“Kyaaaa!” Suara teriakan yang cukup kuat menggema ke seluruh ruangan di rumah besar itu.
Boni yang sedang menelepon Leon sampai terkejut dibuatnya. Apalagi itu adalah suara seorang wanita. Boni dengan cepat mengakhiri panggilan sebelum pembicaraannya dengan Leon berakhir. Boni takut jika Leon mendengar suara wanita tersebut.
“Berkumpul!” Boni bertepuk tangan beberapa kali, untuk memanggil para pengawal yang lainnya. Semua pengawal segera berkumpul sesuai arahan Boni.
“Seperti yang Tuan Leon katakan, aku di sini ditunjuk sebagai pemimpin sementara. Jadi aku punya kuasa untuk memerintah. Sekarang, kalian cepat cari sumber suara tadi. Bagaimana bisa ada suara seorang wanita di rumah ini? Kalian tahu sendiri jika wanita diharamkan masuk ke dalam mansion ini,” ucap Boni.
“Baik, Ketua. Kami akan menyisir setiap tempat,” ucap mereka mengiyakan. Lalu para pengawal berpencar mencari ke setiap sudut ruangan.
Lihat rekaman CCTV, adakah penyusup yang masuk ke dalam mansion ini? Periksa betul-betul dan segera laporkan kepadaku, ucap Boni memberi perintah kepada ahli IT melalui earpiece miliknya.
Setelah berbicara demikian, Boni menjauh dari keramaian untuk melanjutkan panggilan dengan Leon yang sempat terputus.
Kenapa, Boni? tanya Leon.
“Maafkan saya, Tuan. Tadi, ternyata pulsa saya habis,” bohong pria itu seraya tertawa kecil.
Oh, begitu. Ada hal yang ingin Kamu laporkan? Mansion dalam keadaan aman, kan? tanya Leon di seberang sana.
“Semua baik-baik saja, Tuan. Tidak ada hal genting yang perlu saya laporkan,” jawab Boni sewajar mungkin. Ia berharap Leon tak akan curiga.
Eum, Hitam eh maksudnya Kitty bagaimana? tanya Leon.
"Saya sudah memberinya makan. Sepertinya dia sudah tertidur di kamar tuan muda," ucap Boni.
Bagus, lanjutkan pekerjaanmu. Aku dan Tuan harus melanjutkan perjalanan, ucap Leon.
“Baik, Tuan. Hati-hati di jalan,” ucap Boni.
Panggilan pun akhirnya ditutup. Setidaknya saat ini Boni bisa bernapas lega. Tanggung jawab yang Leon berikan kepadanya benar-benar membuat Boni kewalahan. Begitu berat dan penuh resiko. Boni hanya bisa berharap, jika semuanya akan baik-baik saja dan penyusup itu dapat segera tertangkap.
Pria itu kembali menghubungi pihak IT. Sudah sepuluh menit berlalu sejak ia memberi perintah. Ia yakin, pihak IT sudah mendapatkan rekaman CCTV yang menunjukkan di mana penyusup itu berada.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Boni tanpa basa-basi.
Maaf, Ketua. Sebenarnya ... kami tidak dapat menemukan apa pun. Tidak ada seorang pun yang menyusup ke rumah ini, ucap pihak IT.
“Apa? Bagaimana bisa? Biasanya kalian sangat cekatan kan dalam urusan ini? Siapa tahu ada hacker atau ada yang memanipuasi sistem di rumah ini?” tanya Boni tak percaya.
Tidak, Ketua. Kami sudah memastikan. Memang tidak ada siapa pun di rumah ini. Tak ada hal aneh lainnya. Atau mungkin, penyusup itu ada di ruangan yang tidak dipasangi CCTV?
“Kamu benar juga. Tapi di rumah ini hanya kamar tuan muda yang tidak dipasangi kamera pengintai,” ucap Boni.
Nah, sebaiknya Anda memeriksanya. Siapa tahu penyusup itu ada di kamar tuan Raja.
Boni tampak berpikir. “Benar juga, lagipula sepertinya suara itu memang berasal dari sana. Baiklah, aku akan memeriksanya. Semoga saja itu hanya kecurigaanku saja."
"Ketua, tidak ada seorang pun di rumah ini. Bahkan seekor kecoa pun tidak ada, Tuan," lapor salah seorang pengawal.
"Hm, begitu ya. Sepertinya kita harus memeriksa kamar Tuan. Hanya tempat itu yang tersisa. Kalian semu ikuti aku," ucap Boni memimpin pasukan. Mereka segera bergegas naik ke lantai dua, di mana kamar Raja berada.
Ada lima atau enam orang pengawal yang mengikuti Boni. Sehingga pergerakan mereka menimbulkan bunyi yang cukup gaduh. Suara derap langkah kaki mereka menggema di mana-mana.
"Kalian bersiaplah. Aku akan membuka kamar ini," ucap Boni.
Boni memasang kuda-kuda, sementara yang lainnya juga memasang sikap waspada. Bersiap jika ada musuh yang datang menyerang.
Brak!
Pintu terbanting keras saat Boni membukanya dengan cukup kasar. Mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling, tetapi tak ada siapa-siapa di sana. Bahkan jendela kamar Raja tertutup rapat dan terkunci. Tidak mungkin ada penyusup yang masuk ke kamar itu. Hanya ada suara televisi yang menyala tanpa ada yang menontonnya.
"Sepertinya tidak ada siapa-siapa, Ketua. Bahkan tempat ini tertutup rapat," ucap salah seorang pengawal.
"Sttt! Diamlah." Boni meletakkan jari di depan bibirnya, meminta para pengawal agar diam dan tidak membuat suara.
Boni bergerak maju, dengan langkah yang sangat perlahan. Bahkan sepatu pantofel yang biasanya menimbulkan bunyi yang cukup nyaring kali ini nyaris tidak menimbulkan suara. Tangan Boni terulur hendak membuka lemari putih yang ada di pojok ruangan.
"Kyaaaa!" Suara teriakan kembali terdengar. Semua orang menoleh ke sumber suara. Hampir saja semua pengawal tertawa saat mereka tahu jika suara itu berasal dari televisi yang menyala. Siaran televisi sedang menayangkan sebuah tayangan sinetron di mana seorang wanita berteriak karena hendak diculik.
"Huft!" Semua orang mendadak menjadi lega saat mengetahui suara tadi bersumber dari televisi.
"Jadi benda ini yang membuat aku panik dari tadi?" gumam Boni kesal. Pria itu segera mengambil remote kontrol dan mematikan televisi itu.
"Jadi bagaimana, Ketua?" tanya salah seorang pengawal.
"Bubar! Tak ada hal yang perlu kita takutkan. Suara tadi hanya suara wanita yang berasal dari televisi ini. Sia-sia saja kita mengkhawatirkan hal konyol ini." Semua orang keluar dari kamar Raja, lalu di susul Boni di barisan paling belakang.
"Eits, kenapa aku merasa ada yang kurang ya?" Boni tampak memikirkan sesuatu yang samar ia ingat tetapi ia juga merasa lupa dalam waktu bersamaan.
Boni segera menutup pintu, lalu pria itu baru teringat jika Kitty ada di dalam sana. Akan tetapi kucing itu sama sekali tidak ada di sana saat mereka memeriksa.
Brak.
Boni kembali membuka pintu. Lalu melongokkan kepala, melihat ke sekeliling kamar Raja. Akan tetapi, Kitty memang tidak ada di sana.
"Aishh! Masalah lagi. Ke mana sih Kamu, Kitty? Jangan sampai Kamu menghilang dan tuan Raja akan marah padaku lagi," gerutu Boni.
Boni keluar menutup pintu kamar Raja setelah memastikan Kitty tidak ada di mana pun. Ia bergegas pergi, ia harus segera mencari kucing itu atau semua mana menjadi rumit jika Kitty tidak kembali.
***
Kitty mendengar derap langkah kaki yang begitu gaduh. Wanita itu panik, firasatnya mengatakan jika para pengawal sebentar lagi datang dan akan memeriksa tempat itu.
"Ke mana aku harus bersembunyi?" Kitty panik, sampai-sampai seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Entah apa jadinya jika ia ketahuan berada di tempat itu. Karena Kitty tahu, Leon mengharamkan seorang wanita berada di mansion itu. Ditambah lagi kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk bertemu dengan orang lain.
"Aduh bagaimana?" Wanita yang belum mengenakan apa pun itu mengedarkan pandangannya, melihat ke sana-kemari.
Ia segera bangkit dan berlari menuju lemari putih yang berada di sudut ruangan. Tidak ada tempat lain untuknya bersembunyi. Kitty hanya bisa berdoa agar Dewi Fortuna berpihak kepadanya. Agar ia tidak ketahuan.
Brak.
Kitty bisa mendengar orang-orang itu membuka pintu kamar Raja dengan kasar.
"Sepertinya tidak ada siapa-siapa, Ketua. Bahkan tempat ini tertutup rapat." Terdengar suara salah satu di antara mereka
"Sttt! Diamlah." Kali ini, Kitty mengenali suara itu. Suara siapa lagi kalau bukan suara Boni.
Dada Kitty berdetak kencang seiring makin mendekatnya Boni ke arah tempat ia bersembunyi. Kitty sangat takut, habislah dirinya jika Boni sampai membuka pintu lemari tempat ia bersembunyi.
"Kyaaa!" Terdengar suara teriakan yang berasal dari televisi..
"Huft!" Semua orang tampak lega.
"Jadi benda ini yang membuat aku panik dari tadi?" Suara Boni kembali terdengar.
"Jadi bagaimana, Ketua?"
"Bubar! Tak ada hal yang perlu kita takutkan. Suara tadi hanya suara wanita yang berasal dari televisi ini. Sia-sia saja kita mengkhawatirkan hal konyol ini." Kembali, suara Boni sangat familier di telinga Kitty.
Tak lama setelah itu, Kitty mendengar langkah kaki mereka yang menjauh. Juga bunyi pintu yang ditutup.
"Huft! Untung saja aku selamat." Kitty memegangi dadanya, menetralkan detak jantungnya yang terdengar sangat keras karena gugup.
Brak!
Baru saja Kitty hendak keluar dari kamar Raja, pintu kamar kembali terbuka. Kitty yang hendak menjulurkan kakinya jadi mengurungkan niatnya. Ia menarik kembali kakinya dan menahan napas lagi agar tidak ketahuan.
Kitty mengintip dari celah lemari. Ia melihat Boni datang dan melihat ke sana kemari. Mendadak, Kitty kembali gugup. Namun, hatinya kembali lega saat Boni pergi lagi tanpa memeriksa apa pun.
"Boni, Boni. Rasanya jantungku benar-benar mau meledak karenamu, gerutu Kitty kesal.