BAB 79

1127 Words
Kucing itu makan dengan begitu lahap. Dalam beberapa menit saja, satu ekor ikan gemuk yang Raja siapkan untuknya telah habis tak bersisa masuk ke dalam perutnya. Boni yang melihat cara makan Hitam pun jadi terheran-heran. Seolah kucing itu belum makan selama seratus tahun. Sangat berbeda dengan saat ia memberikan sereal kucing untuk Hitam. Sungguh, bagi Boni kucing itu sangat berbeda dengan kucing yang lainnya. “Memang, Kamu ini ya? Jadi Kamu benar-benar tidak mau makan sereal, ya? Kamu hanya suka ikan seperti ini? Apa karena Kamu berasal dari hutan?" tanya Boni seraya mengusap punggung Hitam yang halus dan lembut. Tentu saja, siapa yang mau makan makanan seperti itu. Makanya jangan lagi paksa aku untuk makan makanan membosankan seperti itu, jawab Hitam yang tak mungkin terdengar oleh Boni. “Kamu beruntung, disayangi oleh tuan. Sebelumnya, Tuan bahkan tidak mengizinkan seekor kucing pun menginjakkan kaki di rumah ini,” cerita Boni tiba-tiba. Kenapa? Apa yang salah dengan kucing? Kenapa tuan Raja sepertinya sangat tidak suka dengan bangsa kami? gumam Hitam bertanya. Tentu saja, di telinga Boni hanya terdengar suara eongan kucing itu saja. Boni seperti paham, bahwa Hitam memintanya bercerita. Akan tetapi, pria itu tampak meragu untuk bercerita lebih banyak. “Ah, sudahlah. Kenapa aku jadi membahasnya. Bisa dipotong lidahku jika membicarakan hal itu,” ucap Boni dengan suara lirih. Ayolah, ceritakan padaku. Tidak ada siapa-siapa di sini. Tuan dan Leon sudah pergi bekerja, bukan? Ayo, Boni. Katakan kisah itu, pinta Hitam penuh harap. Ia sungguh penasaran. Akan tetapi, sangat mustahil pria itu mendengar suaranya. “Baiklah. Habiskan makananmu, lalu kita kembali ke rumah belakang,” ajak Boni mengalihkan pembicaraan. Huh, bikin orang penasaran saja, ucap Hitam kesal. Rasanya Hitam ingin memukul kepala Boni yang membuatnya penasaran. “Siapa yang bilang dia boleh ke rumah belakang?” Sebuah suara mengejutkan Boni. Raja yang seharusnya sudah pergi ke kantor, ternyata masih ada di rumah ini. “Eh, Tuan.” Boni berdiri dari posisi jongkoknya lalu membungkuk sedikit pertanda hormat pada majikannya itu. “Mulai hari ini, dia akan tinggal bersamaku di rumah ini. Kamu tidak perlu lagi kerepotan menjaganya,” ucap Raja. Mata Boni mengerjap tak percaya, apa yang barusan ia dengar seperti mimpi. Raja dan kucing seperti minyak dan air. Namun kali ini, sepertinya minyak dan air pun telah berubah sifat hingga berkemungkinan bisa bersatu. Raja tiba-tiba saja ingin merawat Hitam. “Kenapa Kamu menetapku seperti itu? Apakah ada yang aneh dengan penampilanku hingga Kamu memandangku tanpa berkedip seperti itu?” tanya Raja. “Ah, maafkan saya, Tuan. Saya hanya sedikit terkejut karena Tuan masih di rumah pada jam seperti ini,” ucap Boni. “Ehem, itu ... urusanku,” ucap Raja dengan wajah yang memerah. “Baiklah, aku bawa kucing ini.” Raja mengangkat Hitam tanpa ragu, pria itu sama sekali tidak takut jika bulu halus kucing itu akan mengotori jas hitamnya. Lalu, Raja membawa pergi kucing itu, membuat Boni terbengong-bengong karenanya. “Jadi Tuan bukan hanya menerima kehadiran Hitam, beliau bahkan tak takut lagi pada kucing. Beliau yang biasanya gemetar saat melihat kucing, kini dengan santainya mengangkat Hitam ke dalam pelukannya?” Boni kesulitan untuk mempercayai apa yang baru saja ia lihat dan ia alami. Setengah jam yang lalu. Raja meletakkan ponselnya di atas nakas dengan perasaan gembira. Entah mengapa, hatinya berbunga setiap kali ia mengingat si Hitam. Raja bahkan membayangkan bagaimana senang dan lahapnya kucing itu memakan ikan darinya. Setelah beberapa menit ia tersenyum-senyum sendirian, pria itu tersadar jika ia harus bergegas pergi ke kantor, ada meeting pagi ini. Pasti para karyawannya sudah menunggu. Ia segera memakai baju kerja dan pergi ke kantor. Sepanjang perjalanan, Raja terus teringat pada Hitam. Ia memikirkan apakah para pelayannya melayani kucing itu dengan baik atau tidak. Membuat Raja jadi gelisah karenanya. “Pak, putar balik. Ada sesuatu barang yang tertinggal di rumah,” ucap Raja tiba-tiba. Ia tidak bisa jika belum melihat Hitam baik-baik saja. “Baik, Tuan.” Sopir pun segera memutar arah kembali ke rumah. “Tuan, semua sudah saya bawa. Saya sudah pastikan tidak ada yang ketinggalan,” ucap Leon keheranan. Leon penasaran, apa yang membuat Raja meminta putar arah padahal mereka hampir sampai di kantor. Padahal setahu Leon, bagi Raja waktu adalah uang. Pria itu bisa saja meminta anak buahnya membawakan barang yang ia butuhkan ke kantor dan tidak akan mau kembali ke rumah hanya gara-gara barang yang ketinggalan. “Sudah, jangan banyak tanya. Ikuti saja semua perintahku,” ucap Raja cuek. Pria itu memilih memalingkan wajahnya dan menatap ke arah luar jendela. Leon tidak dapat berkutik jika Raja sudah berkata demikian. Entah hal urgent apa yang membuat pria itu bersikap seaneh itu. Dua puluh menit kemudian, mereka telah sampai di kediaman William. Raja segera keluar dari mobil tanpa menunggu Leon membukakan pintu untuknya. Ini adalah keanehan yang kedua bagi Leon. Leon pun, ikut bergegas keluar dari mobil. Ingin mengawal majikannya. Akan tetapi apa yang Raja perintahkan kepadanya membuat Leon semakin linglung. “Leon, tunggu saja di mobil. Tak perlu ikut masuk, simpan saja tenagamu untuk presentasi,” ucap Raja seraya berlari memasuki gerbang. Ini adalah keanehan yang ketiga. “Apakah sesuatu telah terjadi kepadanya?” Leon sungguh bingung. Biasanya pria itu tidak akan pernah lepas darinya. Di mana ada Raja, di situ ada Leon. “Ah, entahlah. Aku jadi bingung sendiri. Daripada nanti mood-nya memburuk, lebih baik aku turuti saja kemauannya.” Pria itu kembali ke dalam mobil dan dengan tenang menunggu majikannya. Sementara itu .... Hitam kebingungan saat Raja menggendongnya dan entah akan membawanya ke mana. Sungguh, ia merasa sikap pria itu berubah seratus delapan puluh persen sejak kejadian semalam. “Kamu ikut aku ke kantor, ya? Sepertinya akau tidak akan bisa bekerja dengan tenang jika Kamu tak ada. Aneh, kan? Aku juga merasa aneh. Tapi inilah kenyataannya. Jadi daripada nanti aku terus kepikiran, aku bawa saja Kamu ke kantor,” ucap Raja. Kantor? Seperti apakah tempat itu? Kenapa Tuan Raja tiba-tiba ingin mengajakku? Hitam jadi merasa penasaran dengan tempat yang Raja maksud. Leon yang berada di dalam mobil sangat terkejut melihat Raja yang datang seraya menggendong Hitam. Jadi, barang yang ketinggalan adalah kucing itu? Leon hampir tidak bisa mempercayainya. Tapi masa iya, Tuan mau bawa kucing ke kantor? “Tuan apa yang terjadi padamu hingga semua berubah dengan drastis seperti ini?” gumam Leon tanpa sadar. “Leon, bukakan pintu untukku! Sampai kapan Kamu hanya mau memandangiku saja seperti itu?” Suara Raja membuyarkan angan Leon. Pria itu segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Raja yang menggendong Hitam. Apa? Aku akan menaiki benda yang bergerak cepat ini? Apakah aman? Apakah tidak apa-apa? tanya Hitam pada dirinya sendiri karena ketakutan tetapi juga penasaran. Begitu pintu dibukakan oleh Leon, Raja masuk ke dalam mobil dan memangku Hitam. Setelah menutup pintu, Leon pun segera naik dari pintu samping. Mobil pun kembali melaju menuju kantor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD