BAB 75

1154 Words
“Tangkap kucing itu!” “Aduh, mati aku!” Hitam mempercepat larinya dengan kaki yang semakin terpincang-pincang. Kaki kucing itu terasa semakin nyeri, semakin luka akibat terkena pukulan. Hitam menoleh ke belakang, ia melihat beberapa penjaga berlari mengejarnya. Hitam panik, tetapi sudah hampir kehabisan tenaga. Apalagi ia belum makan apa-apa sejak siang tadi. “Oh, Tuhan ... kirimkan penolong untukku. Maka aku akan membaktikan diri padanya seumur hidupku. Dia akan menjadi tuanku selamanya. Aku akan mendengarkan perkataannya dengan patuh, meski aku tak suka sekali pun pada perintahhya aku akan tetap menurut,” ucap Hitam memanjatkan doa. “Hentikan!” Suara itu, Hitam mengenalinya. Kucing itu lantas berhenti berlari, karena tubuhnya sudah sangat lemas dan lemah. Raja, rupanya sang tuan yang membawanya keluar dari hutan menghentikan para pengawal yang mengejarnya. “Berhenti mengejar kucing itu. Kucing itu milikku.” Raja langsung mengklaim Hitam sebagai miliknya. “Tapi, Tuan ... kucing Anda yang itu kan bersih, sementara ini ... sangat kotor dan kumal,” ucap salah seorang penjaga. “Aku tidak peduli. Ehem, itu memang kucingku. Kalian kembalilah ke tempat kalian masing-masing. Biar aku yang mengurus kucing itu,” perintah Raja. "Baik, Tuan." Semua orang lantas membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing. Raja berjalan perlahan mendekati Hitam yang lemah. Pria itu tanpa ragu, berjongkok dan mengajak Hitam bicara. "Apa Kamu benar Hitam?" "Jawab aku, atau aku akan melemparmu keluar dari tempat ini," ancam Raja. Hitam enggan menjawab pertanyaan pria itu. Akan tetapi ucapan Raja setelahnya membuatnya terpaksa memberikan jawaban. "Apa Kamu adalah Hitam?" tanya Raja untuk ke sekian kalinya. Hitam memberi jawaban dengan sebuah anggukan. Raja tersenyum, kucing itu memang Hitam yang ia cari. Pria itu sedikit penasaran kenapa Hitam bisa jadi kotor seperti itu. "Sekarang kita seri, ya. Waktu itu Kamu menyelamatkan aku dari ular. Sekarang Kamu aku selamatkan," ucap Raja dengan bangga. "Mampus aku!" Hitam baru teringat pada nazarnya tadi. "Jadi aku harus mengabdikan hidupku padanya? Ah, sial. Kenapa tadi aku harus berjanji seperti itu?" Hitam menyesali ucapannya. "Ayo ikuti aku, kita bersihkan tubuhmu itu." Dengan langkah yang sudah tidak stabil, Hitam mengikuti langkah kaki tuannya. Raja mengajaknya berhenti di dekat taman kecilnya. Pria itu lantas mengambil selang air dan menyemprotkan air pada tubuh Hitam yang sudah menggigil kedinginan. "Huft!" gerutu Hitam saat pria itu menyiraminya tanpa henti. Tubuhnya semakin tidak karuan. Sakit, nyeri, dan juga ... dingin. "Baiklah, ayo ikut aku ke belakang. Kita perlu mengeringkan tu ...." Bruk. Pertahanan Hitam runtuh. Kucing itu ambruk dan tak bisa bertahan lagi. Pandangannya menggelap, suara Raja semakin lama semakin samar terdengar. Hitam benar-benar sudah berada di ambang batasnya. Ia pingsan. Sementara itu .... "Hei! Kamu kenapa?" Raja panik melihat Hitam tergeletak lemah di rerumputan. Ia tak menyangka kucing itu akan jatuh seperti itu. "Apakah Kamu bercanda? Jangan bercanda, aku tidak suka." Tiba-tiba saja bayangan saat ia kehilangan Manis dulu kembali terputar jelas di otaknya. Saat itu Manis yang diracuni oleh paman dan bibinya juga tergeletak tak berdaya seperti Hitam. Raja semakin panik saat Hitam bergeming di tempat. Tangan gemetar pria itu terulur, lalu menyentuh tubuh Hitam. Dingin, itulah yang Raja rasakan. Persis saat Manis meninggalkannya, tubuhnya juga terasa dingin. "Apakah Kamu sudah mati?" Bukan hanya tangan, kini tubuh pria muda itu juga ikut gemetar. Air mata tampak membanjir di kedua pipinya. Napasnya tersengal tak beraturan, sepertinya ia terkena serangan panik. "Tuan!" Beruntung Leon datang pada waktu yang tepat. "Apa yang terjadi?" Leon melepaskan jas yang ia pakai lalu memakaikan pada tuannya yang hanya memakai kaus panjang. "Tenanglah Tuan, ada saya di sini." Pria itu menenangkan Raja dengan cekatan. Leon sudah familier dengan kondisi Raja yang bisa kapan saja drop seperti ini. "Lihatlah, Leon. Dia ... dia tergeletak di sana. Tubuhnya dingin persis seperti Manis dulu ...." Pria itu menunjuk ke arah Hitam yang tergeletak lemah. Leon menoleh ke arah Hitam. "Tuan tenang dulu, biar saya yang mengurusnya. Bagaimana kalau Tuan pergi ke kamar Tuan dulu? Saya akan mengurus Hitam." "Tidak, Leon. Aku tidak mau. Aku mau melihat dia, jangan sampai dia meninggalkan aku seperti saat Manis juga pergi," ucap Raja keras kepala. "Tapi, Tuan. Keadaan Tuan saat ini ...." Leon tahu Raja sedang dalam kondisi kurang baik dan pria itu takut tuannya itu akan semakin memburuk. "Jangan pedulikan aku, Leon. Yang terpenting sekarang Kamu harus menyelamatkan dia. Ayo Leon, bawa dia masuk. Bagaimanapun caranya, selamatkan dia," perintah Raja mutlak. "Baiklah, Tuan Raja tenang dulu." Leon mengangkat tubuh basah Hitam dengan kedua tangannya, pria itu memperhatikan Hitam betul-betul. Ia melihat pergerakan di perut Hitam yang kembang kempis karena bernapas. Leon lega, itu artinya Hitam masih hidup. Ia takut tuannya akan semakin histeris jika sampai terjadi sesuatu pada kucing itu. "Sepertinya dia masih bernapas. Mari kita bawa masuk dan mengurusnya." Lalu kedua pria itu membawa Hitam masuk ke dalam rumah Raja yang besar layaknya istana itu. *** Leon meletakkan Hitam di atas wastafel, lalu membersihkannya di bawah kucuran air hangat yang mengalir dari keran. Setelah itu, Leon dengan luwes membungkus tubuh Hitam dengan sebuah handuk. Sementara itu Raja memerhatikan apa yang dilakukan oleh asistennya itu dari jarak satu meter. "Saya sudah menelepon dokter hewan, jadi Tuan tidak perlu khawatir," ucap Leon seraya meletakkan Hitam di atas meja. "Tapi dia ... dia ...." "Sepertinya tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan dan kedinginan." Leon mengambil hair dryer yang sudah ia persiapkan lalu mengeringkan bulu Hitam dengan benda itu. Suasana kamar itu kembali hening, hanya suara mesin pengering rambut yang terdengar. "Sudah siap. Lihatlah, Tuan. Napasnya kembali normal. Sepertinya benar, dia hanya lelah dan kedinginan," ucap Leon. "Syukurlah, tapi tetap saja. Panggil dokter hewan itu kemari untuk memeriksanya," perintah Raja. "Iya ... Tuan tenang saja, dokter itu masih dalam perjalanan kemari." "Selamat malam, Tuan." Dokter yang Leon maksud akhirnya datang diantarkan oleh seorang pengawal. "Tolong periksa kucing ini, Dok," pinta Leon tanpa basa-basi. "Baiklah." Dokter itu mendekati Hitam dan memeriksa kucing itu dengan teliti. Sementara itu, Raja menunggu dengan tidak tenang. Ia baru bisa bernapas lega jika dokter mengatakan bahwa kucingnya itu tidak apa-apa. "Bagaimana, Dok?" Kini Raja yang langsung bertanya dengan tidak sabar. "Dia kelelahan dan kedinginan, sepertinya ia juga lemah karena lapar. Ada luka pukulan di punggungnya, juga kaki belakangnya yang sedikit parah. Sepertinya ada yang memukuli kucing ini," ucap dokter itu. "Apa?" Raja geram mendengar penjelasan dari dokter. "Tapi tidak apa-apa, Tuan. Bagian punggung akan membaik setelah beberapa hari, sementara kakinya sudah aku obati. Mungkin sementara ini dia harus diikat dulu, agar ia tak pergi ke mana-mana apalagi memanjat yang akan membuat kakinya semakin parah," ucap dokter itu menjelaskan lagi. "Baik, Dok. Kami akan melakukan apa yang dokter katakan." Leon menjawab dengan sopan. Sementara itu, Raja tampak lega saat mendengar bahwa Hitam masih hidup. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan." Tuan ini sangat kaya. Tapi kenapa mereka repot-repot memanggilku hanya demi kucing kampung yang tidak berharga ini? batin dokter itu keheranan. "Baik, silakan. Seorang pengawal akan mengantarkan Anda." Leon mempersilakan dokter itu keluar. Dokter itu akhirnya pergi dari rumah Raja diantarkan pengawal yang tadi juga mengantarkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD