“Kucing itu sudah dipindahkan ke kamar Tuan seperti yang Tuan perintahkan.” Leon memberikan laporan setelah tugas dari Raja ia selesaikan.
“Bagus, kalian semua boleh beristirahat. Hari sudah larut malam,” ucap Raja.
“Tu-tuan benar-benar tidak apa-apa bersama kucing ini?” tanya Leon khawatir.
“Aku baik-baik saja, Leon. Berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil,” ucap Raja kesal.
“Bukannya saya menganggap Anda seperti anak kecil. Hanya saja, Anda tahu sendiri bagaimana reaksi Anda ....”
“Leon, aku tidak mau membicarakannya lagi. Beri aku kesempatan agar aku bisa mengobati traumaku perlahan,” ucap Raja.
“Ah, baiklah. Maafkan saya Tuan.” Leon membungkukkan badan, lalu undur diri.
Kini, hanya ada Raja dan Hitam di kamar itu. Raja duduk di samping Hitam yang tidur. Pria itu terus memandangi Hitam tanpa berkedip. Lalu, tanpa sadar tangan Raja terulur mengusap bulu lembut di punggung Hitam.
‘Halus dan lembut seperti bulu Manis, batin pria itu.
“Pasti sangat sakit saat Kamu dipukuli. Andai Kamu bisa bicara aku akan bertanya padamu siapa yang menyakitimu dan akan aku beri pelajaran pada orang yang telah menyakitimu,” ucap Raja.
Pria itu terus saja duduk di samping Hitam sembari mengajak kucing itu berbicara. Sambil menghilangkan sedikit demi sedikit traumanya pada hewan lucu tersebut. Dalam hati, Raja berkata bahwa Hitam bukan manis. Apa yang terjadi pada Manis tidak akan pernah terjadi pada Hitam, begitu pikirnya.
Malam itu, Raja tak juga bisa memejamkan mata. Bahkan rasa kantuk belum juga menyapa. Pria itu terhanyut dalam perasaannya sendiri. Perasaan yang sangat sulit untuk dijelaskan. Entah mengapa dengan melihat kucing kecil yang lelap itu membuat hatinya begitu tidak karuan. Entah kasihan, atau mengingatkannya pada sosok manis yang telah meninggalkannya dulu. Tiba-tiba saja, Raja selalu ingin memperhatikannya. Bahkan pria itu tak lagi terlalu takut pada Hitam.
“Kapan Kamu akan membuka mata? Apakah Kamu tidak lapar? Aku sudah menyisakan seekor ikan lezat untukmu. Bukankah Kamu lebih suka ikan daripada makanan kucing?” tanya Raja pada kucing yang masih tidur itu.
Raja menguap untuk ke sekian kali, ia menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua pagi. Pria itu mendesah, tidak menyangka jika waktu akan berlalu dengan begitu cepat. Sebentar lagi fajar akan menjelang dan ia belum memejamkan mata sedikit pun.
“Baiklah, kalau Kamu mau terus tidur. Aku pun harus beristirahat,” ucap Raja bangkit dari duduknya. Meninggalkan tempat tidur bayi yang kini telah beralih fungsi menjadi tempat tidur si Hitam.
Pria itu membaringkan diri di ranjangnya, lalu menarik selimut miliknya untuk menghalau dinginnya malam. Namun, baru saja ia mulai memejamkan mata, ia kembali teringat pada Hitam yang tidur tanpa selimut. Cepat-cepat Raja bangun kembali dan menghampiri Hitam.
“Apa aku bawa Kamu tidur bersamaku? Tapi ....” Pria itu menenangkan dadanya yang berdebar kencang. Antara rasa takut juga ingin. Akan tetapi keinginan yang lebih kuat daripada ketakutan membuat Raja refleks saja mengangkat tubuh Hitam. Dengan tangan gemetar, pria itu memindahkan Hitam ke atas kasurnya.
“Fyuhhh!” Raja kembali menenangkan diri, melawan segala ketakutannya. Raja memiliki kemauan yang besar untuk sembuh dari traumanya. Meski keringat sebesar jagung membasahi seluruh tubuhnya, meski jantungnya berdebar kencang hingga tubuhnya ikut gemetar, Raja tidak akan menyerah untuk berusaha sembuh dari trauma yang selama ini mengungkungnya.
“Setelah ini, aku hanya perlu memejamkan mata dan menganggap semua biasa saja.” Pria itu naik ke atas ranjang, lalu membaringkan diri di samping Hitam. Pria itu kembali mmebalut tubuhnya dengan selimut yang sama seperti yang Hitam gunakan. Singkatnya, mereka tidur di atas ranjang dan di bawah selimut yang sama. Cukup lama Raja tidak dapat tidur, hingga subuh menjelang, pria itu baru bisa terlelap dalam mimpinya.
***
Hitam membuka setengah matanya, kucing itu masih sangat mengantuk. Rasanya seluruh tubuhnya sakit semua, seolah remuk semua susunan tulang di tubuhnya.
Ingatan demi ingatan petualangan Hitam di luar sana, kembali terputar jelas di kepala kucing itu. Ia ingat bahwa ia telah mendapatkan kekerasan dari seorang wanita bertubuh gemuk di gang sempit dan kumuh itu. ia juga ingat bagaimana rasanya ia kedinginan karena hujan dan tersiram air lumpur. Malangnya lagi, ia dikejar oleh semua pengawal Raja.
"Ups!" Hitam baru ingat saat Raja menyirami dirinya dengan air dingin, lalu setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.
"Apakah aku semalam pingsan? Tapi, aku di mana? Kenapa tempat ini begitu hangat dan nyaman?" Hitam mengangkat kepala, menoleh ke sana kemari. Tempat yang sangat asing baginya.
"Ini di mana? Kenapa aku ... astaga!" Hitam memekik karena melihat wajah pria itu begitu dekat dengannya.
Hitam menepuk wajah dengan kedua kaki depannya, merasa ini seperti mimpi. Karena saat ini, ia ada di ranjang yang sama dengan Raja.
"Ini bukan mimpi, ini nyata." Entah bagaimana ceritanya ia bisa tidur dengan Raja.
"Bagaimana aku bisa berakhir di ranjang pria ini? Bukannya ia sangat membenciku?" tanya Hitam pada dirinya sendiri.
Hitam menatap lekat-lekat Raja yang masih terlelap. Tiba-tiba saja, Hitam merasa wajahnya panas. Tidak dapat ia pungkiri jika pria itu memang tampan dan sempurna.
Pria itu memang begitu menawan. Bahkan saat tidur sekali pun. Kulitnya yang putih, alis tebal yang hitam, bibir semerah delima, hidung pria itu bahkan mancung seperti orang-orang bule.
Tanpa sadar, Hitam berjalan perlahan mendekati pria itu. Lalu, kaki depannya terulur menyentuh wajah pria itu.
"Sempurna. Dia begitu tampan. Jika aku adalah manusia, mungkin aku akan merelakan diriku jatuh ke dalam pelukannya," gumam Hitam tanpa sadar.
"Astaga! Hitam! Kamu sudah gila, ya? Kamu ini kucing. Kenapa memuji manusia sampai seperti itu? Harusnya Kamu tertarik pada sesama kucing. Hah kucing? Kucing kemarin?" Tiba-tiba saja Hitam merinding mengingat kucing jantan yang menggodanya. Ia sama sekali tidak ingin didekati kucing jantan mana pun.
"Tidak! Tidak! Tuan Raja lebih baik seribu kali dari makhluk mana pun. Dia lebih dari segalanya," ucap Hitam memuji tuannya lagi.
Hitam menatap pria itu lagi. Ingatan saat Raja menghentikan anak buahnya kembali terputar di kepala Hitam. Bersamaan dengan itu, Hitam juga ingat tentang janjinya pada orang yang menyelamatkannya.
"Aish! Kenapa aku harus membuat janji seperti itu? Jadi? Haruskah aku mengabdikan diri padanya seumur hidup? Ah, tidak. Tidak boleh." Hitam berpikir sebentar. "Tapi, aku tidak akan pernah menjilat ludahku kembali. Apa yang sudah aku ucapkan tidak akan mungkin aku tarik kembali. Baiklah, mulai saat ini aku adalah budakmu, Tuan. Aku akan melakukan apa pun yang Kamu minta. Aku juga akan melindungimu dari segala marabahaya."
Meski setengah tak ikhlas, mengingat bagaimana sikap Raja padanya. Hitam sudah bertekad akan menjadi pengikut setia Raja. Ia harus menepati janjinya, yang terucap karena terdesak.
"Baiklah, mari ambil sisi positifnya saja. Aku bisa melihat wajah tampannya setiap hari ...."
"Engghh!" Pria itu menggeliat, menarik kedua tangannya ke atas. Cepat-cepat Hitam merebahkan diri di kasur lalu pura-pura tidur kembali. Hitam beharap, Raja tidak tahu bahwa ia sudah membuka mata.
"Kamu belum bangun juga?" tanya Raja seraya mengucek matanya. Lalu ia melirik ke atas nakas di mana ikan goreng itu masih utuh di sana. "Sayang sekali, ikan yang aku siapkan untukmu harus berakhir sia-sia. Karena Kamu begitu asyik menikmati tidurmu."
Pria itu kembali menyelimuti tubuh Hitam dengan selimut hangat. Lalu ia turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara itu, Hitam yang mendengar ucapan Raja hampir saja meneteskan air liurnya.
"Ikan goreng? Pasti lezat sekali. Ughh! Sialan! Aku lapar sekali, tapi aku malu untuk memakan ikan itu," ucap Hitam dengan perut keroncongan. Hitam terpaksa memejamkan mata kembali melupakan ikan goreng yang terus menari di kepalanya.