BAB 107

1145 Words
"Maafkan aku, Tuan." Kitty membetulkan posisi tidur Raja lalu kembali menyelimuti pria itu. Kitty menatap pria itu dengan tatapan penuh cinta. "Kita berbeda, Tuan. Selamanya Kitty-mu ini hanya seekor kucing. Aku sangat tidak pantas untuk bersanding denganmu." Kitty dengan cepat menarik diri, ia segera menjauh dan turun dari ranjang Raja. Sementara pria itu telah terlelap, entah memang tidur atau pingsan karena Kitty pukul. Gadis itu kembali ke tempatnya semula. Di lantai dingin, tempat yang pantas bagi seekor kucing seperti dirinya. Dengan wajah sedihnya, Kitty mendongak, menatap jam di dinding yang terlihat samar dalam keremangan malam karena hanya sebuah lampu meja yang menerangi kamar itu. Ia melihat waktu telah menunjukkan pukul tiga pagi. Itu artinya mungkin sebentar lagi ia akan kembali berubah ke wujudnya yang semula. Kitty akan kembali menjadi kucing dan harus menyadari siapa dirinya. “Maafkan aku, Tuan. Aku harap Tuan tidak apa-apa. Padahal aku merasa tak cukup kuat memukulnya, entah mengapa ia menjadi pingsan. Mungkin lain kali aku harus lebih berhati-hati,” gumam Kitty seraya terus menatap wajah tampan tuannya. Wajah yang sangat ia kagumi dan membuat dadanya berdebar-debar akhir-akhir ini. “Andai saja aku bukan kucing, andai saja aku manusia ....” Kitty menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menyesal karena telah menikmati sentuhan pria itu. ia menyesal karena sempat berdebar karena perbuatan Raja padanya. Namun, Kitty benar-benar tidak bisa menyangkal bahwa ia telah tenggelam dalam pesona pria itu. Kitty memejamkan matanya, meski begitu bulir bening dari kedua bola mata yang sebening kristal itu terus mengalir. Ia menangisi sikap tamaknya, ia menangisi dirinya yang tak bersyukur. Ia terus menangis, dalam hati ... ia ingin sekali menjadi manusia. *** Pria itu melenguh dan terbangun saat merasakan hawa dingin menyapa punggung bidangnya yang terbuka. Membuat tidurnya yang sangat nyaman sedikit terganggu. Raja lantas mengerjapkan matanya yang masih terasa lengket, lalu ia bangkit dan duduk dan mengembalikan kesadarannya. “Argh, sialan! Beginikah rasanya mabuk?” Pria itu memukul-mukul kepalanya yang terasa sakit karena pengaruh minuman. Maklum saja, pria itu tidak terbiasa meminum minuman alkohol. Kalau iya pun hanya seteguk dua teguk saat pesta bersama klien, hanya sebagai bentuk penghormatan kepada pihak yang mengundangnya. Sedangkan tadi malam, satu botol penuh wine ia habiskan bersama Leon. Itu pun, Raja sendiri yang minum terlalu banyak dan Leon sepertinya hanya minum sedikit saja. Pantas saja, jika saat ini keadaannya begitu kacau. “Tsk!” Decak pria itu lagi. Ia menyesal karena telah mengajak Leon minum. Padahal niat semula, Raja hanya ingin menikmati malam. Kini Raja mulai memikirkan Leon, entah bagaimana nasib pria itu. Apakah sama dengan dirinya atau tidak. Ceklek. Pintu terbuka, rupanya Leon yang datang. Pria itu masuk ke kamar Raja dengan membawa nampan di tangannya. Sepertinya pria yang telah mandi dan rapi itu membawa sarapan untuk tuannya. “Selamat pagi, Tuan. Ini sarapan Anda,” ucap Leon. “Terima kasih, Leon. Letakkan saja dulu di situ, aku mau mandi dulu,” ucap Raja. “Baiklah." Leon meletakkan nampan itu di atas nakas dekat Raja. "Tuan, apakah tadi malam cuaca sangat panas hingga Tuan sampai melepas baju?” tanya Leon saat melihat Raja bertelanjang d**a dan bagian bawah yang tertutup oleh selimut tebal. “Hah? Entahlah, mungkin iya. Aku bahkan tidak mengingatnya,” jawab Raja tampak bingung. "Tapi kamar ini cukup dingin saat ini? Tidakkah Tuan kedinginan?" tanya pria itu lagi. "Tadi malam tidak, tapi sekarang aku merasa udara cukup dingin," jawab Raja seraya mengusap tengkuknya yang dingin. Tanpa perintah Raja, Leon mengambil remote lalu mematikan pendingin ruangan. "Udara sangat dingin, bisa-bisa Anda sakit." "Ya, ya. Baiklah, pergilah Leon. Aku mau mandi," usir Raja. “Baiklah, kalau begitu silakan mandi lalu sarapan. Saya sudah buatkan sup untuk Anda, makan selagi hangat. Semoga sup ini bisa membuat Anda lebih baik,” ucap Leon. Raja mengangguk, masih dengan memegangi kepalanya. Lalu, Leon segera pergi dari kamar atasannya itu. “Tunggu, kenapa dia tampak segar sementara aku tampak kacau begini? Apakah Leon memang kuat minum dan aku begitu lemah? Atau karena aku yang minum terlalu banyak? Ck!” Raja kesal karena merasa sangat tidak nyaman. “Eits, tunggu dulu. Ucapan Leon ada benarnya juga. Ruangan ini cukup dingin karena AC. Tapi kenapa aku melepaskan bajuku?” Raja lantas membuka selimut yang menutupi perut dan bagian bawah tubuhnya. Pria itu sangat terkejut saat melihat keadaan dirinya. Ternyata ia benar-benar polos tanpa sepotong kain pun. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Raja masih kebingungan dengan apa yang telah ia alami. Pria itu lantas mengingat-ingat tentang apa yang terjadi padanya. Bibir pria itu terbuka lebar saat ia mulai bisa mengingat sesuatu. Sesuatu yang begitu liar dan mendebarkan. “Astaga! Ini benar-benar gila! Bagaimana bisa aku memiliki mimpi yang begitu erotis seperti itu?” Raja menjambak rambutnya frustasi. “Tapi ... semuanya terasa sangat nyata. Tubuhnya yang begitu dingin tetapi hangat dalam waktu bersamaan, kulitnya yang lembut, bibirnya nan candu yang sangat aku ... arghh! Aku bisa gila memikirkannya!” Raja mengusap wajahnya dengan kasar. “Semua terasa nyata jika disebut mimpi. Jadi apakah ini nyata? Apakah aku ....” Tiba-tiba saja semua yang terjadi, semua yang ia lakukan tadi malam, terputar dengan jelas di otak pria itu. Begitu jelas hingga terus terngiang di kepala Raja. “Arghh! Benarkah aku memiliki sisi liar seperti itu? Aku, Raja yang bahkan tidak mau menyentuh seorang wanita bersikap sebuas singa tadi malam? Gadis itu bahkan sama sekali tidak menyentuhku. Justru aku yang terus menghujani dia dengan kata-kata rayuan dan parahnya, aku juga ... menyerangnya.” Raja akhirnya bisa mengingat semuanya. Ia ingat sosok Raja yang sangat berbeda dengan imejnya. Ia ingat jika ia bahkan hampir melakukan hal itu pada wanita itu. Pria itu kembali merebahkan badannya, lalu menutupinya dengan selimut. ia sangat malu jika mengingat kelakukannya tadi malam. Perbuatan yang sangat tidak layak dilakukan oleh seorang El Raja William. Raja benar-benar merasa dirinya sangat kacau. Ia bahkan sampai menendang-nendang selimut yang ia pakai untuk membungkus tubuhnya itu selayaknya anak kecil. “Gila, ini sungguh gila!” Pria itu lelah dengan pikiran-pikiran kotor yang memenuhi kepalanya. Raja masih bisa mengingat kelembutan bibir gadis itu, juga dengan bagian lainnya. Ia ingat betul bagaimana d**a bidangnya berhimpitan dengan bagian tubuh gadis itu yang bulat dan menggemaskan. Seketika saja, jiwa kelelakiannya timbul hanya dengan mengingat gadis itu. "Arghhh! Sialan!" Ia merutuki diri saat miliknya kembali terbangun. Raja lantas berusaha menenangkan dirinya. Berkali-kali menghirup oksigen dan mengembuskannya. Juga mengalihkan pikirannya untuk membuat junior-nya tertidur kembali. Namun, baru saja ia berusaha, sesuatu terpikirkan oleh pria itu. “Tidak! Ini bukan mimpi atau khayalanku saja. Ini benar-benar terjadi dan nyata. Tapi, siapakah wanita itu? Aku bahkan tidak bisa mengingat wajahnya. Tapi, kenapa aku merasa sangat dekat dengannya? Kenapa aku tidak ragu sedikit pun untuk menyentuhnya? Kenapa aku tidak apa-apa bahkan saat kami begitu intim? Aku harus mencari tahu semua ini.” Raja berpikir kembali. “Atau jangan-jangan wanita itu ....” Raja membulatkan mulutnya. Jika memang wanita itu, ia akan sangat malu dan menyesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD