BAB 82

1338 Words
"Nah sudah selesai. Sepertinya penampilanku saat ini sudah lebih cantik." Wanita itu menatap cermin, melihat wajahnya sendiri untuk yang ke sekian kalinya. Ia bangga dengan kemampuan tangannya yang telah membuat ia semakin cantik. Hani lantas menyimpan cermin, juga peralatan riasnya ke dalam tasnya sebelum Raja dan Leon memergokinya sedang merias. "Kucing pintar. Tetap tenang dan tidak re ...." Wajah wanita itu menjadi pucat pasi saat melihat kursi di sebelahnya kosong dan kucing itu tidak ada di sana. "Hitam, Hitam, Kamu ke mana?" Refleks saja Hani berdiri dan panik. Wanita itu melihat ke kanan dan ke kiri, memeriksa sekelilingnya, siapa tahu Hitam sedang bermain di sana. Akan tetapi, nihil. Hitam tak ada di mana pun. "Mampus! Aku harus segera mencarinya sebelum Tuan Raja keluar dari ruang rapat," ucap Hani berlari meninggalkan meja kerjanya dan mencari keberadaan Hitam. Wanita itu memeriksa banyak tempat, ia bahkan tak segan bertanya pada para karyawan lainnya yang mungkin saja melihat Hitam. Namun, usahanya tak membuahkan hasil. Hani tidak menemukan keberadaan Hitam di mana pun. Wanita itu mulai panik, pekerjaannya sedang dipertaruhkan, atau mungkin ia harus menanggung hukuman lebih dari pemecatan. "Bagaimana ini?" Hani hampir menangis karena putus asa. "Atau mungkin Hitam telah kembali? Bisa saja dia telah kembali ke mejaku saat aku mencarinya, kan?" Wanita itu patah arah, menghentikan pencarian. Dalam hati, wanita itu berharap agar Hitam telah kembali. Namun, hanya kekecewaan yang Hani dapatkan. Hitam tidak kembali ke meja kerjanya. Itu artinya ia harus bersiap menjelaskan pada Raja dan Leon. Bahkan untuk kemungkinan terburuknya ia harus rela jika sampai dipecat. "Bagaimana ini?" Hani menjambak rambut pirangnya hingga acak-acakan. "Harusnya aku benar-benar mengikatnya saja tadi. Aku terlalu meremehkannya karena dia menurut. Sekarang semua jadi kacau. Kucing itu tidak ada di mana-mana bak hilang ditelan bumi." Kriettt. Jantung Hani hampir melompat dari tempatnya saat suara derit pintu ruang rapat terbuka. Itu artinya, Raja dan Leon akan menghampirinya dan menanyakan kucing itu. Dalam kegugupannya, Hani mempersiapkan jawaban yang akan ia katakan jika dua pria itu bertanya. "Bagaimana ini?" Tubuh Hani gemetar. Wanita itu sampai menggigit bibir bawahnya karena gugup dan takut, hingga bibir Hani hampir berdarah karenanya. "Mana Hitam, Hani?" Sungguh, seolah tidak ada hal yang lain yang Raja pikirkan. Ia langsung menghampiri Hani dan mencari Hitam. Pria itu tampak celingukan mencari keberadaan kucingnya. Bibir Hani tertutup rapat, bingung harus menjawab apa. Raja mulai curiga saat melihat wajah Hani yang pucat pasi. Juga Hitam yang tidak ada di sana. Pikiran pria itu mulai dipenuhi dengan pikiran buruk. "Hani! Jawab pertanyaanku! Mana Hitam?" tanya Raja setengah membentak. "Itu ... anu, Tuan. Itu ...." Ucapan Hani yang terdengar tidak jelas, membuat Raja marah. "Anu apa? Jawab yang jelas, Hani. Mana Hitam?" tanya Raja. Hani memejamkan mata karena takut, lalu wanita itu menjawab dengan jujur. "Hitam ... kucing itu hilang, Tuan." Brak!! “Apa? Hilang, Kamu bilang?” Raja menggebrak meja respsionis sekuat tenaga saat tahu Hitam menghilang. Hani tersentak, terkejut karenanya. “Maafkan saya, Tuan.” Mata Hani terasa panas, sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tidak menetes. Antara takut, juga merasa bersalah. “Nah, nah. Apa tadi aku bilang. Aku sudah memeringatkanmu agar menjaga Hitam dengan baik loh,” ucap Leon ikut mengompori. Menambah panas bara emosi di d**a Raja yang hampir meledak. “Tadi ... tadi dia duduk anteng di sebelah saya, kok. Tapi tiba-tiba saja dia menghilang,” ucap Hani sambil terisak. Wanita itu tak dapat lagi membendung air matanya lagi. “Tidak mungkin kan dia tiba-tiba menghilang? Semua pasti salahmu karena tidak memperhatikan dia,” ucap Leon terus saja menyalahkan Hani. Rasanya Hani ingin sekali membungkam mulut Leon yang semakin memperparah keadaan. Ia sudah sangat ketakutan saat Raja menuntut jawaban, kini Leon semakin memojokkan dirinya. “Huh! Percuma saja aku memberikan pekerjaan penting ini padamu. Ternyata Kamu meremehkanku dan menganggap perintah dariku hanya sebuah gurauan, ya? Bisa-bisanya kucingku hilang." Kemarahan Raja makin meledak-ledak. “Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar minta maaf,” ucap Hani dengan tubuh gemetar. Bahkan riasan gadis itu sudah tak berbentuk lagi, belepotan ke mana-mana karena terkena air mata. “Mudah sekali Kamu minta maaf, Hani. Tadi Kamu bilang akan menjaga Hitam dengan sepenuh hati, kini apa nyatanya? Menjaga seekor kucing saja Kamu tidak becus. Lalu dengan Kamu minta maaf, Hitam akan kembali lagi, begitu?” Raja masih belum menurunkan nada bicara sedikit pun. “Saya akan menggantinya, Tuan. Saya akan mencari kucing yang serupa dengan kucing Tuan yang hilang,” janji Hani. “Hah? Apa aku tidak salah dengar? Kamu pikir Hitam bisa digantikan dengan kucing lain, begitu? Kamu salah besar! Kucingku itu tidak akan bisa digantikan dengan kucing yang lainnya. Aku cuma mau Hitam kembali, aku tidak mau kucing mana pun selain Hitam,” ucap raja penuh penekanan. “Tapi, Tuan ... saya sudah mencari ke seluruh gedung, tapi kucing itu tidak ada di mana pun, Tuan. Apa yang harus saya lakukan saat saya tidak bisa menemukannya? Lagian itu hanya kucing kampung biasa. Kenapa Tuan sampai sepeduli ini? Anda bisa membeli kucing yang lebih bagus dan lebih mahal.” Hani menangis tersedu, bahkan sampai terduduk di lantai. Kini mereka bertiga menjadi tontonan para pekerja kantor yang lainnya. Hani sangat malu, sementara raja tidak mau peduli. Pria itu hanya menginginkan agar kucingnya bisa kembali. “Kamu!” Raja marah karena Hani membandingkan Hitam dengan kucing lainnya secara materil. Leon lantas bergerak cepat membubarkan kerumunan. Ia meminta karyawan kembali bekerja dan tak lupa memberikan sedikit ancaman agar mereka menurut. Akhirnya, keramaian pun bubar. “Tuan, tenanglah dulu.” Pria itu berusaha menenangkan majikannya. Leon merogoh ponsel dari saku celana, lalu menelepon seseorang. “Hitam hilang. Cari ke seluruh penjuru lantai sebelas. Jika tidak ketemu juga, kalian bisa menyisir setiap lantai,” ucap Leon memberikan perintah. “Tuan Raja sabar dulu. Saya sudah menghubungi yang lainnya. Saya yakin sebentar lagi Hitam akan segera ditemukan,” bujuk Leon. “Bagaimana bisa ketemu sementara kantor ini sangat luas. Aku takut Hitam akan terluka lagi ....”Raja jadi cemas saat mengingat kejadian tempo hari. “Tidak, Tuan. Hitam tidak akan apa-apa. Tempat ini aman. Saya juga sudah memberikan perintah kepada petugas sekuriti sekiranya mereka melihat Hitam. Saya yakin, sebentar lagi Hitam akan ditemukan,” ucap Leon. “Meong ....” Suara lemah eongan kucing terdengar bertepatan saat Leon menyelesaikan ucapannya. Semua orang mengangkat kepala, menoleh ke sumber suara. Semua terkejut dan bahagia melihat Hitam ditemukan. Rupanya Hitam telah kembali dengan seorang wanita cantik yang menggendognya. “Hitam!” pekik Raja bahagia. Senyum di bibir pria itu terbit, ia sangat bahagia saat melihat Hitam telah kembali dan tidak menghilang. Tanpa memperhatikan sekitar, Raja langsung merebut Hitam dari tangan wanita itu, lalu memeluknya. “Oh, jadi ini kucing Tuan, ya? Saya menemukannya di dekat tangga dalam kondisi ketakutan,” ucap wanita itu. Raja mengabaikan wanita yang telah menemukan Hitam. Seolah wanita yang telah mengembalikan Hitam itu tidak ada. Pria itu sibuk melepas rindu seolah telah lama tidak bertemu. Raja memeluk Hitam erat-erat seolah tidak akan melepaskan kucing itu lagi. “Terima kasih, Nona atas bantuannya.” Leon maju mewakili raja mengucapkan terima kasih karena Leon tahu Raja akan melupakan sekelilingnya saat bersama Hitam. "Baiklah, sama-sama. Tuan, sepertinya kaki kucing itu terluka. Ia juga sepertinya dalam kondisi yang kurang bagus karena hampir pingsan saat melihat pemandangan di luar sana," ucap wanita itu. "Baik, akan saya perhatikan. Terima kasih atas bantuan Nona. Ah ya, saya Leon." Leon mengulurkan tangan pada wanita itu. "Stella." Wanita itu menjabat tangan Leon dan tersenyum. Leon lantas mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Lalu pria itu memberikannya pada wanita asing tadi. "Nona Stella, ini kartu nama saya. Sebagai ucapan terima kasih saya, Anda bisa menghubungi saya jika memerlukan sesuatu bantuan," ucap Leon. "Baiklah, terima kasih, Tuan." Stella menerima kartu nama Leon dengan ragu-ragu. Sementara arah pandangan wanita itu masih tertuju pada Hitam yang kini dipeluk Raja. Stella sepertinya sangat tertarik dengan kedekatan di antara Raja dan Hitam. "Hani, Kamu dimaafkan. Tetapi, bulan ini Kamu akan mendapatkan hukuman dari kami. Lain kali, lakukan tugasmu dengan baik. "Baik, Tuan. Terima kasih, terima kasih." Hani bernapas lega karen akhirnya Hitam ditemukan dan ia tidak jadi dipecat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD