“Leon, kumpulkan semua anak buahmu, cepat!” perintah Raja dengan wajah gelap penuh amarah. Suara pria itu juga terdengar sedikit kasar.
“Baik, Tuan.” Leon segera berpamitan untuk memanggil anak buahnya.
Firasat Leon tak baik mengenai hal ini. Saat Raja tiba-tiba menyuruhnya mengumpulkan anak buahnya. Akan tetapi, Leon tak dapat menolak atau membantah ucapan tuannya. Pria itu hanya berharap bahwa tidak akan ada hal yang buruk yang terjadi.
Lima belas menit kemudian, semua anak buah Leon telah berkumpul. Raja memandangi mereka satu per satu dengan tatapan seolah ingin memangsa.
“Kalian tahu kenapa aku memanggil kalian?” tanya Raja seraya menatap tajam sepuluh pria berbadan kekar di hadapannya.
Semua orang menggeleng lalu menundukkan kepala. Mereka tahu, Raja sangat jarang marah. Akan tetapi opria itu akan berubah menyeramkan sekali saja seseorang mengusik kehidupannya. Bahkan beberapa pengawal yang sempat mengejar Hitam tampak gemetar.
“Kalian tidak punya mulut, ya?” tanya Raja.
“Maaf, Tuan. Kami tidak tahu,” jawab anak buah Leon serentak.
“Kucingku saat ini terluka, adakah dari kalian yang mau mengaku? Siapa yang berani menyakitinya?” tanya Raja.
“Tidak ada yang mau mengaku?” tanya Raja penuh amarah. “Siapa yang tadi sempat mengejar Hitam?”
Beberapa orang angkat tangan, mengaku. Mereka masih menundukkan kepala, ketakutan.
“Siapa di antara kalian yang berani menyakiti kucingku? Siapa yang berani memukulnya tadi?”
“Tidak, Tuan. Kami bahkan belum sempat menyentuhnya,” aku mereka.
“Kalau Kalian mengaku tidak menyakiti Hitam, lalu bagaimana kucingku bisa terluka?” tanya Raja.
“Kami berani bersumpah. Bukan kami yang melakukannya. Jika Tuan tidak percaya, silakan lihat CCTV untuk melihat buktinya,” ucap salah seorang di antara mereka.
Raja memijat keningnya, entah bagaimana caranya ia menemukan pelakunya. Ia sendiri melihat mereka mengejar Hitam tetapi mereka memang sama sekali tidak menyentuh kucingnya.
“Lalu siapa yang melakukannya?” Tiba-tiba saja, Raja teringat pada Boni dan Key.
“Boni! Key! Maju ke depan!” perintah Raja.
Key dan Boni maju ke depan dengan tubuh gemetar. Meski kedua pria itu tak melakukan apa pun pada Hitam, pasti Raja akan mencurigainya.
“Kalian apakan Hitam hingga punggung dan kakinya terluka?” tanya Raja dengan nada menuduh.
“Sumpah, Tuan. Saya tidak melakukan apa pun. Saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya membantu Boni mencari Hitam, itu saja,” ucap Key menjelaskan dengan suara yang bergetar.
“Boni?” Kini Raja giliran menatap tajam pria itu. “Apa yang Kamu lakukan hingga Hitam kabur dari rumah?”
“Tuan, saya berani bersumpah. Saya sama sekali tidak menyakiti Hitam. Salah saya hanya karena mengikatnya. Selebih itu saya tidak melakukan apa pun sampai ia pergi,” ucap Boni dengan tubuh bergetar. “Saya membantu Tuan Leon di ruang kerjanya. Jika Tuan Raja meragukan jawaban saya, silakan tanya pada Tuan Leon. Beliau adalah alibi saya.’’
Raja langsung mengalihkan pandangan dan menatap Leon. Leon mengangguk mengiyakan pernyataan anak buahnya itu. Raja semakin kesal, karena tidak dapat menemukan pelaku penganiayaan terhadap Hitam.
“Kalau bukan kalian, kalau tidak ada yang mengaku, lalu siapa?” tanya Raja.
“Tuan, saya mohon. Tuan tenang dulu. Bisa saja Hitam terluka saat di luar sana, atau karena hal lain apa pun itu di luar sepengetahuan kita, bisa saja orang lain yang melakukannya,” ucap Leon.
“Tu-tuan, saya sebagai penjaga gerbang ingin memberi kesaksian. Saya melihat Hitam berkeliaran di luar sana, dengan tubuh basah dan kotor ia muncul setelah hujan reda. Sepertinya benar jika kucing itu berjalan-jalan di luar. Bisa saja Hitam dilukai oleh orang asing," ucap salah seorang dari mereka.
"Kamu tidak bohong?" tanya Raja.
"Tidak, Tuan. Tom berkata hal yang sebenarnya. Karena saya, bersama Tom tadi," ucap seorang pengawal lagi membenarkan ucapan temannya.
"Yah, sudahlah. Lain kali siapa pun yang melihat Hitam memiliki kewajiban untuk mengikutinya ke mana saja," ucap Raja.
"Baik, Tuan."
Semua orang mengiyakan meski dalam hati menggerutu. Mereka tak menyangka jika Raja akan mengistimewakan kucing kampung seperti Hitam. Kucing yang bahkan tidak akan bisa menghasilkan uang sama sekali.
Mereka akhirnya membubarkan diri setelah Leon memberikan perintah. Sementara Raja masih penasaran dengan orang yang telah membuat Hitam jadi terluka.
"Tuan, kucing itu sudah baik-baik saja. Jadi, sebaiknya Tuan lupakan saja kejadian hari ini. Tolong, Ini demi kesehatan Tuan," ucap Leon dengan hati-hati. "Ah ya, Tuan lebih baik makan malam dulu. Dari siang tadi bukankah Tuan belum memakan apa pun?"
"Aku tidak lapar, Leon," jawab Raja.
"Meskipun tidak lapar, tetap saja Tuan perlu makan juga," ucap Leon. "Saya tahu, kejadian hari ini mengingatkan pada si Manis dan itu membuat Anda sangat syok. Tapi mereka berbeda, Tuan. Kucing ini bukan manis, dia Hitam ...."
"Aku tahu ... suruh pelayan menyiapkan makanan. Aku mau dua porsi ikan goreng," ucap Raja seraya berdiri dari duduknya. Pria itu tampak tak suka saat Leon membicarakan Manis.
"Baik, Tuan." Leon segera pergi ke dapur memerintahkan koki untuk memasak makanan yang Raja inginkan.
***
Raja menikmati makan malamnya dengan enggan. Hanya sekadar mengikuti keinginan Leon, juga untuk mengganjal perutnya agar tak berbunyi lagi, minta diisi. Selesai makan, Raja membawa seporsi ikan goreng itu ke kamar di mana Hitam di rawat. Akan tetapi, Raja harus menelan kekecewaannya, kucing itu tertidur pulas dan tak makan apa pun sampai larut malam.
"Leon," panggil Raja dengan panggilan telepon meski mereka hanya satu rumah.
Iya, Tuan. Leon yang sepertinya sudah tertidur menjawab dengan suara yang serak.
"Kamu pergilah ke kamar tadi, lalu ... tolong Kamu pindahkan Hitam ke kamarku," perintah Raja tanpa basa-basi.
Apa? Tuan tidak bercanda, kan? tanya Leon tak percaya.
"Tidak! Aku sungguh-sungguh."
Baiklah. Setelah Leon mengiyakan, Raja menutup sambungan telepon.
"Tuan yakin mau memindahkan Hitam ke kamar Tuan?" tanya Leon memastikan setelah datang ke kamar itu. Entah bagaimana caranya, pria itu masih berpakaian formal seperti saat bekerja di tengah malam begitu. Sepertinya, Leon sudah terbiasa berpakaian rapi di hadapan sang tuan.
"Iya ... sudah, lakukan saja apa yang aku suruh. Jangan banyak tanya." Raja bangkit dan pergi lebih dulu ke kamarnya.
"Tuan semakin aneh saja semenjak kehadiran kucing ini. Dan ada banyak hal baik maupun buruk yang terjadi di rumah ini gara-gara Kamu," ucap Leon seraya membawa Hitam ke dalam gendongannya. Lalu, pria itu mengikuti langkah kaki tuannya yang menuju kamarnya di lantai atas.