. Tapi saya merasa Anda sangat jauh dari jangkauan saya. Kita adalah sepasang kekasih, tapi kita masih berbicara dengan kaku. Panggilan kita juga masih sangat kaku. Nona ... Tuan ... kita adalah kekasih, tapi kita memberikan panggilan seperti itu. Saya merasa kita tak lebih dari dua orang asing yang tidak terlalu akrab,” ucap Stella dengan wajah mendung.
“Ah ... itu.” Raja mengusap tengkuknya, merasa canggung. “Ini adalah yang pertama untuk saya, jadi saya ... benar-benar tidak tahu harus memanggil Anda bagaimana. Saya juga masih merasa sangat canggung. Jadi, saya harap Nona bisa memakluminya."
“Bagaimana kalau ‘sayang’? Saya akan memanggil Anda dengan sebutan itu, begitu juga sebaliknya, Anda juga memanggil saya dengan sebutan itu,” ucap Stella.
“Apa? Tapi saya ....” Raja kesulitan untuk mengucapkan panggilan itu.
“Ayolah, kita harus mencobanya,” ucap Stella.
“Nona ... mungkin saat ini saya belum bisa mengatakannya. Bagaimana kalau saya menyebut nama saja?” Stella tampak cemberut dan kecewa. Raja menolak panggilan yang ia inginkan.
“Kalau begitu aku juga mau kalimat kita diganti dengan kalimat non formal. Aku ingin kita bicara secara santai. Aku mau kita bicara aku dan kamu layaknya sepasang kekasih yang lainnya,” ucap Stella.
“Baiklah ....” Raja akhirnya mengiyakan agar percakapan mereka segera berakhir. Raja tidak mau lagi berdebat apalagi bertengkar karena pembicaraan mereka.
Tin tin.
Raja menoleh ke arah mobil yang terlihat dari celah pagar. Benar saja, Leon pasti sudah tidak sabar menantinya hingga membunyikan klakson agar ia bergegas.
“Sepertinya aku harus pergi. Leon sudah me—“ Cup. Wanita itu tiba-tiba saja berjinjit dan mengecup bibir Raja sekilas, membungkam bibir Raja hingga kalimatnya tak terselesaikan. Sebentar, hanya beberapa detik saja.
“Pergilah, aku akan menunggumu kembali. Aku akan menunggu hari di mana kita bisa bersama kembali dan tidak akan pernah berpisah,” ucap Stella dengan wajah merah padam. Wanita itu kini baru merasa malu karena telah berbuat sesuatu yang ekstrim dan agresif. Namun, hatinya beberapa kali membenarkan perbuatannya. Dalam hati ia berkata tidak apa-apa, karena pria itu adalah calon suaminya.
“Baiklah, aku harus pergi. Jaga dirimu Stella.” Raja melambaikan tangan lalu berjalan keluar gerbang dan masuk ke dalam mobil. Sementara wanita itu mengikuti sambil membalas lambaian tangan Raja. Sampai mobil pergi wanita itu tetap berdiri di sana untuk melepas kepergian calon suaminya.