Di kediaman Raja.
“Pus, pus ....”
Entah sudah ke berapa kalinya Boni memanggil makhluk berkumis dan lucu itu. Namun hewan menggemaskan itu tak kunjung menampakkan diri. Boni dibuat frustasi karenanya. Leon sudah memberi tugas agar ia menjaga dan merawat Hitam. Lalu kucing itu kini menghilang, entah apa yang akan ia katakan jika bosnya itu sampai tahu perihal hal tersebut.
“Kamu ke mana sih, Hitam? Perasaan tadi Kamu hanya bermain-main di sekitar sini? Kenapa sekarang Kamu tidak ada?” gerutu Boni.
“Apanya yang tidak ada?”
‘Mampus!’
Boni mengenali suara itu. Skak mat untuknya. Kali ini bukan Leon yang datang, melainkan tuan muda secara langsung. Entah bagaimana nasibnya jika sampai Raja menanyakan keberadaan Hitam.
“Eh, Tu-tuan Muda.” Boni sangat gugup seolah baru saja melakukan kesalahan.
“Kamu kenapa? Kenapa seperti ketakutan saat melihatku?” tanya Raja.
“Ah, bukan begitu, Tuan Muda. Mungkin saya hanya sedikit terkejut akan kehadiran Anda yang tiba-tiba,” ucap Boni.
“Oh ya, mana Leon?” tanya Raja.
“Loh, bukannya beliau ada di rumah utama sedang bekerja, ya? Tadi saya sempat menemani dan membantunya. Saat pekerjaan tersisa sedikit Tuan Leon menyuruh saya kembali kemari,” ucap Boni.
“Oh ya, lalu yang lainnya?” tanya Raja lagi.
“Sepertinya mereka masih ada di kediaman Ris. Ada acara doa malam ini. Sementara yang lainnya lagi sudah tentu melaksanakan tugas jaga,” jawab Boni.
Raja manggut-manggut mengerti. “Baguslah. Oh ya, mana kucing itu?”
Deg. Ini adalah pertanyaan yang dari tadi sangat Boni takuti. Akhirnya Raja menanyakan tentang Hitam.
“Mu-mungkin saja dia sedang berkeliling, Tuan. Maklum saja kucing itu tidak mau diam,” bohong Boni.
“Bon! Aku sudah mencari ke seluruh penjuru rumah ini. Sepertinya kucing itu benar-benar hilang ....” Seseorang baru saja datang dan berbicara tanpa henti seperti kereta.
Boni menepuk dahinya, kesal karena tidak dapat menghentikan mulut temannya yang ia suruh mencari Hitam.
“Maksudnya? Kucing?” Raja mengerutkan kening. Setahu pria itu, Hitam adalah satu-satunya kucing yang ia biarkan tinggal di kediamannya.
“Eh, Tuan ....” Teman Boni yang bernama Key itu ikut-ikutan gugup seperti Boni setelah tahu bahwa ada Raja di tempat itu.
“Katakan padaku, kucing mana yang kalian cari?” tanya Raja.
Kedua pria itu terdiam membisu. Tak satu pun di antar mereka yang menjawab. Membuat Raja geram karenanya.
“Jawab! Kalian tidak punya mulut?” tanya Raja penuh amarah.
“Maafkan saya, Tuan.” Tiba-tiba saja Boni berlutut.
“Ini adalah kesalahan saya. Saya tadi pergi membantu Tuan Leon ke rumah utama. Lalu saat saya kembali, Hitam sudah tidak ada,” ucap Boni mengakui segalanya. Akhirnya karena segan, Key terpaksa ikut berlutut seperti Boni.
“Bagaimana bisa?” tanya Raja.
“Saya tidak tahu, Tuan. Hitam sangat sulit dimengerti. Dia seperti paham dengan ucapan manusia. Entah-entah dia pergi karena marah,” ucap Boni.
“Stt!” Key menyikut lengan Boni. Ia merasa ucapan temannya itu sangat tidak masuk akal. Key yakin, Raja kakan marah besar mendengar alasan Boni yang di luar nalar. Sementara Boni merasa ucapannya benar, tidak menanggapi peringatan dari Key.
Benar juga, ya? Waktu di hutan pun, ia seperti memahami perkataanku. Apa mungkin ia marah karena aku marah saat melihatnya makan ikanku? Atau ia marah karena Leon telah mengikatnya? Semua adalah salahku hingga ia pergi, batin Raja.
“Ampuni saya, Tuan. Ini adalah murni kesalahan saya.” Boni kembali meminta maaf.
“Huft! Ya sudahlah. Aku tidak akan marah asalkan kalian tetap mencarinya,” ucap Raja. Kedua anak buah Leon itu bisa bernapas lega. Mereka sempat mengira bahwa mereka akan kehilangan pekerjaan.
“Baik, Tuan Muda. Kami akan segera mencarinya.” Boni dan Key segera pergi dan mencari Hitam ke semua tempat. Sementara Raja merasa menyesal, entah mengapa ia merasa kosong saat makhluk kecil nan lucu itu pergi entah ke mana.
***
Kucing itu berjalan dengan langkah yang lemah. Kakinya letih setelah berkeliling seharian. Tubuhnya sangat kotor dan kumal penuh lumpur. Juga bau. Sungguh, Hitam sendiri saja merasa jijik pada dirinya.
Tinggal sepuluh meter lagi ia mencapai pintu gerbang depan. Ia berharap bisa masuk lewat sana. Sebab kakinya sakit, ia tidak bisa memanjat tembok pagar apalagi melompat.
“Huft, sungguh perjalanan yang panjang dan melelahkan. Setelah ini aku tidak akan keluar-keluar lagi jika tidak ada hal yang mendesak. Aku akan cukup bersyukur bisa tinggal di tempat yang nyaman dan tak kekurangan makanan,” ucap Hitam.
“Bagaimana aku harus melewati para penjaga?” gumam Hitam seraya melihat-lihat keadaan sekeliling, dengan tubuhnya yang sangat kotor, ia yakin penjaga tidak akan membiarkannya masuk ke dalam.
Hitam berdiri beberapa saat menunggu keadaan memungkinkan. Akan tetapi, pengawal Raja hampir seperti kamera pengintai. Mereka sangat waspada, tanpa lelah mengamati keadaan sekitar. Mereka bekerja layaknya robot, sangat patuh dan teliti.
“Aduh, bagaimana caraku masuk? Aku yakin di sisi lain pun tidak akan bisa dilalui dengan mudah,” ucap Hitam. Ia kesal karena pengawal Raja seperti patung, sama sekali tidak bergerak.
“Apa aku nekat saja? Siapa tahu mereka tidak mempedulikan jika yang masuk adalah seekor hewan,” ucap Hitam.
Hitam mencoba berjalan mengendap-endap, melewati penjaga. Ia berharap kedua penjaga pintu gerbang itu tidak akan menyadari kehadirannya.
“Hei! Kucing kotor! Jangan datang ke tempat ini. Pergilah! Hush, hush!” usir penjaga itu.
Ternyata rencana Hitam gagal total. Penjaga itu benar-benar waspada. Kehadirannya yang diam-diam saja bisa tertangkap basah.
“Biarkan aku masuk. Aku adalah kucing majikan kalian," ucap Hitam tetap bergeming di tempat.
"Pergilah! Jangan berani datang kemari dengan tubuh kotormu itu," usir penjaga gerbang risih melihat tubuh kotor si Hitam.
"Kalian sungguh bodoh! Kalian sudah melihatku setiap hari di rumah belakang. Tidakkah Kalian mengenaliku?" gerutu Hitam.
"Pergi kataku!" usir penjaga itu lagi seraya mengangkat tangan seolah akan memukul.
Hitam pergi dari tempat itu, takut jika para penjaga akan melukainya. Akan tetapi, kucing itu tak benar-benar pergi. Ia menunggu di semak-semak, menunggu kesempatan agar ia bisa masuk ke dalam.
Kruyuuuukk.
"Aku lapar, lelah, juga mengantuk," gumam Hitam sambil mengintip para penjaga. Ia merasa tubuhnya sakit semua. Hitam jadi menyesali perjalanannya hari ini.
Tin tin.
Sebuah mobil berhenti di depan gerbang, kedua penjaga segera membuka pintu. Hitam lantas berlari dengan cepat, ini kesempatan untuknya menyelinap masuk. Bersamaan dengan masuknya mobil, Hitam pun menerobos masuk.
"Hei! Hei! Hentikan kucing itu!" Hitam masih bisa mendengar suara teriakan para penjaga. Jantung Hitam berdebar kencang. Jangan sampai ia tertangkap dan diusir keluar lagi.