BAB 98

1023 Words
Pria itu duduk tenang di kursi kebesarannya. Tubuhnya yang kokoh menempel pada sandaran kursi, dengan satu tangan menopang dagu. Matanya menerawang jauh ke luar sana. Menyaksikan pemandangan kota dari jendela bening besar yang ada di ruang kerjanya. Semuanya terlihat jelas, bahkan sampai ke titik terjauh, pasalnya ia berada di lantai sebelas di gedung itu. Pemandangan kota yang dipenuhi gedung-gedung tinggi. Perumahan padat penduduk yang tampak seperti deretan miniatur rumah yang dimainkan anak-anak. Juga langit biru yang bersih, yang dihiasi sedikit awan putih yang lebih mirip seperti gumpalan kapas. Ia terus memandang ke arah yang sama, dengan pikiran yang mengelana ke mana-mana. Entah apa yang menari-nari dalam pikiran pria itu hingga ia tampak begitu asyik. Tiba-tiba saja sebuah senyuman mengembang di bibirnya, saat sebuah ide melintas di kepala. “Sepertinya akan sangat menyenangkan,” gumamnya seorang diri. Ia tersenyum bahagia. Tok tok tok. Suara ketukan di pintu, membuyarkan lamunannya, dengan cepat pria itu memutar tubuhnya dan kembali pada posisi duduk yang sebelumnya. Tak lupa, ia juga mengubah ekspresi di wajahnya. Ia kembali pada sosok Raja yang dingin dengan ekpresi yang datar. “Masuk!” perintahnya. Leon muncul dari balik pintu begitu ia mendengar suara Raja. Pria itu datang dengan tumpukan map seperti biasanya. Map-map berisi dokumen yang memerlukan persetujuan Raja. Dokumen yang bahkan sudah menjadi hal yang familier bagi Raja semenjak ia berusia sembilan belas tahun. Tepatnya, saat semua beban itu dipindahkan ke pundaknya. Saat apa yang seharusnya orang tuanya kerjakan, justru menjadi tugasnya. “Ini, Tuan.” Leon meletakkan dokumen itu di atas meja, tepat di hadapan Raja. “Hm,” jawab Raja singkat seperti biasanya. Pria itu lantas mengambil map paling atas dan membukanya. “Kalau tidak ada hal yang Anda butuhkan lagi, saya permisi,” pamit pria itu. Leon segera membalikkan badan dan berjalan ke arah pintu. “Leon, tunggu dulu,” tahan Raja saat Leon hendak meraih gagang pintu. “Iya, Tuan. Apakah ada yang perlu saya kerjakan lagi?” tanya pria itu. “Duduklah dulu,” pinta Raja. Sedikit keheranan, karena pria yang selalu menganggap waktu adalah uang itu mempersilakan dia duduk. Akan tetapi demi menjaga suasana hati Raja, Leon segera duduk di hadapan tuannya tanpa banyak bertanya. “Leon, apakah ada jadwal penting antara dua atau tiga hari ini. Ah bukan, maksudnya dalam minggu ini,” ucap Raja. Leon merasa keheranan. Kenapa Raja menanyakan jadwalnya, karena biasanya pria itu cuek saja. Pria itu menyerahkan semua urusan jadwal kepada dirinya dan tidak mau tahu. Jadi, Leonlah yang harus mengingat semua jadwal dan Raja tak pernah mempertanyakannya. Dia-lah yang harus mengurus dan menyiapkan semua yang Raja perlukan. “Leon, jawab perkataanku!” ucap Raja kesal karena Leon seperti melamun dan tak segera menjawab pertanyaanya. “Eh, iya, Tuan.” Pria itu tergagap dan kembali ke dunia realitas. Pria itu pura-pura mengingat jadwal yang bahkan sudah ia hafal di luar kepala. “Hanya ada meeting dengan direktur PT Lingga Buana di hari Sabtu siang nanti. Selain itu sudah tidak ada lagi, Tuan.” “Undur rapat itu majukan jadi Selasa atau Rabu,” perintah Raja. “Iya, Tuan?" Leon seperti tak percaya. "Tapi hari Selasa dan Rabu Anda sudah memiliki jadwal lain." “Kalau begitu, ganti dengan hari yang lain. Kalau tetap tidak bisa juga, tentukan Selasa tapi di jam agak siangan, sore atau malam,” ucap Raja bersikukuh. “Ba-iklah. Sebentar, Tuan. Kenapa Anda tiba-tiba ingin mengganti jadwal minggu ini? Apakah ada acara penting yang saya lupakan?” tanya Leon. Raja tersenyum tipis lalu berkata dengan wajah semringah, “Mari kita pergi liburan.” “Liburan, Tuan? Tapi ini bukan momen yang tepat untuk liburan. Bukan akhir tahun atau awal tahun. Bukan hari besar atau yang lainnya,” ucap Leon karena tidak percaya. “Ck! Justru itu yang baik, bukan? Tempat yang kita kunjungi tidak akan terlalu ramai. Aku mau ke pantai, menikmati udara yang segar, suasana yang tenang. Intinya aku ingin menenangkan pikiran” ucap Raja. “Tapi tiba-tiba saja Anda ingin pergi. Tanpa perencanaan atau apa pun itu,” ucap Leon lagi. Selama ini, Raja tidak pernah pergi berlibur. Bahkan dalam kurun waktu sepuluh tahun, sekali pun tidak dan hal itu menjadikan Leon sangat keheranan. “Ah, cerewet sekali Kamu, Leon. Pokoknya aku mau kita bertiga pergi besok pagi juga,” ucap Raja. “Kita bertiga?” tanya Leon lagi. Ia bingung memikirkan siapa orang selain dirinya yang Raja ajak. “Iya ... aku, Kamu dan Kitty,” jawab Raja dengan senyum yang mengembang. Astaga, aku kira orang ketiga yang dia maksud adalah manusia. Eh ternyata Kitty. Kenapa aku tidak kepikiran soal kucing itu, ya? batin Leon. “Oh ... baiklah. Tuan pilih saja tempatnya, nanti saya yang akan mengatur segalanya,” ucap Leon langsung setuju. Karena ia tahu, tidak ada kata tidak untuk seorang El Raja Wiliam. “Baiklah. Kamu boleh kembali ke ruanganmu,” ucap Raja. Leon segera bangkit dan undur diri dri hadapan bosnya. Ia harus mengerjakan tugas-tugasnya yang harus segera ia selesaikan. “Pasti Kitty akan sangat senang saat aku mengajaknya liburan,” ucap Raja tersenyum-senyum sendiri. *** Leon masih sibuk memasukkan koper ke dalam bagasi saat Raja dan Kitty telah duduk di dalam mobil. Pria itu merasa sedikit iri pada seekor kucing yang begitu dimanja oleh majikannya. Dirinya saja yang sudah melayani Raja selama puluhan tahun, belum pernah diperlakukan seistimewa itu. Akan tetapi, jika Leon melihat senyum manis di wajah Raja yang dulu sempat menghilang, telah kembali berkat kucing itu, ia merasa ikut senang dan bersyukur atas kehadiran Kitty dalam kehidupan Raja. Raja bahkan masih bermain-main dengan kucing itu saat ia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping sopir. Leon hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Raja dan Kitty begitu mesra seolah mereka adalah sepasang kekasih saja, Aku jodohkan dia dan Stella yang cantik jelita dan baik hati saja tidak mau. Eh, dia pilih seekor kucing. Apa enaknya menciumi kucing seperti itu, batin Leon seraya menatap tajam bayangan Raja dan Kitty di kaca spion tengah. “Kamu kenapa menatapku seperti itu? Seolah Kamu tidak suka padaku saja.” Ucapan Raja membuyarkan lamunan Leon. “Ah, tidak, Tuan. Maaf.” Leon segera memakai sabuk pengaman di tubuhnya lalu berkata, “Jalan, Pak.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD