BAB 87

1531 Words
Kediaman keluarga William tengah gempar. Semua orang sibuk tak ada yang berpangku tangan karena sakitnya tuan muda. Pewaris kerajaan bisnis ER. Satu-satunya majikan mereka yang berkuasa sedang dalam kondisi kurang baik. Leon sudah membagi satu per satu tugas untuk para bawahannya. Keamanan di rumah itu juga lebih diperketat lagi. Takut jika ada orang yang memanfaatkan kondisi Raja dan menerobos masuk. Selain pengawal, ahli IT adalah bagian yang memiliki tugas paling berat yaitu memperketat sistem keamanan rumah dan lainnya. Termasuk dengan menjaga perusahaan dari ancaman para hacker. Sebab, saat Raja sakit seperti saat ini adalah saat yang sangat genting. Bisa saja perusahaan kompetitor memanfaatkan kesempatan ini untuk menjatuhkan bisnis ER Grup. Sementara itu, Leon sendiri sibuk menyiapkan apa yang Raja perlukan. Sebab, jika tuan muda itu sakit, ia tak ingin dilayani siapa pun kecuali oleh Leon. Jadi, Leon harus siap ke sana-kemari melayani apa pun yang pria itu inginkan dan butuhkan. Untung saja, Leon sudah melayani Raja selama puluhan tahun. Ia sangat mengenali majikannya itu, ia tahu tabiat, kebiasaan dan lainnya. Sehingga Leon tidak terkejut saat harus melakukan semuanya seorang diri. “Tuan yakin, Tuan tidak apa-apa? Saya rasa ... kita perlu ke rumah sakit untuk memastikan. Atau kalau Tuan tidak mau, saya bisa panggil dokter pribadi Tuan agar datang,” ucap Leon seraya menyelimuti tubuh Raja. Pria itu menolak untuk pergi ke rumah sakit, saat Leon hendak membawanya ke sana. Alhasil, setelah urusan di restoran selesai mereka langsung pulang ke rumah. “Tidak perlu, Leon. Aku benar-benar baik-baik saja, Kamu tidak perlu khawatir dan berlebihan. Cukup tinggalkan aku sendirian. Aku ingin tidur saja,” ucap Raja. “Tapi Anda belum makan, Tuan? Saya buatkan sesuatu ya? Bubur misalnya? Setelah makan Anda bisa tidur,” tawar Leon. “Hm, boleh juga. Tapi dua jam lagi, aku mau tidur dulu,” ucap pria itu bersembunyi di balik selimut. Suaranya hampir tak terdengar, mungkin Raja memang sangat mengantuk. Leon mengembuskan napas kasar. Usahanya untuk membujuk Raja agar makan tak berhasil. Jika dua jam lagi, tuan pasti sudah pergi ke dalam mimpinya dan ia tidak mungkin akan memakan makanan sekali pun aku menghidangkannya, batin Leon. “Baiklah, kalau begitu saya tinggal ke depan. Tuan silakan istirahat. Kalau Tuan perlu apa-apa, Tuan bisa memencet bel, saya akan segera datang,” ucap Leon. “Hm,” ucap Raja dengan nada malas. Leon pun beranjak dari duduknya. Pria itu mematikan lampu meja lalu berjalan mendekati pintu keluar. Akan tetapi, Raja kembali memanggil sebelum ia mencapai pintu. “Leon!” “Iya, Tuan?” Leon berbalik dan melihat pria itu sudah bangkit dan duduk di atas ranjangnya. “Eum, bawa Hitam kemari. Aku mau dia menemaniku malam ini,” perintah Raja. Leon mengerjapkan mata tak percaya. Di saat sakit seperti itu, bisa-bisanya Raja masih mengingat HItam. “Cepat bawa ia kemari. Kenapa malah melamun?” tanya Raja tak sabar. “Iya, iya. Saya akan mengambilnya ke tempat Boni,” ucap Leon mengiyakan. “Jika orang lain melihat ini, saya yakin mereka akan mengira tuan telah kehilangan akal,” gumam pria itu seraya menutup pintu. “Apa yang Kamu katakan tadi?” tanya Raja yang mendengar sedikit gumaman Leon. “Ah, bukan apa-apa, Tuan. Saya akan pergi mengambil Hitam dan membawanya kemari.” Leon langsung menutup pintu sebelum Raja sempat bertanya lagi. *** “Bon, kemarikan Hitam,” pinta Leon. Boni yang sedang menonton acara berita segera mengecilkan volume suara. Karena ia kurang jelas mendengar ucapan Leon. “Iya, Tuan. Maaf, tadi saya kurang dengar,” ucap Boni. “Serahkan Hitam.” Leon menunjuk ke arah Hitam yang duduk manis di pangkuan Boni. Kucing itu juga terlihat seperti sedang menonton televisi. “Ma-mau di ke manakan, Tuan? Tolong jangan buang dia. Saya yang akan bertanggung jawab atas dia, jika Tuan Raja memang sudah tidak menginginkannya. Biar saya bawa pulang untuk dijaga oleh adik saya,” ucap Boni. “Ngomong apa sih, Kamu Bon? Aku meminta dia karena Tuan Raja menginginkan Hitam. Bukan untuk membuangnya. Dasar Bodoh!” “Oh, begitu.” Boni mengusap tengkuknya karena merasa malu. “Saya salah paham ya, Tuan.” “Iya. Makanya cepat bawa Hitam kemari. Biar aku mengantarnya ke kamar Tuan. Sepertinya Tuan ingin tidur dengan Hitam malam ini,” ucap Leon. “Tidur bersama kucing? Kenapa tidak tidur dengan wanita saja?” gumam Boni tanpa sadar. “Bicara apa Kamu tadi, Bon?” tanya Leon seraya membelalakkan mata. Ucapan Boni terdengar sangat jelas oleh telinganya. Boni meringis, merasa malu. Pria itu lantas beberkata, “Maafkan saya, Tuan. Saya bercanda.” Akhirnya, Hitam berpindah ke tangan Leon. Tanpa basa-basi, pria itu membawa pergi Hitam bersamanya untuk diantarkan ke kamar Raja. “Huh. Padahal sudah semalaman Tuan Raja bersama Hitam. Sekarang dia menginginkannya lagi? Memangnya Hitam itu wanita atau apa sih? Tuan seperti terobsesi seperti itu?” keluh Boni. “Gagal deh rencana curhatnya.” Boni tampak kecewa karena malam itu ia tidak bisa bercerita kepada kucing itu. *** "Ini, Tuan." Leon memindahkan Hitam dari tangannya ke atas pangkuan Raja. "Kamu sudah beri dia makan?" tanya Raja seraya mengusap kepala Hitam. "Sepertinya tadi Boni sudah memberikannya," jawab Leon. Raja manggut-manggut. "Baguslah. Kamu bisa keluar sekarang." "Baik, Tuan." Leon segera undur diri dan menutup kembali pintu kamar Raja. "Benarkah Kamu sudah makan?" Raja mengangkat kedua kaki depan Hitam. "Maaf karena telah mengabaikanmu. Apakah Boni memperlakukanmu dengan baik?" tanya Raja. "Kalau Boni memperlakukanmu dengan tidak baik, katakan saja," ucap Raja. "Kamu sangat terkejut, ya? Melihatmu seperti tadi?" tanya Raja. Hitam memandang Raja tanpa berkedip. "Aku memang seperti ini sejak kematian kedua orang tuaku. Sejak aku tahu bagaimana busuknya hati paman dan bibiku. Paman dan bibi yang telah lama tidak datang berkunjung hingga aku bahkan tidak mengenali mereka tiba-tiba saja datang saat pemakaman mama dan papa. Dan di saat itu juga, aku baru tahu kalau mereka hanya menginginkan harta orang tuaku. Mereka datang agar bisa mengendalikan aku. Beruntung aku mengetahui lebih cepat. Tapi semenjak aku tahu kalau mereka yang membunuh orang tuaku ... aku jadi muak dan ketakutan melihat wanita. Kamu tahu kenapa, Hitam? Wanita itu tertawa menyeramkan sambil berkata kalau dia telah melenyapkan ibuku dengan kedua tangannya. Dia bahkan juga berkata ingin menghabisiku dengan tangan yang sama. Kenapa manusia menganggap nyawa manusia lainnya sebegitu tidak berharganya? Kenapa mereka tega melenyapkan saudara yang masih ada hubungan darahnya? Sungguh, setelah itu kehidupanku berubah seratus delapan puluh derajat. Untung saja ada Leon yang selalu ada untukku. Jika tidak, aku tidak akan pernah tahu apa yang terjadi padaku," cerita Raja pada Hitam. Tanpa Raja sadari, air matanya meleleh begitu saja saat ia mengingat orang tua dan segala duka laranya. Hitam pun ikut merasakan duka yang dirasakan Raja. Ternyata pria itu sangat kesepian dan menderita meski tinggal di rumah sebesar ini. Refleks saja, Hitam berdiri menumpu di d**a Raja dan mengusap air mata pria itu. "Kucing pintar!" Raja merasa sangat terharu atas perlakuan Hitam. Entah mengapa, bercerita pada kucing itu membuat hati Raja lega. "Dulu ... aku mempunyai seekor kucing yang berwarna hitam sepertimu. Manis namanya. Selain Leon, aku hanya mempunyai dia. Dia adalah kucing yang pintar sepertimu. Dia juga sangat menyayangiku. Akan tetapi, dia harus menjadi korban kekejaman paman dan bibiku karena aku tidak mau menandatangani surat pemindahan kekayaan. Mereka tega menyiksa dan membunuh manis, demi ambisi mereka. Mereka melakukannya di depan mataku, membuat aku sangat trauma dan takut kepada kucing. Karena setiap melihat kucing aku selalu teringat kepada Manis," cerita Raja lagi. "Kamu sudah tahu semua rahasiaku, Hitam. Rahasia yang hanya aku dan Leon tahu. Itu artinya, aku sepenuh hati menerimamu. Kamu adalah bagian dari diriku dari sekarang. Aku berharap Kamu tidak akan pernah meninggalkanku apa pun keadaannya," ucap Raja. "Hitam, Bulumu hitam legam, sangat menyeramkan. Tetapi kenapa aku selalu ingin menyentuh bulumu yang halus ini? Aku berada pada situasi di mana aku takut kepadamu, tetapi ... di sisi lain, aku ingin selalu menyentuhmu," ucap pria itu lagi seraya mengelus bulu-bulu lembut Hitam. Astaga, kenapa jantungku berdebar kencang saat Tuan menyentuhku. Mungkin jika aku manusia, wajahku sudah memerah sempurna. Aku juga selalu menginginkan sentuhan Tuan Raja. Ya ampun, aku ini kucing bukan manusia, batin si Hitam. "Kamu memang hitam. Tapi aku akui, Kamu begitu menggemaskan, mulai saat ini tinggallah di sini bersamaku. Sebagai pengobat kesepianku yang harus hidup sendirian di rumah besar ini," ucap Raja untuk ke sekian kalinya. Seolah kucing itu akan paham perkataannya. "Tapi ... aku rasa Hitam bukan nama yang cocok untukmu. Kamu kucing betina, kan? Mulai saat ini Kamu akan kupanggil Kitty, Kitty si kucing hitam penyelamat nyawaku," ucap Raja menamakan Hitam. Kitty? Namaku Kitty? Kenapa terdengar lucu dan menyenangkan? Aku suka, Tuan. Aku suka nama itu. Mulai sekarang gagak tidak akan menghinaku lagi karena namaku yang jelek. Namaku sekarang bagus. Kitty, aku suka itu, ucap Kitty. "Kelihatannya Kamu suka, ya? Benarkah Kamu suka dengan nama pemberianku?" tanya Raja. Kitty tanpa sadar mengangguk-angguk, mengiyakan. "Lihatlah. Kamu paham perkataanku. Aku semakin menyukaimu. Kitty-ku, semakin menggemaskan." Pria itu mengangkat tubuh kucing itu. Lalu ia menciumi kepala Kitty. Cup. Hal yang di luar dugaan Kitty terjadi. Pria itu menciumnya tepat di bibirnya tanpa segan. Astaga! Apa yang Tuan lakukan? Rasanya dadaku ingin meledak. Rasanya ... aku mau pingsan sekarang juga. Ciuman dari Raja benar-benar membuat perasaan kucing itu kacau balau. Sesaat, Kitty melupakan jati dirinya yang hanya seekor kucing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD