BAB 100

1228 Words
Matahari telah terbenam sejak satu jam yang lalu. Cuaca yang terik siang tadi telah menghilang, digantikan rasa dingin yang menusuk tulang. Angin yang siang tadi bertiup sepoi-sepoi, kini terasa lebih dingin di kulit. Seorang pria duduk di sebuah balai-balai dekat pohon kelapa bersama kucing kesayangannya, sementara pria yang satunya tampak sibuk memanggang daging, jamur dan bahan pelengkap yang lainnya untuk pesta barbeque mereka. "Wah, aku tidak sabar untuk mencicipi makanan buatan Leon," ucap Raja seraya menatap irisan daging di atas panggangan dengan tatapan tak sabar. Bau daging yang sangat harum begitu semerbak memenuhi indera penciumannya. "Sabar dulu, Tuan. Anda suka 'well done' kan? Saya akan memasak daging yang sempurna untuk Anda," ucap Leon masih dengan penjepit di tangan. "Tidak bisakah lebih cepat, Leon?" tanya Raja saat Leon membolak-balikkan irisan daging. Air liur pria itu hampir menetes saat bau daging panggang semakin menggodanya. "Tidak, Tuan. Mana bisa. Atau Anda akan mendapatkan medium rare. Anda mau?" tawar Leon. "Ishhh, Kamu menyuruhku makan daging penuh darah itu? Tidak! Aku tidak mau," tolak Raja. "Maka dari itu, Tuan harus bersabar," ucap Leon. "Leon, tidakkah dengan sebotol bir membuat pesta kita semakin lengkap?" tanya Raja. "Ah, itu ... benarkah Tuan mau?" tanya Leon tak percaya. Setahunya, Raja selalu menolak minuman beralkohol. "Tentu saja, aku yang bertanya tentu saja aku yang menginginkannya," ucap Raja. "Baiklah, saya akan membelinya setelah semua daging matang," ucap Leon. "Hm, mana asyik jika nanti-nanti, pergilah sekarang, Leon," desak Raja. "Lalu siapa yang akan memanggang daging?" tanya Leon saat tidak ada orang lain di sana selain Raja. "Aku, tentu aku. Siapa lagi?" tanya Raja. "Apa Tuan yakin?" tanya Leon meragu. Jangankan penjepit daging, alat memasak yang lainnya saja belum pernah ia sentuh. "Ka-kamu meremehkanku?" tanya Raja. "Mau bagaimana lagi? Selama ini Tuan hanya tahu cara memakannya," ejek Leon. "Ck! Kamu sungguh-sungguh meremehkanku, rupanya!" Raja memasang wajah cemberut, seolah ia sedang marah. "Awas saja Kamu Leon ... bulan ini tidak ada ...." "Nah, ini penjepitnya. Silakan Tuan bolak-balik dagingnya. Ingat! Jangan sampai gosong." Leon menyerahkan penjepit itu kepada Raja, lalu secepat kilat ia kabur dari tempat itu. Sebelum Raja lebih marah lagi. Raja tertawa melihat Leon yang langsung kabur begitu ia akan membahas soal gaji. "Wah, sepertinya sangat lezat." Kitty mengintip, menaikkan kaki depannya hingga ia bisa berdiri di tepi balai-balai seraya melihat daging panggang. "Kamu mau?" tanya Raja. "Meong!" ( Tentu saja mau) "Kamu ini benar-benar berbeda dengan kucing yang lainnya. Di saat kucing lain sangat menyukai sereal, Kamu malah memilih ikan, daging. Hm ...." Raja tak benar-benar mengatakannya. Sebenarnya ia tidak mempermasalahkan apa yang Kitty makan. "Kitty, tetap diam di sana, ya? Aku harus memanggang daging untukmu dan tak bisa terus mengawasimu. So, jadilah anak yang baik. Okay?" ucap Raja seraya menggerakkan tangannya. Pria itu fokus pada makanan yang ia masak. Tak lagi sempat melihat ke arah Kitty. "Meong!" Kucing itu menyahut lagi, membuat Raja tersenyum. Kapan matangnya? Kenapa mereka lama sekali memasak dagingnya? batin Kitty saat Raja tak juga mengangkat daging itu dari panggangan. Ditambah lagi, Leon juga tak kunjung kembali. Mereka lagi ... apa-apaan pakai minum alkohol segala? Kucing itu sudah tidak sabar. Apalagi ia sangat lapar setelah seharian berlarian di tepi pantai. Tiba-tiba saja Kitty melihat sesuatu dari arah pantai. Sesuatu yang menggoda kucing itu untuk datang mendekat. Wah, apa itu? Bagus sekali? Kitty senang sekali saat melihat sesuatu yang berkerlipan dan melayang-layang di udara. Hati kucing itu tergerak, untuk mendekat. Ia segera turun dari balai-balai dan mengejar benda itu. Hei tunggu aku! Kitty berlari lebih kencang mengejarnya. Namun, benda itu semakin lama semakin tinggi. Kenapa rasanya aku jadi ingin naik ke atas langit sana, ya? Perasaan kucing itu tiba-tiba saja menjadi kacau. Ada sesuatu yang ia rindukan di atas sana, ada sesuatu juga yang membuat hatinya begitu pedih meski ia tak dapat mengingatnya. Kitty terus berlari mengejar benda kerlap-kerlip itu, hingga tanpa ia sadari ia sudah ada di bibir pantai. Mata Kitty masih melihat ke atas sana, ke arah benda yang semakin lama semakin terbang tinggi dan menjauh. Hingga tanpa Kitty sadari sebuah bahaya mengintainya dan ... byurrr! Sebuah ombak besar menerpa tubuh kucing itu. Membuat kucing itu terseret arus. Kucing itu mulai tenggelam dan tak lagi memijaki pantai berpasir. Apa yang terjadi? Kenapa ... Tuan, tolong aku! Kitty mulai terengah karena kesulitan bernapas. Bahkan, ia merasa air laut pasti sudah masuk ke dalam tubuhnya. Argghh! Ombak yang lebih besar menghantamnya kembali membawanya ke dalam laut yang lebih dalam. Apakah aku akan mati? Kitty tak berdaya, ia tak dapat melakukan apa pun dengan bentuknya saat ini. Kitty pasrah dengan apa pun yang terjadi padanya. Meski ia harus kehilangan nyawa sekali pun. Di saat kesadarannya hampir menghilang, sekelebat bayangan yang hampir sama dengan yang ia alami muncul di kepalanya. Dia melihat dirinya sebagai sosok manusia dalam kondisi terikat dilempar ke dalam air. Ia juga kesulitan bernapas seperti saat ini. Kitty juga melihat tiga orang dengan wajah yang samar di atas tebing tertawa terbahak-bahak melihatnya meregang nyawa. Di saat itulah entah mengapa hati Kitty serasa diiris-iris. Rasanya begitu menyakitkan dibandingkan penderitaan yang ia rasakan akibat tidak bisa bernapas. Harusnya tiga orang itu menolongnya, tetapi justru mereka tampak bahagia melihat penderitaannya. Byurrrr. Di dalam bayangannya, ia melihat pria tampan yang sangat mirip dengan tuannya sedang menolongnya. Pria itu melepas ikatannya, lalu membawa dia naik ke atas. Pria yang sangat membuat Kitty penasaran siapakah gerangan dia itu menyelamatkan nyawanya. Tuan, terima kasih. *** "Kitty, makanan sebentar lagi siap." Raja mengambil sebuah piring lalu meletakkan beberapa potong daging yang sudah matang sempurna di sana. Raja juga segera mengangkat semua daging di atas pemanggang dan meletakkan daging baru. "Nah, Kitty. Makanlah terlebih dahulu. Aku akan menunggu sampai Leon da ...." Raja terkejut karena ternyata dirinya sedari tadi hanya bicara seorang diri. Raja melihat ke sekeliling tempat itu. Akan tetapi, tidak ada siapa-siapa di sana. Kitty pun tidak ada. "Kitty! Kitty!" Raja meletakkan piring berisi daging itu di atas balai-balai, lalu meraih sebuah senter. Tanpa mempedulikan apa yang ia masak, ia meninggalkan tempat itu untuk mencari Kitty. "Kitty! Kitty!" Sepanjang jalan, Raja berteriak memanggil kucingnya. "Kamu ke mana Kitty?" tanya Raja seraya mengarahkan senternya ke segala arah. Di saat pria itu mengarahkan senternya ke tepian laut, ia melihat bayangan hitam meronta-ronta seolah terjebak oleh air laut. Raja semakin mendekat dan mengarahkan senternya. Namun benda itu tak lagi bergerak-gerak dan Raja sadar jika itu adalah Kitty-nya. Pria itu melepaskan sepatunya lalu melemparkan senter itu ke segala arah. Tanpa pikir panjang, ia masuk ke dalam air laut yang dingin dan berusaha menyelamatkan kucing itu. *** Leon kebingungan saat melihat Raja dan Kitty yang tidak ada di sana. Ia juga heran melihat daging yang terpanggang sempurna yang ada di atas meja, sementara yang ada di atas bara api sudah hangus hingga berwarna hitam. "Tuan! Kitty!" Leon meletakkan plastik berisi minuman di atas balai-balai. "Ke mana mereka?" Tiba-tiba saja Leon memiliki firasat tak baik tentang kucing dan tuannya itu. "Jangan-jangan terjadi apa-apa pada mereka." Leon segera berlari untuk mencari mereka. "Tuan! Ki ...." Panggilan Leon terhenti saat melihat Raja dengan tubuh basah kuyup berjalan ke arahnya seraya menggendong Kitty. "Tuan!" Leon secepat kilat menghampiri majikannya. "Apa yang terjadi?" "Sudahlah, jangan banyak bertanya. Ambil sepatuku di pantai, lalu kita kembali ke hotel saja." "Acara makan malam kita?" tanya Leon. "Urus saja! Masak semua dan bawa ke kamar!" perintah Raja membuat Leon hanya bisa mengerjapkan mata. Ia sangat penasaran kenapa tuan dan kucingnya itu bisa basah kuyup begitu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD