“Aku, seorang Hani yang cantik jelita suruh jaga kucing? Euh ... nggak elit banget! Sia-sia saja aku merias diriku secantik ini. Tuan Raja bahkan tidak mau melirikku barang sedikit pun dan sekarang, aku harus menjaga binatang ini,” gerutu Hani setelah Raja dan Leon memasuki ruang rapat. Wanita itu memanyunkan bibir merahnya karena kesal. Demi apa pun, ia tidak menyukai hewan.
“Untung aja pemilikmu itu ganteng, kaya pula. Kalau tidak, ogah aku jagain kucing kampung sepertimu. Kenapa sih, selera Tuan Raja rendah banget? Kan lebih mendingan jika dia melihara kucing Ashera atau Savannah atau apa gitu. Ini kucing kampung yang tidak ada menariknya sedikit pun yang dibawa-bawa ke kantor,” ejek Hani seolah mengajak bicara Hitam.
Hei, siapa juga yang mau dijagain wanita bermuka dua sepertimu. Aku ini lebih istimewa dibandingkan kucing-kucing mahal yang Kamu sebutkan tadi. Tahu tidak? Karena aku bisa memahami bahasa kalian. Huh, tadi saja ramah sekali saat Tuan ada, sekarang Kamu lebih mirip seperti mak lampir yang aku lihat di televisi. Rupanya, Kamu hanya mau menarik simpati tuanku, ya. Untung saja, Tuan Raja sepertinya tidak tertarik sedikit pun padamu.” Hitam mengejek wanita itu.
“Meong meong meong.”
“Hei! Kamu kenapa? Seolah paham saja dengan apa yang aku katakan. Ingat jangan berani lari ke mana-mana. Awas saja! Aku akan memberimu pelajaran kalau sampai Kamu membuat masalah,” ancam Hani.
Ye, memang aku paham dengan apa yang Kamu katakan. Andai saja, aku bisa berbicara, aku sudah melaporkanmu pada Tuan Raja. Biar kamu tahu rasa, ucap Hitam.
“Diam di sini sampai rapat selesai. Jangan buat ulah atau aku akan mengikatmu,” ancam wanita itu lagi.
Hani meletakkan Hitam di kursi kosong sebelahnya. Lalu melanjutkan kegiatannya yang sempat terganggu tadi. Ia merasa bahwa ada yang salah dengan riasannya hingga Raja tak tertarik padanya. Kini, saatnya bagi dirinya membenahi penampilan.
“Kenapa sih, susah sekali menarik perhatian tuan Raja? Padahal kekasihku dulu, semua pria di kantor ini bertekuk lutut di hadapanku. Semua orang mengakui kecantikanku. Tapi entah mengapa susah sekali menarik perhatian tuan Raja. Seolah dia tidak pernah tertarik dengan wanita,” gumam wanita itu lirih seraya melihat ke arah cermin dan memoleskan lipstik yang lebih tebal.
Hitam mendengarkan ucapan Hani dengan sungguh-sungguh. Kucing itu hampir tertawa melihat keputus asaan wanita di hadapannya itu. Akan tetapi ia membenarkan ucapan Hani, bahwa Raja adalah pria yang sangat sulit untuk didekati. Dirinya sudah membuktikan, jangankan manusia, pria itu tak membiarkan kucing seperti dirinya mendekat. Yang Hitam lihat, Leon adalah satu-satunya orang yang bisa menyentuh Raja.
“Bagus! Tetaplah di situ dengan tenang.” Hani sangat senang melihat Hitam sangat penurut dan tidak bergerak ke mana-mana.
“Ternyata Kamu benar-benar kucing yang baik dan pintar. Baguslah, setidaknya Kamu tidak akan menyusahkanku,” ucap Hani bahagia.
Hitam menuruti perkataan Hani yang memintanya tetap diam. Akan tetapi, lama-kelamaan ia merasa bosan karena ia tidak bisa ke mana-mana. Ia berpikir jika lebih baik di rumah, ia bisa berkeliaran ke mana saja. Ia sangat bosan, hingga waktu terasa berlalu dengan lambat. Apalagi saat rapat Raja dan Leon tak kunjung berakhir juga dan ia diabaikan oleh Hani. Hitam merasa sangat kesepian.
Hitam melirik wanita itu, entah berapa lama waktu berlalu. Wanita itu masih sibuk dengan wajahnya. Masih mencorat-coret dengan segala warna yang ada di palet alat riasnya.
Entah bagaimana bisa wanita itu tidak bosan atau lelah melakukan hal yang sama sejak tadi. Apakah ia tidak muak lama-lama melihat wajahnya yang penuh riasan itu? ucap Hitam yang dilanda kebosanan hingga rasanya ia sangat mengantuk.
Tiba-tiba saja, Hitam mempunyai ide cemerlang. Ia akan pergi berkeliling secara diam-diam dan akan segera kembali sebelum rapat berakhir. Sungguh, ide yang sangat cemerlang. Rasa kantuknya pun menghilang dengan cepat, saat ia membayangkan betapa menyenangkannya berkeliling kantor sendirian. Ia juga ingin menikmati rasanya naik lift sendirian.
Maafkan aku, Nona. Meski Kamu telah memujiku, menyebut aku kucing penurut, kucing pintar atau apalah itu, tapi tetap saja, aku tidak tahan berlama-lama duduk di sini memandangimu melukis wajah. Hitam terkikik geli.
Perlahan, tanpa suara, kucing itu turun dari kursi tempat ia duduk. Ia memasang sikap waspada, terus mengawasi Hani, memastikan wanita itu tak tahu perihal kepergiannya. karena ia tak ingin wanita itu menggagalkan rencananya untuk berkeliling.
Fyuhhh! Hitam bernapas lega saat ia berhasil mendarat di lantai. Hitam kembali mengawasi situasi, lalu dengan mengendap-endap tanpa menimbulkan suara ia segera kabur dari tempat itu, dari pengawasan wanita itu.
***
Fyuhhh, akhirnya aku bisa terbebas dari mak lampir itu. bagaimana ya, reaksinya nanti saat tahu aku sudah tidak ada di sampingnya? Hihi. Hitam tertawa membayangkan wajah Hani yang panik karena ia pergi.
Biarkan saja dia panik. Tuan sudah bilang untuk mengawasiku, kan? Biar dia tahu rasa jika Tuan tahu aku tidak ada. Harusnya dia menjagaku, memastikan aku tetap di sana. Kenapa dia malah sibuk sendirian dan mengabaikanku? Harusnya dia belikan camilan kek, atau gimana gitu, caranya menyenangkan aku, ucap Hitam seraya berjalan menyusuri koridor kantor.
Wah, luas juga ya kantor milik tuan Raja. Entah berapa banyak kekayaan yang ia miliki. Pantas saja, setiap keinginannya akan terpenuhi hanya dengan menjentikkan jari. Rupanya ia memang benar-benar kaya, gumam Hitam sendirian.
Mari kita cari ruangan kotak yang dapat bergerak itu dan menaikinya. Pasti menyenangkan menapakkan kaki di lantai besi itu, ucap Hitam.
Hitam bergegas mencari di mana lift berada. Ia ingin sekali naik lift tanpa digendong. Akan tetapi, lama-kelamaan kucing itu merasa bingung karena ia merasa melewati tempat yang sama sejak tadi. Lorong yang panjang, puluhan pintu yang berjajar dengan bentuk, ukuran dan warna yang sama. Bahkan cat tembok pun sama, putih semua. Membuat Hitam jadi pusing.
Aduh, aku di mana ini? Apa aku tersesat? gerutu Hitam.
Akhirnya Hitam tetap berjalan menyusuri koridor. Sesekali ia berpapasan dengan pekerja Raja dan mereka menatap Hitam dengan pandangan yang aneh. Namun, kucing itu tidak mau peduli. Ia tetap berjalan mencari kotak berjalan yang ia maksud.
Saat berjalan, Hitam melewati jendela besar yang memungkinkannya melihat keluar, kucing itu langsung berhenti di sana. Hitam berdiri di tepi jendela, lalu menatap pemandangan di bawah sana. Tiba-tiba saja, kaki Hitam gemetar saat ia menyadari bahwa ia sekarang ada di tempat yang sangat tinggi.
Jadi ini rasanya berada di ketinggian. Ternyata rasanya cukup mengerikan. Bagaimana kalau aku terjatuh dari sini? Mungkin aku sudah tidak berbentuk lagi saat sampai di bawah sana, ucap Hitam. Terasa semakin ngeri saat ia membayangkannya.
Tiba-tiba saja, kepala Hitam jadi pusing. Tubuhnya semakin gemetar.
Ya ampun aku ini kenapa? Tubuh Hitam lemas, kucing itu langsung tergolek di lantai.
"Hei, Kamu kenapa? Kamu sakit? Kasihan sekali." Setengah tak sadar, Hitam merasa bahwa seorang wanita cantik sedang mengangkat tubuhnya.
Wanita itu tampak menoleh ke sana-kemari, melihat siapa pemilik kucing yang sekarang berada di dalam pelukannya. "Bagaimana bisa ada kucing di perusahaan? Aneh sekali. Lalu siapa pemiliknya?"