“Astaga, maafkan saya karena telah membuat Anda menunggu,” ucap Leon.
Untuk apa Leon harus meminta maaf untuk hal yang kecil seperti itu. Entah berapa kali juga dia akan terus minta maaf, batin Raja kesal karena Leon yang biasanya dingin seolah merendahkan harga dirinya di hadapan Stella.
“Tidak apa-apa, Tuan. Tidak masalah, karena saya juga tidak sedang terburu-buru,” jawab wanita itu seraya tersenyum.
“Ah, baiklah. Kalau begitu ... silakan, Nona. Pilih saja apa yang Anda inginkan.” Leon berbicara dengan sangat kaku seraya menyerahkan buku menu pada Stella. Maklum saja, ini adalah pertama kalinya bagi dirinya dan Raja makan bersama seorang wanita selain klien atau acara formal lainnya.
“Baiklah.” Stella menerima buku itu lalu membaca daftar menu di restoran mewah itu. setelah berkali-kali membolak-balikkan halaman, wanita itu lalu memesan untuk dirinya. "Kak, saya mau ini dan ini. Lalu minumnya ... lemon tea, saja."
"Baik, Nona. Lainnya?"
“Saya sudah. Tuan berdua?”
“Samakan saja dengan makanan Anda,” ucap Leon.
“Baiklah. Jadinya tiga ya, Kak. Terima kasih.” Stella berbicara dengan suara yang sangat lembut, hingga membuat Leon semakin kagum.
Sementara Raja tidak terlalu peduli. Pria itu justru beberapa kali melihat ke arah mobilnya. Berharap ia akan melihat Hitam di sana. Namun, semua mustahil. Ia sendiri yang meminta Boni menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Jadi, berapa kali pun ia menoleh, kucing itu tidak akan terlihat.
“Ck!" decak pria itu untuk ke sekian kalinya.
"Sepertinya Tuan Raja sangat gelisah. Apakah ada masalah?” tanya Stella saat melihat kecemasan di wajah Raja. Wanita itu juga bisa membaca bahasa tubuh Raja yang tampak sangat tidak nyaman.
“Tidak. Tidak ada,” jawab Raja singkat.
“Oh begitu.”
Diam-diam Leon menyenggol tubuh Raja dengan sikunya. Mengingatkan pria itu pada janjinya saat mereka masih ada di rumah tadi.
“Iya, halo.” Leon mengambil ponsel dari dalam saku celananya lalu mengangkat panggilan telepon.
“Saya permisi sebentar. Ada telepon penting dari keluarga saya. Saya tinggal sebentar ya, Nona,” pamit Leon seraya menjauhkan ponsel dari wajahnya. Stella mengangguk, mengiyakan Lalu pria itu pergi meninggalkan mereka berdua entah ke mana.
'Apa-apaan dia? Keluarga? Bahkan dia tidak punya siapa pun. Hanya aku keluarganya. Lalu keluarga mana yang dia maksud? Aneh! batin Raja. 'Oh ... jadi Kamu mau aku mengucapkan terima kasih padanya. Kamu juga mau memberikan kesempatan pada kami agar lebih dekat? Aku akan berterima kasih, tapi untuk dekat dengannya sepertinya tidak, Leon.
Selepas kepergian Leon, suasana berubah menjadi sangat canggung dan kaku. Di antara keduanya, belum ada yang buka suara. Raja memang enggan untuk mengobrol dengan Stella. Sementara Stella bingung harus membicarakan apa. Wanita itu tampak gugup berhadapan dengan Raja yang dingin seperti es batu.
"Tuan ...."
"Nona!" potong Raja cepat. "Saya mengundang Anda kemari sebagai bentuk ucapan terima kasih saya karena Nona sudah menolong saya menemukan Hitam."
"Sama-sama, Tuan. Saya tidak melakukan hal yang besar. Kebetulan saja saya menemukan kucing itu," ucap Stella.
"Baguslah. Setidaknya saya lega karena saya sudah mengatakan hal yang ingin saya katakan," ucap Raja seraya manggut-manggut.
"Ah ya, Tuan. Bagaimana kabar kucing Anda? Sepertinya kemarin lusa dia terlihat tidak sehat," ucap Stella.
"Eum, dia sudah tidak apa-apa. Dia sekarang sudah sehat," ucap Raja.
"Syukurlah. Saya ikut senang mendengarnya. Saya sempat panik karena dia saat itu tergolek lemas di lantai," cerita Stella.
"Mungkin karena keadaannya memang kurang baik. Tapi tidak apa, sekarang di sudah sehat. Ah ya, Nona. Jika Leon mengatakan apa pun tentang saya, saya harap Nona tidak perlu mendengarkan." Raja tertawa hambar. "Mungkin ini terdengar sangat memalukan, tapi dia mencoba untuk menjodohkan saya dengan Anda dan itu membuat saya sangat tidak nyaman."
"Oh, begitu." Wajah wanita itu berubah menjadi mendung. Seolah Raja telah menyakiti hatinya.
"Ah, ya. Sepertinya saya tidak bisa berlama-lama. Karena saya tidak nyaman berada di tempat seperti ini. Silakan nikmati makan malam Anda. Saya sudah membayar semuanya," ucap Raja karena tak tahan lagi dengan suasana yang harus ia hadapi.
"Tapi, Tuan ...." Stella refleks saja menggenggam tangan Raja, menghentikan kepergian pria itu.
"Bisakah Tuan tinggal sebentar lagi, saja? Sampai makanan datang," pinta Stella seraya menggenggam tangan Raja erat-erat.
Pria itu berdiri seperti patung. Tak bergerak dan tak bersuara. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Respon tubuh yang selama ini selalu datang jika ia berhadapan dengan wanita, datang kembali. Pria itu terkena serangan panik karena sentuhan tangan Stella.
Perlahan kenangan demi kenangan menyakitkan kembali muncul di kepala. Ingatan tentang sang ayah dan ibu yang berlumur darah, terputar dengan begitu jelas.
"Lepaskan tanganku!" teriak Raja saat ia berada di ambang batasnya. Pria itu menarik tangannya sekuat tenaga. Sikap Raja yang aneh, membuatnya menjadi pusat perhatian semua pengunjung restoran.
"Tapi, Tuan ...." Wanita itu sangat terkejut mendengar bentakan Raja. Stella berpikir, jika memang pria itu tidak menyukainya tidak apa. Tetapi kenapa pria itu sampai berteriak terkesan membentak saat ia hanya menyentuh tangannya.
"Jangan sentuh aku, jangan sentuh aku!" bentak pria itu lagi.
***
Hitam memperhatikan tuannya dari kaca jendela dengan perasaan iri. Ia yakin Raja dan Leon sedang makan makanan enak di dalam sana. Sementara dirinya terjebak di dalam mobil bersama pria yang saat ini justru sedang tidur.
Cih! Katanya saja mau menjagaku. Tapi apa nyatanya? Pekerjaannya hanya tidur dan tidur saja, gumam Hitam.
Eh, ke mana Leon akan pergi? Kenapa meninggalkan Tuan berduaan dengan wanita itu? Aih, ini bukan urusanku. Mau Tuan bersama siapa. Eh, tapi .... Hitam melihat sesuatu yang janggal saat melihat ke arah jendela restoran yang transparan. Ia melihat Raja diserang kepanikan seperti saat bersama dia dulu.
Apa yang terjadi? Apa ada kucing lain di dalam yang membuat Tuan takut? Hitam jadi mengkhawatirkan Raja.
Kucing itu dengan cepat berbalik ke arah Boni lalu naik ke atas pangkuan pria itu. Hitam mengangkat kaki depannya, menumpu pada d**a Boni. Lalu satu kakinya menyentuh wajah pria itu.
Boni! Hei Boni, Bodoh! Pria besar bodoh! panggil Hitam seraya menggoyangkan tubuh Boni.
Astaga, bagaimana ini? Hitam panik saat melihat Raja memegangi dadanya dan banyak orang mengerubunginya. "Boni tidak akan mendengar suaraku."
Maafkan aku Boni.
Srekk!
Hitam terpaksa mencakar pipi pria itu untuk membuatnya bangun.
"Arghhh! Apa yang Kamu lakukan, Hitam?" Boni yang baru saja membuka mata memegangi wajahnya yang sakit dan berdarah.
"Meong, meong, meong."
Hitam berjalan ke arah jendela mobil. Lalu mengetukkan kakinya di sana. Di saat itulah, Boni melihat Raja yang anfal. Boni pun akhirnya ikut panik seperti Hitam.
"Buka pintunya, Pak," perintah Boni pada sopir.
"Baik, Tuan."
Pintu pun terbuka. Boni menghambur keluar disusul oleh Hitam. Hitam berlari mendahului, masuk ke dalam restoran itu menghampiri majikannya. Sempat ada dua orang sekuriti yang menghentikannya, akan tetapi dengan lincah, Hitam mengelak dan berhasil menerobos masuk.
"Jangan hentikan kami, Pak. Ada majikan saya di dalam yang sedang sakit," ucap Boni saat memasuki pintu restoran.