BAB 108

1008 Words
“Kitty!” pekik pria itu tiba-tiba. Raja baru teringat pada kucing kesayangannya. Ia mencari-cari di mana pun bagian ranjangnya, tempat biasanya Kitty tidur. Akan tetapi, kucing itu tidak ada di tempat biasanya. Ia baru menemukan Kitty saat pandangannya mengarah ke lantai dekat lemari. Kucing itu tidur di sana, tanpa alas apa pun. Raja melompat dari ranjangnya, lalu memakai celana boxer miliknya. Masih dengan bertelanjang d**a, pria itu mengangkat tubuh Kitty yang sebenarnya masih ingin tidur. “Hei! Kenapa Kamu tidur di lantai Kitty?” Raja menggoyang-goyangkan tubuh kucing itu memaksa Kitty untuk membuka matanya. ‘Astaga, baru juga aku memejamkan mata. Tuan sudah membuat keributan di pagi seperti ini, gumam kucing itu kesal . Belum lama ia memejamkan mata karena berjaga, tentu saja penyebabnya tidak lain adalah karena kucing itu takut ketahuan. “Kitty, lantai sangat dingin. Aku sudah bilang kan? Kamu boleh tidur di ranjang bersamaku. Kita bisa berbagi Ranjang, paham?” tanya Raja. Mendengar kata tidur bersama Raja di ranjangnya membuat mata Kitty terbuka lebar, seolah ia tak mengantuk sama sekali. Jantung kucing itu berdebar tidak karuan, rasanya wajahnya sangat panas jika mengingat apa yang akan pria itu lakukan padanya tadi malam. “Apa-apaan ekspresi itu? Apa Kamu tidak mau lagi tidur bersamaku? Atau mungkin ... Kitty! Apa kamu tahu sesuatu?” tanya Raja. ‘Apa Tuan mengingat sesuatu? Bagaimana ini? Bagaimana jika Tuan mengingat wajahku saat aku menjadi manusia? Ini sangat tidak aman. Benar-benar tidak aman, ucap Kitty. “Kitty, tahukah Kamu? Aku bermimpi sangat indah. Aku bermimpi tentang seorang wanita secantik bidadari,” cerita pria itu seraya duduk kembali di atas ranjang dengan memangku Kitty. ‘Hentikan, Tuan. Hentikan! Pekik Kitty yang tidak akan mungkin bisa Raja dengar. Sungguh rasanya hati kucing itu sedang diombang-ambingkan. Pasalnya, saat ini ia bersentuhan langsung dengan kulit perut Raja. Ia juga bisa melihat dengan jelas d**a bidang pria itu. d**a bidang yang mendekapnya, mengingatkan hal-hal ekstrim yang ia alami tadi malam. Bukan itu saja, pujian Raja tentangnya, yang menyebutnya seperti bidadari sukses membuat hati kucing itu berbunga. Sungguh, rasanya Kitty ingin lari dan bersembunyi saja. Ia sangat malu, berdebar dan bahagia dalam waktu yang bersamaan. "Tapi, Kitty! Aku lupa bagaimana wajah gadis itu. Sebanyak aku mengingatnya, aku tetap tidak bisa mengingatnya. Seperti apakah dia, tetapi yang aku tahu ... dia begitu indah," ucap Raja dengan wajah sedih. Kitty menatap tuannya tanpa berkedip. Kucing itu ingin tahu, bagaimana perasaan Raja padanya. Ia ingin mendengar curahan hati tuannya itu lebih banyak lagi. "Kitty, katakan padaku! Adakah wanita yang Kamu lihat tadi malam. Apakah Kamu melihat wanita yang masuk ke kamar ini. Apakah Kamu tahu siapa?" tanya Raja lagi. Kitty memasang wajah sedihnya. Ia tidak bisa dan tidak akan pernah bisa mengatakan bahwa gadis itu adalah dirinya. Ia juga sedikit kecewa karena Raja tak mengingat wajahnya. "Kitty, jawab," perintah Raja. "Ah, sia-sia saja aku bertanya kepadamu. Sepertinya Kamu tidak tahu. Lagipula, aku juga tidak akan pernah bisa mendengar jika Kamu mengatakan sesuatu. "Baiklah, Kitty. Tidak apa-apa. Aku akan mencari tahu siapa wanita itu," ucap Raja seraya meletakkan Kitty di atas ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi. 'Andai saja, aku bisa mengatakan kalau itu aku. Andai saja aku bisa ... ah, Kitty! Berhenti berpikiran bodoh. Kamu hanya kucing Kitty, hanya kucing! Jangan pernah berpikir untuk serakah! Kitty meletakkan kepalanya di atas kasur yang empuk, ia memilih tidur saja daripada memikirkan hal yang tidak-tidak. Sungguh, kucing itu takut jika keserakahan akan menguasai hatinya. Karena jika hal itu terjadi, maka dia sendiri yang akan terluka. *** Drap drap drap. Suara derap langkah terdengar menggema di seluruh ruangan saat Leon dan Stella tengah menyantap hidangan sarapan mereka. Mereka menoleh dan melihat Raja berlarian menuruni tangga, dengan langkah yang cukup cepat dan tergesa. Keduanya saling berpandangan, entah mengapa pria itu tampak tak sabar. Stella berdiri saat Raja berjalan melintas meja makan. Gadis itu lantas memberi hormat dan menyapa Raja. "Selamat pagi, Tuan." "Iya, selamat pagi," jawab pria itu dengan suara dingin. Raja menjawab sambil berlalu, seolah Stella tak ada di sana. Stella membuang napas kasar, karena terabaikan. "Tidak apa-apa, Nona. Dia memang begitu. Bahkan dia juga tidak menyapa saya." Ucapan Leon membuat Stella kembali tersenyum lega. "Silakan duduk kembali, Nona. Mari kita nikmati makan pagi kita dengan tenang. Tidak perlu pikirkan tentang Tuan." Pria itu menyuruh Stella duduk dan mengabaikan Raja. "Baiklah." Mereka pun segera melanjutkan sarapan pagi mereka. Sementara itu di dapur. "Bu!" panggil Raja pada wanita yang tengah mencuci peralatan dapur di wastafel itu. "Eh, iya, Tuan." Bibi Betty menoleh dan terkejut saat melihat Raja menghampirinya. Wanita itu segera menghentikan pekerjaannya, mematikan keran air dan mengelap tangannya yang basah. "Adakah yang bisa saya kerjakan untuk Tuan?" tanya Bibi Betty. "Bi, saya mau bertanya sedikit," ucap Raja. "Iya, Tuan. Jika saya bisa menjawab maka saya akan menjawabnya," ucap Bi Betty. "Apa Bi Betty memiliki seorang putri?" tanya Raja. "Putri? Tentu saja tidak, Tuan. Tuan tahu sendiri saya hanya memiliki si kembar Ansel dan Anson saja," jawab Bi Betty. Raja tampak berpikir dan mengingat-ingat. Benar kata Bi Betty, wanita itu dan Pak Jo hanya memiliki sepasang anak kembar laki-laki yang dulu sering bermain dengannya saat ia kecil. 'Lalu siapa dia sebenarnya? Raja benar-benar bingung, harus mencari wanita yang hampir ia nodai itu ke mana. "Kalau gadis, Bu? Adakah seorang gadis yang tinggal di sini?" tanya Raja lagi. "Gadis? Tentu saja tidak ada, Tuan. Hanya ada saya dan Pak Jo yang tinggal di sini" jawab wanita tua itu. "Ah, benar juga. Lalu siapa?" Raja kembali bertanya-tanya tentang siapa gadis yang memungkinkan untuk masuk ke dalam kamarnya. Bi Betty tampak berpikir dan menerka-nerka. Lalu wanita itu memberanikan diri untuk bertanya. "Apakah ada masalah, Tuan? Atau ada sesuatu yang hilang? Atau apa?" "Ah, tidak, Bu. Hanya saja ...." Raja tidak melanjutkan perkataannya. Mustahil ia menceritakan tentang ingatan gilanya tadi malam. "Iya, Tuan?" tanya Bi Betty. "Ah, bukan apa-apa, Bu. Lupakan saja." Raja membalikkan badannya, ingin kembali ke kamar. "Tuan, bukankah Nona Stella juga seorang wanita? Dia juga tinggal di sini sejak tadi malam," ucap Bi Betty. Raja dengan cepat membalikkan badan dan menatap wanita tua itu. "Stella!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD