Hamparan pasir putih pantai, yang sangat luas dari ujung hingga ke ujung. Birunya air laut yang dihiasi oleh riak-riak kecil yang beraturan. Sinar matahari yang sedikit menyengat kulit, juga angin yang bertiup sepoi-sepoi sebagai penawarnya.
Beberapa puluh meter ke arah barat, beberapa orang terlihat sedang memainkan permainan voli. Beberapa lagi tampak berjalan-jalan di tepian, menikmati bagaimana rasanya air laut menerpa kaki mereka.
Pria tampan itu duduk di tepi pantai. Sesekali rambutnya beterbangan tertiup angin, membuat pria tampan yang biasanya selalu berambut rapi gaya khas pompadour, kini tampak sedikit acak-acakan. Kemeja putih, setelan jas yang biasa ia pakai, kali ini tak lagi melekat di tubuhnya. Hanya sebuah kemeja bunga-bunga khas kostum pantai, kacamata hitam, juga celana pantai sebatas lutut yang kini melengkapi penampilannya. Bahkan, kali ini Raja tak mengenakan sepatu pantofel hitamnya, melainkan memakai sandal jepit berharga tak lebih dari sepuluh ribu rupiah.
Ternyata memakai pakaian santai ala kadarnya seperti itu tak membuat ia buruk, justru pria itu tampak tampan dengan pakaian yang terkesan asal-asalan itu. Di sisinya, kucing berwarna hitam pekat itu ikut duduk menemani. Kucing itu bahkan sangat patuh. Duduk saat pemiliknya duduk, ikut berdiri ketika pemiliknya melakukan hal yang sama.
Keduanya tampak asyik menikmati pemandangan laut yang begitu menenangkan. Suasana yang nyaman, udara yang cukup segar dan jauh dari yang namanya polusi. Sesekali terdengar suara gemerisik daun kelapa yang melambai tertiup angin, membuat lagu merdu khas alam yang menemani kegiatan mereka menikmati alam.
Tak jauh dari tempat ia berada, berdiri seorang pria yang tak kalah tampan dari pria yang duduk di pasir tersebut. Pria itu juga mengenakan pakaian pantai, sama seperti sang atasan. Ia juga memakai sandal jepit yang baru pertama kalinya ia pakai. Hanya saja, Raja harus memaksa Leon mati-matian agar mau mengenakannya. Leon bilang, ia tidak biasa memakai pakaian norak seperti itu. ia sudah terlanjur nyaman mengenakan setelan jas hitam, pakaian kebanggaan yang selalu melekat di tubuhnya selama sepuluh tahun ini. Namun, karena desakan dan paksaan Raja, akhirnya Leon terpaksa mengenakannya.
“Leon! Kemarilah!” panggil Raja. Pria itu memutar sedikit tubuhnya hanya agar bisa berbicara dengan asistennya itu. “Kamu mau sampai kapan berdiri kaku seperti patung di tempat itu?”
“Tidak, saya di sini saja. Sudah cukup saya melihat Tuan begitu rileks dan senang,” sahut Leon dengan setengah berteriak.
“Ck!” Raja berdecak kesal, menganggap jika kali ini Leon lebih kaku daripada dirinya yang selalu dianggap semua orang sebagai patung es. “Ayolah, liburan ini bukan hanya untukku, tapi untukmu juga. Lupakan tentang pekerjaan, lupakan status kita. Tak ada tuan dan asisten di sini. Hanya ada Raja, Kitty dan Leon. Bergabunglah bersama kami.”
Pria itu tampak mengusap tengkuknya, lalu membetulkan kaca mata hitam yang ia pakai. Lalu sambil menggerutu, ia melangkahkan kaki, mendekati atasannya. Raja sedikit mendengarnya, ia tak marah justru tersenyum mendapati sosok Leon yang seperti itu.
“Nah, kemarilah! Tidak bisakah Kamu menjadi pria yang santai hari ini saja? Sia-sia saja aku mengajakmu datang ke tempat yang indah ini jika Kamu dari tadi hanya berdiri seperti patung," ucap Raja seraya menarik tangan Leon, hingga pria itu duduk di sebelahnya.
"Ini saya sudah sangat santai. Bahkan sangat santai, hingga membiarkan Tuan mendandani saya seperti badut." Raja tertawa. "Bukankah sama saja? Tuan duduk di sini, saya berdiri di sana mengawasi keadaan sambil melihat ke arah laut. Menurut saya tidak ada yang beda."
"Dasar pria kaku!" umpat Raja.
"Siapa yang lebih kaku? Padahal Tuan sendiri lebih kaku, mirip seperti patung es," gumam Leon dengan suara lirih.
"Apa Kamu bilang?" Raja membulatkan mata tak percaya saat Leon berani menyebut dirinya seperti itu.
"Eh, tidak. Saya tidak mengatakan apa-apa," elak Leon.
"Ya sudah, lupakan. Mari kita duduk di sini, menikmati pemandangan laut, merasakan teriknya matahari yang membakar kulit, pokoknya kita harus menikmati segalanya," ucap Raja.
"Hm, iya ... iya ... ini saya juga sudah duduk," ucap Leon ala kadarnya.
"Kamu ini, ini kan liburan. Cobalah untuk menikmatinya. Mencoba tersenyum, rileks atau apalah, sesuka hati Kamu," nasihat Raja.
"Yang saya sukai, berdiri di sana sambil mengawasi Tuan." Pria itu menunjuk ke arah tempat di mana ia berdiri tadi.
"Hmm, Kamu kalau menjawab memang tak pernah benar," gerutu Raja. Leon tersenyum kecil, hanya sekilas saja.
"Bagaimana? Apa Kamu suka dengan liburan kita?" tanya Raja kemudian.
"Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan. Karena ini adalah liburan pertama kali kita. Bahkan mungkin ini liburan pertama Tuan juga," jawab Leon.
"Kamu salah, Leon. Mungkin benar ini adalah liburan pertamaku selama sepuluh tahun ini. Tapi dulu ... sekali, aku pernah ke tempat ini bahkan mungkin bisa dibilang sering," ucap Raja.
Leon mengangguk-angguk, membenarkan. Namun, setelah berkata demikian, rupanya Raja tak melanjutkan ceritanya.
"Kenapa Tuan tidak melanjutkan ceritanya?" tanya Leon penasaran.
"Ah, sudahlah. Aku tidak mau menceritakan hal yang sedih saat kita ingin menyegarkan pikiran," jawab Leon.
"Tidak apa-apa, Tuan. Tuan terlanjur menceritakannya, saya jadi penasaran. Saya rasa Kitty pun demikian juga. Benar kan, Kitty?" tanya Leon. Kitty pun mengangguk patuh. Ia sama seperti Leon, penasaran dengan kelanjutan cerita Raja.
"Kalian ini ... aku yakin kalian sudah bersekongkol untuk mendesakku," ucap Raja.
Leon tertawa. "Ceritakan, Tuan. Apakah itu hal bahagia, atau sedih. Bagikan kepada kami."
Raja menghirup udara, memenuhi dadanya dengan zat itu. Lalu ia mulai bercerita setelah mengembuskan zat karbondioksida itu ke udara. "Dulu ... aku sering sekali datang kemari, bersama orang tuaku."
Wajah Raja tampak muram dan sedih. Lalu ia melanjutkan ceritanya. "Kamu lihat vila di sebelah sana? Itu adalah vila keluarga kami. Dan sampai sekarang pun masih sama, itu adalah vila keluarga William."
"Lalu kenapa Tuan memilih menginap di hotel dibandingkan tinggal di sana?" tanya Leon.
"Sepertinya aku tidak akan sanggup mengingat kenangan orang tuaku jika aku mengunjungi tempat itu," ucap Raja.
Leon mengangguk. "Lanjutkan ceritanya, Tuan."
"Hei, kenapa Kamu jadi memerintahku?" tanya Raja kesal.
"Ha-ha-ha." Leon tertawa. Mungkin ini adalah tawa pertama yang Leon tunjukkan. Akan tetapi, dengan cepat Leon berdeham dan menghentikan tawanya. "Maafkan saya, saya kelepasan."
"Leon ... seperti aku yang mulai membuka hati, Kamu cobalah juga membuka hatimu. Aku juga akan mendengarkan semua apa yang ingin Kamu ceritakan," ucap Raja.
"Mungkin suatu hari ini, Tuan. Saat saya siap mengatakan segalanya," jawab Leon seraya tersenyum.
"Baiklah. Tapi mulai sekarang Kamu harus menjadi Leon yang Kamu inginkan. Jika Kamu ingin tertawa maka tertawalah. Jika Kamu bersedih, jangan segan untuk menangis, Leon. Kamu bisa marah, bahkan kepadaku sekali pun. Tunjukkan saja emosimu, daripada sakit karena terus menahannya. Yah, Kamu tahu sendiri. Jika kita hampir sama. Tapi aku sadar setelah Kitty hadir, seberapa besar luka yang harus kita tanggung, kita tidak dapat menyalahi kodrat kita bahwa kita hanyalah manusia biasa yang memiliki perasaan," ucap Raja.
"Baiklah, Tuan. Mari kita lanjutkan ceritanya," ajak Leon.
"Ah, sudahlah. Aku tidak mau lagi membahas hal yang sedih-sedih. Lebih baik kita bermain-main saja. Ayo, kita berjalan-jalan menikmati ombak." Raja berdiri lalu mengulurkan tangan, Leon segera menyambutnya dan ikut berdiri.
Keduanya berjalan menikmati lembutnya riak menyapa kaki mereka. Menikmati halus dan basahnya pasir pantai yang mereka pijaki tanpa alas kaki. Sementara itu, Kitty bertengger nyaman di gendongan Raja. Akan tetapi, lama-kelamaan kucing itu mulai bosan. Ia juga ingin merasakan dinginnya air laut. Ia juga ingin merasakan bagaimana lembabnya pasir pantai. Kucing itu meronta, dan Raja pun terpaksa melepaskannya.
Entah siapa yang memulai, kini Raja dan kucingnya berlarian di depan Leon. Mereka berdua saling berkejaran dan bercanda. Raja tampak terbahak-bahak seraya menggoda kucing kesayangannya. Sementara Leon melihat mereka dengan tersenyum. Leon iktu bahagia untuk Raja yang telah kembali ceria.
Andai saja suasana selalu tenang begini. Bukankah sangat bagus? Sayang sekali, laut tak selalu tenang. Selalu ada ombak yang menghadang, batin pria tersebut.