Empat puluh hari telah berlalu sejak peperangan di perbatasan dimulai. Sejak itu pula, putra mahkota Kairos berjuang sekuat tenaga demi tanah air tercinta. Pria itu terus berjuang, seolah ia tak takut mati. Prinsipnya hanya satu, dia hidup untuk rakyat dan negaranya. Ia akan mengorbankan segalanya demi Nirvana.
Hingga pada akhirnya usaha Kairos membuahkan hasil. Di hari ke empat puluh satu, calon raja Nirvana di masa depan yang menjadi kebanggaan mereka akhirnya berhasil memenangkan pertarungan. Kairos berhasil membuat pasukan lawan bertekuk lutut di hadapannya dan mengakui kekuatan Nirvana. Bukan hanya memenangkan pertarungan, bahkan putra mahkota berhasil merebut kembali tanah yang sempat dikuasai oleh negeri tetangga. Mereka berhasil menghalau musuh dan mendapatkan beberapa tawanan, yang bisa mereka gunakan suatu hari nanti jika terjadi suatu masalah yang genting.
Bukan itu saja, Kairos memberikan begitu banyak bantuan kepada rakyat yang tinggal di sana. Pria itu berusaha untuk memakmurkan tanah yang sempat terjajah itu. Pria itu benar-benar mengerahkan seluruh tenaga demi rakyatnya.
Setelah memastikan area perbatasan tersebut aman dan dijaga dengan ketat, akhirnya tiba saatnya para pasukan yang dipimpin oleh Kairos itu pulang ke ibu kota. Sudah terlalu lama mereka berpisah dengan keluarga, bahkan pernikahan putra mahkota pun sampai diundur demi kepentingan negara.
Meski lelah setelah mengalami pertarungan yang sangat panjang, Kairos sangat bahagia. Karena setelah penantiannya yang panjang dan melelahkan, sebentar lagi ia akan bertemu dengan kekasih pujaan hatinya. Siapa lagi kalau bukan Aurora. Ia juga sudah tidak sabar menantikan hari pernikahannya dengan gadis itu.
“Rora, apakah Kamu juga merindukanku? Andai Kamu bisa merasakan betapa besarnya rasa rinduku padamu, Rora. Rasanya sangat sakit, melebihi rasa sakit saat pedang lawan menebas tubuhku.” Kai meremas dad*nya, merasakan rasa rindu yang meluap-luap.
Seiring gemerincing suara kereta kuda yang terus melaju, rasa rindu itu semakin menggebu-gebu mempermainkan perasaannya. Kesabaran Kairos semakin diuji, membuat pria itu merasa waktu seakan lambat berlalu.
Sepanjang perjalanan, wajah gadis itu terbayang-bayang. Senyum manisnya, kelembutannya, segala hal tentang Aurora memenuhi pikirannya.
'Beginikah ujian agar aku bisa bersamamu? batin Kai yang mulai kehilangan kesabaran.
"Berhenti." Pria itu tiba-tiba saja meminta pengawal menghentikan kereta.
"Iya, Tuan. Ada apa? Apakah ada hal yang perlu kami lakukan?" tanya seorang pengawal membuka tirai jendela kereta dan berbicara dengan Kai.
"Ehem, mari kita beristirahat. Sepertinya di sana ada sebuah pasar. Aku ingin menikmati secangkir teh panas dan makan camilan," ucap pria itu.
"Baiklah. Mari kita beristirahat."
"Perhatian, mari kita beristirahat sebentar. Bagi yang ingin makan atau minum dipersilakan." Pengawal tadi memberikan pengumuman.
Para pasukan akhirnya menghentikan perjalanan dan beristirahat sebentar. Mereka segera mengikat kuda masing-masing. Sementara kereta kuda putra mahkota diparkirkan di bawah pohon yang cukup teduh.
"Makanlah sepuasnya. Karena setelah ini kita harus melanjutkan perjalanan panjang kita," ucap Kai.
"Baik, Yang Mulia," jawab para pasukan serentak.
Semuanya segera mengambil tempat masing-masing. Mereka terlihat gembira karena akhirnya perut mereka yang sudah keroncongan sebentar lagi akan terisi.
"Yang Mulia, Anda hendak ke mana?" tanya kepala pengawal saat Kai memilih untuk masuk pasar dan tidak makan.
"Aku ingin berjalan-jalan sebentar. Biarkan aku pergi sendiri. Kalian tidak perlu menemaniku. Aku aman dengan pakaian orang biasa ini. Kalian makanlah. Ah, ya. Kalau bisa beli beberapa makanan yang tahan untuk kita makan nanti malam takut-takut jika kita melewati area hutan saat malam tiba," perintah Kai.
"Baik, Yang Mulia." Pengawal itu lagi-lagi hanya bisa mengiyakan.
Kairos segera meninggalkan para pasukan dan berjalan-jalan sendirian di tengah pasar.
Pria itu kagum dengan keadaan pasar yang begitu bersih dan teratur. Sangat berbeda dengan pasar di ibukota. Pria itu jadi berpikir akan membuat pasar di kota menjadi seperti tempat itu.
'Pasti Aurora akan senang sekali jika pasar aku buat secantik ini, batin pria itu seraya tersenyum.
Kairos terus melanjutkan perjalanannya, melihat ke sana-kemari. Melihat aneka barang yang diperjualbelikan. Hingga pada akhirnya pria itu berhenti di depan sebuah toko barang antik. Kairos memutuskan untuk singgah dan melihat-lihat.
"Silakan dipilih, Tuan. Semuanya cantik dan asli peninggalan nenek moyang zaman dulu kala," ucap pedagang itu.
"Apakah ini asli?" tanya Kai.
"Tentu saja, Tuan. Itu asli, itu adalah kalung giok nenek buyut dari Ratu Selena," ucap pedagang itu bersilat lidah. Tentu saja, Kairos langsung tidak mempercayainya.
Kairos sekuat tenaga menahan tawanya. Pedagang itu benar-benar penipu ulung, begitu pandainya sampai membawa-bawa nama nenek moyangnya.
"Wah, benarkah?" Kai mengangkat kalung itu dan pura-pura tertarik. "Kalau begitu, jika aku membelinya aku bisa menjadi putra mahkota kerajaan Nirvana ya, Tuan?"
"Ah, Tuan bisa saja." Pedagang itu tertawa.
"Baiklah, saya mau membelinya. Berapa?" tanya Kai.
"Seribu keping emas," jawab pedagang itu.
"Wah, harga yang sangat fantastis," ucap Kai pura-pura keberatan dengan harga itu.
Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu berbisik di telinga Kai. "Khusus untuk Anda, saya akan memberikan harga spesial. Lima ratus, cukup lima ratus keping emas, saya akan memberikannya kepada Anda."
"Maaf, Tuan. Saya tidak ada uang sebanyak itu," ucap Kai.
"Cih! Bagaimana sih? Dari tadi tanya melulu, tapi tidak punya uang. Pergi sana! Membuang waktu saja!" Pedagang itu marah saat Kai berkata dirinya tidak punya uang.
Kai tersenyum lembut. Lalu pergi dari tempat pedagang yang suka berbohong itu. Lalu ia berhenti di sebuah toko barang antik yang lainnya.
"Silakan, Tuan. Ini sangat murah. Seratus keping emas saja. Anda bisa memilih bebas yang mana pun," ucap pedagang itu.
"Seratus keping saja? Semua harganya sama? Anda tidak salah?" tanya Kairos memastikan.
"Tidak, Tuan. Memang benar saya mematok harga itu. Semua benda ini adalah hasil perburuan saya di bukit Amora dan saya menjualnya dengan harga sebanyak itu," ucap pedagang itu.
"Benarkah?" Kairos mengambil satu buah gelang giok yang sangat cantik. "Ini juga?"
"Benar, Tuan. Orang bilang, itu mirip seperti gelang kesayangan Dewi Amora. Tapi itu kan hanya perkataan orang-orang, saya mana bisa mempercayainya." Pedagang itu tertawa renyah.
Kai mengangkat gelang itu, menerawangkannya di bawah sinar matahari. Wajah Kai berubah seketika saat melihat tulisan yang ada di dalam gelang itu. Meski samar, Kai yakin benda itu adalah benda asli.
"Bisakah Kamu menunjukan beberapa lagi yang terbaik?" tanya Kairos.
"Yang ini, ini, dan ini, Tuan. Saya jamin ini barang bagus," jelas pedagang itu.
Kai memeriksa satu per satu lalu tersenyum. "Bungkus ketiga benda ini untukku."
"Terima kasih, Tuhan." Pria itu tampak bahagia saat Kai membeli tiga barangnya.
"Anda terlihat bahagia saat saya membelinya? Apakah Anda berusaha mencurangi saya?" tanya Kai.
"Tidak, Tuan. Sungguh saya tidak menipu Anda. Lagipula saya tidak menjanjikan apa pun kepada Anda. Saya tidak bilang bahwa barang ini asli, kan?" Pedagang itu takut saat Kai mencurigainya.
"Lalu kenapa Anda sangat bahagia?" tanya Kai.
"Sebenarnya ... Sudah seminggu lamanya saya berdagang di pasar ini dan belum kembali ke rumah. Semuanya karena barang yang saya jual tidak laku sama sekali. Di rumah ada tiga orang anak saya yang menunggu, juga istri saya yang sedang sakit. Mereka pasti akan senang melihat saya pulang dengan membawa banyak uang," ucap pedagang itu menitikkan air mata.
'Astaga, aku telah berburuk sangka kepadanya. Kasihan sekali pria ini, batin Kai.
"Ya sudah, cepat bungkus. Aku akan segera membayarnya agar Kamu bisa pulang," ucap Kai.
"Baik, Tuan." Pedagang itu membungkus barang Kai dengan cepat.
"Ini, Tuan." Pedagang itu memberikannya pada Kai lalu pria itu pun segera memberikan uang senilai barang tersebut.
"Tuan, pesan saya ... jangan jual guci berwarna biru langit itu. Lekas pulanglah bawa semua barang daganganmu, jika Tuan sudah sampai di rumah, buka penutup guci dan lihat apa yang ada di dalam guci tersebut. Jika Anda percaya dengan ucapan saya, hidup Anda akan sejahtera. Akan tetapi, jika Anda mengabaikan pesan saya, maka Anda akan merugi. Atau mungkin akan membawa petaka bagi Anda," pesan Kai dengan suara yang sangat lirih, hampir berbisik. Setelah berkata demikian, Kai segera pergi meninggalkan pedagang tersebut.
"Apa maksud Tuan muda tadi, ya?" Pedagang itu kebingungan. Akan tetapi dengan cepat pria itu melupakannya karena anak dan istrinya pasti telah menunggu. Pria itu segera mengemasi semua barang dagangannya. Lalu pulang dengan kereta sapinya.
Di perjalanan, ada banyak sekali orang yang menawar gucinya. Pedagang itu bahkan sempat tergoda dengan tawaran tinggi yang diberikan para pembelinya. Namun, ucapan orang yang telah membeli barang dagangannya terus terngiang di telinga, membuat pedagang itu tidak jadi menjualnya. Alhasil, pria itu memilih untuk menuruti ucapan Kai.
"Ibu, anak-anak, Ayah pulang."
"Ayah." Tiga orang anak kecil itu langsung mengerubungi ayahnya. Mereka langsung memeluk ayahnya yang belum pulang selama beberapa hari.
"Ayah ke mana saja?" tanya mereka.
"Ayah pergi cari uang, Nak. Bagaimana kabar ibu, Nak?" tanya sang ayah.
"Ibu telah membaik ayah. Lihatlah Ayah, kakak sulung menangkap ikan untuk kami, jadi kami tidak perlu kelaparan selama menunggu ayah membeli bahan makanan," ucap si Bungsu.
Pedagang itu langsung menangis memeluk anak-anaknya. Ia merasa bertanggung jawab dengan apa yang anak-anaknya harus alami. Ia yang telah membuat bocah-bocah polos itu menderita.
"Mari kita masuk. Ibu pasti sudah menunggu. Lihatlah, ayah bawa makanan banyak sekali." Pedagang itu mengusap air matanya, tak ingin anak-anak ikut bersedih.
"Horee!!" Anak-anak itu bersorak gembira melihat ayahnya membawa banyak makanan.
Mereka segera masuk. Pedagang itu menyerahkan makanan pada si sulung untuk ditata di meja makan. Sementara anak yang lainnya mengikuti kakaknya. Sedangkan dirinya segera menemui sang istri yang masih terbaring di kamar.
"Ayah sudah kembali?" tanya wanita itu.
"Iya, istriku. Bagaimana keadaanmu?" tanya pedagang.
"Keadaanku sudah lebih baik, Ayah. Hanya saja belum kuat untuk pergi ke mana-mana," jawab istri pedagang.
"Tidak apa-apa. Melihatmu lebih baik saja aku sudah merasa senang. Maafkan aku yang baru bisa pulang sekarang. Baru hari ini daganganku laku terjual. Oh ya, ini uang dari hasil berdagang." Pria itu menyerahkan dua ratus delapan puluh keping emas kepada istrinya.
"Wah banyak sekali. Terima kasih, Ayah." Wanita itu selalu bersyukur atas nafkah pemberian sang suami.
"Iya, istriku. Maafkan ayah yang belum bisa membuat kalian bahagia. Sering membuat kalian kelaparan dan kekurangan."
"Tidak apa-apa, Ayah. Asalkan kita tetap bersama. Ada kita dan anak-anak." Wanita itu tersenyum teduh.
Tiba-tiba saja, pedagang itu ingat ucapan Kai. Ia jadi penasaran."Sebentar ya, istriku."
Pria itu gegas pergi keluar dan mengambil guci berwarna biru yang masih ada di atas gerobak. Pria itu merasa aneh. Karena guci itu menjadi berat sekali. Buru-buru pria itu membawa guci itu ke kamar.
"Apa yang ayah bawa?" tanya sang istri keheranan.
"Ini adalah guci dagangan ayah. Seseorang berpesan kepada ayah agar membuka guci ini sesampai di rumah. Entah maksud orang itu apa. Apa Kamu tahu? Tadi di jalan ada banyak sekali orang yang ingin membeli guci ini. Tetapi ayah tidak mau memberikannya karena ayah ingat ucapan pria itu agar ayah tak menjualnya apa pun yang terjadi."
Sang istri terdiam, dalam hati merutuki kebodohan sang suami yang mudah ditipu. Andaikan saja suaminya menjual guci itu, ia tidak perlu mengkhawatirkan kebutuhan dapur selama dua bulan kedepan. Namun, suaminya ternyata lebih mempercayai ucapan orang asing yang belum tentu benar dan wanita itu sangat kecewa karenanya.
"Baiklah, Istriku. Aku akan membukanya sekarang," ucap pedagang itu karena sangat penasaran. Pria itu membuka tutup guci dengan tangan gemetar. Pada saat penutup itu terbuka pasangan suami istri itu hampir pingsan saat melihat isinya. Rupanya guci itu dipenuhi dengan emas dan permata yang berharga. Mereka yakin, emas dan permata itu lebih dari cukup untuk biaya hidup mereka sampai tua nanti.
"Ayah, ini betul-betul emas asli?" tanya wanita itu tidak percaya.
"Iya, Istriku. Benar, ini emas asli. Istriku, mulai saat ini ... ayah tidak perlu pusing memikirkan kehidupan kita. Tidak perlu bersedih karena tidak bisa memberi makanan yang cukup untuk kalian. Dengan perhiasan ini, ayah bisa membuka usaha baru yang lebih menghasilkan. Atau ayah bisa membeli tanah dan bercocok tanam untuk kita makan sehari-hari."
Pasangan suami istri itu berpelukan dan menangis karena terharu. Mereka tidak menyangka jika kehadiran orang asing itu bisa membuat kehidupan mereka berubah. Pedagang itu berjanji dalam hati akan menjadi orang yang lebih jujur dan suka menolong. Pedagang itu memiliki keyakinan bahwa apa yang ia dapatkan hari ini adalah buah dari kesabaran dan kejujuran pria itu selama berdagang.
Terima kasih, Tuan asing. Semoga hidupmu dilimpahi dengan banyak kebahagiaan, batin pedagang itu.
***
"Pedagang itu memang pantas mendapatkannya. Dia adalah orang baik dan jujur. Lagipula, nilai barang ini aku rasa sebanding dengan emas yang aku berikan kepadanya," gumam Kai.
Kai mengambil kembali gelang giok yang ia kantongi. Lalu, Kai memandangi gelang itu lagi.
"Giok ini asli gelang putri Amora. Pasti akan sangat cocok jika Aurora memakainya." Kai bahagia saat membayangkan betapa bahagianya wanita pujaannya saat menerima gelang cantik itu darinya.
Kai tak sabar untuk bertemu lagi dengan gadis itu. Ia rindu mendengar tawanya, melihat senyumannya, juga merindukan wajah merona gadis itu saat ia goda.
***
Klotak!
Gelang giok yang sangat indah itu terjatuh dari tangan Kai dan menggelinding di lantai. Bersama gelang itu, hatinya juga jatuh dan retak. Mata pria itu berkaca-kaca setelah mendengar penjelasan sang ibunda.
Apa yang ia dengar seperti petir besar yang menyambar. Meluluh lantakkan hati dan harapannya menjadi debu. Pernikahan yang ia khayalkan selama ini, hanya akan menjadi impiannya saja dan tidak akan pernah mungkin terwujud.
"Bunda, katakan jika hal itu tidak benar? ini hanya rumor, kan?" ucap Kai dengan air mata yang membanjir.
Selena berjalan mendekati putranya lalu memeluk putra semata wayangnya tersebut. "Kamu harus kuat, Nak. Ini kenyataan, ini bukan gurauan. Aurora ... calon istrimu telah tiada."
"Jangan sentuh Kai, Bunda. Katakan dulu jika apa yang Kai dengar ini tidak benar. Kalian hanya mempermainkan Kai, kan?" ucap pria itu.
"Tidak, Nak. Ini kenyataan. Kenyataan pahit yang mau tak mau harus Kamu terima. Kamu harus ikhlas Kai," nasihat Selena.
"Kenapa kalian kejam sekali, melenyapkan Aurora-ku? Kenapa kalian melakukannya pada gadis polos itu? Dia tidak mungkin melakukannya. Karena Aurora-ku bukan pencuri. Dia adalah gadis baik dan berbudi pekerti. Tidak mungkin ia melakukan hal buruk seperti itu." Semua terdiam mendengar ucapan Kai. Membuat pria itu semakin marah dan kecewa. Harusnya ada seseorang yang menjaga Aurora selama tidak ada. Namun, sampai gadis itu tiada bahkan ayah dan ibunya tidak membantunya.
"Aku tidak akan percaya dengan ucapan kalian. Aku harus pergi ke rumah Athura dan memastikannya sendiri."
"Kai, dengar dulu, Nak." Selena memanggil putranya, tetapi Kai tidak mau mendengar ucapan ibunya dan memilih pergi.