Pria itu terlihat tampan dengan setelan baju kasual yang ia pakai. Hanya pakaian sederhana yang membalut tubuh atletisnya. Sebuah kardi rajut tebal berwarna krem yang dipadupadankan dengan celana jeans berwarna hitam. Namun, mampu membuat pria itu terlihat semakin memesona. Dialah, El Raja William. Pria yang dikenal dingin penguasa ER grup.
Dengan gayanya yang khas, ia menapakkan kakinya di depan sebuah restoran bergaya modern. Setelah beberapa lama ia berdiam diri di dalam mobilnya dan enggan turun dari sana. Namun akhirnya bujukan demi bujukan yang Leon lakukan berhasil meluluhkan hatinya hingga dia bersedia masuk ke restoran itu.
“Boni! Ingat, jaga dia baik-baik. Jangan sampai kejadian kemarin terulang kembali,” ucap raja memperingatkan Boni lagi sebelum menutup pintu.
Entah berapa kali ia memberi wejangan pada pria bertubuh kekar di mobilnya. Wejangan-wejangan yang pada intinya memiliki maksud sama. Sebenarnya, ia tampak tak rela meninggalkan kucing kesayangannya di dalam mobil bersama Boni. Akan tetapi, janjinya pada Leon untuk tidak membawa Hitam membuatnya terpaksa meninggalkan kucing itu di dalam mobil.
“Iya, Tuan. Saya akan menjaga Hitam baik-baik. Tuan tenang saja,” ucap Boni. Entah berapa kali juga pria itu mengangguk dan mengiyakan.
“Baguslah ... ja ....”
“Tuan!” panggil Leon, memotong kata-kata Raja. Membuat Raja mau tak mau menoleh ke arah pria yang berdiri satu meter darinya itu. Leon menunjuk jam tangannya, memberi kode bahwa Stella sudah menunggu di dalam.
“Ck!” Raja berdecak kesal. Sesungguhnya, ia datang ke tempat itu hanya demi menyenangkan hati asistennya itu. Lebih tepatnya, dipaksa.
“Dadah Hitam.” Raja melambaikan tangan, seolah akan berpisah lama saja. Kali ini pintu mobil benar-benar tertutup.
“Huft! Akhirnya dia pergi juga. Entah sudah berapa kali kalimat itu ia ulang,” gerutu Boni. Ia selalu tegang setiap kali Raja berbicara. Bagi pria itu, Raja lebih menakutkan daripada Leon.
Boni lantas mengangkat tubuh Hitam. Mendekatkan kepala kucing itu di depan wajahnya. “Hei, Hitam yang nakal. Sihir macam apa yang Kamu berikan pada Tuan muda. Hingga sosok yang seperti es batu itu kini melunak. Hm? Kenapa dia bisa menyukaimu padahal dulu dia takut kucing?”
“Ayo, jawab aku. Kamu apakan Tuan muda hingga ia bisa jadi orang yang cerewet seperti itu?” tanya Boni seraya menggerak-gerakkan kaki depan Hitam.
“Aih, andaikan saja Kamu bisa berbicara. Maka Kamu akan jadi orang yang akan selalu mendengarkan keluhanku." Boni meletakkan Hitam kembali di pangkuannya.
"Ada banyak sekali hal yang harus aku pendam sendirian dan tak bisa kukatakan kepada siapa pun,” ucap Boni seraya tersenyum.
Kemudian pria itu memasang wajah serius tanpa senyuman. “Perlu Kamu ketahui, Hitam. Hidup di dunia itu sangat keras dan berat. Jadi Kamu harus siap dengan apa pun yang akan terjadi. Entah hari, ini, esok, lusa dan seterusnya."
Huh, berat apanya? Kerjamu hanya berdiri menjaga rumah Tuan. Selain itu yang Kamu lakukan hanya makan dan tidur. Yang berat itu badanmu, Bodoh! ucap Hitam mengejek Boni.
Boni terus saja mengajak bicara Hitam. Meski hanya pembicaraan sepihak tentunya. Karena Hitam tidak akan pernah mungkin menjawab perkataan maupun pertanyaannya. Namun,tanpa sepengetahuannya, kucing itu paham apa yang diucapkan pria berbadan besar itu. Boni yang cerewet menceritakan banyak hal membuat Hitam tak kebosanan selama menunggu Raja. Setidaknya kucing itu sedikit terhibur dengan sikap hangat pria itu.
***
“Selamat malam Tuan,” sapa wanita itu dengan ramah. Ia mengulurkan tangan pada Leon untuk berjabat tangan.
“Selamat malam, Nona. Terima kasih Anda telah sudi meluangkan waktu untuk datang kemari,” ucap Leon menyambut tangan Stella.
Setelah menyalami Leon, wanita itu mengulurkan tangan kepada Raja, ternyata pria itu mau menyambutnya. Hanya sebentar, karena Raja dengan cepat menarik tangannya kembali. Meski terkesan dingin, Leon lega karena setidaknya Raja yang biasanya menolak sentuhan fisik akhirnya mau berjabat tangan.
“Terima kasih atas undangannya, Tuan. Senang bisa mendapatkan kesempatan bertemu dengan Anda dan Tuan Raja,” ucap Stella.
“Sama-sama, Nona,” jawab Leon dengan senyum ramah.
“Stt, sttt!” Raja mencolek Leon. Pria itu memasang wajah juteknya, juga memelototkan mata. Raja lantas mengirimkan kode agar mereka bicara berdua saja.
“Sebentar ya, Nona.” Leon bangkit dan mengikuti langkah Raja. Leon tahu, Raja pasti marah karena ia berbohong.
“Apa-apaan Kamu!” bentak Raja setelah mereka cukup jauh dari Stella. “Jadi, bukan wanita itu yang mengajak kita bertemu. Tapi Kamu?”
“Bukan, Tuan. Bukan saya, tapi Anda. Saya mengundang dia atas nama Anda. Jadi tolong Anda bersikap ramah kepadanya. Karena Anda adalah pihak pengundang,” ucap Leon tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Kamu berani menjebakku?” tanya Raja seraya memegangi kerah Leon karena marah.
“Sabar, Tuan Muda. Semua ini saya lakukan demi Anda.” Leon melepaskan tangan Raja dari kerahnya dengan perlahan.
“Demi aku? Mungkin demi dirimu sendiri. Kamu suka kan dengan dia, sampai Kamu melakukan hal sejauh ini?” tanya Raja.
“Tidak, Tuan. Anda salah. Justru aku mau wanita itu menjadi jodoh Anda, pendamping hidup Anda,” jawab Leon santai.
“Kamu gila, ingin menjadikan wanita yang baru sekali aku temui sebagai istriku?” tanya Raja masih emosi.
“Maka dari itu, saya mau Anda mengenalnya. Dia kelihatannya lembut dan baik hati. Ditambah lagi, sepertinya dia juga sangat sayang pada Hitam, jadi saya merasa kalau kalian akan serasi. Bagaimana?”
“Kamu gegabah Leon,” ucap Raja kesal.
“Kita coba dulu, Tuan. Siapa tahu Anda cocok dengannya. Saya mohon, jangan menolak sebelum mencoba,” ucap Leon.
“Kamu tahu sendiri, aku tidak bisa berhadapan dengan wanita.”
“Maka dari itu, saya ingin mengubah hal itu. saya ingin membuat Anda lepas dari ketakutan,” ucap Leon.
“Itu bukan hal yang mudah, Leon.”
“Saya sudah mengatakannya semalam. Saya akan mendampingi Anda sampai akhir. Baiklah, sebaiknya kita segera kembali. Tidak enak meninggalkannya sendirian di sana,” ajak Leon.
“Kamu saja yang pergi. Aku tidak mau! Aku mau kembali ke mobil saja,” tolak Raja.
“Saya mohon, Tuan. Pernahkah saya meminta sesuatu dari Tuan? Tidak, kan? Jadi ini adalah permintaan pertama saya, Leon yang selama sepuluh tahun menjadi bayangan Anda ini memohon kepada Anda untuk bertahan malam ini saja,” ucap Leon.
Raja menatap Leon lekat-lekat. Pria yang sudah ia anggap seperti adiknya, meski umur Leon lebih tua darinya itu memang tidak pernah meminta sesuatu darinya. Justru Raja yang selalu bergantung pada pria tersebut.
“Baiklah. Sekali ini saja. Tidak ada yang kedua, ketiga atau seterusnya. Aku tidak ingin lagi Kamu memaksaku menemui wanita mana pun setelah ini,” ucap Raja mengiyakan.
“Terima kasih, Tuan.” Leon sangat bahagia, seolah dirinya saja yang akan berkencan dengan wanita.
“Tapi, jika aku merasa tidak cocok. Jangan pernah memaksaku lagi. Oke?”
“Baik, Tuan. Baik,” jawab Leon.
Tidak apa jika ini akan menjadi satu-satunya kesempatan. Karena saya akan berusaha untuk menyatukan Anda dengan Stella sekuat tenaga saya, Tuan. Saya pastikan Anda dan dia akan dekat. Dia sepertinya gadis yang lembut dan baik hati. Saya merasa dia adalah wanita yang terbaik untuk Anda. Saya hanya ingin Anda bahagia, Tuan, batin pria itu.
Kedua pria itu bergegas kembali ke tempat duduk mereka, di mana Stella telah menunggu. Raja masih memasang wajah datarnya, sementara Leon berusaha tersenyum dan terlihat baik-baik saja.
“Maafkan kami, Nona. ada sedikit hal tentang pekerjaan yang harus kami bicarakan,” ucap Leon.
Gadis berambut coklat dan bermata bulat itu tersenyum lalu berkata dengan ramah. “ Tidak apa-apa, Tuan. Saya paham. Atau mungkin jika memang masih ada hal yang sangat penting untuk Anda berdua bicarakan, maka saya bisa menyingkir sebentar.”
“Ah, tidak perlu. Apa yang ingin saya bicarakan dengan Tuan Arya telah selesai. Eh, apakah Anda sudah memesan makanan?” tanya Leon.
“Belum, Tuan. Saya masih menunggu Anda dan Tuan Raja,” ucap Stella dengan lembut.
“Astaga, maafkan saya karena telah membuat Anda menunggu.”
"Tidak apa-apa, Tuan. Tidak masalah, karena saya juga tidak sedang terburu-buru,” jawab wanita itu seraya tersenyum.