BAB 78

1201 Words
Hitam yang pura-pura tidur terganggu oleh suara perutnya yang keroncongan sejak ia membuka mata. Beberapa kali ia melirik ke atas nakas, di mana ikan goreng itu berada. Membuat Hitam harus menelan air liurnya berkali-kali. Pada akhirnya pertahanan Hitam runtuh. Hitam tak tahan untuk melahap ikan tersebut. Ia bangkit, lalu bersiap melompat ke atas meja. “Hei! Kamu sudah bangun?” tanya Raja yang baru saja keluar dari kamar mandi. Hitam yang baru saja ingin melompat ke atas nakas dan ingin makan ikan, kesal karena ketahuan oleh pemilik kamar. Ia jadi harus mengurungkan niatnya. Astaga! Kenapa harus sekarang keluar dari kamar mandi? Kenapa tidak lima belas menit lagi saat aku sudah melahap ikan itu, gerutu kucing itu. Perutnya sudah sangat lapar, sudah meronta-ronta minta diisi. Kini, usahanya untuk menenangkan cacing dalam perutnya itu gagal total. Tidak mungkin ia makan ikan itu saat mata Raja tak lepas mengawasinya. Pria itu berjalan ke arah Hitam seraya mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk kering. Pria itu melemparkan handuk itu sembarangan, lalu duduk di atas kasur, di dekat Hitam. “Kamu mau ke mana? Jangan berkeliaran sampai kakimu benar-benar sembuh,” ucap Raja seraya mengusap punggung Hitam. Pria itu tak terlihat takut atau ragu lagi. Bahkan Raja tampak tersenyum ramah kepada Hitam. Ini lelaki kesambet atau kena apa, ya? Tiba-tiba saja ramah sekali. Dia juga tampak tak takut padaku. Wah ada yang tidak beres, apakah matahari terbit dari barat? Eits, tunggu dulu. Kakiku? Kenapa kakiku rasanya aneh sekali? Hitam refleks saja melihat kaki belakangnya yang ternyata ditahan dengan menggunakan sebuah kayu atau entah apa. Rupanya perbuatan wanita gendut itu benar-benar mencedarainya. Tiba-tiba Hitam dibuat terkejut saat Raja mengangkat tubuhnya, membuat mereka kini berhadapan. Jarak di antara keduanya juga sangat dekat. Hitam dapat melihat ketampanan yang semakin maksimal di wajah Raja. Beberapa helai rambut basah pria itu yang terjuntai ke depan, meneteskan beberapa titik air yang membasahi dahinya. Membuat pria itu semakin terlihat segar dan seksi di mata Hitam. Apakah yang terjadi padaku? Kenapa wajahku rasanya panas sekali hanya karena bertatapan mata dengannya? Dan pikiranku ini? Apa benar, aku ini kucing genit? Hingga aku bisa berpikiran seperti ini? Rasanya Hitam ingin sekali berlari sejauh mungkin. Ia malu dengan pemikirannya sendiri. “Hei! Kamu dengar kan perkataanku?” tanya Raja lagi karena pria itu melihat ekspresi aneh Hitam. Hitam salah tingkah, ia lantas memilih menundukkan kepala. Ia takut akan semakin salah tingkah jika terus dipandang seperti itu. Namun sialnya, justru kini pemandangan perut Raja yang begitu menggiurkan tersuguh dengan begitu indahnya, semakin mengganggu pikiran kucing itu. Pria yang baru saja mandi itu hanya mengenakan sehelai handuk putih untuk menutup bagian bawah tubuhnya. Hingga bagian perut ke atas terekspos dan bisa Hitam lihat dengan leluasa. Otot d**a yang tampak kokoh, susunan otot perut yang begitu sempurna. Ah, rasanya bentuk tubuh pria itu lebih menggiurkan daripada ikan di atas meja. Hitam benar-benar tergoda! Agghhh! Rasanya aku bisa gila. Tubuhnya semakin panas, dadanya berdebar kencang. Perasaan Hitam jadi tidak karuan. Ia tidak bisa lagi berlama-lama, berdekatan dengan pria itu. Ini benar-benar bahaya! Hitam meronta, melepaskan diri dari tangan Raja. Setelah berhasil, ia lari tunggang langgang dari kamar Raja dengan menggunakan kakinya yang masih pincang. Hitam memaksakan diri, daripada ia pingsan karena salah tingkah. “Hei, hei. Kenapa Kamu lari?" teriak Raja memanggil Hitam. "Apa aku menakutinya, ya? Perasaan tadi aku bicara dengan suara perlahan ....” Raja mengusap tengkuknya. Ia bingung dengan sikap Hitam. Jika dulu Raja yang berlari menghindar karena ketakutan, kenapa sekarang jadi Hitam yang menghindari Raja? "Ah, biarlah. Lebih baik aku bersiap, ada rapat penting pagi ini. Nanti sepulang kerja aku akan menemui Hitam lagi. Lagipula kakinya kan terluka, sejauh mana sih dia bisa melarikan diri? Aku juga sudah memperketat penjagaan," ucap Raja seraya memakai pakaiannya. Ia harus bersiap ke kantor karena ada meeting penting pagi itu. *** Ini tidak bisa dibiarkan, sungguh tidak bisa. Mungkin dadaku akan meledak jika terus berdekatan dengannya. Ah, dasar kucing gila! Kenapa jadi begini? Atau karena cedera ini ya, aku jadi aneh? batin Hitam seraya terus berjalan. Tanpa sadar kucing itu berjalan di antara tanaman-tanaman. Ia bahkan tak peduli saat satu dua daun mengenai wajahnya. Sementara itu .... Boni tampak melamun di halaman rumah, pria itu menyangga dagunya dengan tangan. Tatapannya kosong, melihat ke arah tanaman bunga-bunga yang tumbuh subur di halaman rumah belakang. Akan tetapi lamunan pria itu terhenti kala ia melihat ada sesuatu yang bergerak-gerak di antara rerumpunan bunga krisan. Krosak krosak. Dada pria itu berdegup kencang. Tangannya sedikit gemetar. Boni memasang sikap waspada, siap menghadapi jika ada musuh yang menyerang. Pria itu memasang kuda-kuda dengan sebuah pemukul kasti di tangan. Aku tidak boleh takut. Aku harus berani, batin pria itu. "Meong ...." "Hah ....." Pemukul bola kasti di tangan Boni terlepas. Pria itu bernapas lega saat melihat Hitam yang muncul dari balik pohon bunga krisan. "Hitam, akhirnya Kamu kembali lagi." Boni langsung membawa Hitam ke dalam pelukannya. Lalu, pria itu tanpa segan menciumi pucuk kepala Hitam berkali-kali. Boni tampak bahagia sekali melihat Hitam dalam keadaan sehat. "Kamu ke mana saja, heh? Mau membuatku mati jantungan karena mengkhawatirkanmu? Iya?" tanya Boni seraya mengangkat tubuh Hitam seperti yang Raja lakukan tadi. Hitam jadi bisa melihat wajah Boni dari dekat. Pria itu lumayan tampan, tak kalah dari Raja. Akan tetapi, tak ada perasaan aneh yang mengusik hati Hitam seperti saat Hitam bertatapan dengan Raja dari dekat. Berdekatan dengan Boni, sangat terasa berbeda saat ia berdekatan dengan Raja. Arghh! Aku rasa memang ada yang salah dengan otak dan dadaku. Bersama Boni saja aku tidak merasakan apa pun. Kenapa tadi aku merasakan perasaan yang tidak karuan saat bersama tuan Raja? Rasanya panas dan seolah aku akan meledak tadi, batin Hitam. Kring kring. Telepon Boni berbunyi, pria itu lantas meletakkan Hitam di atas pangkuannya. Satu tangan pria itu, memegangi tubuh Hitam agar kucing itu tidak lari lagi. Sementara satunya ia gunakan untuk mengangkat telepon. "Iya, Tuan. Dengan Boni di sini," sapa Boni dengan tegas dan penuh wibawa. Bon, apa Hitam ada bersamamu? tanya Raja di seberang sana. "Benar, Tuan. Dia bersama saya," jawab Boni. Baguslah, jaga dia baik-baik. Ah, ya, setelah setengah jam, bawa dia ke rumah utama. Eh, bukan. Maksudnya bawa dia ke dapur. Beri ia makan makanan yang pelayan siapkan, ucap Raja. "Tapi, Tuan. Hitam sudah punya sereal lezat untuk dia makan," jawab Boni. Berhenti beri makan dia dengan makanan seperti itu. Sepertinya Hitam tak menyukainya. Mulai saat ini, seekor ikan akan disiapkan khusus untuk Hitam. Jadi jangan lagi beri dia makan sereal itu, perintah Raja. "Baik, Tuan," jawab Boni sebelum akhirnya Raja mengakhiri panggilan secara sepihak. "Bagaimana bisa Tuan mengetahui bahwa Hitam tak suka sereal yang aku belikan? Ah, aneh." Boni tampak berpikir. Sebentar kemudian, ekspresi pemuda itu kembali seperti semula. "Wah, beruntungnya Kamu. Mulai hari ini dan seterusnya Kamu akan makan makanan yang sangat Kamu sukai itu. Tuan Raja memberimu seekor ikan di jam makanmu. Hm, pasti Kamu sangat senang, kan? Iya kan?" Boni kembali mengangkat tubuh Hitam lalu menggoyang-goyangkan sesuka hatinya. Wah, benarkah? Ayo bawa aku ke sana. Aku hampir mati karena kelaparan, batin Hitam merasa senang saat membayangkan bagaimana lahapnya ia memakan ikan itu. Boni terus memainkan tubuh Hitam seolah kucing itu adalah mainan. Hitam menghiraukan pria itu, di dalam kepalanya kini dipenuhi bayangan-bayangan lezat ikan goreng yang gurih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD