Ia turun dari kudanya, lalu mengikatnya di sebuah pohon di sudut halaman yang luas itu. Dipandanginya rumah yang paling bagus di kampung itu. Masih sama seperti sebulan lebih yang lalu.
Ia melangkahkan kaki ke rumah yang tampak sepi. Tak terlihat siapa pun di sana. Bahkan pintu rumah juga tertutup rapat. Namun tak menggentarkan niat pemuda itu untuk berkunjung. Hari itu juga ia harus menemui salah satu penghuni rumah itu dan yang paling pria itu inginkan adalah agar ia bisa bertemu dengan Aurora-nya.
Duk duk duk.
Ia mengetuk pintu kayu yang tebal itu dengan cukup kuat. Agar penghuni rumah segera datang untuk membukakan pintu. Sebab kesabarannya sudah habis saat ia mendengar faktanya di istana tadi.
“Dia! Buka pintunya, lihat siapa yang datang,” perintah seseorang, dan Kai mengenal suara itu.
Biasanya mereka selalu menyuruh Aurora untuk melakukan hal sekecil apa pun. Mengapa kali ini mereka memerintah Alodia? batin Kai. Perasaan pria itu semakin tidak menentu karenanya. Berkali-kali ia meyakinkan diri bahwa Aurora masih ada. Apa yang orang-orang istana katakan tidak benar sedikit pun.
“Lagi lagi aku, lagi lagi aku.” Kai mendengar suara gerutuan di balik pintu bersamaan dengan terdengarnya suara langkah kaki yang semakin mendekat.
Klek.
“Mau cari siap—“ Ucapan gadis itu terhenti. Matanya membulat sempurna saat ia melihat siapa yang datang.
“Saya ingin bertemu tuan Athura,” jawab Kai dengan tenang. Meski sebenarnya hatinya bergemuruh, ingin sekali ia masuk ke dalam, mengobrak-abrik rumah itu agar bisa menemukan Aurora di dalam sana.
“Ma-af, ayah kami sedang keluar.”
“Dia, siapa yang datang? Kenapa lama sekali? Masih banyak pekerjaan yang harus Kamu kerjakan!” Seseorang berjalan mendekat seraya mengomeli gadis itu, siapa lagi jika bukan Amayra.
“Sebenarnya siapa yang ... Yang Mulia, Putra Mahkota,” pekik Amayra saat melihat Kai berdiri di depan pintu.
Sontak saja, wajah gadis itu berubah menjadi merah karena malu. Hatinya berdebar saat melihat pria yang ia cintai datang. Amayra merutuki diri dalam hati. Ia tadi masih bermalas-malasan di kamar dan belum mandi. Ia bahkan datang tanpa memakai riasan. Bisa dibayangkan betapa berantakannya penampilannya kali ini.
“Silakan masuk, Yang Mulia. Silakan!” ujar Amayra mempersilakan.
“Tidak perlu, aku ingin menemui tuan Athura,” jawab Kai dengan suara sedingin es di kutub utara.
“Ayah dan ibu sedang tidak ada di rumah. Mereka kan sedang mengunjungi makam Bung—“ Amayra menghentikan kalimatnya saat melihat wajah Kai menggelap, merah padam.
“Lanjutkan perkataanmu. Makam siapa yang orang tuamu kunjungi?” tanya Kai.
“Eh, itu, anu ....” Tiba-tiba saja Amayra jadi gugup.
“Katakan!” bentak Kai yang sudah kehilangan kesabaran.
Kedua gadis itu mengkerut seketika. Keduanya tampak takut. Ini adalah pertama kalinya melihat wajah Kai yang marah, terlihat begitu menyeramkan.
“Bungsu.” Gadis itu menjawab dengan menundukkan kepala.
“Apa yang sudah Kamu lakukan pada calon istriku, heh?” Raja berjalan maju semakin mendekati Amayra.
“Sa-saya tidak melakukan apa-apa,” jawab Amayra ketakutan.
“Tidak melakukan apa-apa? Jangan pikir, aku tidak tahu apa yang sudah Kamu lakukan pada gadis kesayanganku!” Kai berbicara dengan sangat keras, hingga membuat putri Athura yang lainnya datang.
“Saya benar-benar ....” Gadis itu menangis ketakutan.
“Ada apa ini? Ada apa?” tanya putri yang lainnya saat mendengar tangis Amayra. Akan tetapi mereka langsung terdiam saat melihat Kai.
“Aku yakin, Kamu yang sudah melenyapkan Aurora-ku! Iya, kan?” bentak Kai lagi. Amayra menggeleng cepat, masih dengan air mata yang terus mengalir.
“Masih tidak mau mengaku?” tanya Kai.
“Yang Mulia salah paham. Bungsu tiada bukan karena kami. Tapi karena kesalahannya sendiri. Karena ketamakannya ingin mempunyai lotus keabadian yang membuat dirinya celaka,” ucap Althea maju memberikan jawaban.
Kai tertawa hambar mendengar jawaban Althea. “Tamak? Aku sangat mengenali kekasihku. Dia adalah gadis yang sangat baik hati. Gadis itu tidak mungkin menginginkan hal seremeh itu, hal yang bahkan aku bisa memberikannya tanpa harus mencuri,” ucap Kai penuh penekanan.
“Tapi kenyataannya memang begitu. Calon istri Yang Mulia memang pencuri dan hal itu yang membuat ia celaka.” Althea tidak mau berhenti menjelekkan Aurora.
“Kamu!” Kai kehilangan kesabaran. Pria itu sangat marah karena Althea terus menjelekkan orang yang paling ia sayangi, dengan gerakan yang sangat cepat, pria itu mencekik Althea sekuat tenaga.
“Kyaa!” Kelima putri Athura yang lainnya menjerit ketakutan. Sementara tubuh Althea terangkat dan melayang di udara. Wajah gadis itu pucat pasi, ia hampir kehabisan napas.
Semua putri Athura panik melihat pemandangan itu. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang berani menghentikan orang kedua di negeri Nirvana.
“Lepaskan!” Suara yang menggelegar itu membuat semua orang menoleh. Suara siapa lagi, jika bukan suara tuan rumah. Rupanya, Athura berserta istri baru kembali.
“Lepaskan Yang Mulia.” Kali ini suara Athura lebih lembut dan terdengar putus asa. Saat itulah, Kai melepaskan Althea dari cengkeramannya. Althea jatuh dan langsung ditahan oleh para saudarinya, sementara Kai langsung terduduk lemah di tanah.
“Yang Mulia.” Athura segera menghampiri pria yang tengah menangis itu.
“Amayra dan kalian semuanya, bawa Althea ke kamarnya!” perintah Athura. Para putri itu mengangguk, lalu membantu Althea bangkit dan kembali ke kamarnya.
“Yang Mulia, mari kita masuk. Tempat ini kotor,” ucap Athura seraya merangkul pria itu. Namun, Kai dengan cepat menepisnya. “Aku tidak mau. Aku mau di sini saja.”
“Yang Mulia, kenapa Anda melakukan hal itu pada putri saya?” tanya Athura.
“Athura, mana Auroraku?” Bukannya menjawab pertanyaan Athura, pria itu justru menanyakan Aurora. Athura menunduk dengan wajah yang sedih.
“Katakan, Athura! Di mana calon istriku? Di mana Aurora-ku?” tanya Kai saat Athura terdiam.
“Yang Mulia, tenanglah.” Gaia ikut duduk di tanah. Wanita itu menangis melihat kondisi Kai.
“Ibunda mertua, izinkan aku bertemu dengan Rora-ku,” pinta Kai dengan wajah memelas.
“Yang Mulia ... sebenarnya ....” Gaia tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
“Mana Bunda?” tanya Kai dengan nada putus asa.
“Yang Mulia, putri bungsu kesayangan kami. Calon istri Yang Mulia, telah tiada.” Akhirnya Athura memberikan jawaban. Suara pria itu bergetar.
“Tidak! Tidak mungkin. Aku bisa merasakannya. Aurora-ku, kekasihku, calon istriku masih hidup. Dia tidak mungkin meninggalkan aku sendirian,” ucap Kai dengan tangisan yang menggugu.
“Yang Mulia, tolong sadarlah. Putri kami memang sudah tidak ada. Rora kami memang sudah tidak ada di dunia ini.”
“Tidak! Kalian semua bohong! Kalian pembohong. Tidak ayahanda, bunda ratu, sekarang bahkan mertuaku juga membohongiku. Katakan, Bunda. Katakan jika Rora yang paling aku cintai masih ada.” Kai benar-benar hancur. Pria itu menangis tanpa rasa malu sedikit pun. Bagaimana tidak? Ia berjuang sekuat tenaga di medan perang agar bisa hidup, hanya demi gadis yang sangat ia cintai. Namun kenyataannya sungguh menyesakkan d**a. Justru gadis itu yang meninggalkannya sendirian di duni ini.
“Aurora-ku ... Aurora-Ku ....” Kai terus menangis tanpa henti sambil terus mengucap nama gadis kesayangannya.
Gaia turut menangis melihat calon menantunya seperti itu. Sementara Athura, juga iba melihat Kai yang begitu hancur karena kehilangan putrinya.
Maafkan, aku Yang Mulia. Sungguh, ini seperti makan buah simalakama. Aku tidak tega melihat penderitaan Anda, tetapi aku juga tidak bisa membawa kembali Aurora. Karena aku tidak ingin ia kehilangan nyawa untuk kedua kalinya, batin pria itu sedih.