Wanita itu segera pergi setelah Leon memberikan kartu namanya. Leon menatap kepergian wanita itu dengan sedikit merasa malu dan bersalah. Pasalnya, Raja tidak sekali pun mengucapkan terima kasih pda wanita tersebut. Padahal wanita cantik bernama Stella itu sudah menemukan Hitam untuk pria itu.
Sementara Raja, pria itu terlalu sibuk melepas kerinduan kepada Hitam. Seolah-olah mereka sudah lama tidak bertemu. Padahal, kenyataannya, hanya beberapa jam mereka terpisah karena Raja harus memimpin rapat penting.
Apalagi saat semua karyawan menonton adegan bosnya itu dengan kucing itu. Entah apa yang akan mereka pikirkan tentang Raja. Leon sangat mengkhawatirkan reputasi Raja, tetapi pria itu tampaknya tidak peduli dengan anggapan orang-orang.
“Kamu ke mana saja, hm? Hm?” Entah sudah ke beraapa kalinya, Raja mengecupi kepala Hitam.
Ya ampun. Sebegitu besarkah rasa khawatirnya padaku? Padahal aku hanya berkeliling sebentar. Tapi Tuan Raja panik seperti aku akan meninggalkannya saja, gumam Hitam.
“Lain kali, Kamu tidak boleh berkeliaran seperti tadi. Aku takut Kamu akan kenapa-napa jika bandel begini.” Raja mengajak bicara Hitam dengan sungguh-sungguh. Pria itu mengusap-usap kepala Hitam dengan penuh sayang.
Bisakah berhenti bersikap manis padaku? Jantung ini tidak bisa dikondisikan, woi! gerutu Hitam karena sikap Raja yang berlebihan padanya. Sementara detak jantungnya tidak dapat dikendalikan setiap kali Raja menyentuhnya.
"Tuan ...,” tegur Leon.
“Kenapa?” tanya Raja ketus tanpa mengalihkan pandangannya dari Hitam.
“Sepertinya lebih baik kita kembali ke ruangan kita dulu,” ajak Leon.
“Baiklah.” Raja segera berjalan mendahului Leon dengan menggendong Hitam. Seolah Leon tak ada, pria itu berlalu begitu saja.
“Hmm!” Leon hanya bisa mengelus d**a saat Raja yang selalu berjalan bersama dirinya kini melupakannya. Dalam hati ia merasa sedikit kesal karena posisinya telah digantikan oleh seekor kucing. Di sisi lain, Leon heran. Bagaimana bisa Raja secepat itu dekat dengan Hitam. Jangankan memegang kucing, melihatnya saja dulu Raja selalu histeris.
Leon mengikut di belakang. Ingin sekali ia menutupi wajahnya karena kini mereka menjadi pusat perhatian. Apalagi sebabnya jika bukan karena Raja yang menggendong seekor kucing. Leon juga yakin, apa yang terjadi barusan sudah menjadi bahan gosip seluruh warga kantor.
“Sepertinya kehidupanku yang berliku akan dimulai sejak sekarang,” batin Leon.
Setibanya di ruangan Raja, pria itu langsung mendudukkan diri di sofa dan memainkan si Hitam lagi. Leon sampai geleng-geleng dibuatnya. Di rumah, Raja menghabiskan waktu bersama Hitam, di perusahaan pun ternyata tak ada bedanya.
"Tuan," panggil Leon lagi.
"Ada apa, Leon? Kenapa Kamu terus memanggil aku?" tanya Raja dengan nada kesal.
"Saya harap Tuan mengurangi interaksi dengan Hitam di kantor ini. Saya takut mereka akan memandang Tuan ...."
"Memandang apa? Memandang aku sebagai bos tidak waras? Atau aneh?" tanya Raja marah.
"Bukan begitu, Tuan ...."
"Aku tidak peduli kepada anggapan mereka. Terserah mereka mau menganggap aku gila atau apa. Pada kenyataannya mereka hanya membutuhkan aku karena uang. Benar kan? Mereka berada di perusahaan ini hanya agar mereka dapat uang. Jadi intinya, aku tidak peduli pada mereka yang tidak benar-benar peduli padaku," ucap Raja.
"Baiklah, terserah Tuan saja. Tapi saya harap, Tuan tidak akan membawa Hitam lagi saat kita rapat penting dengan klien penting perusahaan," ucap Leon.
"Kenapa memangnya? Kenapa Kamu melarang-larang aku?" Raja tersinggung.
"Saya hanya tidak ingin kejadian tadi terulang kembali," ucap Leon.
"Kalau begitu, lain kali aku akan membawa Hitam masuk ke ruang rapat," ucap Raja.
Mata Leon membelalak tak percaya. Niatnya untuk membujuk Raja justru membuat pria itu semakin nekat saja. Leon sampai kehabisan kata-kata dibuatnya.
"Kamu main dulu ya, Hitam. Aku harus bekerja." Pria itu meletakkan Hitam di atas sofa.
"Leon pastikan semua pintu dan jendela telah terkunci. Jadi dia tidak pergi lagi," perintah Raja seraya duduk di kursi kebesarannya.
"Sudah, Tuan. Saya sudah memastikan jika pintu dan jendela sudah tertutup dan terkunci," ucap Leon.
"Bagus, kalau begitu bekerjalah," perintah Raja seraya menghidupkan laptopnya.
"Eum ... Tuan. Wanita kemarin mengajak kita bertemu untuk sekedar minum teh. Apa Tuan bersedia datang?" tanya Leon pada Raja yang sedang sibuk menatap layar laptopnya.
"Wanita? Wanita mana, Leon?" tanya Raja kembali. Ia benar-benar tidak paham wanita mana yang asistennya itu maksud.
"Wanita yang sudah menemukan Hitam," jawab Leon.
"Oh ... itu. Kamu saja yang pergi. Berikan hadiah apa pun untuk wanita itu, sebagai ucapan terima kasihku," ucap Raja cuek.
"Tuan, tapi dia sudah berjasa dengan menemukan Hitam. Tidakkah Tuan bisa menemuinya sekali saja? Kemarin Tuan bahkan tidak mengucapkan terima kasih kepadanya," bujuk Leon.
"Kamu sudah mengucapkannya untukku, kan?" tanya Raja, Leon mengangguk.
"Yah, sudah. Sama saja, kan? Kamu tahu sendiri. Aku tidak bisa bertemu dengan makhluk bernama wanita itu," ucap Raja.
"Tuan, dengan Hitam saja Tuan bisa. Padahal sebelumnya Tuan sangat takut. Kenapa dengan wanita tidak?" tanya Leon keceplosan.
"Jangan samakan kucing dengan wanita. Pokoknya aku tidak mau Kamu memaksaku lagi," tegas pria itu.
"Jika Tuan tidak ingin saya terus mengganggu. Mari pergi menemui wanita itu sekali saja. Tuan harus berterima kasih padanya dengan benar. Lagipula, kita bisa mencoba menyembuhkan trauma Anda. Siapa tahu dengan bertemu wanita itu, Anda jadi merasa lebih baik," bujuk Leon tak kenal menyerah.
Raja merasa lelah karena Leon terus mendesaknya. Namun ia tahu jika Leon tidak akan berhenti mengganggu sebelum ia mengiyakan.
"Ya sudah. Iya, aku bersedia. Tapi dengan syarat Kamu harus ikut," ucap Raja.
"Baiklah. Tentu saja saya akan selalu mendampingi Anda. Tapi saya juga punya syarat. Saya tidak ingin Hitam ikut," ucap Leon.
"Kamu ... beraninya!" Raja sangat marah mendengar permintaan Leon yang lancang. Raja tidak akan mungkin terpisahkan dari Hitam.
"Ini demi kebaikan kita. Bagaimana jika Hitam lari lagi saat kita di sana?" tanya Leon.
"Ya sudah, aku tidak ikut. Aku akan beri berapa pun uang pada wanita itu. Tidak perlu aku menemuinya." Raja mulai jengah.
"Ayolah, Tuan. Dia bukan menginginkan hartamu. Ia hanya menginginkan ucapan terima kasih yang tulus darimu," rayu Leon lagi.
Raja memijat kepalanya yang pening. Ia tak menyangka jika Leon akan sekeras itu memaksanya.
"Baiklah, tapi aku mau Hitam tetap ikut. Biar dia menunggu di mobil. Bersama Boni. Biar dia yang menjaga Hitam," ucap Raja pada akhirnya.
"Deal! Besok malam, di kafe Carita jam delapan." Pria itu langsung melenggang pergi ke meja kerjanya setelah Raja mengiyakan. Membuat pria itu geleng-geleng kepala. Ini adalah kali pertama, Leon berani menyuruhnya bahkan terkesan memaksa.
Baiklah, sekali saja. Lagipula ada Leon di sana. Tidak apa-apa, kan? Ya, aku yakin aku bisa mengatasinya. Di kantor saja, aku bisa mengatasi Hani. Sedangkan wanita itu hanya orang asing. Tidak akan sulit, gumam Raja dalam hati.