BAB 101

1226 Words
Hari kedua mereka bertiga habiskan untuk beristirahat di vila setelah kejadian tenggelamnya Kitty. Mereka hanya melakukan aktivitas di dalam ruangan. Menghabiskan waktu untuk menonton film, bermain playstation atau memasak bersama ala kadarnya. Meski hanya di dalam ruangan saja, tak mengurangi kebahagiaan yang mereka rasakan. Gelak tawa, canda ria terdengar dari bibir Raja yang selalu menggoda Kitty. Akan tetapi, saat petang datang, mereka mulai merasa kebosanan. Raja merasa liburan akan sia-sia saja jika mereka hanya berdiam diri di dalam hotel. “Leon, bagaimana kalau kita pergi keluar. Berjalan-jalan mungkin?” tawar Raja saat ia memenangkan game yang ke sekian kalinya. Pria itu mulai dilanda kebosanan. “Mau ke mana, Tuan? Lagipula ini sudah senja, sebentar lagi malam,” ucap Leon. “Bagaimana jika kita pergi melihat matahari terbenam saja?” tawar Raja dengan mata berbinar. “Tuan ... bolehkah saya berpendapat?” tanya Leon ragu-ragu. “Iya, apa itu?” tanya Raja antusias. “Mari kita melihat matahari terbenam sekalian mengunjungi vila Tuan yang ada di sana. Sepertinya lebih menyenangkan jika kita tinggal di sana. Di sana lebih luas, lebih leluasa. Lagipula apakah Tuan tidak merindukan momen bersama mendiang orang tua Tuan muda di sana dulu?” tanya Leon. Raut wajah Raja berubah, bukan sedih tetapi lebih seperti merindukan sesuatu. Raja juga tampak galau. “Ah, maafkan jika saya bicara yang macam-macam.” Leon menyesali ucapannya. Raja yang semula menunduk lalu tersenyum. “Sepertinya Kamu benar. Aku tidak bisa selamanya terperangkap dalam kenangan menyakitkan. Aku harus melangkah ke depan. Mungkin caranya, aku harus ke sana agar aku bisa mengikhlaskan segalanya,” ucap Raja. Leon tersenyum lega melihat Raja yang lebih tenang dibandingkan dugaannya. Pria itu semakin kagum dengan perubahan pria lemah di depannya. Sekarang, tak ada lagi sosok Raja yang selalu terperangkap dalam ketakutan. Yang ada hanya Raja, pria pemberani yang berani berubah demi masa depan yang lebih baik. “Baiklah, Kamu urus soal checkout kita. Setelah ini kita pindah ke vila,” ucap Raja beranjak dari duduknya. Pria itu hendak memanggil Kitty, tetapi sayangnya kucing itu justru malah begitu lelap tertidur di atas ranjangnya. “Kitty, kitty. Pantas saja akhir-akhir ini aku merasa Kamu menggendut. Yang Kamu lakukan hanya makan dan tidur saja,” ucap Raja seraya tertawa. Bahkan posisi tidur Kitty yang meringkuk begitu menggemaskan di matanya. Ternyata, begitu sederhana kebahagiaan bisa tercipta untuk seorang Raja. *** Tempat itu berukuran tak kurang dari satu seribu meter. Masih bersih dan terawat seperti sepuluh tahun yang lalu. Tak ada yang berubah sama sekali, tentu saja semua itu karena Raja yang selalu mengurusnya. Meminta orang untuk menjaga vila peninggalan orang tuanya baik-baik. Vila itu begitu megah dan mewah. Leon tidak pernah menyangka jika Raja memiliki aset berharga seperti itu. Karena memang Raja tak pernah mengunjunginya lagi semenjak kecelakaan orang tuanya apalagi membahasnya kepada siapa pun. "Wah, tempat ini bagus sekali. Rugi kita memilih tinggal di hotel yang kalah fasilitasnya dari tempat ini," gumam Leon tanpa sadar. "Ck! Kamu ini! Ya sudah, ayo masuk!" ajak Raja. Pria itu senang karena Leon tampak menyukai tempat itu. Mereka segera berjalan menuju pintu masuk. Leon masih asyik melihat ke sana kemari, menikmati pemandangan rumah yang begitu asri tersebut. Halaman vila dipenuhi dengan tanaman buah dan bunga, ada sebuah kolam renang berukuran cukup besar di samping rumah. Leon berpikir jika mungkin memang akan sangat menyenangkan berada di tempat itu. "Selamat datang, Tuan." Seorang pria tua dan wanita tua menyambut kedatangan mereka. Sudah pasti mereka tidak terkejut atas kehadiran Raja, karena Raja sudah memberi tahu terlebih dahulu melalui panggilan telepon. "Terima kasih, Pak Jo," ucap Raja. Sementara Leon hanya mengangguk kecil. "Silakan, Tuan. Adakah yang perlu kami lakukan?" tanya pria tua itu. "Tidak perlu, Pak. Kami akan melakukan semuanya sendiri. Ah, ya. Tolong Bapak nanti bukakan pintu, ada orang-orang yang akan mengantarkan barang-barang kami," ucap Raja. "Baik, Tuan." Pria tua bersama istrinya itu langsung pergi meninggalkan mereka. "Wah, apakah mereka sudah lama mengabdi kepada keluarga Tuan? Dari umurnya, sepertinya mereka sudah sangat tua," tanya Leon. "Iya, tentu saja. Mereka bekerja pada keluarga William sudah sejak aku kecil seperti Paman Lukas. Mereka adalah pekerja kami yang paling setia," ucap Raja dengan wajah sedih. "Lu-kas?" tanya Leon dengan suara bergetar. Ini adalah pertama kalinya, nama sang ayah disebutkan oleh Leon. "Iya, beliau mengorbankan diri demi aku. Gara-gara aku, beliau harus merasakan apa itu neraka. Hingga akhir hayat beliau saja aku tidak pernah melihatnya," ucap Raja. "Tuan pernah mencarinya?" tanya Leon. "Tentu saja. Tapi semua seperti tersapu angin. Tak ada informasi apa pun. Padahal yang aku tahu, dia memiliki putra yang sebaya denganku. Tapi aku tak dapat menemukannya. Yang aku tahu hanyalah bahwa mereka semua telah menyakiti bahkan melenyapkan Lukas. Karena itu lah aku sangat membenci George dan semua. Entah bagaimana nasib anaknya itu, karena menurut informasi yang aku dapatkan, anak itu masih hidup. Andai aku bisa menemukan putra Lukas, aku akan menjadikan ia sebagai adikku. Kasihan sekali, dia pasti mengalami banyak kesulitan karena aku. Dia kehilangan ayah yang begitu baik karena aku," ucap Raja dengan mata berkaca-kaca. Sesungguhnya putra Lukas yang Anda cari-cari itu ada di hadapan Anda Tuan. Sesungguhnya dia sudah lama berada di sisi tuan menggantikan peran sang ayah, batin Leon. Perasaan Leon menjadi tak menentu saat Raja menceritakan sosok ayahnya. Ingin sekali ia berkata bahwa dia adalah putra Lukas yang Raja cari. Akan tetapi ... Leon mengurungkannya. Ia merasa bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan jati dirinya. Tidak, bukan sekarang waktu yang tepat. Aku tidak boleh kehilangan kepercayaan tuan Raja, batin pria itu lagi. "Ah, sudahlah. Berhenti ceritakan hal yang sedih. Mari kita masuk ke dalam. Kamu bisa pilih kamar mana pun yang Kamu mau," ucap Raja seraya mengusap air mata yang sempat menitik di sudut matanya. Diam-diam, Leon melakukan hal yang sama. Rasanya begitu sedih saat ia mengingat hal tentang sang ayah. "Baiklah. Aku boleh memilih mana pun, kan?" tanya Leon kembali bersikap biasa saja. "Tentu saja, kecuali kamar di depan ini. Ini adalah kamarku. Tak ada seorang pun yang boleh menempatinya," ujar Raja. "Hei, Kamu mau ke mana?" Saat pria itu justru mendekati kamarnya. "Leon! Berhenti di sana! Itu kamarku!" Akan tetapi, Leon seolah tidak peduli. Leon langsung masuk ke dalam kamar itu, penasaran karena Raja melarangnya tinggal di sana. Rupanya hanya kamar biasa yang bahkan lebih sempit dari kamar lainnya. Namun saat Leon membuka jendela, pria itu takjub dan mulai mengerti mengapa Raja menyukai kamar itu. "Pantas saja Tuan sangat menyukainya. Rupanya kamar ini begitu sempurna untuk menikmati pemandangan di luar sana," ucap Leon. "Nah, Kamu sudah tahu, kan? Keluar sana! Aku mau menikmati sunset dari sini. Kamu, cari sendiri kamar yang mana yang Kamu mau," perintah Raja. "Lalu Kitty?" tanya Leon. "Dia akan tinggal di kamar ini bersamaku," jawab Raja. "Aku tidak boleh, tapi kucing itu boleh." Ada rasa cemburu di hati Leon saat Raja terlalu memanjakan Kitty. Rasa yang sebelumnya tidak pernah Leon ungkapkan. Raja tertawa terbahak. "Kamu tahu sendiri kan, Leon. Kamu itu saudaraku. Sudah selayaknya laki-laki dewasa tidur di kamar masing-masing. Sementara Kitty, adalah kekasihku. Seorang pria dan kekasihnya tidur di kamar yang sama adalah hal yang wajar." "Cih! Kekasih adalah wanita bukan kucing," gumam Leon masih terdengar Raja. "Apa Kamu bilang, Leon?" Raja membelalakkan matanya karena Leon semakin berani mengejeknya. "Ah, bukan apa-apa. Tempat seperti ini sangat cocok untuk menghabiskan waktu bersama kekasih," elak Leon. "Kalau begitu, saya permisi dulu Tuan." Pria itu segera keluar dan menutup pintu lalu memilih kamar untuknya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD