Tuan ... Tuan ..., teriak hitam dengan suara bergetar. Namun, hanya terbatas dirinya sendiri yang mendengar suaranya.
Ia berlari sekuat tenaga menghampiri tuannya. Hitam cemas saat melihat wajah pria itu semakin memerah seperti tomat. Raja juga tampak kesulitan untuk bernapas. Semakin panik kucing itu saat melihat tubuh Raja yang luruh ke lantai. Wanita yang berusaha memegangi Raja pun tak kalah panik.
“Tuan!” Leon yang datang entah darimana segera menahan tubuh Raja yang kini lemas dan memejamkan matanya. Pria itu memangku kepala majikannya.
“Nona, sebaiknya Anda pulang dulu,” ucap Leon seraya membetulkan posisi Raja agar nyaman.
“Tapi ... tapi ....” Stella enggan meninggalkan tempat itu saat kondisi Raja tak sebegitu baik. Ia merasa bahwa apa yang terjadi adalah salahnya.
“Saya mohon, Nona. Keadaan Tuan Muda sedang kurang baik. Saya tidak ingin kondisinya semakin memburuk. Sebaiknya Nona pergi dulu, nanti saya hubungi Anda lagi,” ucap Leon setengah membentak.
Stella tampak terkejut. Leon yang biasanya lemah lembut dan baik hati, kini berubah menjadi seperti singa galak yang sedang melindungi anaknya.
“Baiklah ....” Stella berdiri dengan enggan. Wanita itu sebenarnya ingin tetap mendampingi Raja di sana, tetapi ia tahu jika Leon tidak akan membiarkannya.
“Minyak angin, Boni.” Leon menadahkan tangan, meminta minyak angin yang selalu mereka persiapkan jika sedang pergi bersama Raja.
“Ini, Tuan.” Dengan cepat, Boni merogoh saku jasnya dan mengeluarkan benda yang dikemas dalam botol kaca itu.
Leon menerimanya dan meletakkannya di bawah hidung Raja. Berharap dengan bau yang cukup menyengat itu akan membuat raja membuka mata. Sementara itu Hitam diam di samping Boni dan memerhatikan tuannya.
“Tuan, saya mohon. Bukalah mata Anda.” Leon membuka kardi yang dipakai oleh Raja agar pria itu bisa bernapas lebih lega, sementara Boni berusaha mengusap-usap telapak tangan. Wajah Raja semakin pucat.
Karena Raja tak kunjung membuka mata, Leon lantas memanggil seorang pelayan. Ia berbisik pada pelayan tersebut, lalu pelayan itu mengangguk mengiyakan.
Pelayan itu menemui satu per satu tamu yang datang, meminta bantuan kepada para pengunjung agar mengosongkan ruangan itu. Sebagian pergi dengan sukarela saat melihat kondisi Raja, akan tetapi tak jarang juga sebagian dari mereka yang marah-marah.
Hitam yang semula hanya berdiam diri melihat, akhirnya tak tahan lagi. Ia harus berusaha membuat Raja bangun dan membuka mata. Hitam berjalan mendekat ke arah tuannya.
“Berhenti di sana! Jangan dekati Tuan. Jangan memperburuk keadaan Tuan!" Leon melarang Hitam mendekat. Hitam menghentikan langkah kakinya, kucing itu tampak kecewa.
“Tuan, apa tidak sebaiknya kita biarkan saja. Siapa tahu, Tuan akan bangun saat Hitam ada bersamanya,” ucap Boni.
“Kamu jangan ngawur, Bon. Memangnya apa yang bisa seekor kucing lakukan?” Leon meragukan apa yang Boni katakan.
“Siapa tahu, Tuan. Kita tidak akan tahu sebelum mencoba. Mencoba tidak ada salahnya, kan? Tidak ada ruginya juga,” ucap Boni terdengar bijak.
Leon tampak berpikir, ia merasa ucapan Boni memang ada benarnya. Tidak ada salahnya untuk mencoba meski kecil kemungkinannya sekali pun. Akhirnya, Leon mengizinkan Hitam naik ke d**a Raja. Sejujurnya ia ingin mengetahui respon Raja. Ia juga berharap agar Hitam bisa membuat Raja membaik.
“Baiklah, aku memberimu kesempatan. Buat dia bangun, atau tak akan ada lagi ikan untukmu,” ancam Leon.
Aku akan berusaha menyembuhkannya, meski aku tidak akan mandapatkan ikan lagi, aku rela. Asalkan Raja selamat dan mau membuka mata, ucap Hitam setulus hati.
Tuan .... Hitam melompat ke d**a pria itu. Kucing itu menatap Raja dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sangat takut jika Raja sampai kenapa-napa.
Raja bergeming, hanya terdengar napasnya yang lemah. Membuat Hitam semakin khawatir. Raja memang sedang tidak baik-baik saja.
Hitam dilema, ingin sekali ia mengobati raja dengan kekuatannya. Akan tetapi, di tempat itu masih ada Leon, Boni dan beberapa pelayan restoran. Bisa gempar tempat itu jika mereka melihat kemampuannya. Apalagi, Hitam sudah bertekad untuk menyembunyikan kekuatannya. Demi keamanannya juga. Karena bukan tidak mungkin jika semua akan menjadi kacau saat manusia tahu tentang kekuatan yang ia miliki.
Aku mohon, Tuan. Tuan harus kuat. Saat ini Hitam tidak bisa menggunakan kekuatan Hitam, Tuan, ucap kucing itu menguatkan Raja.
Tidak akan terjadi apa pun, Tuan. Ada Hitam di sisi Anda, ucap kucing itu lagi.
“Meong, meong, meong.” Hitam kembali mengeong, memancing respon Raja. Ia harap, pria itu akan membuka mata saat mendengar suaranya. Meski hasilnya masih sama, Raja tidak terpengaruh dengan rangsangannya. Pria itu masih belum sadarkan diri.
Aku harus mencobanya, ini adalah cara terakhir.
Hitam berjalan lebih dekat dengan wajah raja. Lalu kucing itu mengulurkan tangan dan menyentuh wajah pria itu. Hitam mengusap-usap pipi Raja dengan gerakan yang sangat lembut. Apa yang Hitam lakukan lebih mirip dengan tindakan yang dilakukan oleh manusia. Membuat Boni dan Leon tercengang melihat gerak gerik kucing itu.
Saya mohon, Tuan. Saya Hitam, memanggil Anda dengan sepenuh hati. Buka mata Anda, Tuan. Saya mohon. Bukalah mata Anda, tak ada yang saya miliki di dunia ini selain Anda, Tuan, ucap Hitam.
Tanpa terasa, air mata Hitam mengalir, jatuh membasahi pipi Raja. Boni dan Leon sampai terkejut dibuatnya. Hitam yang menangis menandakan bahwa kucing itu paham dengan apa yang terjadi. Mereka juga mulai berpikir jika kucing itu mungkin saja paham dengan bahasa manusia.
Bagaimana jika Anda tidak bangun lagi? Tidak akan ada yang menyayangi aku lagi. Hitam putus asa karena semua usahanya sia-sia.
"Lihatlah, Tuan sepertinya mulai membuka mata," pekik Boni mengejutkan Hitam yang sibuk menangis.
Apa? Akhirnya Tuan membuka mata? Hitam sangat senang dan menghapus air matanya dengan kaki depan. Syukurlah, terima kasih, Tuhan.
"Tuan ...," panggil Leon.
"Ma-na Hitam?" Begitu pria itu membuka mata, ia mencari Hitam.
"Lihatlah, Tuan. Hitam ada bersama Anda," jawab Leon.
"Bantu aku bangkit, Leon," pinta pria itu.
Hitam melompat turun dari tubuh majikannya. Lalu, Leon membantu Raja untuk bangkit. Pria itu dengan sabar membuat tuannya duduk dan bersandar pada tubuhnya.
"Hitam, kemarilah!" pinta Raja setelah ia merasa lebih nyaman. Hitam melompat ke pangkuan Raja, lalu mendongakkan kepala, menatap majikannya dengan tatapan sendu.
"Kenapa Kamu memasang wajah sedih seperti itu? Lihatlah, aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu Kamu khawatirkan," ucap pria itu seraya mengusap kepala Hitam.
"Tu-tuan, saya benar-benar minta maaf. Karena saya, kejadian hari ini terjadi. Saya janji, Tuan. Saya tidak akan pernah memaksa Anda lagi. Saya tidak akan membuat Anda celaka lagi," ucap Leon penuh sesal.
"Tidak apa-apa, Leon. Aku tahu, Kamu melakukannya karena ingin melihat aku bahagia. Ya sudah, mari kita pulang sebelum kita menjadi tontonan banyak orang," ucap Raja.
Kita sudah menjadi tontonan banyak orang dari tadi, Tuan. Sekarang tidak ada orang di ruangan ini, karena tuan Leon yang menghalaunya, batin Boni.
"Bon! Ambil kursi roda," perintah Leon.
"Baik, Tuan." Boni segera berdiri dan hendak melakukan apa yang Leon perintahkan.
"Tidak perlu, Boni. Aku masih kuat untuk jalan sendiri," ucap Raja.
"Tapi, Tuan ...," protes Leon. Leon pikir, Raja masih sangat lemah dan tidak memungkinkan untuk berjalan.
"Tidak apa-apa, Leon. Aku sudah lebih baik. Aku yakin, aku kuat berdiri. Papah aku saja, Leon," pinta pria itu.
"Baik, Tuan." Leon dan Boni dengan sigap membantu Raja berdiri.
"Boni, biar Leon yang memapahku. Kamu bawa saja Hitam," perintah pria itu seraya melepaskan tangan Boni dari tubuhnya.
"Baik, Tuan." Boni segera membawa Hitam ke dalam gendongannya lalu berjalan di belakang Leon yang memapah Raja. Mereka segera pergi dari tempat itu. Tentunya setelah Leon menyelesaikan urusan restoran.